7. Selamat Tinggal!

1092 Words
Tidak, Risa bukanlah sosok yang lemah. Tak ada tangis dan kecewa. Aku harus bangkit! Selagi Mas Rauf masih sibuk mengusap puncak kepala kekasih gelapnya, maka aku pun berusaha untuk bangkit dari motor. Berjalan ke arah mereka sembari membuka helm dan maske yang tadinya sempurna menutupi penyamaran. Dengan menahan degupan jantung yang keras dan seolah membabi buta memukuli d**a, kuempaskan helm pinjaman milik Mak Ambar tepat di kepala Mas Rauf. Plak! Mas Rauf seketika terjungkal ke samping bersama sepeda motornya. Lelaki itu membelalak kaget dengan wajah yang pucat pasi. “Sayang!” Teriakan histeris perempuan minimarket tersebut membuat telingaku semakin panas. “Apa katamu? Sayang? Coba kau ulangi!” Aku berteriak kesetanan pada perempuan dengan wajah tak berdosa itu. Kubanting helm yang masih berada di tangan ke paving block hingga hancur terbelah dua. “Mas! Bangun kamu! Bangun kubilang!” Suaraku sangat nyaring hingga membuat pegawai minimarket lainnya keluar menonton. Aku tidak peduli. Kalau perlu tamat saja riwayat mereka. Awalnya tak ingin aku berbuat seperti ini. Mengamuk bagai aku sangat membutuhkan Mas Rauf. Namun, emosiku nyatanya sulit untuk dibendung. Terlebih, rasa syok yang begitu mencambuk d**a. Seakan aku ingin membalas segala rasa sakit yang telah tercipta. Mas Rauf akhirnya bangun sembari mendirikan kembali motornya. Lelaki itu memasang wajah ketakutan. Matanya bahkan tak dapat menatap ke arahku. Dia hanya dapat menunduk. “Perempuan ini penyebab uangmu tak pernah bersisa untukku, Mas? Hingga keluargamu pun aku yang ikut menanggung?” Aku menuding Mas Rauf. “A-aku minta maaf.” Mas Rauf menunduk. Bedeb*ah! Kata maaf benar-benar tak cukup untuk menghapus segala luka di hati. “Dan kau! Perempuan tak tahu malu! Kamu ingin memiliki lelaki ini? Silakan saja!” Aku mendorong pundak perempuan itu hingga dia terhuyung dan hampir saja jatuh. Perempuan itu sama sekali tak menjawab. Hanya air mata yang dapat dia pertontokan di hadapanku. “Kita cerai! Titik!” Aku menendang ban motor Mas Rauf dan langsung merebut helm miliknya yang jatuh di paving block. Enak saja! Gara-gara dia helm Mak Ambar pecah. Lebih baik dia saja yang pulang tanpa helm! “Ris. Aku mohon maafkan aku.” Mas Rauf menarik tanganku. Erat. Tanpa babibu, kutampar wajahnya dengan keras. Biar teleng sekalian otaknya. Percuma punya otak, pun tidak digunakan! “Nikahlah kamu dengan perempuan itu! Perempuan yang tampilannya lugu bagai remaja tak berdosa, tapi main gila dengan suami orang.” Aku meludah ke arah perempuan yang masih berdiri mematung tak jauh dari motor Mas Rauf. Dia masih menangis sesegukan sembari menundukkan pandangan. Sedang teman-temannya yang tadi asyik menonton sembari mengeluarkan ponsel (entah mau merekam atau memfoto, terserah saja!) satu per satu mulai masuk kembali. “Tidak. Aku inginnya kamu.” Mas Rauf masih memegang erat tanganku. “Aku? Najis! Tak bakalan sudi aku untuk menerimamu kembali, Mas!” “Oh, ya? Kalau begitu, kembalikan padaku ijazahmu, Ris.” Aku tertawa sinis padanya. Memandang ke arah Mas Rauf dengan tatapan tajam. “Masih juga ingin kamu bahas hal itu, Mas? Sekali lagi, kembalikan keperawananku yang kau ambil dulu! Segera!” Aku berteriak kesetanan. Meludahi muka Mas Rauf yang berubah masam. “Akan kukemasi barang-barangku sekarang juga! Kawin sana kamu dengan perempuan itu. Jangan pernah cari aku lagi!” Aku menarik tangan dari genggaman Mas Rauf. Kupikir dia menyerah. Namun, setan itu kembali lagi menahanku dengan berlutut dan mencium kaki ini. Ingin kutendang kepalanya. Mumpung banyak orang di tepi jalan sana yang menonton dan merekam kejadian memalukan ini. Akan tetapi, aku masih punya hati nurani. “Aku minta maaf, Risa. Aku salah. Aku khilaf. Perempuan itu hanya untuk mainanku saja.” Mendengar ucapan Mas Rauf, perempuan selingkuhannya yang semula menangis tersedu-sedu itu berteriak histeris. Dia kemudian berjalan ke arah kami dan mulai menumpahkan isi hatinya. “Mas, kamu bilang aku hanya mainan? Padahal kamu yang dulu berjanji untuk segera menikahiku! Nyatanya kamu hanya ingin tubuhku saja.” “Hei, diam perempuan murahan! Kamu itu jual diri! Demi uang kamu jual tubuhmu pada Mas Rauf yang sudah jelas-jelas beristri!” Aku mencaci maki perempuan berkulit putih dengan pipi yang tirus itu. Sakit hatiku tak habisnya dengan pelakor tak tahu malu ini. “Semua salah suamimu! Dia yang menggoda dan selalu merayu! Asal tahu, aku sudah telat seminggu karenanya!” Perempuan itu kini mengeluarkan taring. Merasa lebih garang padahal dialah malingnya. “Nah, Mas. Dengar sendiri, kan? Perempuan ini sudah bunting karenamu. Kawinilah dia biar dia tahu rasa betapa indahnya hidup bersama keluargamu yang pengeretan dan tidak tahu malu itu!” Habis kesabaran, kutendang kepala Mas Rauf. Tak kupedulikan lelaki yang tersungkur lemah itu. Cepat kukenakan kembali helm milik Mas Rauf dan naik ke atas motor Mak Ambar. Kupacu motor tersebut dengan kecepatan tinggi untuk kembali ke rumah milik orangtua lelaki yang sebentar lagi menyandang status mantan suami. Sepanjang perjalanan, aku hanya dapat berurai air mata. Sejak kemarin hingga detik ini, Mas Rauf berhasil menghancurkan setia dan perasaanku. Kujaga cinta ini hanya untuknya selama empat tahun. Mengabaikan perasaan laki-laki lain yang kerap mendekati sejak aku duduk di bangku SMA hingga lulus kuliah. Semua semata-mata hanya demi seorang Rauf Sadiqin yang kurasa telah berjasa besar dalam kehidupan ini. Nyatanya, semua hanya palsu dan omong kosong belaka. Di belakangku dia sibuk bermain api hingga lupa dengan janjinya untuk sehidup semati denganku. Aku jadi sangat menyesal. Sungguh benar-benar menyesal. Andai saja aku fokus mencari uang sendiri demi membayar biaya kuliah, tak akan kubiarkan Mas Rauf ikut campur dan malah meminta tubuhku sebagai imbalannya. Andai aku tak berutang budi padanya, sudah barang tentu aku mendapatkan jodoh lain yang lebih baik. Padahal, sewaktu kuliah dulu, banyak lelaki dari berbagai kalangan yang sempat mendekati. Dari karyawan swasta, TNI, Polri, dokter muda, sampai dokter residen bedah, pernah mendekati dan memberi kode bahwa mereka tertarik padaku. Namun, saking tololnya aku dan termakan cinta buta pada Mas Rauf, aku bertahan untuk menutup pintu hati dan hanya menyediakan kursi untuk lelaki yang kini malah meludahi kesetiaanku. Cukup sudah aku menjadi bodoh karena cinta. Inilah waktunya untuk bangkit dan lari dan semua himpitan hidup yang sebenarnya malah kuciptakan sendiri. Risa Sarasdewi harus berdikari. Berdaya guna demi melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang suami pengkhianat sekaligus pengeretan. Terus kupacu sepeda motor ini dengan kecepatan tinggi. Kuabaikan segala bahaya yang bisa saja mengintai di jalan raya. Aku tahu, Tuhan Maha Menjaga. Meski dulu kuberlumur dosa, tapi kini akulah yang dizalimi oleh manusia-manusia berjiwa iblis tersebut. Tuhan pasti akan menyanyangi dan melindungi orang yang tersakiti. Dalam hati aku berjanji, bahwa sesampainya di rumah, semua akan usai. Tak akan ada kata kembali. Selamat tinggal Rauf, Mama, dan Indy. Kalian akan menjadi sebuah kenangan buruk yang tak bakal kuingat-ingat lagi pada masa yang akan datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD