Konferensi Pers

831 Words
Nayang duduk dengan gelisah. Ia sering mengikuti pamannya konferensi pers, tapi biasanya dia di belakang layar ... Kali ini ia harus menjadi bagian dari mereka. “ Kamu bisa, sayang.” Dan memeluk gadis yang terlihat pucat itu ,” Ini juga tidak mudah buat paman.” Ditariknya nafas panjang ketika pintu mulai dibuka ,” Ayo ...” Lyra menggandeng Nayang yang terlihat goyah melangkah ,” Ada kami, tenang saja.” “ Kamu bisa tenang ... karena sudah biasa.” Gerutu Nayang sambil tersenyum. Ditatapnya Dan dan produser sudah mulai bicara di panggung. “ Ayo.” Dimas menggenggam tangan Nayang saat pembawa acara memanggil nama mereka. Meremasnya lembut merasakan tangan itu sedingin es ,” Senyum sedikit.” Bisiknya saat menariknya menuju panggung, tersenyum dan melambaikan tangan pada penggemar yang memanggil-manggil namanya. “ Dan, apa yang menjadi alasan anda mengambil proyek drama ?” Nayang menatap pamannya yang tersenyum dengan sikap tenang ,” Tantangan dari anak saya.” Jawabnya dengan nada serta tatapan yang menyiratkan tidak ada pertanyaan lanjutan. “ Mana yang lebih menantang ?” perempuan itu melanjutkan ke pertanyaan berikutnya Dan tertawa pendek ,” Kira kira yang mana ? Saya biasa dengan produksi dengan durasi paling lama dua jam ... ini delapan belas episode ... Menjaga ritme kerja dan konsistensi detail, itu tantangannya.” “ Dan kalian, apa rasanya dikomandoi seorang Dan Lambert ?” pembawa acara menatap para pemeran yang hadir. “ Capeeeeek .....” sahut mereka nyaris bersamaan sambil tertawa, membuat ruangan bergemuruh. “ Capek, karena tidak ada scene tanpa pengulangan .... yang paling singkat sekalipun. Untuk adegan tidak lebih dari lima menit, saya pernah mengulang lebih dari empat kali hanya karena lebar senyum ini tidak pas .” Lody memasang tampang memelas saat memamerkan senyumnya. “ Berasa mengulang saat beneran jadi atlit ...” sahut Dimas ,” Latihannya seperti mau ikut kejurnas. Itu kerjaannya James ....” James mengangkat jempolnya sambil tersenyum lebar dari samping Dan. “ Ehm ... yang susah kalau harus take ulang adegan menangis, bukan karena kurang tapi berlebihan .... uuuh padahal itu saya menangis sudah bercampur dengan tangisan lelah dan putus asa.” Lyra menghela nafas dramatis. Dan Lambert tertawa ,” Ayo lanjutkan mengeluh ... kita masih ada beberapa episode lagi yang bisa saya buat lebih parah.” “ Ampuuuuun” serentak Lody, Dimas dan Lyra mengangkat tangan. “ Dan ada tokoh baru, Nara.” Dimas mengusap punggung Nayang. “ Nayang ... pemeran Nara. Bisa dijelaskan gak siapa Nara.” “ Ehm .... Nara, seseorang dari masa lalu Rory.” “ Lalu ....?” “ Lihat saja nanti, gak seru kalau dibeberkan disini sekarang.” “ Katanya nih ... Pemeran Nara kamu dapatkan karena sampai saat saat terakhir belum dapat penggantinya.” “ Maksudnya apa nih ?” Dimas meraih mikrofon di tangan Nayang, kesal dengaan nada bicara yang ditangkapnya. “ Dari awal, kami meminta Nayang untuk mengambil peran itu.” Lody menimpali ,” Karena sambil casting kami semua berlatih bersamanya lebih dari sebulan, dan kami tahu dia amat sangat layak memerankan Nara.” “ Dari beberapa kandidat, kami sebagai pemain diminta pendapat oleh Dan ... karena semua dari kami pernah bekerja sama di sekuel pertama dan kedua, sementara Nara adalah tokoh baru.” Lyra menimpali ,” Untuk tidak merusak chemistri dan ritme, kami diminta untuk memilih siapa yang menurut kami dapat bekerjasama dengan lebih mudah dan nyaman.” “ Jadi Nayang ini pilihan semua pihak ?” “ Bisa dibilang begitu.” Sahut Dimas. “ Ini debut pertama Nayang ?” “ Ya ... ini pertama kalinya saya berakting di depan kamera.” “ Rasanya bagaimana ? Langsung ditangani sutradara besar dan beradu dengan bintang seperti mereka ?” “ Biasa saja ..., bertahun tahun Dan menuntut saya berakting, berlatih bersama sebagian besar bintang yang ditanganinya. Yang membedakan adalah sekarang di depan kamera dalam arti sesungguhnya, bukan jadi obyek pencari angel.” Sahut Nayang sambil menatap lurus ke arah pembawa acara ,” Dan untuk cerita ini, saya terlibat jauh sebelumnya.” Lanjutnya sambil menarik sedikit ujung bibirnya melihat perempuan berambut panjang itu tidak nyaman. Nada suara dan tatapan matanya persis dengan Dan saat menjawab pertanyaan pertama tadi. Dimas tertawa, menarik rambut Nayang sedikit .... Layak jadi orang terdekat Dan Lambert. “ Harusnya tadi kami tidak usah ikut menjawab, pasti lebih seru.” Bisiknya sedikit mendekatkan kepalanya. Nayang tersenyum, menatap Dimas sambil mengangkat sebelah alisnya. Rei dan Arganta tertawa dari sisi panggung. “ Dari dulu Nay kesal sekali dengan orang ini.” Guman Rei ,” Inget dia ngamuk ngamuk waktu wawancara dengan gadismu ?” “ Ya ... dan sejak itu dia selalu memberi tahu setiap pendatang baru di film paman untuk menunjukkan kapasitasnya, terutama didepan orang satu ini.” Arganta menjawab tanpa mengalihkan matanya dari kamera. “ Dapat yang barusan, Ga ?” Arganta menurunkan kamera, menujukkan beberapa foto sejak Nayang dan Dimas disamping panggung sampai pada tatapan mata Nayang barusan ,” Aku jadi kayak narasumber akun gosip gini sih.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD