Best Scene

604 Words
*Action*  Aneth menghampiri Nara yang terpaku di jendela, menatap Rory dan Sheeba yang tengah berlatih bersama. “ Rory mencintainya ....” guman Aneth “ Ya ... sangat.” Nara menarik nafas dan menghembuskannya perlahan ,” Sebesar cintamu.” Sahutnya tanpa memalingkan muka “ Sheeba nyaman bersamanya.” “ Tapi hatinya milikmu .... dan Kak Rory tahu itu.” Aneth tersenyum tipis saat Nara menatapnya, tersenyum menenangkan. “ Kakak tidak akan melupakan rasanya pada Sheeba, dia akan tetap melakukan yang terbaik untuknya. Tapi dia tidak akan mengganggu hubungan kalian.” Nara menggigit bibirnya melanjutkan dengan suara bergetar ,” Dia akan melakukannya diluar lingkaran, karena dari dulu itulah caranya mencintai.” “ Kamu mencintainya ?” “ Aku mencintai caranya mencintai seseorang.” Nara mencoba membuang muka tapi gagal. Aneth menatap dalam, melihat riak dimata Nara ,” Dan kamu melakukan hal yang sama.” “ Aku gadis kecilnya ... akan selalu seperti itu.” Kepalanya tertunduk dalam. “ Sudah lama mengenalnya ?” “ Lebih dari delapan tahun yang lalu ... Kak Rory selalu ada untuk kakakku.” “ Kakakmu ?” “ Dan dia begitu terpukul ketika gagal melindungi kakakku dari kebrutalan kekasihnya.” “ Sekarang kakakmu ....” “ Tiga minggu dia tidak pulang dari rumah sakit sampai mengantar kakakku ke peristirahatan terakhirnya..” “ Maaf.” Aneth menggenggam tangan yang mencengkeram ambang jendela. Terkesiap saat gadis kecil itu menatapnya ... ,” Kamu mencintainya dalam diam ... aku tahu rasanya, aku juga bertahun tahun melakukannya pada Sheeba.” Dieratkannya genggaman saat Nara hendak membantah ,” Hanya melakukan yang terbaik untuknya tanpa mengharap apapun. Tapi percayalah ... ada saatnya kamu akan menyesal melakukan itu.” “ Aku sudah menyesalinya .... tapi tidak akan ada yang berubah.” Nara menelan tangisnya. Aneth memeluk bahu yang bergetar itu, menatap sedih melihat gadis itu sekuat tenaga menjaga air matanya tidak menetes. Dalam diam didekapnya kepala Nara sampai bersandar didadanya ... mengusap rambut legam itu untuk beberapa saat, sebelum Nara berhasil mengatur nafasnya dan menjauhkan diri. “ Terima kasih ... dan aku harap Kak Rory tidak perlu tahu ini.” Sambil tetap menunduk Nara beranjak pergi. Aneth mendesah, mengusap wajahnya ... tercenung saat Sheeba dan Rory berjalan kearahnya ,” Dia mencintaimu .. teramat sangat.” Rory memijaat pangkal hidungnya.. “ Gadis kecil bagimu ? Akan selalu seperti itu.” Tuduhnya ... kesal tanpa bisa dicegah. “ Aku tahu ... aku juga merasakannya sejak dulu, hanya saja aku berusaha mengabaikannya.” Ditatapnya ujung sepatu ,” Rasanya menggelikan dan tidak adil mencintai gadis berusia belasan, dan membawanya ke kehidupan yang belum saatnya ia jalani.” “ Dan kakaknya ?” “ Nadia sahabatku ... dan aku selalu berada disampingnya, karena ia salah satu orang yang berharga untuk Nara.” Rasa itu masih seperti dulu .. lalu apa yang dirasakannya pada Sheeba selama ini ? “ Dia tahu tentang aku ? Apa itu mengganggunya ?” Sheeba bertanya lirih. “ Dia tahu ... pasti dia tahu.” Sahut Rory yakin ,” Dia mengenalku lebih dari siapapun ... bahkan sejak berusia empat belas tahun. Tidak ada yang bisa kusembunyikan darinya.” “ Itu artinya dia tahu kamu mencintainya ? Bukan sebagai gadis kecil bagimu ?” “ Mungkin dia tahu ... tapi dia memilih untuk mempercayai ucapanku bahwa dia gadis kecilku .... Bahkan sampai sekarang aku masih memanggilnya gadis kecilku.” Tangannya mencengkeram erat pinggiran meja ,” Aku ingin menjaganya ... dan aku selalu bilang aku akan ada untuk menjaganya. Tapi yang kulakukan semua hanya menyakitinya .... termasuk menyakiti punggungnya.” Kraaak ..... ujung meja itu patah ......! "Cut "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD