Saat Laras masuk ke ruang makan, Ryan yang sedang sibuk mengambil makanan untuk Alena, segera mendekat membantunya begitu melihat istrinya berjalan dengan sebelah kaki berjinjit. Laras sebenarnya masih dongkol tiada tara dan kecewa berat karena barang-barang belanjaan untuk Alena tadi. Dia ingin menolak bantuan suaminya yang sok perhatian itu. Tapi, dia tidak enak dengan kedua mertuanya. Laras tak ingin mengganggu suasana hati mereka yang terlihat tenang dan damai.
“Kakimu kenapa, Laras? Bagaimana sampai terluka? Apa terjatuh atau bagaimana?” Ryan bertanya memperhatikan ke bawah pada kaki istrinya.
Bu Sarah yang sedang sibuk menata menu untuk sarapan pagi di meja makan langsung menoleh dan turut memperhatikan juga. “Iya, apa yang terjadi dengan kakimu, Sayang? Kelihatannya cukup parah itu? Jalanmu agak sulit begitu.”
“Ini, jari-jarimu juga. Mengapa kamu banyak luka begini, sih?” telisik Ryan saat memperhatikan jempol dan telunjuk pada tangan kanan Laras.
“Enggak, ini hanya kecelakaan kecil saja. Semalam, aku menginjak pecahan botol parfum.” Laras menjawab sambil duduk di kursi yang di siapkan Ryan.
“Oh, tidak. Papa ngilu mendengarnya, Nak,” sahut Tuan Darmawan setelah menyeruput teh di cangkirnya. “Apa kacanya tertancap di kakimu?” tanya Tuan Dramawan kemudian.
“Iya, Pa. Kacanya menancap di kaki. Dan waktu saya cabut, jempol dan telunjuk saya justru tersayat,” balasnya.
“Aduh! Hati, Papa jadi ikut tersayat, Sayang." Tuan Darmawan memejamkan matanya.
“Separah ini mengapa kamu tak menelponku semalam? Aku bisa membantu mencabut kaca itu. Dan jarimu tak perlu terluka lagi,” protes Ryan seraya mengangkat kaki Laras dan memeriksanya. Dia merasa bersalah dengan situasi yang dihadapi istrinya semalam, bagaimana Laras menghadapi situasi yang sulit itu sendirian saja.
“Bukankah kamu sedang menjaga Alena. Aku yakin, kamu tak akan tega meninggalkan dia, ‘kan. Jadi, kupikir percuma saja menelponmu,” sahut Laras agak ketus dan dingin.
Ryan kaget dengan jawaban itu. Ia menoleh pada Laras dengan wajah agak kesal. “Apa? Bagaimana kamu bisa berkata demikian, Laras? Kalau kamu kenapa-napa, pasti aku mengkhawatirkanmu. Aku bisa meninggalkan Alena demi dirimu. Nggak ada yang lebih penting dari apa pun di dunia ini selain dirimu, Laras.”
“Tuh, Ryan. Itu peringatan buat kamu. Kamu jangan hanya fokus pada Alena. Istrimu juga butuh perhatian.” Nyonya Sarah melihat putranya sambil mendorong cah brokoli ke depan Ryan dan Laras. “Pelan-pelan kamu harus mulai membiasakan Alena untuk tidak terus tergantung padamu. Masak, setiap saat, setiap malam kamu terus temani dia. Apa nanti malam kamu akan menemaninya juga. Terus kapan kamu bersama istrimu? Mama harap, kamu tidak lupa jika saat ini kalian adalah pengantin baru,” tutur Nyonya Sarah selanjutnya menatap tajam putranya itu.
“Iya, Ma, Papa sependapat dengan, Mama,” sahut Tuan Darmawan. “Dengarkan, nasihat Mamamu, Ryan. Dia berkata benar. Papa tidak melarangmu menolong atau peduli dengan orang lain. Tapi, tetap saja istrimu yang harus diutamakan.”
Diam-diam sambil makan Laras menarik napas lega. Kedua mertuanya telah menyuarakan perasaan Laras yang selama ini sulit dia ungkapkan pada Ryan.
Ryan terlihat sedikit kesal mendengar semua mengeroyok dan menasihatinya. “Tentu, Ma. Aku pasti akan lebih perhatikan, Laras. Tapi, Alena baru kemarin mengalami musibah. Tidak mungkin secepat ini dia bisa tenang. Kita harus berusaha memahami itu juga. Kalau bisa ditinggal tidur sendirian, pasti aku akan meninggalkannya dan memilih tidur dengan istriku sendiri. Untuk apa juga aku tidur sama Alena.” Ryan terlihat agak kesal. Kedua orang tuanya tak bisa memahami situasinya yang sulit. Atau juga memahami keadaan Alena. “Aku kecewa sekali, kalian jadi tidak sabar. Kalian betul-betul tidak memahami situasi Alena yang sulit.”
“Menurut Papa, kamulah yang membuat semuanya jadi sulit, Ryan. Seharusnya kamu tidak terbawa perasaan. Sejak awal langsung kamu serahkan dia pada ahlinya. Kamu dan Laras tidak kehilangan momen indahnya sebgai pengantin baru. Kamu masih bisa mendukung dan membantunya Alena untuk pulih,”
“Lho, Papa kok sekarang malah nyalahin, aku, sih?”
“Iya. Karena Papa kasihan dengan istrimu, menantu Papa.”
Ryan berusaha menahan emosinya. Tak ingin terpancing unuk terus berdebat dengan papanya. Kemudian dia menoleh pada Laras. “Tolong, lebih bersabarlah, Laras. Ini juga tidak mudah bagiku. Aku janji, ini tidak akan berlangsung lama. Aku akan mencari solusi secepatnya.”
Ryan lalu berdiri dan mengangkat nampan berisi dua piring nasi komplet dan dua cangkir teh untuk dibawa ke kamar Alena.
“Apa kamu tidak makan bersama kami?” tanya Laras terlihat terkejut.
“ Makanlah dulu bersama istrimu di sini. Baru antar makanan itu ke sana,” saran Tuan Darmawan.
“Tadi, Alena minta ditemani sarapan. Dan aku sudah janji sama dia mau menemaninya makan,” jelas Ryan. “Kamu sabar dulu, ya. Nanti aku akan curi waktu untuk temenin kamu,” kata Ryan pada Laras dengan seulas senyuman termanisnya.
“Sabar? Aku bukan malaikat, Ryan. Aku adalah pengantinmu yang membutuhkan perhatianmu,” sahut Laras dalam hati. “Lagian, mengapa curi waktu. Aku ini istrimu, Ryan. Akulah seharusnya yang lebih punya hak atas waktumu.”
Laras membalas senyuman Ryan dengan berat hati. Senyuman terpaksa yang khusus untuk kedua mertuanya agar mereka tidak cemas atau suasana makin memanas. Lalu, ia segera fokus ke piring dan menyantap makanannya lagi.
Ia tidak habis pikir, mengapa untuk makan sebentar saja di sini, sangat berat bagi Ryan. Atau, setidaknya, dia tunggui dirinya makan sampai selesai. Mengapa Alena lebih penting dari dirinya. Kondisi Alena sepertinya juga sudah lebih tenang. Mbak Yanti sedang menemaninya di sana. Jika terjadi sesuatu pasti dia segera memberitahu. Apa masalahnya jika di sini lebih lama lagi untuk makan atau sekedar bicara dengan dirinya. Laras merasa kecewa ternyata suaminya lebih memilih makan bersama Alena.
“Sejak kecil, Ryan memang seperti itu, Nak. Hatinya mudah tersentuh. Kadang Papa juga khawatir sifatnya itu akan dimanfaatkan oleh orang tidak bertanggungjawab,” ungkap Tuan Darmawan sambil menatap kepergian putranya itu lalu mengembuskan napas dengan keras. Seakan pria itu menyimpan kekhawatiran di dalam hatinya.
“Semoga saja, hal itu tidak terjadi, Pa,” doa Laras sedikit tidak yakin.
***
“Tolong maafkan, aku, Laras!” ucap Ryan sambil menatap dan membelai sebelah rambut Laras saat tidur bersanding di ranjang kamar mereka. Kali ini Ryan pamit dengan Alena untuk mandi dan ganti baju sebentar. Dan kesempatan ini dia gunakan untuk melepas rindu dengan Laras.
“Maaf untuk apa?” tanya Laras ketus.
“Soal membelanjakan Alena, tadi.”
Laras tidak membalas permintaan maaf itu. Ia justru menanyakan hal lain, “Apa Alena senang?”
“Tidak, biasa saja. Masih terlihat tidak bersemangat. Barang-barang itu tidak dia sentuh. Kecuali baju yang ingin dia pakai saja.”
“Oh ya. Tapi mengapa dia masih tertarik membeli tas dan sepatu model terbaru yang sedang trend.”
“Oh, kalau itu, aku memang menyarankan dia untuk membeli semua yang dia suka. Aku hanya bermaksud menghiburnya saja,” jelas Ryan.
“Aneh juga dia masih tertarik, Alena masih tertarik barang seperti itu di saat sedang hancur seperti ini.”
Ryan mengerutkan alis menatap Laras dengan sorot kurang suka. “Mengapa kamu berkata seperti itu, Laras? Apa kamu pikir Alena sedang memanfaatkan kondisinya?” Ryan bangun. “Aku kecewa padamu, Laras. Sepertinya kau telah kehilangan rasa empatimu karena tertutup oleh perasaan cemburu terhadap Alena.” Ryan lalu turun dari ranjang. Setelah berdiri, dia masih meneruskan ucapannya, “Aku tak menyangka kamu sanggup berpikir demikian.”
Terkejut, Laras pun segera duduk dan memandang Ryan dengan mimik muka tak mengerti. “Apa?”
Laras tak percaya Ryan sanggup mengatakan hal menyakitkan seperti ini. “Aku hanya mengungkapkan pendapatku. Mengapa kamu yang marah, Ryan?
Ryan menatap istrinya seraya tersenyum sinis. “Itu, salah dan tidak baik, Laras. Alena terkena musibah. Bukannya menghibur kamu malah berpikir yang tidak-tidak. Harusnya kamu mendukungnya supaya dia cepat pulih. Dan kita segera kembali bersama lagi.”
Ryan lalu bergegas meninggalkan kamar seraya membanting pintu dengan keras. Sementara Laras masih terbengong bingung dengan sikap suaminya.