Takdir apa ...?

1202 Words
                “Apa kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?” tanya Lolita pada Clara dengan nada sinis. Clara tertawa renyah mendengarnya. “Maaf, aku tidak punya waktu untuk mengurusi orang lain. Berita hoax tentangku yang telah beredar sejak kemarin sore saja aku tidak tahu. Hari-hariku penuh jadwal pekerjaan.” Clara memalingkan mukanya dan tidak ingin menatap Lolita. Ia tidak ingin membuang tenaga hanya untuk bertengkar dengan Lolita. Rasanya waktunya akan terbuang sia-sia. Vicky masuk ke dalam ruangan sambil menggerakkan jarinya. “Lolita cepat, ini waktunya pemotretan kamu! Bukannya cepat-cepat malah bertengkar di sini,” kata Vicky sambil menarik tangan Lolita agar cepat keluar dari ruangan menuju tempat yang dimaksud. Lolita mengatupkan bibir dan melirik sinis ke arah Clara yang tidak menggubrisnya. Clara memperhatikan kepergian Lolita dari pantulan bayangan cermin yang ada dihadapannya. “Hm ... Ce, memang kalian tadi membahas apa?” tanya Clara sambil menatap Once dengan tajam. Once menghentikan tangannya yang sedang menaburkan bedak pada wajah Clara. “Apa?” “Kamu sama Lolita, dan yang lainnya tadi sedang gibahin aku kan? Kalian ngomongin aku apa?” tanya Clara lagi. Sejenak Once belum menjawab. Ia hanya menatap manik mata Clara tidak berkedip. “Mulai deh kek orang gagu di tanyainnya,” keluh Clara. “Bukannya begitu Clara ... aku hanya kaget kok kamu nuduh aku gibahin kamu. Mana pernah sih aku ngomongin orang,” jawab Once dengan wajah muramnya seakan tanpa dosa. Nia menepuk pundak Once dari belakang. “Udah deh jangan sok muna, masang muka tanpa dosa gitu. Tadi jelas kok kedengeran kalian sedang ngomongin Clara tadi. Pas kita dateng, kalian langsung diem seketika.” Once terdiam. Ia menatap Clara dan Nia bergantian. “Jangan salahin aku. Aku cuma ikut-ikutan. Kebawa arus cerita yang seru, yaudah aku ikut nimbrung,” jawabnya kemudian dan melanjutkan merias wajah Clara. “Kalian sedang membahas apa? Ngomongin tentang berita hoax itu ya?” tanya Nia. Once menganggukkan kepalanya. “Hm .. iya. Dan kata Lolita itu semua bukan berita hoax. Karier Clara sebentar lagi bakal hancur karena reputasi buruk.” “Maksudnya?” tanya Clara tidak mengerti. “Reputasimu bakalan hancur karena ketahuan telah melahirkan di luar nikah dan membuang anak di panti asuhan.” Nia dan Clara saling berpandangan satu sama lain. Once kembali fokus merias, karena sebentar lagi fotografer pasti akan memanggil Clara. “Aku akan mencari tahu tentang ini semua,” kata Nia pada Clara dengan suara yang nyaris berbisik. “Dan sepertinya kamu harus memiliki supir pribadi sekaligus pengawal untuk menjagamu dari paparazi atau hal semacamnya yang tidak diinginkan. Mungkin saja Lolita akan merencanakan sesuatu padamu.” “Nah, iya betul! Sepertinya kamu harus memakai supir pribadi! Masa artis terkenal nyetir sendiri,” sahut Once ikut nimbrung. Nia melirik ke arah Once dan menggerakkan bibirnya ke samping. “Nyamber aja kek bensin!” ***     Saran dari Nia memang ada benarnya. Sepertinya ia harus mempuyai supir pribadi sekaligus pengawal yang menjaganya dari paparazi atau niat jahat Lolita. Entah kenapa nyi pelet itu selalu membencinya. Nyiyir terus tiada henti, pikir Clara sambil menghentikan laju mobilnya. Seperti sekarang ia sudah lelah namun masih harus menyetir mobil. Setelah menghentikan mobilnya, Clara memberikan pesan singkat di aplikasi chat berwarna hijau pada Wildan, memberitahukannya jika ia akan pulang malam. Sebelum pulang ia ingin membeli makanan siap saji yang ada di jalan Mawar. Setelah mobilnya terparkir di bahu jalanan dan sudah selesai mengirimi pesan chat pada Wildan, Clara turun dari mobilnya.  Tanpa disangka ia bertemu Reno di sebuah restoran cepat saji. Terlihat Reno sedang berbincang dengan seseorang. Raut wajah Reno dipenuhi kekecewaan dan senyum pahit ke arah lawan bicaranya. Entah apa yang sedang dibicarakan Reno pada kepala restoran cabang itu. Clara berjalan mendekat. Entah mengapa hatinya menjadi sangat ingin tahu. Saat langkah kaki Clara berhenti tepat di samping Reno. Kepala restoran siap saji bernama Aji, yang sudah mengenal Clara karena ia salah satu dari pelanggan setia menyapa. “Mbak Clara, selamat malam ....” Reno langsung mengikuti ke mana arah tatapan Aji tertuju. Kedua matanya bertemu tatap dengan Clara. “Selamat datang. Mari silahkan masuk ...,” sapa Aji ramah. Clara tersenyum. “Iya, aku akan memesan menu seperti biasa untuk di bawa pulang. Tapi aku ingin berbicara dengan temanku,” katanya sambil menatap Reno. Aji terlihat terkejut. “Jadi mbak Clara mengenal pria ini?” Clara menganggukkan kepalanya. “Iya, aku mengenalnya.” “Kenapa kamu tidak mengatakan sejak tadi jika mengenal salah satu selebritis,” ucap Aji pada Reno. Reno tersenyum pahit menanggapinya. “Ayo, Reno kita masuk. Ada yang ingin aku bicarakan padamu,” kata Clara sambil menarik lengan Reno ke dalam restoran cepat saji. Reno menatap tangan Clara yang menyentuh lengannya. Tatapan yang terlihat aneh dan nampak tidak suka. “Maaf, aku sedang ada urusan,” katanya pelan. Walau Reno berucap dengan suara pelan, tapi Aji masih bisa mendengarnya. Aji menggelengkan kepalanya, karena merasa Reno angkuh dan sok karena mengabaikan ajakan seorang selebritas terkenal seperti Clara. “Hanya sebentar Reno. Tolong, aku ingin berbicara denganmu, karena saat bertemu aku tidak sempat berbicara empat mata denganmu,” kata Clara lagi. “Memangnya ada hal penting yang harus kita bicarakan?” tanya Reno dengan dahi mengerenyit. Clara menatap Reno lekat. “Ya, ada.” Sejenak mereka bertatapan. Hingga angin malam berhembus pelan menyapa mereka. Membangkitkan ingatan atas kenangan-kenangan masa lalu yang sudah terkubur dalam. Reno menatap manik mata Clara yang berwarna cokelat gelap dan kemudian menghela nafas panjang. “Oke baiklah ...,” katanya akhirnya menuruti permintaan Clara. Clara tersenyum simpul dan kemudian mereka berjalan menuju ke dalam restoran cepat saji. Clara berjalan lebih dahulu dan mendorong pintu kaca tebal restoran cepat saji yang terkenal di dunia itu. Namun malam ini nampaknya tidak seramai seperti biasa. Hanya beberapa meja yang terisi. Clara dan Reno memilih duduk di meja dekat jendela kaca lebar yang tembus pandang. “Sebentar aku pesan makanan dulu ya,” kata Clara sambil tersenyum. “Aku tidak usah,” sahut Reno malas. “Kenapa begitu? Ayo lah ... makanan kesukaanmu di tempat ini masih sama kan?” tanya Clara sambil tersenyum. Reno tidak menjawab. Dan Clara tidak peduli dengan jawaban. Ia langsung menuju meja kasir untuk memesan. Setelah memesan, Clara kembali lagi dengan nampan berisikan dua ayam goreng crispy, dua kentang goreng dan milk shake. Ia menaruhnya di atas meja dan membagi rata dengan Reno. “Ini, aku masih ingat kan apa makanan kesukaanmu di tempat ini ....” Lagi-lagi Reno tidak menjawab. Ia menatap Clara dengan wajah datar. “Sudah cukup Clara. Entah mengapa aku menjadi muak dengan ini semua,” kata Reno sinis. Wajah sumringah Clara langsung berubah ketika mendengar pendapat Reno. Suasana di antara mereka menjadi kikuk kembali. “Sebenarnya apa maumu dengan ini semua?” tanya Reno. “Apanya ...? Aku hanya ingin bersikap baik padamu,” jawab Clara dengan wajah muramnya. Untuk kesekian kalinya Reno tersenyum sinis. Ia memalingkan muka sesaat dan kemudian menatap Clara lagi. “Setelah pergi selama lebih dari lima tahun, kamu datang kembali menemuiku dan hanya kalimat itu yang mampu kamu ucapakan? ‘Hanya ingin bersikap baik’ Yang benar saja Rara ....” Clara mengatupkan bibirnya. Ia menelan ludahnya kerena merasa tenggorokannya kering. “Putrimu ... Diva ... dia lah yang membawa aku bertemu denganmu. Entah takdir apa yang mengelilingi kita.”   Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD