"Jadi kalian udah satu tahun pacaran?" Kiana membatalkan niatnya untuk menonton film. Meluruskan apa yang terjadi saat ini lebih penting. Apalagi saat melihat wajah syok Ninggar yang kini duduk di depannya, tentu saja Kia tidak tega meninggalkan gadis itu sendiri. Nyatanya setiap pertemuan memang bensr-benar memiliki makna. Dan pertemuannya dengan Ninggar sekarang adalah untuk menunjukkan siapa Diaz sebenarnya.
Ninggar mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang tadi Kiana lontarkan. "Memang nggak ada kata resmi pacaran, tapi kita ini udah dewasa, kan, Ki? Dari sikap dia yang selalu merhatiin aku, itu udah jadi satu komitmen tersendiri, kan?''
Kiana mengangguk meski tidak terlalu paham bagaimana situasinya. "Dia juga bilang kalau bulan depan kalian mau tunangan?"
"Dia ngomong kalau bulan depan mau ngajak keluarganya dateng ke rumah, mau ngiket aku dulu katanya." Ninggar tampak begitu kecewa. "Kalau sama kamu, Ki?"
Kiana pun menceritakan bagaimana bisa berkenalan dengan Diaz, dan bagaimana laki-laki itu yang terus mengiriminya pesan penuh perhatian. "Pas aku tanya dia beneran belum punya pacar, dia jawabnya belum."
Kiana menyorongkan ponsel miliknya di mana semua percakapannya dengan Diaz yang dimulai sejak kemarin masih tersimpan rapi pada Ninggar. "Menurut kamu, aku yang kegeeran bukan?"
Ninggar meletakkan ponsel Kia ke atas kursi tunggu bioskop dengan wajah lesu. "Kalau aku yang dapet pesan kayak gitu juga bakalan nganggep kalau dia lagi deketin aku."
Kiana merasa bersalah entah untuk apa. "Maaf, ya, Nggar, aku jadi ngusik kalian." Gadis itu merasa seperti orang ketiga di sini.
"Bukan salah kamu lah, dia yang memang modusin kamu." Ninggar tidak mungkin menyalahkan Kiana karena di pesan tersebut terlihat jelas jika Diazlah yang mencoba mendekati Kiana.
"Rencana kamu gimana setelah ini?" Kiana merasakan kesedihan yang kini Ninggar sorotkan melalui mnatanya.
"Mau udahan aja, ngapain lanjut kalau udah tahu dia b******k, kan?"
Kiana mengangguk setuju, saat itu juga dia langung memblokir nomor Diaz. "Udah aku blokir nomornya, untung aku ketemu kamu."
Ninggar menghela napas, lalu mengangguk. "Aku juga merasa beruntung ketemu kamu. Walaupun sekarang sakit, tapi seenggaknya aku tahu dia cowok macam apa."
"Sekali lagi maafin aku ya Ninggar." Kiana benar-benar merasa menjadi orang ketiga yang menghancurkan hubungan Ninggar dan Diaz saat ini.
Ninggar malah tertawa kecil mendengar kalimat maaf tersebut. "Jangan minta maaf, Ki, kamu nggak salah sama sekali. Aku malah berterima kasih, karena berkat kamu aku jadi terhindar dari buaya darat."
Keduanya pun saling berpelukan, lalu mengobrolkan hal lain untuk mengalihkn perasaan patah hati yang tentu saja berbeda kadarnya.
*
"Hah? Serius?" Respon terkejut yang tidak lagi membuat Kiana heran karena sudah memprediksi bagaimana sikap Fira saat diberi fakta tentang Diaz yang ternyata seorang pemain cinta.
Kiana mengangguk lemah, merasa kecewa dengan takdir yang ada. "Aku gagal lagi," keluhnya.
Fira yang tidak tega melihat aura masam di wajah sahabatnya itu langsung memeluk tubuh Kiana. Bahkan gadis ini rela pagi-pagi datang ke pabrik hanya untuk menemuinya yang baru saja menyelesaikan shift malam. Dan keduanya kini sedang menikmati sarapan di salah satu warung makan yang buka 24 jam.
"Sabar, ya. Beruntung baru aja kenal langsung ketahuan." Fira tidak bisa membayangkan jika hubungan Kiana dan Diaz sudah berjalan jauh, sahabatnya ini akan merasakan patah hati yang lebih.
"Aku sebenarnya nggak enak sama Ninggar." Kiana menghela napas sedih saat mengatakan itu.
"Nggak enak gimana?" Fira mengurai pelukan mereka, tidak paham apa yang Kiana maksud.
"Kan kesannya aku ini kayak orang ketiga yang ngerusak hubungan mereka."
"Ya nggaklah," sanggah Fira cepat. "Kan kamu nggak tahu kalau Diaz itu udah punya pacar. Yang deketin duluan juga dia."
"Tapi tetep aja aku ngerasa nggak enak." Kiana masih menunjukkan wajah layu. Bukan hanya karena perasaan tidak nyamannya ini, tetapi juga karena semalaman tidak bisa tidur dengan benar.
"Memangnya dia nyalahin kamu?"
Kiana menggeleng pelan. "Dia malah terima kasih sama aku, dan bersyukur ketemu aku kemarin."
"Nah itu dia aja nggak papa. Bener kata Ninggar kalau dia ngerasa beruntung karena Diaz ketahuan belangnya sebelum mereka benar-benar serius. Gimana kalau ketahuannya pas mereka udah nikah? Apa nggak lebih nyesel lagi."
"Gitu, ya?"
"Iyalah, Kia!" ujar Fira gemas melihat Kiana yang mendadak lemot seperti ini.
Kiana menghela napas, lalu menelungkupkan kepala ke atas meja. "Aku menyerah aja lah, ya. Capek kalau kayak gini terus."
"Menyerah gimana?" tanya Fira dengan pandangan prihatin. Kiana dan kegagalannya sungguh membuatnya ikut bersedih. Padahal gadis ini hanya ingin bebas, kenapa rasanya susah sekali. Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untuk sahabatnya yang satu ini? Apakah jodoh terbaiknya itu belum datang?
"Mungkin selamanya aku harus terjebak sama dua rumah itu, dan belum saatnya aku kabur, atau memang aku dilarang kabur." Kiana masih berada di posisi yang sama. Sementara Fira yang mendengar itu langsung mengusap lembut punggung sahabatnya.
"Mungkin jodoh kamu lagi dipersiapkan sama Allah, belum saatnya ketemu."
Kiana hanya menghela napas, enggan mengamini dan memilih untuk melupakan sejenak perihal jodoh.
*
Kiana mengunyah baksonya dengan tatapan datar. Menatap beberapa orang yang kini tengah menikmati aktivitas masing-masing. Alun-alun di hari kerja seperti ini memang tidak akan seramai hari minggu.
"Gue kira bakalan bulan depan datengnya." Suara itu menginterupsi fokus Kiana. Gadis itu sedikit menoleh saat orang di belakang mengobrol dengan logat anak Jakarta. Tidak terlalu asing di telinga Kiana karena hal semacam ini sering didengarnya jika sedang pulang ke kota tempat ibunya berasal.
"Perlu survey tempat dulu gue, oma bilang kalau ada bangunan yang harus dirobohin."
Kiana memutuskan untuk kembali menikmati baksonya dalam kesendirian. Jika jam kerjanya dengan Fira tidak sama, maka akan seperti ini. Dia pergi ke mana pun sendiri.
"Udah dapet belum orang yang bakalan nganter gue?"
"Kata Adi, si, udah."
Kiana tidak sedang berniat menguping, tetapi saat nama Adi disebut entah mengapa rasa penasarannya kini melonjak.
"Beneran pakar bakso itu orang?" Telinga Kiana makin terpasang saat kalimat itu muncul.
"Kata Adi si gitu, cewek yang bantuin lo."
"Nggak masalah mau cewek apa cowok, yang penting dia beneran pecinta bakso."
Kalimat itu memaksa Kiana untuk semakin penasaran dengan siapa orang yang kini duduk di meja belakangnya. Gadis itu mengeluarkan cermin, pura-pura sedang berkaca, dia mengintip siapa yang kini duduk di belakangnya. Ada dua laki-laki, yang satu—Kiana langsung menutup cerminnya saat laki-laki yang terlihat wajahnya kini adalah Alfa. Setiap kali berpapasan tanpa sengaja dengan laki-laki itu memang Kiana sering malu sendiri. Padahal Alfa juga tidak tahu perihal hal konyol yang dia lakukan waktu itu.
Menandaskan bakso di mangkuknya, Kiana memutuskan untuk pergi. Tadi dirinya sudah membayar di awal, jadi bisa langsung pergi sekarang.
"Mbak!" Langkah Kiana terhenti saat mendengar panggilan itu. Entah siapa yang memanggilnya. Alfa atau laki-laki berkaos hitam yang belum dia lihat wajahnya.
Menoleh pelan, Kiana tidak berani menatap siapa pun. "Kenapa, ya, Mas?"
"Ini kacanya jatuh." Mau tidak mau Kiana mendongak guna melihat siapa yang kini berdiri menjulang di hadapannya. Laki-laki berkemeja biru dengan senyumnya yang teduh, tetapi sayang sudah menjadi milik orang lain.
"Makasih, Mas." Laki-laki itu mengangguk dan kembali duduk. Sementara Kiana yang masih tertegun di tempatnya merasa bingung kenapa kacanya bisa terlempar sampai ke tempat Alfa, yang duduknya jauh. Dan beruntung kaca kesayangannya ini tidak pecah.
"Ada yang ketinggalan?" Laki-laki berkaos hitam di depan Alfa yang kini berbicara. Tidak ada senyum yang terpatri seperti Alfa tadi. Kiana yang merasa malu karena kekonyolannya segera menggelengkan kepala dan berlalu pergi.
*
Kiana yang malas pulang dan tidak tahu lagi harus ke mana memutuskan untuk pergi ke bioskop. Acara menontonya kemarin gagal dan kali ini tidak boleh gagal. Kebetulan sekali ada film romantis yang akan diputar satu jam lagi, maka gadis itu memutuskan untuk menunggu. Duduk di ruang tunggu sendiri sembari memainkan game di ponselnya. Hidupnya sungguh membosankan, kesibukan apa yang kiranya bisa dirinya lakukan selain hal tidak berguna seperti ini?
"Nggak ada apa-apa di sini, mal aja nggak ada."
Kiana menoleh ke arah kanan saat suara laki-laki yang kini duduk di sampingnya terasa familier. Gadis itu melebarkan mata saat mengenali ini laki-laki yang tadi bersama Alfa. Kenapa mereka bisa bertemu lagi?
"Adem si adem, tapi ngebosenin kayaknya di sini." Laki-laki itu terlihat sedang mengobrol dengan seseorang di telepon.
Kiana ingin sekali menimpali kalimat itu, tetapi tentu saja tidak dilakukan karena itu bukan hal sopan. Dan lagi mereka tidak saling mengenal.
"Kalau nggak karena oma, mana mau gue terdampar di sini. Gue belum tahu apa yang asyk di sini."
Kiana tetap bertahan di bangku itu karena bangku tunggu lainnya sudah terpenuhi dengan orang lain.
"Ada bioskop kecil, makanya gue penasaran pengin lihat." Laki-laki itu terus mengoceh dengan ponsel yang kini menempel di telinganya.
Kiana yang sudah tidak lagi berminat dengan gamenya memutuskan untuk memasukkan benda pipih itu ke dalam tas.
Ada helaan dari samping yang terdengar, Kiana pun mau tidak mau menoleh. Laki-laki di sampingnya terlihat begitu frustasi saat ini.
"Di sini tuh paling enak kulinernya, Mas, kalau mau nyari mal tinggal ke kota sebelah." Entah mengapa Kiana tidak lagi bisa mengerem mulutnya untuk tidak berkomentar. Tentu saja hal tersebut memancing kebingungan dari orang di sampingnya.
"Mbak bicara dengan saya?"
"Iya, tadi denger Masnya kayak bosen banget padahal baru dateng ke sini."
Laki-laki itu hanya memberikan senyuman tipis, lalu memilih untuk mengabaikan Kiana.
Kurang ajar! Umpat gadis itu dalam hati karena lagi-lagi dipermalukan dengan cara halus. Beruntung pemutaran film segera dilangsungkan, dan Kiana pun memilih untuk bangkit dari duduknya. Namun, sial sekali saat laki-laki yang tadi juga ikut berdiri dan juga masuk ke studio yang sama. Bahkan laki-laki dengan mata sedikit sipit itu malah duduk tepat di sampingnya.