Mungkinkah Dia ?

835 Words
Sorak sorai penonton seketika menghilang dari pendengaran Rory ketika kontingen terakhir melintas didepan barisannya. Gadis kecil itu ..... dikerjapkannya mata berulang kali, khawatir ini hanya ilusi. Dan darahnya sejenak membeku ketika ia melemparkan senyum tipis sambil mengangguk pelan. “ Kakak .....” sapanya tanpa suara sebelum berlalu. “ Rory ... kamu baik baik saja ?” Aneth menahan tubuh Rory yang sedikit terhuyung dengan wajah pucat pasi. Rory menggeleng, kepalanya berputar dan menemukan gadis itu tengah tertunduk mengusap tengkuknya, masih bahasa tubuh yang sama saat ia gelisah. Mata tajam Rory menyipit mengamati bentuk punggung yang .... Gustiii itukah yang dialaminya ? Seakan merasa .. Nara memutar kepalanya, kembali tersenyum pada lelaki yang tampak terkejut dengan kehadirannya. “ Aku tahu aku mengejutkanmu kak ... ini tidak mudah, bahkan bagiku yang sudah mempersiapkan semuanya.” Bisiknya pelan sambil menunduk dalam. Lagi lagi rasa nyeri menjalari punggungnya. Aneth mengikuti arah pandangan Rory, bertukar pandang dengan Sheeba dengan tatapan tak mengerti. Gadis itu ... tampak sedikit rapuh dengan tubuhnya yang tidak simetris ... tapi bukan itu .... sorot matanya yang berkabut dan pandangannya yang lebih banyak ke bawah yang membuatnya nampak rapuh.. “ Siapa gadis itu ...? masih cukup muda, bisa delapan bahkan sepuluh tahun lebih muda daripada Rory. Terlalu muda untuk jadi seseorang dalam masa lalu Rory. Kakak .... itu yang tadi diucapkan gadis itu tanpa suara..” tanyanya dalam hati sambil menatap Rory yang nampak jelas tidak sabar menunggu acara pembukaan ini berakhir. “ Nara ....” “ Kakak ....” dia tersenyum tipis pada lelaki yang nampak gelisah di depannya ,” Apa kabar ?” Tak sabar, Rory meraih lengan Nara dan menariknya keluar ruangan. Dihembuskannya nafas berat sebelum berhenti, berbalik dan memeluk erat gadis kecil itu. Sedikit ragu, tangannya mengusap punggung Nara .... air matanya menggenang diujung mata saat merasakan tulang punggung itu sedikit bengkok ke kanan. “ Aku pulang .....” bisik Nara, memejamkan mata mencegah air matanya turun. Pulang .... yah ... baginya kembali ke pelukan lelaki ini adalah pulang. Lima tahun meninggalkannya dalam ketidaktahuan, merupakan siksaan tersendiri baginya selain rasa sakit di punggungnya. “ Banyak yang harus kita bicarakan, gadis kecilku ....” Nara menggigit bibir, merasakan siraman air dingin dikepalanya. Ditariknya nafas panjang sambil menjauhkan diri ,” Aku masih bisa masak bubur udang, mau ?” Rory mencoba tersenyum dengan kesadaran yang belum penuh ,” Nanti malam ...” “ Masuk dulu kak .... mereka mencarimu.” Nara menatap Aneth dan Sheeba yang berdiri di pintu ... “ Kamu tinggal dimana selama turnamen ini ?” Nara menyebutkan alamat guest house yang ditempati kontingennya, beranjak ke dalam dengan kepala tertunduk. Sedikit mengangguk saat melewati Sheeba dan Aneth, tanpa sadar langkahnya terhenti sekian detik saat matanya menangkap bagaimana dua tangan itu saling menggenggam. “ Cut .... “ Dan menepuk lengan kursinya dengan sikap puas ,” Kita break makan siang sebelum masuk scene berikut.” Desahan lega terdengar serempak. “ Good job, kid.” Dan melemparkan sebotol minuman pada Nayang yang meregangkan punggungnya yang terasa pegal. Nayang hanya nyengir dan meneguk minumannya. Lody menghampirinya ,” Gilaaaa ...... kalau terus seperti ini, aku bisa beneran jatuh cinta padamu bahkan dalam beberapa episode ke depan.” Nayang tertawa kecil ,” kenapa gak sekarang aja ? Aku bisa posting di medsos ... dan bikin patah hati jutaan gadis diluar sana ....” ujarnya sambil memasang tampang jahil. “ Bukan Lody ....” guman Dan , masih penasaran dengan perkataan Arganta beberapa hari lalu. “ Apanya ?” James berjalan disampingnya Dan menggeleng ,” Bukan Lody yang bisa menyentuh hati Nayang, kalau itu tadi Sammy ... bisa pingsan dia.” James menepuk bahu sahabatnya. “ Besok off .... kita jalan yuk ...” Lyra bergabung di meja Nayang diikuti Dimas, Lody dan beberapa teman lagi ,” Cari suasana baru.” “ Ayolaah .... keluar sejenak dari resort ini lumayan juga.” Lody meletakkan nampannya. “ Boleh .... kemana ?” Dimas duduk dihadapan Nayang “ Aku malam ini mau pergi .... kerumah kakakku.” Nayang meneguk minumannya. Gak suka pedes ya ... selalu mengambil masakan yang tidak pedas, tidak ketinggalan sayur .... Nayang melirik sekilas nampan didepannya sebelum menikmati udang baladonya ,” Istrinya baru saja melahirkan.” Dimas menatap senyum yang nampak cerah itu, terlihat jelas ia menyayangi mereka ,” Jadi tante nih ceritanya ?” Nayang mengurangi senyum lebarnya dan tersenyum malu ,” hehe ... iya.” “ Pergi sendiri ?” Nayang menggeleng ,” Arga akan menjemputku dan paman.” Sahutnya pelan, menghindari tatapan mata tenang itu dengan berkonsentrasi pada makanannya. “ Apa mungkin dia ?” Dan menatap dari ujung ruangan, senyumnya tersungging .... ,” Not Bad, but not easy too.” “ Apanya ?” James mencoba mengikuti arah pandangan Dan. Tertawa kecil ,” gadis kecilmu .... kalau aku tidak salah lihat ....” “ Sudahlah, biar kita lihat saja nanti. Dia juga pasti tidak ingin ada perubahan drastis dalam hidupnya ... “ diangkatnya cangkir kopi dan menyesapnya nikmat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD