“Kasar sekali! Sampai banting pintu segala. Jika menurutnya aku salah, apa tidak bisa, menasihati secara baik-baik dan lembut?” batin Laras kesal tiada tara saat berada di dalam taksi. “Tidak langsung menuduh cemburu seperti itu. Aku ini istri kurang apa coba? Belum dua puluh empat jam dinikahi sudah ditinggal pergi. Dibiarin tidur sendiri demi ngurusin temannya itu. Makan juga nggak ditemenin. Cuma berkomentar begitu saja, sudah dituduh nggak berempati. Serba salah. Bagi Ryan atau Alena, semua yang kulakukan jadi salah. Kemarin aku diserang Alena entah aku salah ngomong apa. Hari ini Ryan.”
Mata Laras berkaca-kaca. Pandangannya mengabur saat menikmati pemandangan kota melalui jendela taksi. Tertutup oleh air mata yang mulai menggenangi kedua pelupuk matanya. Suasana kota terlihat lebih semarak dan beberapa tempat juga terlihat romantis karena lampu sudah menyala di mana-mana. Laras membayangkan betapa indahnya jika bisa menikmati suasana ini bersama Ryan. Tidak harus bulan madu ke Santorini di Yunani atau pun Finlandia seperti rencana bulan madu mereka sebelumnya, tidak mengapa. Cukup menikmati suasana kota seperti ini saja sudah sangat menyenangkan asal bersama orang yang dicintai, pikir Laras.
Laras turun di depan restoran Total Yum miliknya. Warung bakso dulu kecil dan sederhana kini telah berubah menjadi restoran bakso dengan puluhan cabang di berbagai kota di negeri ini. Bersama Deril, Laras membesarkan warung itu hingga berkembang pesat seperti sekarang. Untuk menghibur hati dan cari suasana baru, Laras ingin melihat restorannya saja.
Untuk meningkatkan penjualan dan memenuhi animo para pembeli, restoran ini tutup hingga jam sembilan malam. Pembeli masih ramai, Laras memilih masuk dari pintu samping saja menuju kantor.
Pintu kantor terbuka. Tapi tak ada satu pun orang di sana. Tak ada Deril, Mbak Surti atau sekretarisnya. Laras masuk saja. Dia yakin Deril atau Mbak Surti belum pulang. Mungkin masih di depan. Membantu para karyawan karena pembeli memang sedang ramai. Tak ingin berpangku tangan, Laras juga ingin ke depan membantu. Ia pun mengambil celemek di almari di ruangan itu.
“Laras! Kamu sudah pulang?” tanya Mbak Surti tiba-tiba tergopoh-gopoh kegirangan, mengejutkan Laras yang sedang memakai celemek.
“Ya, ampun! Mbak Surti! Bikin kaget saja.” Laras langsung membalikkan badan.
Mbak Surti malah ke sana kemari memperhatikan seluruh ruangan seperti mencari sesuatu.
“Mbak Surti ngapain?” tanya Laras bingung.
“Dia mencari oleh-oleh, Laras,” sahut Deril tiba-tiba masuk.
“Iya, benar. Kok, Tuan Deril, tahu?” Mbak Surti seketika menghentikan kegiatannya dan melihat ke arah Deril.
“Aku memang bisa melihat isi hati Mbak Surti.” Deril tersenyum dan mengangkat kedua alisnya beberapa kali.
Laras mendekati kedua orang itu. “Oleh-oleh siapa?”
“Ya, oleh-oleh kamulah?” sahut Mbak Surti mengerucutkan bibirnya menatap Laras pura-pura kesal.
“Kalian ini, ya! Kalau menggoda orang jangan keterlaluan begitu! Mana ada orang pergi ke Eropa berangkat kemarin terus sudah pulang hari ini,” kata Laras kesal. Lalu berjalan mendekati kursi di depan meja kerja dan duduk di situ. Mbak Surti mengikutinya dan hanya berdiri di sampingnya. Sementara Deril, duduk di belakang meja di kursi kerjanya. “Sudah tahu honeymoon kami batal nggak usah nyindir atau mengejek aku segala.”
“Sensi banget, sih, kamu! Digurauin gitu aja sudah ngambek,” protes Mbak Surti.
“Siapa suruh sudah tahu pakai tanya,” sahut Laras ketus.
“Katakan! Mengapa Ryan sampai membatalkan bulan madu kalian? Dan, mengapa kamu sore-sore begini malah keluyuran ke restoran kita sendirian? Biasanya pengantin baru itu sore-sore begini asyik jalan-jalan berduaan. Eh, kamu malah datang ke sini ingin bantuin karyawan bawain nampan. Katakan! Mana suamimu? Apa kalian bertengkar? Atau dia dibawa kabur perempuan lain?” Mbak Surti langsung menutup mulutnya, setelah melontarkan pertanyaan terakhir. “Ups, maaf! Amit-amit jangan sampai, ya, Laras. Kalau begitu, aku tarik saja pertanyaan terakhir tadi,” katanya menyesal.
