"Siapa namanya? Hafiz? Anaknya siapa dia, Bu?"
"Anaknya Budhe Nur yang buka grosiran di pasar itu loh, Yah. Bapaknya yang baru meninggal bulan lalu."
"Loh, memangnya masih ada yang belum nikah? Setahu Ayah, Bu Nur itu anaknya udah nikah semua."
"Setahu Ibu, si, masih satu itu. Anaknya baik loh, Yah. Itu kalau jadi mantu Ayah pas banget. Udah mapan, punya rumah sendiri juga katanya."
"Ibu ini kayak detektif aja, bisa tahu semuanya." Laki-laki berusia lima puluh tahunan itu terkekeh kecil menanggapi kalimat istrinya yang seperti tidak ada habisnya sejak tadi.
"Tadi malem juga keliatan kalau naksir sama Mbak Kia lo, Yah." Widia melempar senyum pada Kiana yang sebenarnya sudah duduk di meja makan itu sejak tadi. Dan telinga gadis yang sudah rapi dengan baju kerjanya itu nyaris panas karena nama Hafiz terus saja disebut-sebut.
"Anak Ayah ini banyak yang ngelirik juga ternyata, ya?" Anton yang gantian melempar senyum pada putri sulungnya. Tanggapan Kia masih sama, hanya memasang wajah datar tanpa minat. "Kemarin temen Ayah ada juga yang nanyain kamu loh, Nak. Mau kalau Ayah jodohin?"
"Ih Ayah ini, masih zaman apa jodoh-jodohin?" Tentu saja bukan Kia yang menyahut kalimat itu, melainkan Widia yang kini ikut duduk di meja makan setelah menyiapkan semua makanan untuk mereka sarapan.
"Loh memangnya kenapa? Kalau memang nyari yang baik kan bisa lewat mana saja."
"Tapi mending coba sama Hafiz itu dulu, deh, Yah, beneran baik orangnya."
"Kok jadi Ibu yang bersemangat gini? Ayah malah jadi curiga kalau Ibu yang naksir." Anton hanya sedang bercanda saat mengatakan itu. Hal biasa yang sering terjadi, dan kini Widia tampak berdecap malas, tetapi dengan senyum yang membuat wajahnya memerah.
"Lah, Ibu nggak ngaca banget apa buntutnya udah banyak, udah dapat yang gantengnya kayak Ayah kok masih kurang."
Anton hanya tertawa menanggapi kalimat itu, sementara Widia bangkit dari kursi saat tangisan balitanya terdengar.
Kiana yang sejak tadi diam masih memilih diam, bingung bagaimana caranya membaur dengan kebahagiaan kecil keluarga barunya itu. Entahlah, kadang gadis itu merasa seperti orang asing yang terdampar di sini. Apalagi saat anak bawaan Widia yang kini ada di pesantren pulang, Kiana benar-benar tidak mampu menyusup sedikit pun di keluarga ayahnya yang tampak harmonis tanpa ada dirinya. Bukankah itu semua sudah menjadi bukti jika seharusnya dia segera menyingkir agar kebahagiaan keluarga ini lengkap tanpa gangguannya?
"Kamu sakit?" Pertanyaan yang Anton lontarkan saat melihat anak sulungnya yang hanya diam mematung tanpa menyentuh nasi di depannya.
Kiana yang kehilangan nafsu makan setelah nama Hafiz terus saja disebut seketika mendongak, lalu menggeleng sebagai jawaban.
"Kenapa nggak makan? Mau kerja, kan?"
Kiana mengangguk, memang seperti inilah interaksi yang terjadi sejak Anton menikah lagi. Dan laki-laki itu cukup peka dengan keadaan yang ada. Meski Kiana jarang sekali menjawab pertanyaannya dengan suara, tetapi laki-laki itu terus saja berusaha mengajak anak gadisnya ini berbicara.
"Udah ada kabar soal motor Ayah?"
Kiana langsung menunjukkan pesan yang Hafiz kirim tadi pagi. Laki-laki itu mengatakan jika motor ayahnya sudah dimasukkan ke bengkel dan kemungkinan sore nanti bisa diambil.
"Ya udah, nanti Ayah berangkat sama temen Ayah saja. Sorenya biar Ayah ambil."
Kiana hanya mengangguk dan mencoba memakan masakan ibu sambungnya yang sebenarnya tidak begitu pandai memasak. Namun, sedikitpun Kiana tidak pernah memprotes, dia menelan sebisanya semua makanan itu karena pernah ayahnya marah hanya gara-gara dirinya yang tidak mau makan masakan Widia.
"Pekerjaan kamu gimana?" Anton ikut menikmati sarapannya. Laki-laki itu terlihat seperti tidak mempermasalahkan masakan yang ada di depannya. Entah rasa hambar yang kini Kiana rasakan memang benar-benar karena rasa masakannya, atau karena orang yang memasaknya tidak gadis itu sukai. Namun, sepertinya yang kedualah yang lebih tepat.
"Baik, kayak biasa."
"Di rumah ibu nggak ada yang gangguin kamu, kan?" Anton sebenarnya sering merasa waswas jika Kiana mendapat jatah tinggal di rumah mantan istrinya. Laki-laki itu tidak percaya dengan sosok Dedi yang terlihat seperti predator itu. Anton sedang menunggu laporan tentang Dedi, dan jika ada perbuatan tidak menyenangkan yang laki-laki itu lakukan pada Kiana, maka dia akan langsung mengambil alih seluruh hak asuh Kiana agar putri sulungnya itu bisa tinggal dengannya saja. Namun, sayangnya Kiana seperti tidak pernah mau menceritakan apa yang terjadi, seperti hari ini.
Kiana menggeleng, merasa percuma juga menceritakan tentang sikap Dedi. Dia tidak yakin ayahnya bisa menolong karena keputusan pengadilan sudah memutuskan jika dirinya harus bergilir tinggal di rumah ayah dan ibunya. Padahal dia sudah besar, kenapa harus masih diatur? Kenapa tidak bisa bebas saja menentukan hidupnya sendiri?
"Kamu harus selalu hati-hati, jaga diri. Kalau ada yang membuat kamu tidak nyaman, kamu bisa cerita ke Ayah."
Kiana mengangguk, kesusahan untuk menelan nasinya karena kini matanya sudah memanas. Sikap ayahnya yang seperti ini kadang membuatnya merasa jika laki-laki ini masih amat menyayanginya. Namun, sayangnya itu hanya berupa kalimat yang terasa hambar di hati Kiana. Dulu, ayahnya selalu mengusap rambutnya, mencium keningnya jika sedang memberi wejangan seperti ini. Sekarang, yang terjadi hanya berupa kalimat yang Kiana tidak bisa rasakan ketulusannya sampai ke hati. Mungkin dia yang sudah terbiasa dimanja, menjadi satu-satunya. Jadi saat kasih sayang ayahnya mulai terbagi dengan yang lain, maka Kiana merasa seperti anak yang terbuang. Saat perhatian ayahnya terbagi pada yang lain, gadis itu merasa jika laki-laki yang kini tengah menatapnya dengan wajah sedih itu sudah tidak lagi menyayanginya sebesar dulu.
"Kia pamit!" Setelah dengan susah payah membersihkan piringnya, Kiana memilih untuk bangkit. Berlama-lama di tempat yang tidak bisa gadis itu sebut rumah ini hanya membuat batinnya tersiksa.
"Hati-hati," ucap Anton saat anak gadisnya yang sudah tumbuh dewasa itu kini mencium punggung tangannya. Ada keinginan untuk memeluk sejenak tubuh Kiana yang rasanya semakin kurus itu, tetapi Anton takut anaknya sudah tidak mau diperlakukan seperti itu. Maka yang bisa laki-laki itu lakukan hanya menatap rindu pada sosok gadis yang kini berjalan keluar dengan aura murung. Kiana yang dulu ceria saaat berada di rumah, menghilang bersama ketuk palu hakim yang meresmikan perceraiannya dengan Namira.
*
"Iya, makasih banget, ya, Mas, nanti ayah saya yang ambil sepeda motornya." Kiana tersenyum tanpa makna saat menjawab telepon dari Hafiz yang mengabarkan jika motornya sudah selesai dibetulkan di bengkel.
"Apa mau saya antarkan ke rumah aja motornya?" tawar suara di seberang.
"Jangan, Mas!" cegah Kiana cepat. "Ayah saya yang mau ngambil."
"Oh oke, kalau gitu. Ini Dek Kia lagi kerja?"
Kiana yang sebenarnya ingin menyudahi telepon itu terpaksa menahan diri, dan menjawab kalimat tanya Hafiz. "Iya, Mas, ini lagi istirahat."
"Kerja di pabrik yang depan minimarket itu, ya?"
"I-iya, Mas."
"Pulang ada yang jemput?"
Kiana mengerjab dengan wajah bingung. Apa yang harus dia jawab?
"Kalau belum, boleh Mas Hafiz jemput?" ujar laki-laki di seberang membuat Kiana merasa semakin bingung.
"Nggak ada yang jemput, si, Mas. Tapi saya mau jalan sama temen." Kiana tidak berbohong, sepulang kerja dirinya memang mau pergi dengan Fira. Gadis yang saat ini duduk di depannya sembari memasang wajah kepo. Banyak tanya yang tersirat dari wajah sahabatnya itu saat ini.
"Oh, kalau kapan-kapan Mas Hafiz ajak keluar mau, Dek?"
Kiana kembali mengerjab bingung, ini apa artinya Hafiz sedang mendekatinya? Dan panggilan 'dek' yang laki-laki itu sematkan mau tidak mau membuat seorang Kiana trenyuh.
"Emm, nanti coba lihat ya, Mas. Kalau saya ada waktu luang."
"Iya, Mas hafiz tunggu kabar baiknya, ya. Assalamualaikum."
"Waalaekumusallam." Kiana segera memasukkan ponselnya ke tas saat sambungan telepon itu ditutup.
"Jelasin! Siapa itu Hafiz?" Wajah Fira menunjukkan raut penasaran yang amat sangat. "Kamu itu keren juga, gagal sama yang ini muncul kandidat lain."
"Kandidat apaan coba, ngaco kamu, ah." Kiana memilih untuk menyedot es jeruknya yang tinggal setengah. Keduanya sedang makan siang di kedai bakso langganan.
"Nah, itu siapa Hafiz?"
"Orang yang kebetulan kenal." Kiana pun segera menceritakan kronologis cerita yang terjadi malam itu.
"Wah, seru kali, ya, kalau dia ternyata jodoh kamu."
Kiana tersedak es batu yang sedang dikunyahnya. "Jangan, ah!" protesnya cepat.
"Loh kenapa? Kan lucu jadinya, kalau jadi judul FTV gini, Cintaku bersemi lewat ban bocor." Fira tertawa geli untuk kalimat yang diucapkannya sendiri. Sementara Kiana yang sedang terbatuk-batuk mau tidak mau ikut tertawa.
"Kamu pinter banget kalau suruh ngarang," ujar Kiana dengan tawa gelinya. "Lagian kata siapa bannya bocor, orang mogok motornya."
"Kalau gitu, Cintaku bersemi gara-gara motor mogok." Keduanya tertawa geli untuk hal receh seperti itu.
"Udah, ah, kamu mah." Kiana menyeka sudut matanya yang berair setiap kali tertawa.
"Tapi beneran loh, Ki, bisa jadi dia ini jodoh kamu."
Kiana mulai memikirkan kemungkinan itu, tetapi tentu saja tidak akan sepenuhnya percaya. "Nggak mau ngarep lebih lagi ah, masih kapok aku."
"Memangnya apa yang ngebuat kamu nggak langsung klepek-klepek sama dia?" Fira sudah terlalu hafal dengan tabiat sahabatnya yang tidak akan tahan melihat godaan laki-laki tampan.
"Dikira ikan apa klepek-klepek," cibir Kiana sembari kembali mengunyah es batunya. "Dia mas-mas berjenggot, agak gimana gitu jadinya."
Fira mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham. "Tapi tadi dia ngajak kamu jalan, kan?" Meski ponsel Kiana tidak dalam mode loudspeaker saat menerima telepon dari Hafiz tadi, tetapi Fira masih bisa mendengar samar apa yang laki-laki itu katakan pada Kia.
"Iya, makanya agak aneh."
"Berarti dia bukan tipe fanatik yang harus taarufan gitu."
Kiana mencoba menimbang pendapat Fira, ada benarnya. Penampilan Hafiz juga bisa dibilang biasa. Hanya saja jenggot yang dirawatnya itu membuat Kiana kurang tertarik pada Hafiz yang sebenarnya memiliki tampang lumayan. Jangan tanyakan kenapa Kiana tidak suka dengan laki-laki berjenggot, itu masuk ke dalam selera masing-masing orang.
"Lagian, memangnya jenggotnya yang panjang gitu sampai kamu geli?"
"Enggak si," jawab Kiana cepat. "Masih tipis-tipis wajar, tapi aku memang nggak terlalu suka aja."
"Lah, kalau yang jenggotnya tipis-tipis bukannya malah keren? Sultan aja sekarang begitu."
"Masak?"
Fira mengangguk dan menunjukkan foto kekasihnya dengan penampilan yang terbaru. Lalu mengerutkan kening bingung karena Kiana malah tertawa melihat foto kekasihnya itu.
"Kenapa?"
"Jadi kayak bapak-bapak mukanya," ujar Kiana dengan sisa tawa.
"Ih, kamu, mah. Orang ganteng gini, mirip Irwansyah."
Tawa Kiana makin meledak. "Astagfirullah, Irwansyahnya kasihan banget."
"Kia, ih." Fira yang gemas hanya bisa menepuk pundak sahabatnya yang masih saja menguarkan tawa geli.