Kiana tertegun saat keluar dari kantornya, sosok Hafiz sudah berada di luar. Laki-laki itu tampak menatap ke arah pintu keluar pabrik. Lalu senyum itu muncul saat mata dengan iris hitam itu menemukan keberadaannya.
"Mas Hafiz ngapain?" Kiana berjalan mendekati Hafiz yang kini duduk di atas sepeda motornya.
"Tadi kebetulan lewat, pas banget aku liat ada yang keluar. Jadi untung-untungan, siapa tahu ada kamu," jelas laki-laki itu dengan senyuman teduh. "Jadi jalan sama temennya?"
Kiana tersenyum canggung sembari menggeleng. "Dia lembur," jelas gadis itu singkat. Fira memang mendadak lembur maka rencana mereka untuk membeli baju urung.
"Pulang naik apa?"
"Naik angkot si biasanya."
"Ya udah, Mas Hafiz anter, yuk!" Laki-laki itu tanpa menunggu persetujuan Kiana langsung menyorongkan satu helm yang memang sengaja sudah dipersiapkan. Kedatangan Hafiz ke tempat ini juga bukan kebetulan lewat seperti yang dikatakannya tadi sebagai alasan. Namun, memang sengaja mencari peruntungan siapa tahu hal semacam ini bisa terjadi. Dan benar saja, semesta sepertinya sedang mempermulus jalannya untuk mendekati gadis ini.
"Memangnya nggak ngerepotin ini, Mas?" Kiana sebenarnya enggan menerima tawaran ini. Berada di dekat Hafiz rasanya canggung, entahlah.
Hafiz tertawa lirih, saat seperti itu terlihat wajah teduh itu makin enak saat dilihat. "Ya enggaklah, kita kan satu arah. Kamu mau mampir ke mana dulu nggak?"
Kiana menggeleng karena memang dirinya tidak memiliki agenda apa pun. Namun, sebenarnya malas juga jika harus langsung pulang.
"Kalau Mas Hafiz ajak makan dulu mau?"
Kiana mengerjab bingung. Dan hal itu sepertinya menyenangkan di mata Hafiz, terlihat laki-laki yang kini mengenakan jaket hitam itu tertawa geli.
"Ya udah mau aja, ya." Laki-laki itu segera mengedikkan kepala sebagai tanda perintah agar Kiana mau naik ke jok belakang motornya. Dan seperti orang yang tersihir, gadis itu segera naik. Ada senyum yang terpatri di bibir Kiana saat kata-kata jodoh kembali menginvansi kinerja otaknya. Namun, segera gadis itu tepis, pengalaman sudah mampu mengajarkannya untuk tidak teruburu-buru mengambil kesimpulan, atau hatinya yang selalu saja kecewa akan mengalami hal sama.
*
Hafiz tidak menanyakan apa pun tentang makanan kesukaan Kiana. Laki-laki itu langsung membelokkan sepeda motor matiknya ke sebuah rumah makan dengan berbagai olahan ayam. Beruntung Kiana bukan termasuk pemilih dalam urusan makanan. Semua jenis olahan makanan bisa masuk ke lambungnya. Mau itu asin, manis, semuanya bisa dia telan. Namun, jika ditanya mau makan apa pilihannya pasti tidak akan jauh-jauh dari bakso.
"Nggak papa kan makan di sini?" Pertanyaan yang Hafiz lontarkan saat keduanya sudah duduk berhadapan di meja lesehan. "Atau mau ke tempat lain?"
Kiana menunjukkan senyum malas, tetapi Hafiz sepertinya tidak terlalu menyadarinya. Pertanyaan yang sangat terlambat karena siapa yang mau pindah tempat kalau kini sudah duduk nyaman seperti sekarang ini?
"Nggak papa, saya mah bisa makan di mana aja."
Hafiz tersenyum lalu memeriksa lembaran menu yang menyediakan berbagai macam pilihan ayam dengan sambalnya. "Kamu mau pesen yang mana, Dek?"
Masih agak aneh mendengar panggilan yang Hafiz sematkan pada dirinya. Kiana merasa, panggilan semacam itu lebih pantas ditujukan untuk orang-orang yang sudah mengenal dekat. Namun, tidak mungkin juga mengajukan protes karena Hafiz berikap sangat sopan.
"Saya ayam kremes aja, Mas, sama es teh manis."
Hafiz tersenyum mendengar Kiana yang tanpa malu-malu menyebutkan apa yang gadis itu mau. Lalu laki-laki itu segera menyebutkan pesanan mereka pada pelayan.
"Biasanya kalau cewek itu suka malu-malu kalau ditanyain mau apa."
Kiana tertegun dengan aura bingung mendengar penuturan laki-laki di depamnya. Lalu meringis malu saat sadar bisa saja sikapnya ini tidak berkenan di benak Hafiz.
"Saya nggak biasa memang, maaf."
"Loh, ngapain minta maaf?" Hafiz menguarkan tawa kecil. "Mas Hafiz malah seneng yang kayak kamu gini. Apa adanya, nggak usah jaim-jaiman."
Kiana hanya menanggapi kalimat itu dengan senyuman tipis. Bingung juga harus menanggapinyan dengan kalimat seperti apa.
"Tadi kalau tahu kamu orangnya nggak suka bilang terserah, kan, Mas Hafiz udah nanya ke kamu, kita mau makan di mana."
Kiana mengerutkan kening saat merasa kurang paham dengan kalimat yang baru saja Hafiz ucapkan.
"Biasanya, cewek itu suka jawab terserah kalau ditawarin mau makan di mana, mau makan apa. Itu kenapa tadi Mas Hafiz langsung ajak Dek Kia ke sini."
"Oh." Kiana membulatkan bibirnya. "Sayangnya di Temanggung nggak ada rumah makan namanya terserah, si, Mas, jadi ya saya nggak bakalan jawab itu."
Hafiz tertawa renyah mendengar gurauan itu. "Kamu lucu juga ternyata," ujar laki-laki itu sembari sesekali menatap wajah manis Kiana. Lalu segera menunduk saat sadar itu tidak boleh dilakukannya.
"Berarti, Mas Hafiz ini udah sering ngajak cewek jalan, ya? Sampai udah hafal begitu kebiasaan cewek?" Kiana mulai nyaman dengan laki-laki di depannya ini. Ternyata Hafiz bukan sosok kaku seperti yang dirinya kira.
Hafiz kembali menunjukkan tawa kecil. Laki-laki itu makin bertambah yakin untuk mendekati Kiana, gadis ini benar-benar mampu menghidupkan dunianya yang nyaris meredup karena sebuah kegagalan.
"Ya kan nggak harus dari pengalaman sendiri, sharing teman juga bisa dijadiin pengalaman."
Dari gaya bicaranya, Kiana sadar jika laki-laki di depannya ini bukan laki-laki kampung biasa. Hafiz terdengar cerdas di setiap kalimat yang diucapkanya.
Kiana hanya tersenyum dan obrolan ringan itu pun terhenti sejenak saat pesanan mereka siap untuk disantap.
*
"Itu ibu sambung saya." Kiana menjawab pertanyaan Hafiz yang mengira jika Widia adalah ibunya. Keduanya kini duduk di taman kota sembari menikmati semilir angin sore.
"Ayah sama ibu kandung saya udah bercerai dan sekarang masing-masing udah nikah." Terkadang Kiana malu menceritakan kisah keluarganya yang berantakan. Namun, saat ini Hafiz tidak menunjukkan jika apa yang diceritakannya adalah hal memalukan. Laki-laki itu terlihat memasang wajah teduh yang membuat Kiana tidak ragu untuk menjawab setiap tanya yang Hafiz lontarkan.
"Jadi kamu tinggal sama ayah kamu?"
Kiana menggeleng dengan senyuman masam. "Giliran, satu minggu sama ayah, satu minggu sama ibu."
Hafiz bisa membaca raut suram yang kini gadis di depannya ini tunjukkan. Kiana sepertinya tidak menyukai apa yang terjadi pada hidupnya kini. Yah, siapa yang akan menyukai kehidupan semacam itu, terombang-ambing pada dua keluarga baru yang harus diterima apa pun keadaannya.
"Kamu lebih suka tinggal sama siapa?" tanya Hafiz hati-hati. Dari senyum getir yang kini Kiana tunjukkan, laki-laki itu sepertinya sudah bisa menebaknya. Bersama ayah atau ibunya pasti bukan pilihan bagus.
"Nggak ada. Kalau boleh milih, saya pengin tinggal sendiri aja sebenarnya."
"Tapi nggak dibolehin?"
Kiana menunjukkan senyum kecut. "Iya, dibolehin keluar dari rumah mereka kalau saya udah nikah."
Hafiz mengerjab, ingin sekali meraih jemari lentik itu dan menggenggamnya. Memberikan keyakinan jika semua mimpi untuk lepas itu akan terwujud jika mau menerimanya menjadi calon imam. Namun, Hafiz tahu jika semua itu dirinya lakukan, yang ada Kiana akan kabur saat ini juga.
"Mungkin itu memang ujian yang Allah kasih ke kamu."
Kiana mengangguk setuju, karena memang hanya itu kalimat penguat yang dirinya punya.
"Yakin aja, kalau semua ujian itu ada akhirnya. Dan Allah sedang siapkan seseorang untuk menjadi rumah kamu pulang nanti."
Kiana mengerjab, mendongak untuk menatap mata Hafiz yang kini menyorotkan keteduhan. Namun, saat laki-laki itu menundukkan pandang, Kiana pun ikut melempar pandang ke arah lain.
"Sekarang ada yang lagi deket?" Meski tidak mau terburu-buru, tetapi Hafiz merasa perlu untuk mencari tahu apakah gadis ini masih bisa dirinya dekati atau tidak.
Kiana tersenyum canggung sembari menggeleng. "Enggak ada, Mas. Belum ketemu yang cocok."
"Berarti masih bisa Mas Hafiz perjuangkan?" Serupa bisikan, tetapi kalimat itu mampu membuat seorang Kiana tertegun dan mau tidak mau menatap mata Hafiz yang hanya menatapnya sekilas sebelum arah pandang laki-laki itu lari ke tempat lain.
Kiana yang merasa bingung hanya memberikan ringisan tipis.
"Berarti boleh, ya?" ujar Hafiz dengan senyuman yang kali ini mampu membuat jantung Kiana berdegup hebat. "Jadi jangan bingung kalau nanti tiba-tiba Mas Hafiz deketin kamu."
Kiana semakin bingung harus bereaksi seperti apa. Laki-laki di depannya ini terlalu terang-terangan, dan untuk apa juga meminta izin untuk mendekatinya?
"Mas Hafiz nggak suka bikin orang bingung. Kalau memang Mas Hafiz ada niat buat deketin seseorang, Mas bakalan terus terang biar orang itu tahu apa tujuan Mas."
Kiana ingin mengangguk, tetapi rasanya aneh. Akhirnya gadis itu hanya bisa menjawab, "Terserah Mas Hafiz aja."
Hafiz tertawa kecil sebagai respon dari jawaban itu. "Muncul juga kata terserahnya. Itu memang udah jadi ciri khas cewek kali, ya."
Kiana mau tidak mau ikut tersenyum, lalu suasana canggung tiba-tiba saja menyelimuti. Namun, sepertinya perasaan canggung itu hanya dirasakan Kiana karena kini Hafiz tampak biasa saja. Laki-laki itu tersenyum dengan aura teduhnya, mengedar pandang sembari memerhatikan pemandangan sekitar. Di mana taman kota ramai oleh beberapa pedagang dan juga orang-orang dengan kegiatannya masing-masing.
Sementara Kiana yang merasa ada yang lain di hatinya sesekali mencuri pandang ke wajah laki-laki di depannya. Sosok Hafiz yang kemarin masih tampak biasa saja, kini mendadak penuh dengan daya Tarik. Dan jenggot tipis yang tidak pernah Kiana sukai itu kini menjadi satu hal yang malah membuat wajah Hafiz makin menarik. Bagaimana caranya untuk menahan harap yang mulai berkembang ini? Kiana sebenarnya masih takut untuk memulai, takut jika harapan yang kini sudah mengembang ini akan berakhir seperti yang sudah terjadi pada dirinya kemarin-kemarin.