Bab 1 Kabar itu
Sudut Pandang Maxine Martin
“Max!” Suara Klea, sahabatku, membuatku terkejut.
“Martin!” Suara lantang dosenku menggema di seluruh kelas. Aku tak bisa menoleh ke arah Klea ketika dosenku memanggilku.
Tiba-tiba keringat dingin mengalir di tubuhku. Saat pandangan dosenku bertemu denganku, matanya penuh kemarahan. Aku gugup, menelan ludah dengan susah payah sambil melirik ke sekitar. Hampir semua teman sekelas menatapku. Ketika aku menoleh ke arah Klea, dia terlihat menggigit bibir bawahnya, dengan sorot mata khawatir seolah berkata, “Kamu dalam masalah.”
Aku kembali memandang dosenku yang kini sudah berdiri tepat di hadapanku.
“S-saya...”
“Martin!” Dosenku memotong sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku. “Hari pertama di kelas, dan kamu sudah tidak menghormati saya? Kenapa kamu tidak mendengarkan pelajaran saya?”
Aku terkejut. Dari sekian banyak siswa, dosenku langsung mengingat nama belakangku. Mungkin karena aku adalah orang pertama yang memperkenalkan diri tadi.
Masalahnya, ketika nama belakangmu diawali huruf ‘A’, kamu selalu berakhir duduk di barisan pertama. Dan karena dosenku berdiri tepat di depan, dia bisa memperhatikan setiap gerak-gerikku.
“Pak, maaf!” Aku berdiri gugup. “Saya tadi mengira ada panggilan darurat.”
Perhatianku sempat teralihkan karena ponselku terus bergetar. Aku sebenarnya tidak berniat menjawab ponselku, hanya ingin mematikan ponsel agar tidak mengganggu. Tapi rupanya aku tertangkap basah.
“Kelas belum dimulai, dan saya sudah memberi tahu kalian untuk mematikan ponsel!” serunya dengan suara keras.
Wajahku memerah karena malu. Aku tidak terbiasa menjadi pusat perhatian di depan banyak orang.
“Lalu kenapa kamu bilang ada panggilan darurat? Kamu tidak mendengarkan instruksi saya sebelumnya, Nona Martin. Oh, atau mungkin pacarmu yang menelepon, jadi kamu tidak mematikan ponsel?” tambahnya.
Aku terkejut mendengar pernyataan dosenku. Pacar? Dasar sok tahu. Tidak bisa, ya, kalau itu saudara atau kerabat? Kenapa harus pacar? Padahal aku bahkan belum punya pacar. Semua orang yang mendekatiku selama ini, aku tolak!
Aku tidak ingin seorang pacar yang hanya akan menghancurkan mimpiku menyelesaikan kuliah. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk fokus pada pendidikan terlebih dahulu. Dengan keadaan ekonomi keluarga yang sulit, mana sempat aku memikirkan pacaran? Tidak sama sekali. Aku lebih memilih memprioritaskan cara untuk keluar dari kemiskinan dan membantu keluargaku.
Sekarang aku sudah hampir lulus. Di usia dua puluh dua, seharusnya aku sudah menyelesaikan kuliah tahun lalu dan bekerja. Namun, karena kesulitan keuangan, aku terpaksa berhenti kuliah selama setahun. Dua tahun lalu adalah masa tersulit kami. Bisnis kecil yang kami rintis setelah ayah meninggal bangkrut, jadi akulah yang mengalah dengan menunda pendidikan. Aku lebih nyaman mencari pekerjaan serabutan untuk membantu ibu lebih dulu. Adikku, Margaux, tetap melanjutkan sekolah sehingga kini hanya terpaut satu tahun denganku di universitas. Dia di tahun ketiga, sementara aku di tahun keempat jurusan Administrasi Kepabeanan.
Untungnya, ibu mendapat pekerjaan sebagai staf administrasi di sebuah kantor. Pemilik perusahaan adalah kenalan lama ibu, jadi proses penerimaan kerjanya lebih mudah meski ibu sudah lama tidak bekerja.
Ayah meninggal tujuh tahun lalu karena serangan jantung. Sejak itu, hidup kami penuh perjuangan. Penghasilan dari usaha kecil kami tidak cukup untuk biaya pendidikan. Tapi, kami tetap bertahan meski harus hidup pas-pasan dan sering berutang.
“Bagaimana, Martin?” Dosenku kembali mengagetkanku.
“Apakah pacarmu itu yang mengganggu pelajaran?” tanyanya lagi.
Aku menelan ludah dan menundukkan kepala. “M-maaf, Pak,” hanya itu yang bisa kuucapkan.
Dosenku hanya menghela napas panjang. “Bagus. Sekarang matikan ponselmu dan fokus pada pelajaran.”
Setelah itu, aku langsung duduk. Dosenku kembali ke posisi semula, berdiri di depan kelas.
“Kamu baik-baik saja, Max?” bisik Klea. Aku hanya memberinya senyum kecil.
Aku membuka tas dan mengambil ponsel untuk mematikannya. Tapi sebelum sempat melakukannya, ponselku kembali bergetar. Nama Betty tertera di layar.
Kenapa Betty, tetanggaku, menelepon? Rasa gugup menyergapku, tapi aku tetap mematikan ponsel meskipun panggilan itu terus masuk.
Aku mencoba memusatkan perhatian ke pelajaran, walau pikiran tentang panggilan Betty menggangguku. Dosenku seperti sengaja mengujiku, memanggilku dua kali untuk menjawab pertanyaan. Tentu saja aku tak bisa menjawab karena belum memahami materinya. Lagi-lagi aku dipermalukan di depan kelas.
Begitu pelajaran selesai, aku buru-buru membuka ponsel untuk menelepon Betty. Sambil menunggu ponsel menyala, Klea menghampiriku.
“Maxine!” serunya.
“Hah?” Aku menoleh, masih sibuk dengan ponselku.
“Sepertinya dosen kita tertarik padamu,” godanya sambil tersenyum nakal.
“Ah, kamu ini! Kamu lihat sendiri, kan? Dia jelas-jelas kesal padaku.”
“Kesal, tapi tetap perhatian, tuh,” katanya sambil tertawa kecil.
Aku hanya menggeleng sambil menahan senyum. Namun perhatian langsung kembali pada ponselku yang akhirnya menyala. Aku buru-buru menekan nomor Betty.
“Betty?” sapaku begitu panggilanku terhubung.
"Max!" Betty langsung memotong pembicaraanku. "Pulang sekarang juga!"
Jantungku langsung berdebar kencang. Kenapa dia menyuruhku pulang? Jangan-jangan ini benar-benar darurat. Kaki-kakiku mulai gemetar membayangkan kemungkinan buruk.
"B-Betty, kenapa, ada apa...?"
"Kamu jangan kaget..." Nada suaranya yang ragu-ragu membuatku semakin tegang. "Ibumu dan Margaux... mereka sudah tiada!"
Telepon di tanganku langsung terjatuh ke lantai.
"Tiada?"
Aku memegang dadaku yang terasa sesak, pandanganku mulai gelap. Samar-samar aku mendengar suara orang-orang di sekitarku berteriak dan seseorang menepuk wajahku sambil memanggil namaku. Namun, semuanya perlahan menghilang ke dalam kegelapan.
Empat hari kemudian.
"Max, tolong makan sesuatu, ya." Suara lembut Klea, sahabatku, terdengar memohon.
Aku menggigit bibir bawahku, berusaha keras menjawab. Namun, aku bahkan tidak punya tenaga untuk menatapnya. Rasanya aku benar-benar lelah, empat hari tanpa tidur, hanya makan seadanya agar tidak pingsan total.
"Max..." panggilnya sekali lagi, kali ini dengan nada yang sangat lembut.
Aku perlahan menoleh ke arahnya. Wajahku pasti mencerminkan kesedihan mendalam yang kurasakan. Namun, anehnya, selama aku di sini, di antara peti-peti jenazah, aku jarang menangis. Mungkin aku sudah kehabisan air mata, terutama setelah hari pertama mendengar kabar kematian ibu dan adikku.
"K-Klea, nanti saja, ya," jawabku lirih.
Klea memaksakan senyuman dan menggenggam tanganku dengan lembut. "Kuatkan dirimu, Maxine, ya?"
Kuatkan diri... untuk apa? Dalam sekejap, aku benar-benar sebatang kara. Ayah sudah pergi bertahun-tahun lalu, dan sekarang ibu serta Margaux menyusul. Mengapa mereka harus pergi bersamaan? Mengapa aku yang harus ditinggalkan sendirian di dunia ini?
Tiba-tiba, aku merasakan air mata mengalir. Ternyata, aku masih punya sisa untuk menangis. Klea dengan sigap menghapusnya.
"Klea, aku... aku nggak tahu harus bagaimana..." Suaraku pecah, bahuku mulai bergetar karena isakan.
"Shh...," Klea mencoba menenangkanku.
Setelah beberapa saat, aku bisa lebih tenang. Aku memaksakan diri untuk makan sedikit. Aku tahu harus menjaga tenaga karena besok adalah hari pemakaman mereka. Besok, aku akan menghadapi banyak orang—keluarga, kenalan, semua ingin tahu bagaimana tragedi itu terjadi. Rasanya aku ingin merekam ceritaku saja agar tidak perlu terus-terusan menjelaskan.
Hari itu kembali terlintas di pikiranku—panggilan dari Betty yang membawa kabar buruk itu. Aku pingsan di tempat. Ketika sadar, aku berada di klinik kampus. Aku langsung menelepon Betty lagi, berharap semuanya hanyalah mimpi buruk. Tapi tidak, semuanya nyata. Ibu dan Margaux telah pergi... dibunuh!
Hari itu, Margaux sedang menuju kampus, tempat kami sama-sama berkuliah. Jam kuliahnya siang, jadi dia pergi bersama ibu yang bekerja paruh waktu. Dalam perjalanan, bus yang mereka tumpangi dirampok. Ibu melawan dan menolak menyerahkan tasnya. Lalu, para perampok itu menembak mereka—ibu dan Margaux meninggal di tempat. Empat penumpang lainnya juga tewas.
Syukurlah para perampok itu segera ditangkap, dan barang-barang mereka berhasil dikembalikan. Namun, itu tidak akan mengembalikan nyawa ibu dan adikku.
"Maxine."
Aku menoleh ketika Klea kembali memanggilku. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyerahkannya padaku.
"Ini ponselnya Margaux. Kemarin aku sempat ngecas," katanya.
Aku langsung teringat ponsel Margaux yang ikut disita perampok tapi akhirnya kembali.
"Terima kasih, Klea," jawabku, menerima ponsel itu.
Saat itu juga aku teringat Ethan, pacar Margaux. Syukurlah ponselnya kembali, karena aku tidak punya kontak Ethan untuk memberitahunya tentang apa yang terjadi.
Ethan dan Margaux sudah pacaran hampir dua tahun. Awalnya, Margaux menyembunyikannya dariku, takut aku marah. Tapi aku tidak marah, hanya mengingatkan agar dia tahu batasannya. Kami bahkan tidak memberi tahu ibu, karena ibu melarang kami pacaran selama kuliah. Namun, aku bisa menerima Ethan. Dia pria yang baik, sopan, dan terlihat tulus mencintai adikku.
Aku membuka ponsel Margaux. Ada banyak pesan belum terbaca—hampir seratus, semuanya dari Ethan. Aku tidak membukanya. Rasanya aku harus menghormati privasi adikku.
Aku langsung menelepon Ethan. Setelah dua kali nada sambung, suara beratnya terdengar di seberang.
"Halo, Sayang," sapanya ceria. "Akhirnya kamu telepon! Aku khawatir banget, kamu masih marah sama aku?"
Aku menutup mulutku, menahan isak. Rupanya mereka sempat bertengkar. Dan kini mereka takkan pernah bisa berbaikan.
"E-Ethan," jawabku, suaraku bergetar.
"H-halo? Margaux?" tanyanya bingung.
"Ini Maxine," ucapku lirih.
"Oh, Maxine. Maaf, kupikir Margaux... bisa kasih teleponnya ke dia?"
Aku menelan ludah, lalu berkata dengan suara yang pecah, "Ethan, maaf... Margaux sudah tiada..."
Hening. Aku hanya mendengar suara keras, seperti sesuatu jatuh di seberang sana.