“Nggak apa-apa, Mbak. Pertanyaan terakhir itu hampir benar. Tepatnya, kami batal honeymoon karena Ryan dibutuhkan untuk menghibur temannya. Bukan dibawa kabur,” jelas Laras
“Oh, ya? Siapa?” tanya Deril dengan cepat. Mbak Surti juga menatap Laras penasaran.
“Aduuh! Bagaimana aku ngomong begitu tadi. Mereka makin penasaran saja.” Batin Laras.
Laras kebingungan mencari jawaban. Sekarang dia harus menyebut nama siapa. Rasanya tak mungkin jika menyebutkan nama Alena. Pasti akan banyak pertanyaan selanjutnya dan semakin sulit untuk dijawab.
“Memang temannya Ryan itu kenapa?” tanya Mbak Surti. “Apa keluarganya meninggal atau kenapa?”
“Ada musibah, Mbak.”
“Oo... Baik banget suami kamu, Laras. Dia sampai rela membatalkan honeymoon demi temannya itu. Pasti mereka teman yang sangat dekat. Ngomong-ngomong temannya itu, cewek apa cowok?” tanya Mbak Surti dengan tatapan curiga.
“Cowok, Mbak,” balas Laras berbohong. “Memang kenapa kalau cewek?” Laras balas bertanya.
“Masak kamu masih tanya? Kamu nggak ngerti atau gimana? Ya, kalau cewek kamu perlu curiga, dong. Masak demi teman saja, sampai rela batalin honeymoon bersama istri tercinta. Itu teman apa teman? Atau ada apa-apa di balik pertemanan? Atau ----- “
“Stop!” Deril menggebrak meja agak keras. Dan menghentikan kalimat Mbak Surti. “Mbak Surti dilarang ngomong lagi! Bikin pusing saja,” tegas Deril tak ingin Mbak Surti menambah kerumitan pikiran Laras. Dia bisa tebak dari raut wajahnya, jika kedatangan Laras ke sini ingin cari hiburan saja. Atau sekedar menjauh sebentar dari masalah yang dia hadapi saat ini.
“Ih, Tuan Deril, apaan, sih? Nyebelin!” Mbak Surti menatap Deril kesal.
Laras menahan tawa melihat tingkah Deril dan Mbak Surti. Keduanya masih belum berubah, persis Tom And Jerry, selalu bertengkar dan tidak pernah rukun.
“Sudah-sudah, jangan ribut!” Lerai Laras mencegah keributan yang mungkin akan sulit dikendalikan. “Yuk, temenin aku makan bakso. Sudah lama aku nggak menikmati bakso Total Yum.”
“Maaf, aku terpaksa menolak, Laras!” ucap Mbak Surti dengan gaya angkuh dan kesal melirik Deril.
“Mengapa, Mbak? Kita sudah lama nggak makan bareng, ‘kan?”
“Aku nggak bisa makan satu meja dengan Bos galak seperti dia,” sahut Mbak Suri ketus.
“Apa, aku Bos galak?” tanya Deril tak terima.
Mbak Surti mengangguk dan tersenyum meyakinkan menatap bosnya itu. “Memang galak kalau sama aku. Tapi kalau karyawan yang muda dan cantik bersikap manis dan lembut.”
“Ya, sudah kalau begitu, pulang sana! Makan sama Mas Joko saja! Kalau makan sama aku, nanti dikira sembunyikan istrinya,” usir Deril ketus sambil melempar tas Mbak Surti.
“Dengan senang hati!” sahutnya sambil menangkap tas Mbak Surti.
“Eh, apa-apan, nih? Kok, Mbak Surti beneran pulang. Jangan pulang dulu, Mbak!”
“Nggak bisa, Laras. Aku nggak bisa satu meja sama dia! Sudah, kamu nikmati saja baksomu bersama Bos galak itu. Aku sudah ditunggu Mas Joko di depan.” Mbak Surti mengerlingkan mata pada Laras lalu pada Deril. Dan Deril membalas kerlingan itu. “Bos, besok bagi, ya!”
Laras bingung. “ Lho! Kalian apaan, sih? Kalian sedang ngerjain aku, ya?”
“Daaa, Laras!” pamit Mbak Surti berjalan dengan centil tersenyum meringis dan melambaikan tangan berjalan keluar.
“Sudah, jangan terlalu banyak mikir!” tutur Deril. “Bagaimana? Akting kami barusan cukup menghibur, ‘kan?” tanyanya sambil cengar-cengir.
“Apa? Akting?” tanya Laras makin bingung.
“Permisi,” dua orang karyawan perempuan berdiri di depan pintu mengantarkan bakso dan minumnya.
“Ya, masuk saja,” sahut Deril. Kedua karyawan itu berjalan menuju ke arah mereka. “Taruh di sini saja,” perintah Deril menunjuk mejanya yang baru saja memindahkan beberapa berkas di sisi samping.
“Kapan, kamu memesannya?” tanya Laras bingung karena tak melihat Deril atau Mbak Surti memesan bakso.
“Tadi lewat panggilan hati,” sahutnya sambil menyeringai nakal memandang kedua karyawan cantik itu. “Iya, ‘kan!” Padahal bakso itu telah dipesan sejak dia dan Mbak Surti tahu Laras datang. Mereka diberitahu oleh salah satu karyawan. Deril dan Mbak Surti mengendus ada sesuatu yang telah terjadi dengan Laras.
Mereka hanya tertawa kecil malu-malu. “Iya, Pak.” Salah satu membalasnya.
“Honeymoon-nya di-cancel, ya, Bu?” tanya seorang lagi pada Laras.
Laras agak terkejut. Tak mengira akan mendapat pertanyaan itu. “Oh, Ah, iya, iya. Suamiku ada kepentingan mendadak yang tak bisa ditunda Jadi honeymoon-nya kapan-kapan saja. Kalau dia sudah nggak sibuk.” Laras tersenyum getir.
“Sudah, kalian kembali ke depan sana!” perintah Deril takut ada pertanyaan selanjunya dari mereka.
“Baik, Pak.”
“Oh, begitu, ya, Bu.” Balas dua karyawan itu bergantian pada Deril dan Laras.
“Kalau begitu kami permisi dulu.” Kemudian pamit mereka.
Laras menggangguk bersama Deril. “Silakan.”
Tak sabar, Laras langsung mendekati baksonya dan meracik dengan cepat. Dengan makan bakso sepedas mungkin, dia berharap bisa mengusir duka laranya sejauh mungkin. Tapi saat dia terus-terusan menekan botol sambal, Deril langsung menyambarnya.
“Hei, sambalku masih kurang. Mengapa kamu sudah memintanya?” Laras kesal.
“Cukup sambalnya. Apa kamu senang kalau Ryan memarahiku jika perutmu sakit lagi seperti dulu?” tanya Deril.
“Akan kumarahi dia kalau memarahimu,” tegas Laras dengan nada agak tinggi dan terdengar kesal sambil mengaduk baksonya.
“Ada apa?” tanya Deril serius, sambil menyeruput kuah baksonya tanpa melihat Laras.
Laras terkejut dengan suara serius itu. “Apa maksudmu?”
“Mengapa kalian batal honeymoon?”
Laras kebingungan harus menjawab apa. “Bukankah tadi sudah kujawab.”
“Tadi itu bukan jawaban jujur.” Deril masih terlihat serius. Kali ini dia menatap Laras lekat-lekat.
Laras menarik napas panjang. Dia yakin kalau memberi Deril jawaban bohong atau kurang jelas, pasti akan terus mengejarnya. Tapi kalau dia jujur, takut Ryan akan menyalahkannya. Karena ini pemintaan Alena. Tapi, Laras sendiri berpikir, apa salah jika dirinya memberitahu Deril. Dia yakin Deril bisa menjaga rahasia ini. Apalagi mereka juga berteman dekat.
“Berjanjilah kamu akan menjaga rahasia ini dari siapa pun!” pinta Laras serius dengan suara agak rendah dan lirih.
Deril mengangguk serius dan mendekatkan wajahnya pada Laras. “Tentu.”
Dengan sedikit ragu-ragu. “Alena--- Alena--- “
“Iya, ada apa dengan Alena?” Deril tak sabar.
“Dia--- Dia mengalami musibah.”
“Musibah apa?” tanya Deril dengan cepat.
“Beberapa orang telah merenggut----- kehormatannya.” Laras mengatakan itu dengan berat.
“Apa?” Deril menggebrak meja dan langsung berdiri. Mukanya merah padam menahan geram. “Alena mengalami musibah sebesar ini, mengapa kalian tak bicara padaku?”
“Alena meminta Ryan merahasiakannya dari siapa pun. Bahkan Elly dan orang tuanya juga tak boleh diberitahu,” jelas Laras.
Deril mengeluarkan napas dengan keras. Terlihat sangat emosi. “Sekarang dia di mana?”
“Kamu mau apa?”
“Katakan, Alena di mana, Laras!” suara Deril dengan nada tinggi.
Laras terkejut sekali hingga dia terjingkat.
“Maaf, aku jadi emosi. Tapi itu bukan maksud membentakmu.”
“Di rumah kami. Sekarang dia di rumah kami.”
“Ayo, kita ke rumahmu.” Deril bergegas meninggalkan meja kerjanya.
“Tunggu, dulu!” Laras menghentikan Deril.
Deril berhenti dan menoleh. “Kenapa?”
“Aku takut, kehadiranmu akan membuat Alena tidak tenang lagi. Dan Ryan akan marah padaku,” jelas Laras cemas.
“Terserah kamu ikut denganku atau tidak. Aku akan tetap ke sana.” Deril lalu melangkah ke keluar. Laras pun mengejarnya dengan perasaan cemas. Membayangkan bagaimana situasinya nanti sesampai Deril dan dirinya di sana.