7. Hafiz

1491 Words
Kiana memutuskan untuk melupakan sejenak perkara jodoh yang mulai membuatnya pusing. Hanya melupakan sejenak, bukan berarti dia akan berhenti berjuang. Karena keinginannya untuk lari dari kehidupannya sekarang belum berkurang. Gadis itu hanya akan rehat sebentar saja, mungkin perlu merenungkan apa saja hal yang membuatnya gagal selama ini. Mungkinkah karena dirinya yang begitu menggebu? Terlalu besar menaruh harapan saat dekat dengan seorang laki-laki? Atau—gadis itu menggelengkan kepalanya, lalu menghela napas untuk melenyapkan semua pikiran. Mengosongkan otaknya sejenak agar tidak terlalu riuh. "Mbak! Kamu sudah pulang?" Teriakan lembut serta ketukan di pintu membuat mata Kiana reflex langsung menatap jam dinding yang menempel di dekat lemari baju. Sudah pukul sembilan malam dan apa kiranya yang dibutuhkan istri baru ayahnya saat ini? Yah, mulai hari ini adalah jatahnya tinggal bersama ayah. "Kenapa Bu Widi?" Sebenarnya enggan untuk bangkit, tetapi saat merasa ini kurang sopan maka gadis itu dengan malas mengangkat tubuhnya dari kasur. Membuka pintu dan mendapati ibu sambungnya tersenyum canggung padanya. "Mbak kamu udah ngantuk belum?" Widia tampak ragu-ragu saat menanyakan itu, lalu segera melanjutkan kalimatnya saat gelengan kepala diterimanya sebagai jawaban. "s**u Rafa habis, Ibu tadi nggak sempet mau beli, bisa anter Ibu ke minimarket sebentar nggak, Mbak?" Kiana menghela napas malas, ingin menolak, tetapi rasanya tidak tega, makanya gadis itu segera mengangguk. "Ayah keliatan capek banget soalnya, Ibu nggak tega mau bangunin." Kiana tidak menggubris kalimat itu, dia memilih masuk untuk mengambil jaket tebalnya. Temanggung di malam hari sangatlah dingin. "Ini kunci motornya ayah, Mbak," ujar Widia sembari menyorongkan kunci motor ke arah Kiana yang langsung mengambilnya. Tanpa suara gadis itu menutup pintu dan berjalan dulu keluar. "Bu Widi di rumah aja apa, biar aku yang beliin. Nanti kalau Rafa bangun gimana?" "Nggak papa, Mbak, ada banyak yang mau dibeli soalnya. Nanti Mbak repot, Rafa nggak bakalan bangun kalau udah dipeluk sama ayah." Kiana tertegun, terkadang ada rasa iri yang menguasai saat kalimat-kalimat seperti itu terucap. Kiana bahkan lupa kapan terakhir kali ayahnya memeluknya, memanjakannya sebagai seorang anak. Semuanya sudah berubah semenjak pernikahan yang tidak pernah Kiana setujui ini. * Kiana memilih menunggu di luar, duduk di bangku yang berada di depan minimarket. Di kota ini beberapa minimarket memang buka 24 jam. Kadang gadis itu bingung siapa yang akan membeli jika malam menjelang, baru jam segini saja suasana sudah sepi sekali. Meski masih ada satu dua kendaraan yang melintas, tetapi tetap saja tidak bisa dikatakan ramai. "Mbak!" Lamunan Kiana terputus saat mendengar panggilan itu. Saat mendongak, didapatinya Widia tengah menunjukkan senyum sungkan. "Kenapa?" tanya gadis itu sembari menebak apa kiranya yang istri baru ayahnya ini inginkan. Walau sebenarnya dia sudah bisa menebak karena saat ini di tangan Bu Widia tidak ada apa pun. "Uang Ibu kurang, boleh pinjem dulu? Nanti biar diganti sama ayah, soalnya hari ini ayah belum kasih uang tambahan." Kiana menghela napas, tanpa menjawab gadis itu merogoh saku celananya. Sengaja tidak membawa dompet karena yakin hal seperti ini akan terjadi. Bukan sekali dua kali Widia bersikap seperti itu. "Aku cuman ada tiga puluh." Itu pun kembalian saat dia makan bakso tadi. Bukannya pelit, hanya saja sudah berapa kali wanita ini mengatakan meminjam uang dan akan menggantinya, tetapi tidak sepeser pun Kiana terima sebagai gantinya. "Iya nggak papa, Mbak, cuman kurang dua puluh kok." Widia kembali masuk ke minimarket setelah mendapat uang. Kiana sengaja mengintip apa yang ibu sambungnya itu lakukan kini, dan benar dugaannya, beberapa barang wanita itu kembalikan. * Sepertinya hari ini memang hari sial untuk Kiana. Bagaimana tidak? Baru setengah perjalanan yang dilaluinya untuk pulang, sepeda motor yang dikendarainya malah mogok di jalan. "Duh, gimana ini, Mbak?" Widia tampak panik karena malam mulai menjelang. Meskipun kini mereka tidak berada di lahan kosong, melainkan berada di desa tetangga, tetapi tetap saja suasana sepi membuat keduanya bingung harus meminta tolong pada siapa. "Aku juga bingung, Bu Widi. Mana hape ketinggalan lagi." Kiana celingukan mencari seseorang yang kiranya bisa dimintai bantuan. Namun, tidak seorang pun dilihatnya. Dan di desa ini juga dia tidak memiliki kenalan. "Bu Widi nggak bawa hape juga?" Kiana mendongak dan mendapati gelengan kepala dirinya dapat. "Ibu tadi mikirnya Mbak bawa." Kiana memang biasanya membawa benda pipih itu ke mana pun, tetapi tadi dia meninggalkannya begitu saja karena sedang sedikit bermusuhan dengan benda itu. Menatap ponsel selalu mengingatkannya pada Diaz, dan semua itu hanya membuatnya jengkel. "Kenapa ini motornya?" Keduanya menoleh pada seorang laki-laki yang kini berjalan ke arah mereka. Ada sarung yang melingkar di leher laki-laki itu serta kopiah yang bertengger di kepalanya. "Eh, Mas Hafiz, ya?" Widia sepertinya mengenal laki-laki tersebut. "Iya, ini kenapa, Bu, motornya?" Namun, jika melihat senyum sopan yang laki-laki itu berikan, sepertinya laki-laki dengan jenggot tipis itu tidak mengenal Widia. "Ini Mas, nggak tahu kenapa mogok tiba-tiba," jawab Widia. Sementara Kiana yang sejak tadi diam memilih menyingkir saat laki-laki dengan alis tebal itu mencoba menyalakan mesin motor. "Kayaknya mesti dibawa ke bengkel ini, Bu," ujar laki-laki itu saat segala upaya sudah dilakukan, tetapi motor matic itu tidak juga mau menyala. "Duh, gimana, ya, mana udah malem, lagi. Nggak ada bengkel yang bukan kan, Mas?" Widia tampak bingung, sementara Kiana hanya menunjukkan ekspresi datar. Sejak tadi terus mengamati laki-laki yang kini terlihat sedang berpikir itu. "Memangnya Ibu tinggal di mana?" tanya laki-laki yang tadi Widia panggil Hafiz itu. "Wah, masih jauh juga," ujar laki-laki itu lagi saat Widia menyebutkan nama desanya. "Gini aja, motornya saya bawa ke rumah aja dulu, Ibu sama Mbaknya biar saya anter." Laki-laki itu mencoba memberi penawaran. Widia dengan mata berbinar senang langsung menatap Kiana untuk meminta jawaban apa yang sebaiknya diberikan. "Memangnya nggak ngerepotin, Mas?" Kiana akhirnya bersuara. Meski sebenarnya itu keputusan bagus, tetapi gadis itu merasa harus berbasa-basi sedikit. Tidak langsung menerima tawaran yang memang menjadi alternatif bagus satu-satunya. Hafiz memberikan senyum yang terasa begitu teduh. "Nggak papa, kasian kalian, udah malem. Besok motornya saya bawain ke bengkel deket sini." "Duh, makasih banget loh Mas Hafiz, jadi nggak enak ngerepotin gini." "Nggak papa, Bu." * "Tokonya ramai, Mas?" tanya Widia pada laki-laki yang kini duduk di depan kemudi. Laki-laki itu tersenyum ramah sebelum menjawab, "Alhamdulillah, Ibu." "Dulu saya langganan di tokonya Mas Hafiz loh, tapi sekarang warung saya sekarang lagi libur jadi udah lama nggak belanja lagi." Hafiz hanya menjawab dengan senyuman semua celotehan Widia yang seperti tidak ada habisnya. Sementara Kiana yang kini duduk di dekat jendela hanya diam mendengarkan. Sesekali melirik ke arah laki-laki yang memiliki wajah teduh di belakang kemudi itu. Mobil Hafis memang bukan mobil pribadi. Melainkan mobil losbak dengan tipe terbaru yang biasanya laki-laki itu gunakan untuk kulakan barang di tokonya. Laki-laki itu membuka grosir berbagai macam barang untuk warung-warung kecil. Widia mengenal laki-laki ini karena dulu memang membuka warung sembako kecil-kecilan dan sering membeli di tempat laki-laki ini. Tadinya Widia menyuruh Kiana yang duduk di samping bangku supir, tetapi gadis itu menolak. Dan nyatanya tanpa ragu wanita itu langsung naik dan duduk nyaman di samping supir. Kiana yang jengah dengan sikap ibu sambungnya hanya diam sepanjang perjalanan. Tanpa sadar selain dirinya, laki-laki yang kini sibuk dengan kemudi itu juga sesekali meliriknya dengan senyum terkulum. "Yang pagar item, Mas," tunjuk Widia saat rumahnya mulai terlihat. "Nah, yang ini." Widia segera turun setelah Kiana sudah terlebih dulu turun. Gadis itu langsung mengambil barang bawaan yang ternyata sudah lebih dulu Hafis tenteng. "Biar saya bawain ke dalem," ujar laki-laki itu dengan senyuman ramah. "Duh, nggak usah, Mas, enteng ini. Sini-sini saya bawa." Widia segera mengambil alih tas plastik dari tangan Hafiz. "Makasih banget loh Mas Hafiz ya, maaf ngrepotin." "Iya, Bu, sama-sama." "Emm, maaf, itu motor ayah saya nanti gimana, ya?" tanya Kiana setelah Widia pamit masuk terlebih dulu karena terdengar suara tangis anak kecil dari dalam. "Di deket rumah saya kebetulan ada bengkel, nanti biar saya bawa ke sana." Hafiz mengucapkan itu dengan senyuman yang terus terpatri. "Saya minta nomor Mbak aja, biar nanti saya kabari di mana lokasinya." Kiana mengangguk, lalu menyebutkan deretan angka yang menjadi nomornya. "Hape saya di dalem, nanti saya kirim pesan ke nomor, Mas." "Oke." "Sekali lagi terima kasih, Mas, udah nolongin." "Iya sama-sama, Mbak?" "Kiana," jawab Kiana cepat saat Hafiz menunjukkan aura bertanya lewat matanya. "Mbak Kiana, ya." "Kiana aja, nggak usah pakai mbak." "Oh, iya, Kia." Laki-laki itu masih terus menyunggingkan senyuman. "Kamu masuk dulu aja, nanti saya baru pergi." Kiana yang memang sudah mengantuk langsung mengangguk. "Mas Hafiz hati-hati di jalan." "Iya, nanti jangan lupa kabarin nomornya." Kiana mengangguk dengan senyuman tipis. Lalu mulai melangkah masuk, meninggalkan Hafiz yang diam-diam masih mengulum senyumnya. Seolah-olah baru menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya. Terlihat jelas ada ketertarikan yang laki-laki itu tujukan pada sosok Kiana. Sementara bagi Kiana, Hafiz bukan tipe laki-laki yang akan diliriknya. Entahlah, meski parasnya tidak bisa dibilang biasa saja, dan juga terlihat amat ramah. Namun, Kiana tidak terlalu menyukai laki-laki yang memelihara jenggotnya. Memang benar di agamanya itu adalah hal baik, tetapi Kiana tetap tidak terlalu menyukainya. Jangan tanya mengapa karena ini masuk ke selera orang yang kadang tidak bisa dijabarkan secara rinci alasannya kenapa. Intinya Kiana tidak terlalu suka, titik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD