“Yang mana si, Fir?” tanya Kiana sembari melongokkan sedikit kepalanya pada arah yang Fira maksud. Melihat hal tersebut, Fira sontak menarik kepala Kiana agar tidak membuat malu.
“Ih, nggak terang-terangan gitu juga, si, Ki!” tegur Fira gemas bercampur kesal. Mereka kini sedang makan di rumah makan depan pabrik tempat mereka bekerja, dan suasana sedang ramai. Maka dengan gerakan Kiana tadi, pasti akan memancing orang untuk mencurigai tingkah mereka kini.
“Aku kan penasaran.” Kiana merasa tidak ada yang salah, dan masih saja melakukan hal memalukan itu. Melongok dan serius memerhatikan jajaran pemuda yang kini tengah bergerombol tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Fira yang melihat itu hanya bisa meraup wajahnya, dan membenamkan ke dalam kedua telapak tangannya. Jika bisa, dia ingin meninggalkan sahabatnya ini sendiri. Namun, sayangnya rasa berperi-persahabatannya masih terlalu tinggi. Meski dengan begini ia juga akan malu.
“Kiana, Sayang,” ujar Fira menahan geram. Kiana pun sontak menoleh ke arah Fira yang masih melesatkan tatapan kesal.
“Apaan, deh,” gerutu gadis itu sambil menggerakkan kepala pada tempat yang sama. Namun, beruntung Fira bisa mencegahnya dengan menarik rambut Kiana yang tergerai lurus. Sang empunya tentu saja langsung meringis danmengaduh karena kulit kepalanya teras perih.
“Resek deh, kamu, Fir!”
Bukannya merasa bersalah, Fira malah terkikik geli. “Lagian kamu malu-maluin,” ujarnya tidak mau disalahkan.
“Kayak kamu nggak pernah malu-maluin aja.” Fira memberikan cengiran tanpa dosa karena memang mereka berdua ini seringnya memalukan. Namun, kali ini Kiana harus menjaga sikap jika tidak mau incaran mereka kabur.
“Jadi yang mana?” tanya Kiana lagi. Mulai kehilangan semangatnya karena sejak tadi Fira tidak juga menunjukkan pemuda yang gadis itu maksud sebagai karyawan baru di pabrik tempat mereka bekerja.
Kedua gadis itu memang bekerja di tempat yang sama. Pabrik kayu yang baru buka sekitar beberapa bulan ini. Namun, keduanya berada di bagian yang berbeda karena pendidikan yang ditempuh juga berbeda. Kiana yang memiliki ijazah D3 berhasil masuk sebagai salah satu karyawan kantor. Sementara Fira yang hanya bermodalkan ijazah SMK, berada di bagian produksi yang memiliki dua shift. Hari ini kebetulan Fira masuk pagi jadi keduanya bisa makan siang bersama.
“Yang pakai jaket biru,” ujar Fira sembari memeriksa pesan di ponselnya. Tidak lagi peduli dengan kelakuan sahabatnya. Kiana kembali memeriksa jajaran pemuda yang sepertinya mulai merasa sedang diperhatikan oleh dua gadis itu.
“Beneran yang jaket biru?” tanya Kiana sembari menoleh dengan senyuman lebar. Tanpa melihat ke arah mana Kiana memusatkan perhatian tadi, Fira mengangguk.
“Itu mah ganteng banget, Fira,” desis Kiana dengan semangat yang meletup-letup.
“Memang, banyak yang langsung naksir dia.”
“Namanya siapa?”
Fira tampak berpikir, ia memang sedikit lemah untuk sekadar mengingat nama. “Al siapa ya tadi.”
Kiana berdecap kesal karena kebiasaan Fira mulai bekerja. Mudah melupakan nama seseorang adalah kebiasaan yang sering sahabatnya itu lakukan.
“Pokoknya itu deh, namanya.” Fira melirik arloji dan baru menyadari jika jam istirahat sedikit lagi habis.
“Udah mau masuk, nih. Lanjut besok aja.”
Kiana mengangguk, dan sekali lagi menoleh ke arah laki-laki yang mencuri perhatiaannya. Lalu saat Fira bangkit dari kursinya, gadis itu ikut bangkit dengan rasa bahagia yang meletup. Belum menyadari jika orang yang ia lihat ini bukanlah teman baru yang Fira maksudkan. Jadi jika mau diperjelas, Kiana sekarang sedang salah sasaran.
*
Kiana sedang berada di minimarket depan tempat kerjanya, saat ia melihat laki-laki yang ia perhatikan tadi juga tengah berada di sana. Laki-laki itu tidak lagi mengenakan jaket biru, melainkan kemeja yang digulung sampai ke siku. Celana jeans serta sneakers yang digunakan saat ini membuat penampilan semi formal itu menambah kadar ketampanan laki-laki itu. Bolehkan Kiana sebut ini cinta pada pandangan pertama? Rasanya ingin meleleh saat melihat laki-laki itu tengah mengobrol dan tertawa dengan salah satu kasir minimarket laki-laki yang ia tahu bernama Adi.
“Pak Alfa!” Seruan itu membuat fokus Kiana yang tengah memilah snack sembari mencuri pandang pada laki-laki itu teralih sepenuhnya.
“Jadi namanya Alfa?” gumam gadis itu pada dirinya sendiri. Dan matanya terus mengawasi gerakan laki-laki bernama Alfa itu saat tengah berjalan untuk mendekati pegawai yang meneriakkan namanya tadi.
“Kok dipanggil, Pak, ya? Dan bukannya jam ini seharusnya dia masih kerja?” Kiana menggaruk kepalanya bingung dan segera menyudahi kegiatan belanjanya karena sosok yang ia kagumi pun sudah menghilang di balik sebuah ruangan yang pintunya kini tertutup.
“Yang tadi itu siapa Mas Adi?” tanya Kiana sembari menyorongkan keranjang belanjaannya yang penuh dengan jajanan berbumbu micin dan minuman rasa. Ia mengenal Adi karena memang laki-laki ini tentangga ibunya.
“Oh, itu Pak Alfa,” jelas Adi sembari men-scan barkot barang yang ada di keranjang belanja Kiana. “Kenapa, naksir?”
Kiana memberikan cengiran malu, lalu menggeleng. “Enggaklah, cuman baru lihat aja,” ujarnya. Tentu saja aksi mempermalukan dirinya masih memilki kendali.
“Dia yang punya minimarket ini kalau mau tahu.” Adi menyorongkan belanjaan Kiana setelah gadis itu memberikan uang untuk membayar.
Mata Kiana sontak melebar saat mendengar itu. “Pemilik?”
Adi mengangguk, baru akan melanjutkan kalimatnya, ponsel Kiana malah berdering.
“Aduh, sori, ya, Mas. Panggilan darurat.” Kiana pun segera pamit setelah Adi mengangguk.
*
“Berarti kamu salah orang tadi,” ujar Fira saat Kiana menceritakan perihal laki-laki bernama Alfa yang ia lihat tadi.
Bukannya kesal atau bagaimana, gadis itu malah melebarkan senyum. “Nggak papa salah orang, dia ganteng kok.”
Fira yang sudah biasa mendengar hal seperti itu hanya berdecap malas.
“Tuh, anak yang aku maksud. Namanya Aldian ternyata.”
Kiana pun menatap ke arah yang Fira tunjuk, lalu mengangguk-angguk. “Kayak muka-muka playboy itu mah.”
Fira yang menyetujui itu langsung tersenyum geli. “Banget, di sini baru berapa hari udah banyak yang digombalin ternyata.”
Mendengar itu sontak Kiana melongo. “Beneran?”
Fira mengangguk yakin. “Untung kamu belum maju perang.” Kiana bergidik ngeri membayangkan ia akan berhubungan dengan pemuda semacam itu.
“Jadi targetnya … siapa tadi?” Fira lupa nama yang Kiana sebut.
“Alfa,” jelas Kiana dengan senyum lebar. Wajah tampan dan senyuman ramah itu kembali muncul di benaknya. Dari segi fisik, Alfa sungguh-sungguh laki-laki idaman yang ia inginkan untuk menjadi seorang pasangan.
“Ganteng banget memang?” Fira jadi penasaran. Yah walaupun terkadang standar tampan seorang Kiana itu yang di matanya biasa saja. Namun, tetap saja ia penasaran.
Kiana melebarkan senyumnya. “Banget,” katanya dengan mata berbinar-binar.
“Tapi kamu juga harus pastiin,” ujar Fira syarat akan nada peringatan.
Kiana yang tidak paham mengangkat alis, “Maksudnya pastiin apanya?”
“Doi masih jomlo apa enggak,” balas Fira serius. “Biasanya kalau ganteng gitu mah, udah punya gandengan. Apalagi zaman sekarang kan banyak yang nikah muda,” imbuh Fira tidak mengurangi nada serius dalam suaranya.
Kiana yang mendengar itu pun mulai berpikir, lalu mengangguk saat merasa apa yang sahabatnya katakan itu ada benarnya. “Tapi gimana cara nyari tahunya, ya?”
Fira ikut berpikir, lalu saat satu ide muncul ia pun bertanya, “Memang tadi kamu liat dia di mana?”
“One Mart.”
“Ngapain dia di sana?”
“Kata Mas Adi dia yang punya One Mart,” jawab Kiana lantang. Bahkan ada senyum bangga yang menguar di bibir tipisnya.
Mendengar informasi tersebut, Fira pun lantas berdecap. “Itu mah udah pasti nggak single lagi, Ki!”
“Kok tahu?” Kiana masih merasa tidak rela jika laki-laki yang ia pikir sudah pas untuk diincar ternyata bukan laki-laki single.
“Pertama dia ganteng, kedua dia sukses. Udah yakin dia nggak jomlo,” ujar Fira penuh dengan keyakinan.
Sementara Kiana malah mengerucutkan bibir. “Kamu mah nggak dukung aku, malah jatuhin.”
Fira memutar bola matanya malas. “Mau taruhan?”
“Bodo ah, aku sebel sama kamu.” Kiana melenggang pergi. Meninggalkan Fira yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Kiana dan keras kepala adalah satu paket yang sering membuatnya pusing.
*
Kegiatan Kiana sebelum pulang dan berangkat kerja sekarang adalah mengintip ke arah One Mart. Jika ada mobil ber-plat nomor dengan awalan H, maka bibir itu akan tersenyum. Apalagi jika yang memiliki mobil terlihat dari kejauhan, gadis dengan rambut hitam lurus itu pasti akan terlihat seperti orang gila karena tersenyum sendiri. Bahkan Fira kadang memilih menyingkir karena kelakuan sahabatnya itu sangat memalukan.
“Udah cari tahu belum?” tanya Fira suatu hari saat mereka sedang menikmati bakso di salah satu kedai yang berada tidak jauh dari pabrik. Di depan pabrik kayu tempat mereka bekerja memang banyak penjaja makanan. Dari yang hanya untuk iseng dan paling mengenyangkan ada.
Kiana tidak langsung menjawab, memilih menuang sedikit sambal ke mangkuk baksonya. Lalu menikmati makanan favoritnya itu sebelum memusatkan perhatian pada Fira yang menunggu jawabannya. Sekadar info, selain memalukan, keras kepala, Kiana ini pecinta bakso sejati. Ke mana pun gadis itu pergi, hal wajib yang harus dinikmati adalah semangkuk bakso.
“Belum.” Jawaban yang benar-benar menyebalkan di telinga Fira.
Gadis berkaca mata itu menggeleng lelah. “Terus masih ngarep?”
Kiana mengangguk tanpa ragu. “Iya dong.”
“Kalau ujungnya zonk?”
“Zonk gimana?” Kiana mengernyitkan dahi tidak mengerti. Bagaimana mau paham jika kini fokusnya sedang berada di mangkuk bakso yang lebih nikmat dibanding memikirkan hal lain.
“Kalau dia bukan jomlo.” Lama-lama Fira gemas sendiri melihat tingkah sahabatnya ini. Bukannya dia ingin ikut campur terlalu lebih. Kalau saja ia tidak terkena imbasnya, Fira pun tidak akan rewel seperti sekarang.
“Masak si, Fir, dia bukan jomlo?”
Fira memutar bola matanya malas, dan enggan lagi memberikan jawaban. Lebih baik dia yang turun tangan langsung sebelum Kiana membuat ulah dan berakhir mempermalukan diri atau patah hati.
*
“Anak Ibu kayaknya lagi seneng banget,” ujar Namira saat sadar bibir putri semata wayangnya sejak tadi terus melengkung manis.
Tidak langsung menjawab, Kiana yang sedang merasakan nyaman karena sedang melakukan creambath gratis kembali menunjukkan senyuman. Enaknya memiliki ibu yang memiliki salon kecantikan salah satunya adalah ini. Kiana bisa melakukan perawatan apa pun secara gratis. Apalagi salon yang ibunya miliki ini termasuk yang terkenal di kota mereka. Yah walaupun tidak bisa dikatakan yang termewah.
“Memang keliatan, Bu?”
Namira kembali tersenyum, “Kamu itu paling nggak bisa ngumpetin perasaan.”
Kiana tidak menjawab, hanya melebarkan senyum.
“Cerita dong sama Ibu.” Meskipun keluarga mereka tidak lagi utuh, tetapi Namira berusaha untuk tetap memberikan perhatian pada sang putri. Apalagi di pernikahannya yang baru sekarang, wanita itu belum atau mungkin tidak akan lagi diberi kepercayaan untuk memiliki anak. Mungkin cukup dengan Kiana saja dia memberikan kasih sayang.
“Kalau kita naksir cowok, terus ngedeketin duluan salah nggak menurut Ibu?”
Namira tampak berpikir, lalu tersenyum. “Kamu lagi naksir cowok?” Tidak menjawab, Kiana hanya menunjukkan cengiran.
“Ya nggak papa, asal kamu yakin kalau itu cowok masih single.”
“Cara tahu kalau dia single atau enggak?”
“Ya kenalan, atau cari tahu sama orang yang ada di sekelilingnya.”
Kiana tampak mengerutkan kening. Terdengar begitu mudah, tetapi entah mengapa susah sekali dilakukan. Satu-satunya orang yang bisa ia mintai informasi adalah Adi. Namun, laki-laki itu tidak terlihat di One Mart beberapa hari ini.
“Tapi kalau dia masih single nggak papa kan, Bu, deketin dulu?”
“Yang penting jangan keliatan kamu naksir dia banget. Jadi cewek harus jual mahal.”
Kiana yang mengerti maksud sang ibu segera mengangguk.
*
Hari ini Kiana bertekad untuk mencari tahu tentang status Alfa. Jika bukan pada Adi, dia bisa menanyakan status laki-laki itu pada pegawai One Mart yang lain. Yah walaupun pasti akan sangat canggung karena mereka tidak saling mengenal. Namun, demi memperjuangkan masa depan yang cerah bukannya Kiana harus mengesampingkan gengsi dan rasa malu?
Gadis yang mengikat rambutnya ke belakang itu mendatangi One Mart. Tentu saja hal yang pertama ia lakukan adalah membeli sesuatu di minimarket tersebut. Lalu, nanti saat sedang membayar, ia bisa bertanya pada kasir yang sedang melayani. Bukankah itu ide yang bagus?
Tanpa sadar gadis dengan tinggi 160cm itu tersenyum sendiri. Apalagi saat bayangan yang kasir berikan nanti adalah informasi jika Alfa adalah laki-laki single. Dan akan semakin membahagiakan jika laki-laki itu sedang mencari calon istri. Maka Kiana akan maju terdepan sebagai kandidat calon istri seorang Alfa.
Setelah mengembus dan menarik napas berulang kali, Kiana segera menuntaskan acara belanjanya. Kakinya melangkah mantap ke arah kasir yang kini diisi oleh seorang gadis dengan name tag Siska. Kiana sudah tidak asing dengan pegawai One Mart yang satu ini.
“Mas Adinya nggak keliatan dari kemarin, Mbak?” tanya Kiana melempar amunisi pertama. Berbasa-basi sebentar sebelum melempar pertanyaan inti.
“Mas Adinya lagi ditugasin buat ke cabang baru, Mbak.”
Gadis itu menggangguk-angguk seolah peduli. Padahal otaknya sedang bekerja mencari cara untuk menanyakan soal Alfa, tetapi tanpa memancing kecurigaan. Dan—mata itu beralih fokus saat sosok yang ingin ditanyakan tiba-tiba muncul. Alfa terlihat keluar dari mobil yang baru saja berhenti di depan One Mart.
“Itu yang punya One Mart ya, Mbak?” tanya Kiana membuat Siska, kasir di depannya melongok ke arah Kiana menunjuk.
“Iya, bener, Mbak. Eh sama Mbak Nina!" Mendengar itu Kiana pun sontak menoleh ke arah Siska yang terlihat bahagia saat menyebut nama wanita di ujung kalimatnya.
“Mbak Nina?”
Siska mengangguk dengan binar terang. “Istrinya Pak Alfa.”
Kiana melongo sejadi-jadinya mendengar informasi tersebut. Apa katanya tadi? Istrinya pak Alfa? Kepala gadis itu pun memutar cepat ke arah luar jendela One Mart yang menunjukkan Alfa tengah menggenggam tangan seorang wanita dengan perut yang membuncit.