11. Move On

1719 Words
Kami memasuki resto yang dipadati oleh ramai pengunjung. Rata-rata pengunjung di sini tampak dari kalangan kantoran dan pebisnis. Mereka menduduki kursi-kursi dengan meja berbentuk persegi maupun bulat. Meski ramai, suasana di dalam resto ini terasa begitu nyaman dan homey dengan ornamen tradisional khas Jawa yang melekat pada setiap sudut. Berjejer figura yang memajang ragam batik tulis khas Jawa Tengah di beberapa spot. Kipas-kipas besar terpasang di langit-langitnya sehingga kami sama sekali tak merasa gerah meski cuaca di luar sedang panas-panasnya. Dokter Vadi terus berjalan demi mencari tempat yang nyaman. Sampai di tengah ruangan, dia mengajakku untuk belok ke arah kanan dan mataku langsung takjub melihat sebuah kolam besar berhias teratai di mana-mana. Cantik sekali. Di tengah-tengahnya ada sebuah patung kendi yang mengalirkan air ke wadah batu berbentuk bulat dan air itu tak pernah habis-habis untuk dituang. Di seberang kanan dan kiri kolam, terdapat saung-saung yang berisi sebuah meja persegi panjang dan beralaskan tikar rotan untuk pengunjung duduk di atasnya. Terdapat nomor-nomor yang berdampingan dengan kotak tisu berbentuk anyaman warna cokelat muda pada bagian tengah meja. Dokter Vadi tiba-tiba menarik tanganku dan melangkah ke saung nomor tiga, tepatnya meja nomor 21. “Kita duduk lesehan saja.” Dokter Vadi baru melepas tangannya saat kami sudah memijakkan kaki di dalam saung beratap ijuk ini dengan pondasi yang terbuat dari bambu-bambu besar berpelitur. Sedikit aku terhenyak diperlakukan begini oleh si bos. Lelaki cuek yang kerap bersikap dingin ini, untuk pertama kali memegang pergelangan tanganku. Ah, buang pikiran aneh di benakmu, Risa! Dia hanya baik dan tak bermaksud apa pun. Bukankah itu adalah sebuah hal yang wajar? Aku akhirnya mengikuti dr. Vadi untuk duduk di meja. Tak berapa lama, datang seorang waiter lelaki dengan seragam warna hijau bertuliskan Resto Sambisari di dadanya sambil membawa dua buku menu berlaminating, sebuah buku catatan, dan bolpen berwarna hitam. “Silakan mau pesan apa, Kak,” kata lelaki berkulit sawo dengan tubuh kurus itu sembari menyodorkan buku menu pada kami berdua. Kami pun sibuk membaca dan membuka lembar demi lembar, sedang lelaki itu dudukmenunggu dengan melipat dua kaki seperti duduknya orang Jepang pada upacara minum teh. “Nila bakar satu, udang goreng tepung satu, sambal matah satu, cah jamur satu, es campur satu. Oh, ya. Tahu tempenya masing-masing satu porsi.” Aku mengernyit mendengar deret pesanan dr. Vadi. Banyak sekali makannya, pikirku. “Kamu pesan apa, Ris? Jangan malu-malu.” Dr. Vadi menaikkan dua alisnya padaku, memberi kode agar aku segera menyebutkan pesanan. “Jamur goreng tepung satu sama cumi asam manis satu. Minumnya es teh.” Dr. Vadi terlihat memajukan bibir bawahnya. “Diet ternyata.” Huh, dasar! Emangnya aku hobi makan kaya Dokter! “Nasi putihnya juga, Kak?” tanya si waiter. “Iya. Aku pesan sebakul, ya. Lebihkan sedikit dari dua porsi. Takut kurang.” Dokter Vadi semakin membuatku mengernyitkan kening. Ini mau makan siang atau mukbang sebenarnya? “Baik, Kak. Saya ulangi pesanannya, ya.” Waiter tersebut kemudian mengulangi setiap menu yang telah kami pesan. “Sudah sip. Cuma kurang satu,” sahut dr. Vadi saat si waiter selesai berbicara. “Ada lagi tambahannya, Kak?” “Nggak pakai lama, udah itu aja.” Dr. Vadi kemudian memainkan ponselnya. Mukanya seperti orang yang tak berdosa dan benar-benar cuek. Si waiter sampai tersenyum kecil sendiri. “Baik, Kak. Ditunggu pesanannya, ya.” Lelaki itu pun kembali bergegas untuk menyampaikan pesanan pada sang koki. Saat dia telah berlalu, dengan usil aku menepuk lengan dr. Vadi yang duduk di hadapanku. “Dasar usil!” “Lapar.” Lelaki itu menjawab singkat sambil terus terpaku pada ponselnya. “Dok, sering makan di sini, ya?” Aku berbasa basi, membuka percakapan agar suasana di antara kami tak terlalu kaku. Ini adalah kali pertama aku dan dia makan hanya berduaan di luar. Pastinya ada perasaan aneh dan canggung di dalam hatiku, meski sekuat tenaga perasaan itu harus kutepis demi kenyamanan bersama. “Ris, berhenti panggil dok kalau sedang di luar.” Dokter Vadi menatapku dengan wajah datar. Dia lalu kembali memainkan ponselnya. “Lha, terus aku panggil apa? Bang? Akang? Akang kendang, gitu?” Aku geli sendiri. Tertawa sambil menutupi mulutku dengan telapak. “Mas. Mas Vadi. Ngerti?” Aku hampir tersedak. Idih. Bisa-bisanya minta dipanggil ‘mas’ olehku. Rasanya aku jadi geli sendiri. “Hahahaha aduh, aku geli banget, Dok.” “Emang aku gelitikin kamu apa?” Dokter Vadi malah menatapku dengan kerutan di dahinya. Lelaki ini bukannya ikut tertawa, malah pasang muka serius begitu. Dasar! “Oke, oke. Mas ... Mas Vadi. Aduh, geli.” Aku membuat gerakan menggigil dengan menaikkan dua bahu. Dokter Vadi malah mencebik, sedang dua matanya masih menatap ponsel. “Lihatin apa, sih? Serius banget. Kalau lagi di luar sama teman itu, harusnya kita ajak bicara. Bukan dicuekin. Huuu!” Aku manyun padanya. Melemparkan gulungan tisu ke dekat tangannya. “Memangnya kita teman?” Dokter Vadi menatapku. Mukanya masih serius. “Oh, iya. Lupa. Kan aku bawahannya, Dokter.” “Sekali lagi bilang dokter, kamu pulang jalan kaki.” Dokter Vadi malah melempar balik gulungan tisu tersebut ke dekat tanganku. Aku seketika merasa geli campur terhibur. Ya, inilah hari di mana aku menemukan sisi lain dalam diri seorang dr. Vadi. Dia benar-benar sangat baik dan asyik diajak bercanda. Ya, meski masih terlihat kaku plus cuek tentunya. Mungkin bawaan orok. Sejak dalam kandungan sudah terbentuk DNA-DNA cool dan super cuek dalam darahnya. “Hei, Vadi?” Sebuah suara membuat kami sontak menoleh. Aku terkesiap melihat seorang wanita cantik berambut lurus panjang dengan blus warna putih beraksen mutiara di lehernya. Perempuan itu berhenti di depan saung kami bersama seorang lelaki tinggi berbrewok rapi dengan wajah yang sangat macho plus berkulit tan. “Vad, apa kabar, Bro?” Lelaki di samping si cewek cantik itu seolah-olah kaget kala melihat sosok dr. Vadi. Mereka sepertinya seumuran, pikirku. Mungkin teman sekolah atau kuliah. Dokter Vadi yang tadinya terlihat asyik bermain ponsel, langsung meletakkan benda berwarna gold dengan tiga kamera di belakang tersebut ke atas meja. Wajah dr. Vadi tampak pias. Ekspresinya seolah kaget dengan pemandangan di depan kami. “N-nad, Ref,” ujar dr. Vadi sembari mengulurkan tangannya pada kedua orang tersebut. “Kabar baik. Kalian apa kabar?” Terdengar nada yang tak biasa keluar dari bibir dr. Vadi. Seperti orang yang sedang menahan kecewa. Entahlah. Mungkin hanya perasaanku saja. “Baik, Vad. Kita berdua baru aja habis makan. Iya, kan, Sayang?” Perempuan tersebut menyikut pelan lelaki berkaus hitam di sebelahnya. “Iya. Mumpung sama-sama libur jaga, Vad. Masih di Citra Medika?” Si lelaki sempat menoleh ke arah perempuan yang memanggilnya sayang dengan tatapan penuh mesra. “Masih.” Dokter Vadi yang masih duduk di depan meja itu mengangguk. Sementara dua teman mengobrolnya yang berdiri di depan saung, tampak sama sekali tak menyadari keberadaanku di sini. Ya, tau, sih. Dari tampilan yang tak meyakinkan dan masih pakai seragam putih-putih plus sweater rajut kebesaran ini, memang keberadaanku sangat invisible bagi kalangan dokter seperti mereka. “Pindahlah ke tempat kita, Bro. Mitra Husada cuannya gede.” Si teman lelaki yang tadi di panggil Ref oleh dr. Vadi, tampak sedang menyombongkan sesuatu dari nadanya. “Nggak. Udah banyak duit ini juga.” Dokter Vadi terdengar cuek. Bagus, pikirku. Jawab saja begitu. Dua orang lawan bicaranya langsung terdiam. Wajah mereka sama-sama tampak tak enak. “Vad, bulan depan kami nikah. Datang, ya. Bawa calon istri. Masa jomblo terus. Move on, ah!” Si perempuan cantik dengan kulit super bening dan hanya mengenakan lippen warna nude tersebut mengibaskan tangannya sembari menggelayut mesra pada sang kekasih. “Iya. Nanti kita datang ya, Sayang.” Deg! Aku terhenyak kala mendapati dr. Vadi menggenggam tangan kiriku yang memang sedari tadi berada di atas meja. “Eh, i-iya. Siap, Sayang.” Aku menatap atasanku dengan senyum kecil. Asal tahu ya, degup jantungku langsung bertambah seratus kali lipat lebih cepat dari pada biasanya. Sesak napas ini. Terlebih tangan dr. Vadi tidak kunjung melepaskan genggamannya. “Oh, ini calon istrimu, Vad?” Wajah kedua sepasang kekasih itu tampak terheran-heran menatapku. Ekspresi mereka yang semula abai, kini mulai tampak ramah dan mau mengulurkan tangannya. “Kenalin, Nadya. Teman kuliahnya Vadi.” Manis sekali ucapan perempuan yang aroma wangi pada tubuhnya itu sangat lembut dan harum. “Risa.” Aku menjabat tangannya. Sementara tangan kiriku baru mau dilepas dr. Vadi saat aku usai bersalaman dengan si Nadya. “Reffy.” Si cowo ikut menjabat tanganku. Wajahnya memandang dengan ulasan senyum kecil. “Dia asistenku di Citra Medika. Makanya aku nggak mau pindah.” Lagi-lagi ucapan Mas Vadi, eh salah, dr. Vadi membuat perasaan teraduk-aduk. Nervous, gugup, dan nggak pede, semua bercampur rata. There’s butterfly ini my stomach, kalau bahasanya Ratu Elizabeth. “Oh, gitu. Bisaan si Vadi. Cinlok sama susternya.” Si Reffy mengangguk sopan. Mungkin dia lebih menahan diri untuk tidak mengejek. Namun, bisa kupahami pasti di dalam hati mereka tengah berkata-kata. Kok mau-maunya si Vadi sama perawat yang modelnya beginian. Aku juga heran sendiri. Kok mau-maunya dr. Vadi mengakuiku sebagai calon istri segala. Dasar gila! Nekat sekali dia menjatuhkan pasarannya sendiri. Aroma harum makanan tiba-tiba menyeruak dan masuk ke paru-paru. Ternyata pesanan kami sedang dibawakan oleh dua orang pelayan dengan masing-masing satu nampan berada di tangan mereka. “Eh, Vad. Lanjutin, deh. Kita pulang dulu, ya. Mari Vad, mari Mbak.” Reffy pamit sembari menggandeng calon istrinya. Si Nadya pun tak lupa untuk ikut mengucapkan perpisahan sembari melambaikan tangan untuk kemudian berlalu. Semua menu sudah lengkap tersaji di depan meja. Dokter Vadi sama sekali tak berbicara setelah baru saja melakukan kebohongan besar pada dua rekannya. Lelaki itu lebih memilih untuk mencuci tangan pada wastafel yang berada di belakang saung kami dan mulai untuk makan. Lelaki itu makan sangat lahap. Tanpa jeda dan seolah dunia hanya miliknya. Bahkan dia sama sekali tak hirau dengan keberadaanku. Jangankan mengklarifikasi kata-katanya barusan. Basa-basi untuk menawarkan makan saja dia tidak. Namun, aku hanya bisa diam dan ikut makan menikmati deretan hidangan nikmat ini. Kapan lagi ya, kan. “Dia pikir dia doang yang bahagia. Belum move on? Makan nih, move on!” Dokter vadi mengempaskan sisa tulang kepala ikan nila yang baru saja dia kunyah dan isap-isap ke atas piring dengan wajah kesal. Dih, lagi kenapa nih, orang? Demam atau kemasukkan? Diam aja, deh, aku. Dari pada disemprot sama orang yang lagi sensitif. Positive thinking saja, mungkin si Nadya itu mantan pacar yang ditikung oleh temannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD