Sudut Pandang Maxine Martin
Aku terkejut melihat pertengkaran antara Tuan Lorenzo dan putrinya.
“Luisa!” Teriak Tuan Enzo lagi, tetapi Luisa sama sekali tidak menoleh ke ayahnya. Pandangannya sempat melirikku sekilas sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya.
Aku tetap berdiri di tempatku, perlahan berpaling agar tidak menarik perhatian. Kenapa aku mengikuti pria ini masuk ke rumahnya? Ini baru hari kedua aku di mansion, tapi aku sudah menyaksikan drama keluarga antara ayah dan anaknya.
“Tolong maafkan Luisa, Dad,” Elijah, anak laki-lakinya, menyela. “Dia hanya kecewa karena dia sudah memasak hidangan favorit Ayah, tapi Ayah malah tidak mencicipinya karena urusan darurat Tante Glaiza.” Nada suara Elijah menyiratkan sedikit kekecewaan.
Aku memperhatikan salah satu putrinya bangkit dari kursi. Ada tiga anak yang berada di ruangan itu. Gadis itu berjalan menuju tangga dengan ekspresi kesal. Sepertinya dia berniat menyusul Luisa untuk menenangkannya.
“Lindsey!” Tuan Enzo memanggil gadis itu, tetapi Lindsey tampaknya tidak mendengar dan terus naik ke tangga.
Aku mendengar Tuan Lorenzo menghela napas berat. “Maafkan Ayah, Elijah. Ayah harus pergi karena sakit kepala Tante Glaiza tiba-tiba memburuk lagi. Ayah janji akan kembali secepatnya.”
“Tapi, Dad, Ayah sudah melewatkan beberapa kali makan malam bersama–”
“Jangan khawatir. Besok Ayah akan menggantinya,” Tuan Enzo memotong, menepuk bahu putranya.
Aku menggigit bibir bawah, merasa tidak nyaman melihat interaksi mereka. Tetapi hatiku langsung berdebar ketika Tuan Lorenzo tiba-tiba menatapku.
“Maaf atas apa yang kamu dengar, Maxine,” katanya.
Aku yang tadinya sudah mulai tenang, kembali gugup ketika mendengar dia menyebut namaku. Oh Tuhan, apa aku sedang terpikat pada ayah Ethan? Aku langsung teringat bagaimana aku dulu mengejek Klea, temanku, yang naksir dosen berusia empat puluh tahun. Kalau Klea tahu aku mulai suka pada ayah Ethan, dia pasti akan menggodaku habis-habisan.
“Eh, tidak apa-apa, Tuan,” jawabku gugup sambil menundukkan kepala. “Permisi, saya ke kamar dulu.”
Saat aku melirik ke arahnya lagi, dia masih saja menatapku. Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke Elijah dan tersenyum tipis sebelum melangkah pergi menuju lorong menuju kamar tamu tempatku menginap.
Aku mendengar Tuan Enzo dan Elijah masih berbicara, tetapi aku tidak terlalu memperhatikan isi percakapan mereka. Aku tidak ingin terlibat dalam masalah keluarga Taylor.
Namun, di benakku ada pikiran yang tak bisa kuabaikan. Kenapa Tuan Lorenzo harus pergi hanya untuk mengurusi pacarnya yang sakit kepala? Apa tidak cukup dengan obat? Haruskah dia yang langsung turun tangan? Aku kasihan dengan anak-anaknya yang sepertinya harus bersaing mendapatkan perhatian ayah mereka.
Begitu sampai di lorong, debaran di dadaku mulai mereda, meskipun sebelumnya sempat membuatku gugup tanpa alasan jelas.
“Maxine!”
Aku berbalik ke arah suara yang memanggilku. Ternyata itu Noemie, yang tersenyum lebar sambil menghampiriku.
“Noemie, hai!” sapaku dengan antusias. Aku merasa nyaman dengannya meskipun baru mengenalnya kemarin.
“Kamu tadi mendengar pertengkaran antara Tuan Enzo dan putrinya, ya?” tanyanya.
“Ya, aku mendengarnya,” jawabku singkat. Aku agak malu membahasnya lebih lanjut, takut dia menganggapku suka menguping.
“Luisa sebenarnya anak yang baik,” Noemie melanjutkan. “Dia hanya sangat dekat dengan ayahnya, jadi dia selalu ingin perhatian Tuan Enzo, seperti kakak-kakaknya.”
“Begitu, ya?” jawabku, berusaha tidak menanyakan lebih banyak lagi. Walaupun aku penasaran dengan keluarga Ethan, aku harus fokus pada studiku. Toh, aku akan tinggal di sini selama setahun. Masih ada waktu untuk mengenal mereka lebih dalam.
“Oh ya, kenapa kamu dan Tuan Enzo pulang bersama tadi?”
“Ah, tadi di gerbang komplek, penjaga hampir tidak mengizinkanku masuk. Tuan Enzo yang membawaku pulang. Ternyata dia dan Ethan melihatku di restoran sebelumnya, jadi dia mengenaliku,” jelasku.
“Syukurlah dia melihatmu. Ngomong-ngomong, makan malam sudah siap. Kamu bisa bergabung dengan anak-anak Tuan Enzo,” katanya.
Aku buru-buru menggeleng. “Nggak, Noemie. Aku sudah makan sebelum pulang. Lagipula, aku merasa sedikit canggung.”
“Baiklah, kalau begitu. Tapi kalau kamu lapar atau butuh s**u atau kopi, langsung saja ke dapur, ya,” dia mengingatkanku.
Aku mengangguk sebelum dia berbalik. Aku pun melanjutkan langkah menuju kamar.
Setelah masuk kamar, aku langsung menuju tempat tidur dan duduk di atasnya.
Kasurnya terasa begitu empuk, membuatku ingin langsung berbaring. Tapi aku tahu aku harus belajar.
Setelah mengistirahatkan kakiku yang lelah, aku pergi ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri.
Setelah selesai, aku mengenakan celana pendek dan kaus tidur, lalu kembali ke tempat tidur. Aku mulai belajar. Aku begitu tenggelam dalam bacaan hingga tidak sadar waktu sudah menunjukkan lewat pukul delapan malam.
Rasa haus dan sedikit lapar mulai menghampiri, efek dari energi yang terkuras karena belajar. Aku ingin keluar untuk mencari minum, tapi aku ragu. Aku belum terlalu mengenal mansion ini, dan tidak ada yang menunjukkan letak dapur padaku. Kemarin, Noemie hanya membawakan makanan ke kamarku tanpa memberiku tur rumah.
Mungkin anak-anak Tuan Enzo sudah selesai makan malam. Dan mungkin ayah mereka sudah kembali, seperti yang kudengar sebelumnya, dia hanya akan singgah sebentar ke rumah pacarnya.
Aku mencoba menahan rasa haus, karena masih cukup tertahankan. Tapi semakin lama, konsentrasiku hilang. Akhirnya, aku memutuskan keluar untuk mencari dapur dan mengambil sesuatu untuk diminum. Selain itu, aku memang sudah berencana untuk tidur setelah ini.
Noemie sempat bilang kalau aku ingin membuat sesuatu, aku bisa pergi ke dapur.
Aku meninggalkan kamar dan menyusuri lorong pendek menuju ruang tamu. Mansion ini terasa sangat sunyi, tidak ada siapa pun di sana. Aku bahkan tidak tahu di mana kamar para pembantu. Seharusnya kemarin aku bertanya pada Ethan agar tahu harus ke mana jika butuh bantuan.
Aku mulai mencari dapur, dan ternyata menemukannya cukup cepat. Dapurnya sangat rapi dan terorganisir. Aku ragu untuk bergerak karena tidak tahu di mana gelas-gelas disimpan.
“Permisi?”
Aku tersentak mendengar suara itu. Saat berbalik, aku melihat seorang wanita tua berdiri di hadapanku.
“Kamu pasti temannya Ethan, ya, Nak?” katanya ramah.
“Ya, benar,” jawabku sambil tersenyum. Wanita itu tampak baik hati dengan senyuman lembutnya.
“Noemie memang tidak salah. Dia bilang kamu sangat cantik. Putriku terus membicarakanmu sejak kemarin. Awalnya, kupikir kamu seorang model atau aktris,” katanya sambil terkekeh.
Wajahku memerah mendengar pujiannya. Aku hanya tersenyum kecil.
“Oh, tidak juga,” jawabku agak malu-malu.
“Kenapa tidak? Kamu sangat cantik. Omong-omong, Nak, aku ini pengurus rumah di sini. Namaku Marideth, tapi kamu boleh panggil aku Bibi Mari.”
Bibi Mari bertanya kenapa aku ada di dapur. Setelah kujelaskan bahwa aku kehausan, dia dengan sigap membantuku dan menunjukkan tempat menyimpan peralatan dapur kalau aku butuh nanti.
“Kalau ada yang perlu dibantu di sini, Bibi Mari, bilang saja ya. Apalagi saat akhir pekan, aku tidak ada kegiatan,” tawarku.
“Oh, tidak perlu, Nak. Ada dua pembantu lagi selain empat pengasuh untuk anak-anak Tuan Enzo,” katanya, menolak dengan halus.
“Tidak apa-apa, Bibi Mari. Ini juga sebagai bentuk rasa terima kasihku karena diizinkan tinggal di sini bersama Ethan. Aku juga bisa masak, kok,” tambahku.
Percakapan kami berlanjut, dan tiba-tiba saja Bibi Mari bertanya tentang diriku. Tanpa sadar, aku mulai bercerita tentang kehidupanku. Wajahnya tampak sedih saat mendengar aku yatim piatu. Matanya berkaca-kaca, membuatku juga ikut terharu mengingat kembali kenangan pahitku.
“Maxine, Nak, kamu tidak hanya cantik, tapi juga sangat kuat. Selesaikan kuliahmu, ya, supaya kamu bisa mandiri,” katanya dengan lembut.
Obrolan kami berlangsung selama sekitar tiga puluh menit. Ketika kami bersiap meninggalkan dapur, seorang pria masuk.
Tatapannya langsung tertuju padaku, lebih tepatnya ke bagian bawah tubuhku. Aku merasa ada yang aneh dari cara dia memandangku. Tatapannya seperti menelanjangiku. Seketika, aku merasa tidak nyaman.
Aku baru sadar kalau celana pendek yang kupakai malam ini cukup mini, menonjolkan bentuk paha dan kakiku. Aku hanya memakainya untuk tidur, tanpa terpikir orang lain akan melihatku.
Untungnya, dia mengalihkan pandangannya dari kakiku dan menoleh ke Bibi Mari.
“Bibi Mari, bisa bantu aku sebentar?” tanyanya.
“Oh, apa yang terjadi?” tanya Bibi Mari.
“Tuan Ethan ada di ruang tamu. Dia baru saja pulang, mabuk. Temannya meninggalkannya di sini.”
Aku terkejut mendengar bahwa Ethan baru saja sampai di rumah. Aku dan Bibi Mari buru-buru menuju ruang tamu, dan di sana kami melihat Ethan yang jelas-jelas dalam keadaan mabuk.
“Ethan, kamu baik-baik saja?” tanyaku, sambil menepuk pelan pipinya.
Dia membuka matanya perlahan. “Max.”
Aku terkejut ketika dia tiba-tiba menangis.
“Ethan, apa yang terjadi?” Aku semakin khawatir, takut sesuatu telah membuatnya sangat terguncang.
“Max. Aku sangat merindukan Margaux, kenapa dia meninggalkanku, Max? Aku sangat mencintai Margaux,” katanya, air mata mengalir deras di wajahnya.
Aku merasakan sesuatu yang menusuk hatiku mendengar kata-katanya. Ingin rasanya aku ikut menangis, meskipun sebelumnya aku sudah menumpahkan banyak air mata saat berbagi cerita dengan Bibi Mari di dapur.
“Bibi Mari, di mana kamar Ethan? Bisakah kita membawanya ke sana?” tanyaku.
“Tentu, Sayang. Kamarnya ada di sebelah kamar utama. Ayo, kita bawa dia.”
Aku dan Bibi Mari membantu Ethan berdiri. Tubuhnya cukup berat, tapi syukurlah kami tidak terjatuh saat menaiki tangga. Setelah sampai di kamarnya, kami membaringkan Ethan dengan hati-hati di atas tempat tidurnya.
“Sayang, aku tinggal ya. Kalau bisa, ganti juga pakaian Tuan Ethan supaya dia lebih nyaman saat bangun besok,” kata Bibi Mari tiba-tiba.
“Eh, tapi...” Aku baru saja ingin memprotes, tapi Bibi Mari buru-buru meninggalkan ruangan. Mungkin dia masih punya pekerjaan lain. Aku hanya bisa menghela napas panjang.
Aku menatap Ethan, yang tampaknya sudah tertidur lelap. Napasnya terdengar berat, dan aku merasa kasihan padanya. Sepertinya dia masih sangat berduka atas kehilangan Margaux.
Aku berjalan pelan mengelilingi kamar Ethan, mengamati suasananya. Kamarnya hampir seukuran dengan kamarku, dengan dinding biru muda yang memberikan nuansa tenang dan cerah.
Aku tidak punya pilihan lain selain mengganti pakaiannya agar dia lebih nyaman saat bangun nanti. Aku membuka lemari pakaiannya dan menemukan handuk. Aku membasahinya sedikit di kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Lalu, aku mencari kaus dan celana pendek untuk dipakaikan padanya. Tentu saja, aku tidak berniat mengganti pakaian dalamnya.
Aku mulai mengganti pakaiannya dengan perasaan gugup karena aku tidak terbiasa melihat tubuh pria dari jarak dekat. Tapi aku tidak punya niat apa pun selain membantunya.
Pertama, aku melepas kaus kaki dan sepatunya. Lalu, aku membuka kemejanya. Aku menelan ludah saat tubuh Ethan yang kekar terpampang di hadapanku. Dia memiliki tubuh yang luar biasa. Margaux sangat beruntung memilikinya.
Pipiku memerah, tapi aku berhasil menyeka tubuhnya dan memakaikan kausnya meski agak memakan waktu. Setelah itu, aku melepas celananya, memastikan untuk tidak melihat apa pun yang tidak seharusnya. Aku memakaikan celana pendek baru dan menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut.
Setelah selesai, aku menghapus keringat di dahiku. “Wow, akhirnya selesai!”
Aku menyelimutinya dengan rapi, memastikan dia bisa tidur dengan tenang, lalu berjalan keluar kamar. Tapi yang mengejutkanku, saat aku membuka pintu, seorang pria yang tadi membuat jantungku berdebar berdiri di sana. Dia memegang kenop pintu.
Tuan Lorenzo, ayah Ethan yang sangat tampan dan memesona, masih mengenakan pakaian yang sama seperti sebelumnya. Apakah dia baru saja pulang?
Mataku bertemu pandang dengannya, dan lututku mendadak lemas. Jantungku berpacu saat dia menyapu pandangannya ke arahku, menatap ke bawah, tepat ke arah kakiku.
Meskipun dia berdiri beberapa langkah dariku, aku tidak bisa mengabaikan bagaimana jakunnya naik turun saat dia menatap tubuhku. Apakah dia sedang melihat perutku atau bagian sensitifku yang tertutup celana pendek? Entahlah, tapi tatapan itu membuatku salah tingkah.