Aku Tidak Sendiri

853 Words
Nayang membuka matanya yang terasa berat. Tersenyum melihat Arganta tertidur disampingnya dengan pakaiannya semalam. Semua ini juga tidak mudah untuknya ... Sejak kecil lelaki jangkung ini selalu mengambil peran sebagai kakak dan pelindung bagi mereka berdua, kendati usia mereka bertiga hanya terpaut hitungan bulan. Apapun yang terjadi, Arganta selalu diam mengalah dan mengambil alih tanggung jawab dengan kepala dingin. Kalau bukan karena Arganta yang datang beberapa menit sesudahnya .... mungkin saat itu dirinya juga akan berurusan dengan hukum karena menghajar lelaki b******k itu tanpa ampun. Dengan diamnya, ia mengumpulkan semua bukti yang memberatkan ... yang membuat lelaki itu divonis belasan tahun sebelum akhirnya bunuh diri di penjara karena depresi. Dibukanya selimut, melihat dari jendela bahwa langit masih gelap. Beranjak ke kamar mandi, dicucinya muka dan mengganti pakainnya yang lengket oleh air laut. Pelan pelan ia keluar kamar dan berjalan ke pantai, menyusuri perlahan sambil menunggu matahari terbit. Semburat warna kuning kemerahan mulai muncul ... Nayang menghentikan langkahnya, menatap ragu pada sosok yang sudah berdiri diam dengan tangan tenggelam di saku. Dimas menyadari kehadirannya .... memalingkan wajah dan mengulurkan tangan ,” Menunggu matahari ?” tanyanya ringan, berusaha mengabaikan mata sembab didepannya. Nayang tersenyum, melangkah mendekat tanpa menyambut uluran tangan itu. Berdiri diam disamping Dimas, tidak bergerak menatap matahari yang muncul perlahan. Selamat pagi ..... Matahari masih bersinar, masih ada asa dan harapan disana ..., Masih ada permintaan orang orang tercinta yang akan kucoba untuk meraihnya. Aku akan mencobanya Sammy .... untukmu dan paman Dan ... Ayah ... ibu .... pagi ini aku memulai hariku ... Hari ini tanpa mimpi, biar kujalani saja yang harus aku lakukan ... Bagaimanapun aku masih punya paman Dan,Rei serta Arga, Aku tidak sendiri .... Dan tiba tiba Nayang menyadari memang ia tidak sendiri .... Sedikit kikuk ia melirik lelaki disampingnya, menghembuskan nafas lega perlahan melihat Dimas masih berdiri diam dengan mata terpejam sedikit mengangkat kepalanya ke arah matahari terbit. “ Pagi ...” ucap mereka bersamaan, dan tertawa singkat. Dimas mengeluarkan tangan dari sakunya ,” Cari keringat sebentar ? Lumayan sebelum latihan pagi ini.” Nayang mengangguk singkat dan berlari kecil disamping lelaki pendiam ini. Tidak jauh berbeda dengan profil Aneth ... tapi ada kehangatan yang dapat dirasakannya, jauh didalam sana. Digelengkannya kepala mencoba mengusir pikiran bahwa rasa hangat itu meyentuh rasanya, menghadirkan ketenangan dan kenyamanan yang tidak dimengerti. “ Ada apa ?’ “ Ehm .... gak ada apa apa, Cuma agak pusing, kurang nyenyak tidur.” Dimas tersenyum aku tahu .. malammu melelahkan ... ,” Kalau begitu tidak usah terlalu jauh, kita berhenti di lapangan saja sambil istirahat.” Nayang mengguman, tenaganya akan terkuras kalau ia memaksakan diri, dan itu akan membuat paman Dan serta Arga khawatir. Diluruskannya kaki sambil bersandar ke batang pohon, menatap Dimas yang melanjutkan joggingnya dengan lari ditempat. Cepat cepat mengalihkan pandangan ketika lelaki itu melemparkan senyum. Cukup Nay ... jangan bikin masalah baru. Cukupkan masalahmu dengan keputusan yang kau buat hari ini. “ Sudah disini, Nay ?” James meletakkan handuk dan botol minuman disamping Nayang ,” Ikut latihan atau mau bantuin aja ?” “ Rasanya aku harus membiasakan diri dengan pemilik cedera punggung.” James menatapnya dalam dan lama sebelum tersenyum lebar ,” Gadis pintar.”ditepuknya pipi yang memerah itu ,” Ayo Nara ....” Nayang menarik nafas panjang dan bergabung dengan yang lain. “ Dia melakukannya.” Guman Dan mengawasi gadis yang berusaha menyesuaikan sikap punggungnya agar sedikit miring ke kanan. “ Yah ... lompatan besar dalam hidupnya. Dan Nayang tidak akan melakukan setengah setengah.” Arganta tersenyum disamping pamannya ,” tapi dia pasti lelah sekali setelah tadi malam.” “ Aku melihatnya menguras tenaga untuk menyalurkan emosinya .... dan itu menghindarkanku dari mengambil sebotol minuman keras.” Dan tertawa singkat. Arganta tertawa ,” yaaah ... aku juga harus puas dengan satu setengah kaleng cola. Padahal aku benar benar ingin mabuk semalam ..... benar benar tidak mudah.” Dan menepuk punggung Arganta ,” Setelah ini selesai .... tinggal kamu dan Rei yang menjaganya. Aku akan berkelana, dia tidak akan tahu aku mabuk atau tidak.” Tersenyum pahit ,” Apa kabarnya Rei ?” “ Baik, rencananya dia akan datang bersamaku kemaren. Tapi istrinya sudah dekat waktunya melahirkan, jadi dia menundanya dulu.” “ Rei sudah sibuk dengan keluarganya, dan hubunganmu dengan gadis itu ?” “ Baik baik saja .... dia menyayangi Nayang, dan tidak terganggu sama sekali dengan kehadirannya. Mereka sering menghabiskan akhir minggu dengan pergi berdua ... itu salah satu alasanku semakin yakin mencintainya.” “ Dan Nayang .... pada saatnya dia akan punya seseorang yang menemaninya menatap matahari terbit.” Guman Dan menerawang. “ Pagi ini dia melakukannya bersama seseorang.” Dan menatap Arganta dengan sikap tertarik. “ Mungkin belum saatnya berharap ... untuk saat ini anggap saja kebetulan, dan kalau memang berlanjut itu mungkin goresan nasib.” Arganta tersenyum jahil ,” Coba amati sendiri paman ... manfaatkan mata elangmu. Aku tidak akan memberitahumu. Tapi aku akan menceritakannya pada Rei sekarang.” “ Dasar .... “ Dan mendorong kepala Arganta. Arganta tertawa dan beranjak ke kamar mandi ,” Mandilah paman .... bau.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD