Wartawan mencium masa lalu Clara?

1059 Words
“Mbak Clara ...!” panggil para wartawan sok akrab. Meminta Clara untuk segera membukakan pintu rumahnya. Clara buru-buru mengganti jubah mandi putihnya dengan pakaian lebih pantas lainnya. Membiarkan wajahnya polos tanpa make up. Hanya polesan lipstik berwarna senada dengan bibirnya yang terhias. Tanpa make up tebal yang menutupi pori-pori wajahnya, Clara terlihat sangat cantik dan lebih natural. Ia membuka pintu rumahnya. Dan seketika itu juga kilatan cahaya langsung menyambar dan menyilaukan mata. Belum juga Clara bertanya, tapi suara para wartawan yang bertanya sudah menodongnya. "Mbak Clara apa benar jika berita yang beredar dulu mbak pernah memiliki anak dan menaruhnya di panti asuhan?" tanya beberapa wartawan yang hampir bersamaan. Clara langsung terkejut mendengar pertanyaan yang menyerangnya. Entah dari mana para wartawan ini tahu rahasia hidup yang susah payah ia sembunyikan rapat-rapat. Bahkan Wildan pun tidak tahu apa-apa, tentang semua ini. "Mbak, dari raut muka mbak Clara, sepertinya anda belum tahu jika saat ini mbak sedang viral. Gosip beredar jika mbak memiliki anak dan membuangnya di panti asuhan demi mengejar impian menjadi artis. Lalu mendekati Wildan Pratama untuk sukses meniti karier di entertainment?" Clara menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha mengelak segala tuduhan yang seharusnya memang benar adanya. "Tidak. Dari mana kalian mendapatkan berita hoax seperti itu?" sangkal Clara dengan dahi berkerut dan sepasang mata memicing. *** Setelah serbuan para wartawan yang datang ke rumahnya untuk meminta klarifikasi, Clara datang ke lokasi pemotretan saat sore mulai menjelang. Karena jadwal syutingnya terjadwal sore ini. Clara memakirkan mobilnya bersama jajaran mobil yang lain. Sebelum turun dari mobilnya ia memastikan jika tidak ada wartawan yang datang ke lokasi. "Clara!" Suara Nia memanggil ketika Clara baru saja turun dari mobilnya. Clara menoleh, kacamata hitamnya sedikit diturunkan dan tersangkut di tengah batang hidungnya yang mancung. "Clara, dari mana saja kamu. Apa seharian ini kamu tidak membuka ponselmu?" tanya Nia sembari berjalan mendekat. Dan saat sudah di dekat Clara. Kedua mata Nia menoleh ke kiri dan ke kanan. Takut jika ada orang lain yang mendengar perbincangan mereka. "Itu juga yang ingin aku tanyakan padamu," kata Clara dengan tatapan tajam. Kini kacamata hitam itu sudah menyingkir dari wajah cantiknya. "Aku sudah menelponmu berulang kali. Tapi sepertinya ponsel sengaja kamu matikan," sahut Nia. "Tentu saja aku matikan. Aku ingin beristirahat. Dan saat aku sedang santai tiba-tiba banyak wartawan mendatangi rumahku. Menanyai soal anak yang aku buang di panti asuhan. Dari mana mereka tahu?!" pekik Clara lirih dan nyaris berbisik. Nia mengigit bibirnya. "Entahlah. Aku pun tidak tahu. Jadi tiba-tiba kemarin di IG dan You Tube di Chanel Bibir Barokah itu memposting foto kamu jaman dulu saat sedang hamil!" Clara menghirup udara di sekitarnya kuat-kuat. "Ya, aku melihatnya juga. Dan anehnya hanya kamu yang memiliki fotoku itu ...." Nia merasa tidak nyaman dengan nada kalimat yang dikatakan Clara. "Kamu sepertinya menuduhku," katanya dengan kedua mata menyipit. "Aku tidak menuduhmu. Hanya saja, foto yang beredar itu memang hanya kamu yang memilikinya," sahut Clara. "Sumpah demi Tuhan aku tidak membocorkan rahasia kehidupan masa lalu kamu Ra. Kita berdua berjuang bersama-sama hingga saat ini. Walau kamu yang menjadi artisnya dan aku hanya sebagai menagernya. Tapi kamu tidak boleh memungkiri jika tanpa adanya aku kamu bukanlah apa-apa," kata Nia dengan suara kecewa. Clara mengatupkan bibirnya. Ia menghela nafas panjang dan menepuk bahu Nia. Apa yang dikatakan Nia ada benarnya. Mereka berdua sama-sama berjuang. Dan jika karier Clara jatuh maka jatuhlah juga Nia. "Aku sadar aku tidak cantik. Aku hanya bisa hidup lebih baik hanya dengan menjadi managermu. Aku tidak akan mengkhianatimu," kata Nia dengan tatapan berkaca-kaca. "Aku tahu kamu tidak akan menghianati ku. Tapi anehnya kenapa fotoku saat dahulu hamil bisa beredar di internet? Pasti ada seseorang yang memberikannya pada Chanel akun gosip itu!" ucap Clara dengan kedua mata berapi-api. "Lihat saja, aku pasti akan menemukan siapa orang yang telah memercik api ke arahku ...." "Aku juga akan mencari tahu siapa dia," timpal Nia. "Dan saat kamu pergi menemui putrimu itu, apa Wildan curiga?" Clara menggelengkan kepalanya. "Tidak. Dia tidak curiga. Dan kamu pasti terkejut jika mengetahui nama dari orang tua angkat putriku itu." Nia menatap Clara. Ia menjadi penasaran. "Siapa?" Clara tidak langsung menjawabnya. Ia memandangi sahabat yang sekaligus menjadi menagernya itu. "Siapa Ra?" tanya Nia lagi. "Orang tua asuh Diva, adalah Reno dan istrinya." Sepasang mata Nia langsung membulat seketika. Ia menggelengkan kepalanya dengan bibir yang terbuka. "Apa ...? Maksudmu, Reno mantan pacar kamu itu?" tanya Nia. Tatapannya bersirat tidak percaya. Clara menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, Reno, cinta pertamaku dan nafasku ...." "Nafas yang telah kau tinggalkan," timpal Nia dengan suara lirih. Clara menghembus nafas pelan. "Sudah lah jangan bahas dia. Entah kenapa hatiku selalu merasa bersalah jadinya." Clara membalikkan badannya dan memakai kacamata hitamnya lagi. Menegakkan tubuhnya dan membusungkan dadanya, keangkuhan mulai diperlihatkannya lagi. Ia tidak boleh melow drama dengan semua ini. Jika tidak rival-rivalnya seperti Lolita akan menyikutnya. "Kita harus menuju lokasi. Jangan sampai kita terlambat," kata Clara dan kemudian di susul oleh Nia di belakangnya. Sebelum kedatangan Clara dan Nia di ruang ganti, perbincangan dengan suara berbisik sedang bergibah terdengar. Namun langsung terhenti ketika Clara dan Nia tiba. Tidak usah bertanya siapa yang sedang menjadi bahan gosip pun sudah dapat diterka. Suasana seketika menjadi tidak nyaman. Keheningan terjadi sesaat dan menjadi kikuk. Once si perias wajah dan penata busana langsung menghampiri Clara dan menyapanya untuk mencairkan suasana. "Hei, Clara, apa kabar lama kita engga ketemu ya," kata Once si perias yang sedikit bergaya kewanitaan. Clara duduk dikursi rias dan membalas senyuman Once. Lalu ia menatap ke arah cermin dan memandangi bayangannya sendiri. "Oke kita rias wajahmu sekarang. Pakaian untuk pemotretannya juga sudah aku sediakan," kata Once berbasa basi. Ia merasa tidak enak hati pada Clara terpergok bergosip bersama Lolita yang kini sudah siap untuk di foto. Sekilas Lolita melirik ke arah Clara dan tersenyum sinis. "Aku kira saat ini kamu akan membatalkan semua jadwal karena merasa malu," katanya memprovokasi. Suasana di ruangan ganti seketika menjadi kikuk karena kata-kata Lolita. Semua mata yang ada di sana, langsung menatap ke arah Clara. Bahkan Once yang sedang membersihkan wajah Clara, tangannya menjadi kaku. Clara menegakkan punggungnya yang sedang bersandar pada kursi rias. Ia menoleh dan menatap tajam Lolita. Clara bukan tipe yang mudah ditekan dan di buly. Dia pasti akan melawan. "Maksudmu? Apa kamu kurang job sampai ada waktu mengurusiku?" sahut Clara sinis. "Kamu tidak akan bisa menyembunyikan lagi betapa jahatnya kamu di masa lalu, Clara ...," kata Lolita dengan suara lugasnya. bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD