Reno mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menatap Clara dengan tatapan sendu. Mereka sudah menyelesaikan menyantap makanan yang dipesan, tapi Clara masih bercerita ke sana ke mari. Basa basi dan tertawa sendirian. Bagi Reno apa yang diceritakan Clara sama sekali tidak lucu. Garing.
Beberapa kali Reno hanya mengangkat kedua alisnya ke atas. “Sudahlah, ke intinya saja. Tadi kamu ingin mengatakan apa?”
Clara menghentikan suaranya yang berbicara ke sana ke mari. “Hm ... Sebetulnya tidak ada yang penting sih. Aku hanya ingin mengajakmu makan tadi,” jawab Clara akhirnya.
Reno mendengus kesal. “Kamu membuang-buang waktuku saja.”
“Ada sih yang ingin aku tanyakan, tapi ini hanya sebuah rasa penasaranku saja,” kata Clara sambil menyeka bekas remahan dan minyak ayam goreng yang berantakan di sudut-sudut bibirnya.
Reno menatap kesal ke arah Clara untuk kesekian kalinya. Rasanya ia dipermainkan untuk tetap duduk di sini. “Oke, kalo memang tidak ada yang penting sebaiknya aku pergi.”
“Reno, tadi apa yang kamu bicarakan pada Aji, kepala restoran di sini? Aku lihat kamu dan dia terlibat perbincangan yang serius.” Clara buru-buru bertanya sebelum Reno mengangkat tubuhnya dari kursi.
“Tadi kamu mendengarnya?” tanya Reno dengan tatapan terkejut. Merasa malu jika Clara mendengar perbincangannya dengan Aji.
Clara menganggukkan kepalanya. Berbohong. Padahal sama sekali indera pendengarannya tak mendengar apa pun.
Reno mengehela nafas panjang. Dan mengurungkan niatnya untuk beranjak dari duduknya. “Aji adalah temannya temanku. Temanku menyuruhku untuk menemui Aji. Katanya, Aji membutuhkan pekerja tambahan. Tapi ternyata pekerjaan itu sudah diisi oleh orang lain.”
Clara menggigit bibir bawahnya. “Jadi kamu sedang membutuhkan pekerjaan? Bukankah kamu sudah memiliki bisnis ikan hias?” tanya Clara dengan sangat hati-hati. Ia takut Reno tersinggung dengan pertanyaannya.
“Usahaku sedang tidak bagus,” jawab Reno lirih. Kemudian ia tersenyum pahit. Tatapannya menerawang. “Kamu pasti menertawakan aku. Aku yang selalu berpegang teguh pada prinsipku, tapi tidak kunjung sukses. Berbeda denganmu yang sudah menggapai cita-citamu. Memang perpisahan kita adalah takdir yang baik untukmu.”
Clara menelan ludahnya. Tiba-tiba kerongkongannya kering saat mendengar kata-kata yang diucapkan Reno. Ya memang benar jika cita-citanya telah tercapai. Keinginannya telah terwujud. Kini Clara adalah salah satu artis sukses yang dapat diperhitungkan. Tapi Reno tidak tahu dibalik kesuksesan itu ada lubang dalam di palung hati Clara yang terdalam.
Reno melirik Clara yang kini ikut terdiam dengan tatapan menerawang. “Dan bagaimana hubunganmu dengan Wildan? Terkadang aku melihat berita kalian di televisi. Dan terkadang di sosial media.”
Clara tersenyum kecut. “Ya, biasa saja. Hanya terkadang sering dibesar-besarkan oleh entertainment. Jadi ya begitulah ...,” jawabnya sambil mengangkat kedua bahu dan kemudian menyesap milk shake cokelat. “Jadi kamu sedang membutuhkan pekerjaan?” tanya Clara yang tiba-tiba teringat akan saran yang dikatakan Nia padanya.
Reno kembali memandang Clara. Entah sudah beberapa kali mereka saling menatap dan kemudian memalingkan muka.
“Aku serius bertanya. Jika kamu sedang butuh pekerjaan. Aku memilikinya,” kata Clara melanjutkan kata-katanya yang tadi.
“Hm ... Ya. Sepertinya begitu,” jawab Reno yang sudah pasrah harus menjawab jujur.
“Aku sedang membutuhkan supir pribadi. Dan sekaligus pengawal. Bukankah dulu kamu pernah ikut latihan karate kan? Jadi persyaratan untuk kamu menjadi supir pribadiku sangat pas!” Clara berbicara dengan tatapan berbinar. Dan entah mengapa jantung di dadanya menjadi berdebar-debar menanti jawaban Reno.
Reno mengatupkan bibirnya dan memalingkan mukanya ke samping. Tangan kanannya mengambil gelas besar dan menyesap perlahan milk shake cokelat yang terasa manis dan lumer di dalam mulutnya.
“Bagaimana? Bukankah ini solusi?” tanya Clara lagi.
Reno tidak langsung menjawab. Ia sedang menimbang-nimbang apakah akan mengiyakan tawaran Clara atau tidak. Egonya melarang. Namun saat ini ia sangat membutuhkan pekerjaan tambahan. Tidak mungkin mengandalkan usaha ikan hias yang sedang sepi peminat.
“Aku juga memiliki salon dan rumah makan yang mungkin kamu bisa bekerja di sana,” kata Clara lagi.
“Apa kamu sedang pamer di sini?” tanya Reno mulai tersinggung. Ia beranjak dari duduknya dan menggeser kursi ke belakang. “Aku harus pulang, anak istriku menunggu.”
Clara menyadari jika ia sudah salah berbicara. “Reno, bukan itu maksudku. Aku sama sekali tidak ingin memamerkan apa-apa padamu. Aku hanya ingin mengatakan jika kamu butuh pekerjaan. Kamu bisa bekerja denganku.”
“Terima kasih. Tidak usah merepotkanmu,” sahut Reno dan benar-benar akan pergi.
Clara menarik lengan Reno agar menghentikan langkahnya.
“Ada apa?!” seru Reno tidak suka.
“Aku nitip makanan untuk Diva,” jawab Clara. “Tunggu sebentar. Aku akan memesan makanan untuknya. Dia pasti senang jika tahu, aku spesial memberikan makanan ini untuknya.” Clara langsung bergegas ingin menunjuk tempat kasir dan memesan paket makanan siap saji untuk anak-anak.
Tapi suara Reno menghentikan niatnya. “Tidak usah. Anakku tidak kekurangan makanan di rumah,” kata Reno dan kemudian berjalan pergi menuju pintu restoran dengan dua kaca tebal yang berhadapan.
“Tapi Reno ... Tunggu ...!”
Reno mengabaikan panggilan Clara. Ia tetap pergi meninggalkan restoran.
Clara menghela nafas panjang. Menatap punggung Reno yang pergi meninggalkannya. “Aku hanya ingin Diva menganggap kehadiranku spesial ...,” ucapnya lirih.
***
“Apa kamu masih tetap mempercayai Clara?” tanya Lolita sambil menumpu kaki kiri di atas kaki kanannya.
Wildan menatap selembar foto yang diberikan Lolita dan kini dipegangnya. “Dari mana kamu mendapatkan ini?”
“Yang pasti dari orang kepercayaan Clara,” jawab Lolita dan kemudian mengatupkan bibirnya. Menatap pria yang dikaguminya.
Wildan menyeringai setelah menatap foto Clara beberapa menit lamanya. “Kamu sampe sebegitu kerasnya untuk menjatuhkan Clara. Jadi kamu dalang di balik foto-foto Clara yang berperut buncit ini beredar di internet? Sudah beberapa kali aku katakan jika Clara memang sudah sepantasnya sukses karena ia lebih dahulu berkarier di modeling dari pada kamu Lol ....”
“Clara itu tamak. Kamu engga merasa apa, jika semua bidang ia geluti. Dari nyanyi, main sinetron, MC, sampe model juga. Aji mumpung!” sahut Lolita ketus.
“Namanya juga ada kesempatan, ya ambil aja kalo bisa.” Wildan menyahut.
Lolita mengehela nafas panjang dan mengambil cangkir berisikan teh hangat yang telah dibuatkan oleh asisten rumah tangga Wildan. Ia menyesap perlahan sambil menatap kesekeliling ruang keluarga. Dan terhenti pada foto keluarga besar yang terpanjang di dinding. Foto yang memperlihatkan kebersamaan keluarga dan senyuman-senyuman bahagia. Termasuk ia dan Wildan yang ada di dalam foto itu.
“Sudah lama keluarga kita tidak berkumpul. Mungkin terakhir kita berkumpul bersama sekitar dua tahun yang lalu,” kata Lolita dengan tatapan menerawang.
Wildan mengehela nafas panjang. “Terakhir kita berkumpul saat Tante Anglica wafat,” kata Wildan mengenang.
Air muka Lolita berangsur sendu. Ia menjadi rindu pada Angelica, Tante yang selalu bersama dan mendukungnya.
Sejenak keheningan mulai merayap. Dan Lolita buru-buru mengusir suasana sedih itu. “Bagaimana kabar orang tuamu?” tanya Lolita sambil menaruh kembali cangkir tehnya di atas meja bersama piring kecil yang menyertai.
“Orang tuaku baik-baik saja dan selalu menanyakan kapan aku akan menikahimu. Padahal sudah sering aku katakan kita hanya teman dekat. Tidak lebih,” jawab Wildan sambil tertawa.
Mendengar jawaban Wildan, Lolita merasa tidak nyaman. Hatinya kembali ciut. Ia tahu sampai kapan pun Wildan pasti akan menganggapnya hanya teman. Entah mengapa setiap Lolita mulai mencintai seseorang pasti tak berbalas. Membuatnya merasa selalu sendiri dan kesepian.
“Kenapa kamu tak katakan jika kamu mencintai Clara? Dan berita yang beredar tentangmu dan Clara itu memang sungguhan?” Lolita memberi saran sambil menyindir.
Wildan menaikan kedua alisnya ke atas. “Tidak usah pakai bertanya. Kamu tahu sendiri kan jika orang tuaku tidak setuju, jika aku menjalin hubungan dengan Clara. Aku sedang mencari cara agar orang tuaku segera menyetujui pernikahan kami.”
Lolita tersenyum tipis. ‘Pernikahanmu dan Clara tidak akan pernah terlaksana. Sampai kapan pun ... Tidak akan pernah ....”
Bersambung