3. Takdir untuk Kiana

1672 Words
Fira tidak perlu bertanya bagaimana hasil dari usaha yang sedang Kiana jalankan mengenai laki-laki bernama Alfa. Melihat sahabatnya itu kini tengah berada di salah satu kedai bakso langganan mereka, dan tengah menuang sambal dengan begitu banyak, gadis dengan tinggi sama dengan Kiana itu paham jika sahabat baiknya itu gagal lagi. "Ingat perut, Say." Fira menahan tangan Kiana yang hendak menuang semua sambal yang ada di mangkuk kecil ke dalam mangkuk bakso. Melihat warna merah yang kini mendominasi mangkuk bakso Kiana saja Fira sudah meringis ngeri. "Aku bête," ujar Kiana dengan mata berkaca-kaca, sementara mulutnya sibuk mengunyah bakso yang rasanya pasti sangat pedas. Bahkan aroma cabainya tercium dari tempat Fira duduk. Kebiasaan Kiana jika sedang berada pada mood yang buruk memang seperti ini. menyantap semangkuk bakso dengan banyak sambal. Tidak peduli apakah besok perutnya akan baik-baik saja atau tidak. "Jadi?" Fira menunggu dengan sabar apa yang menyebabkan sahabatnya bisa seperti ini. "Alfa udah punya istri." Air mata Kiana mengalir, entah karena rasa kecewa, atau karena kuah sambal yang dimakannya. Tidak terlalu kentara karena memang itulah cara Kiana menyamarkan air mata yang terkadang muncul saat semua harapan yang ada di hidupnya tidak pernah terwujud. Fira bingung antara harus ikut bersedih, atau menertawakan kekonyolan sahabatnya yang satu ini. "Kan aku kemarin udah bilang. Kalau cowok mapan dan tampan itu pasti udah laku, jarang banget yang single lama-lama. Kalau pun masih single doi pasti udah ada target incaran." Air mata Kiana makin bercucuran, tangannya kembali menuang sambal ke mangkuk baksonya. Fira yang telat mencegah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah ini yang bisa dilakukannya adalah membelikan sahabatnya yang satu ini obat untuk diare. * Perasaan Kiana yang sudah kacau harus bertambah tidak baik-baik saja saat hari ini harus pulang ke rumah ibunya. Tidak ada pilihan bagus di antara tinggal di rumah ayah atau ibunya. Masing-masing tempat bagai neraka buatan yang membuat gadis itu tidak betah untuk berlama-lama berada di rumah. Jika di rumah ayahnya Kiana kesal dengan sikap ibu tirinya yang sering mencari muka padanya, juga rumah yang sering berantakan dengan aroma tidak sedap. Maka di rumah ibunya Kiana tidak menyukai ayah tirinya. Laki-laki yang usianya lebih muda lima tahun dari ibunya itu tidak memiliki pekerjaan tetap. Setiap kali mendapat uang yang tidak seberapa pasti akan digunakan untuk judi atau mabuk. Kiana bingung apa yang ibunya lihat dari sosok Dedi. Hanya parasnya saja yang Kiana akui memang tampan juga tubuhnya sangat gagah. Namun, apa gunanya semua itu jika sosoknya bukanlah orang yang bertanggung jawab dan bahkan tidak memiliki sopan santun. Kiana segera masuk ke kamar dan tidak lupa menguncinya. Ibunya masih akan tiba di rumah satu jam lagi, sementara suara Dedi sudah terdengar di luar. Dari cara laki-laki itu yang berteriak dengan memanggil nama Namira, Kia tahu jika ayah sambungnya itu dalam kondisi mabuk. Maka yang bisa Kiana lakukan hanya meringkuk di kamar dalam kondisi gelap agar laki-laki itu tidak tahu jika dirinya ada di rumah. "Kia! Namira! b******k, pada ke mana si nih orang." Kiana terus diam, berusaha untuk tidak membuat suara sedikit pun. Ponsel yang kini digenggamnya juga diatur pada mode senyap agar tidak memancing kecurigaan. Apalagi saat langkah kaki di luar terdengar mendekat ke arah kamarnya yang berada di lantai dua. Sebenarnya rumah ibunya bukan bangunan dua lantai. Akan tetapi, bagian atap rumah memang sengaja dimodifikasi sebagai kamar Kiana karena memang lahan yang kecil tidak memungkinkan untuk melebarkan rumah. Dan dana yang terbatas juga tidak bisa untuk membangun rumah dua lantai. Alhasil beginilah kondisi kamar Kiana, seperti kandang burung kalau gadis itu bilang. "Kia! Kamu udah balik!" Teriakan itu dibarengi dengan suara serak khas Dedi yang sedang mabuk. Kiana membekap mulutnya dengan sedikit ketakutan saat laki-laki di depan pintu itu kini tengah memaksa masuk. "Kia! Buka pintunya! Om mau tidur sama kamu!" Gedoran pintu pun kini terdengar. Kiana yang mulai ketakutan hanya bisa menelan ludah dengan kasar dan berdoa agar ibunya cepat kembali. Jika tidak, mungkinkah dia bisa melompat ke bawah melalui jendela di sampingnya ini? Rasanya tidak akan jatuh karena dia bisa melompat ke genting tetangga. "Kia! Buka pintunya atau Om dobrak!" Kiana hanya bisa mengumpat dalam hati, dan sudah bersiap untuk melompat jika saja suara motor tidak terdengar dari luar. Sayup-sayup terdengar pula suara ibunya yang sedang berterima kasih pada tukang ojek langganannya. "Namira!" Suara langkah kaki itu mulai menjauh dan Kiana baru bisa mengembus napas lega. Menyalakan lampu, dan mulai merebahkan diri ke atas kasur dengan benar. Gadis itu mengembus napas pelan sembari menatap langit-langit kamarnya yang tidak tinggi bahkan saat dia berdiri kepalanya nyaris menyentuh atap kamar. Namun, bukan hal itu yang tengah gadis itu pikirkan kini. Melainkan nasib hidupnya yang seperti ini, selalu pertanyaan sama yang mengisi otaknya. Kapan semua ini bisa dia akhiri? Kenapa ayah dan ibunya tidak melepasnya saja? Membiarkan dia tinggal sendiri di tempat kos yang pasti akan membuatnya bebas dan merasa aman. Dan lagi, tidak perlu takut dirinya akan melakukan pergaulan bebas macam anak sekarang. Kiana tahu mana yang perlu dia hindari dan apa yang akan merugikan masa depannya. Dari pada terus terkurung dalam nasib menyebalkan seperti ini. Apa ayah dan ibunya lebih senang melihatnya tertekan setiap harinya? Bukan sekali dua kali Kiana meminta kebebasan itu. Dan juga mengeluhkan keadaan yang kini ada di hidupnya. Namun, yang ayah dan ibunya minta hanyalah dia yang harus bersikap dewasa dan mau menerima garis takdir yang sudah Tuhan tentukan. Terkadang jika sudah seperti itu, Kiana merasa seorang diri di dunia ini. Dia seperti anak terbuang yang terombang-ambing di lautan lepas. "Kia!" Ketukan di pintu serta suara ibunya menginterupsi lamunan Kiana. Gadis itu ingin pura-pura tidur, tetapi lupa mematikan kembali lampu kamarnya. Ibunya sangat tahu kebiasaannya yang tidak bisa tidur dengan lampu menyala. "Ibu bawain makanan ini, buka pintunya!" Kiana menghela napas, lalu bangkit dengan langkah malas. "Kia udah kenyang, Bu," ujar gadis itu dengan raut malas setelah berhasil membuka pintu kamarnya. "Kamu nggak mandi?" Namira memindai penampilan putrinya yang masih mengenakan pakaian untuk kerja. "Om Dedi udah tidur?" Tentu saja dia ingin mandi, tetapi harus menunggu situasi aman terlebih dulu. "Udah, udah masuk kamar dia." Namira tahu jika Kiana takut dengan ayah tirinya itu. Entah apa yang sudah suaminya itu lakukan hingga seorang Kiana begitu tidak nyaman saat ada laki-laki itu di rumah. Padahal setahu Namira, suaminya itu bersikap baik dengan menganggap Kia sebagai anaknya sendiri. "Ya udah aku mau mandi." Kia pun segera mengambil handuk dan juga baju lengkapnya. Berganti pakaian di kamar mandi adalah hal yang selalu dilakukannya. "Makanannya Ibu taruh di meja, ya." Namira masuk dan meletakkan brownies ke atas meja yang berada di samping tempat tidur Kiana. Karena jika diletakkan di meja makan, maka putrinya itu tidak akan menyentuhnya. "Bu, besok aku mau nemenin Fira ke Magelang, ya," ujar gadis itu mengabaikan ucapan ibunya sebelumnya. Kue brownies kesukaannya tidak menarik minat saat pikiran dan juga hatinya sedang tidak baik seperti sekarang ini. "Mau ngapain?" tanya Namira yang selalu menanyakan detail ke mana dan apa tujuan anaknya setiap kali gadis itu akan pergi. Bukan berniat mengekang atau bersikap protektif, hanya saja itu caranya menunjukkan perhatian pada putri semata wayangnya. Hal yang menurut Namira wajar, tetapi terasa menyebalkan di mata Kiana. "Dia mau ke rumah neneknya, ada perlu katanya." Kiana menjawab dengan raut malas. Tidak sedang berbohong karena memang itu tujuan Fira harus ke Magelang besok. Untuk urusan pentingnya, tentu saja Kiana tidak tahu karena itu privasi sahabatnya. "Tapi jangan pulang malem," ujar Namira pada akhirnya. "Iya, nanti aku pulang ke salon aja." Kiana menjawab sembari ke luar dari kamar untuk mandi. Setelahnya ingin segera tidur agar hari cepat berganti besok. Sehingga dia bisa melarikan diri sejenak dari rumah yang tidak memiliki kenyamanan sama sekali untuknya ini. * Pagi-pagi sebelum ibunya berangkat ke salon, Kiana sudah bangun dan sudah siap untuk berangkat. Bahkan untuk menghindari Dedi, gadis itu harus mandi sebelum subuh menjelang. Namun, sial sekali karena saat hendak pamit pada ibunya yang sedang sibuk memasak, laki-laki yang dihindarinya itu sedang berdiri bersama ibunya di dapur dengan posisi yang menggelikan. "Bu, aku pergi dulu!" Kiana jengah melihat pemandangan di mana Dedi tengah memeluk ibunya dari belakang dan sedang menciumi pipi ibunya itu. Baru mereka berhenti melakukan hal yang mungkin dianggap romantis itu saat mendengar suaranya. "Sarapan dulu, Ibu udah selesai masak ini." Namira menuang sayur dan lauk yang baru dimasaknya. "Enggak usah kayaknya, Bu, aku buru-buru, Fira udah nungguin." Kiana tahu ibunya akan kecewa karena dirinya yang sering menolak makan bersama. Namun, berada satu ruangan dengan Dedi sungguh hal yang membuat Kiana harus terus bersikap waspada. Belum lagi pandangan liar laki-laki itu yang sering membuatnya mual. "Sebentar aja, Ki. Kamu nanti sakit kalau sering nggak sarapan." Namira tentu saja merindukan saat di mana mereka dulu sering menikmati makan bersama seperti keluarga kecil yang bahagia. "Udah biarin Sayang, mungkin Kia memang buru-buru." Dedi tampak merangkul mesra pundak Namira, dan itu memuakkan di mata Kiana. "Tunggu dulu, Ki, Om punya sesuatu buat kamu." Laki-laki itu tampak merogoh saku jaketnya yang tergantung di samping pintu kamar mandi. "Nggak banyak, buat tambahan jajan." Dedi berjalan mendekat ke arah Kiana begitu cepat sebelum gadis itu berhasil menghindar seperti biasa. Lalu diulurkannya beberapa lembar kertas uang lima puluh ribuan ke arah anak sambungnya. "Nggak usah, Om. Makasih." Kiana menarik tangannya yang hendak diremas oleh Dedi, dan melangkah menjauh. Uang itu, Kiana tahu hasil dari bermain judi dan juga bentuk pencitraan agar ibunya berpikir laki-laki ini orang baik dan menganggapnya anak. "Nggak papa, buat tambah-tambah." Laki-laki itu sedikit memaksa memberikan uang entah berapa nilainya yang langsung dimasukkannya pada saku jaket yang Kiana kenakan. Dan dengan sengaja pula mengelus puncak kepala gadis itu. Andai saja kilat penuh gairah yang menjijikan itu tidak tampak di mata Dedi, mungkin Kiana akan menganggap perlakuan ayah sambungnya itu sebagai bentuk kasih sayang. Andai ibunya berada di posisi yang tepat dan melihat semuanya dengan jelas, pasti wanita yang melahirkannya itu tidak akan pernah menyangkal cerita-ceritanya tentang Dedi. Namun, semua pembelaan itu sudah menjadi percuma untuk Kiana. Lebih baik dia segera pergi dari rumah ini. "Aku pergi, Bu!" Kiana segera melangkah pergi sebelum Dedi berhasil melecehkannya dengan lebih lagi. Dengan mata berkaca-kaca gadis itu pergi tanpa mencium punggung tangan ibunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD