10. Kerja sama

1539 Words
Mas Adi : Ki, hari Sabtu bisa ke One Mart, nggak? Kiana : Kenapa memangnya, Mas? Bisa tapi pulang kerja ya, aku masuk setengah hari. Mas Adi : Nggak papa, sebisa kamu aja. Orang yang minta buat anter keliling itu udah dateng. Kiana awalnya bingung dengan kalimat balasan yang Adi berikan. Gadis itu lupa tentang apa yang pernah dibahasnya dengan Adi beberapa hari lalu. Namun, saat mengingat kata bakso, gadis itu langsung mengingat kesepakatan yang dibuatnya dengan tetangga ibunya itu. Kiana : Oh, nggak jadi bulan depan, Mas? Mas Adi : Enggak, orangnya udah dateng lebih cepet. Kiana mengangguk, lalu memberikan balasan jika dirinya bisa saat sadar Adi tidak akan melihat gerakan kepalanya. Maka di sinilah Kiana hari Sabtu selepas makan siang. Kebetulan sekali Fira sedang izin tidak masuk karena kekasihnya pulang. Lebih cepat dari perkiraan juga. "Mas Adi!" panggil gadis itu pada laki-laki berseragam One Mart yang kini tengah berdiri di depan One Mart. Mengawasi pekerja yang sedang memasang spanduk baru minimarket kecil yang sudah dikenal banyak orang ini. Bahkan One Mart sudah membuka cabang di beberapa tempat. Padahal dulu katanya minimarket ini nyaris ditutup, tetapi setelah dibeli oleh Alfa, perkembangannya menjadi sangat pesat. "Eh, udah dateng, Ki? Bentar, ya." Adi mengarahkan orang yang sedang naik ke tangga. Sementara Kiana mengangguk dan memilih duduk di bangku yang disediakan di depan One mart untuk para pelanggannya bersantai. "Bentar, orangnya lagi makan siang sama Pak Alfa. Kamu duduk situ aja dulu, ya." Setelah Kiana membalas dengan anggukan kepala, laki-laki dengan rambut cepak itu masuk ke minimarket. Namun, tidak lama kemudian keluar dengan dua air kemasan. "Minum dulu!" Adi menyodorkan satu ke arah Kiana, lalu duduk di bangku seberang gadis itu. "Makasih, Mas." Kiana tanpa basa-basi segera membuka penutup botol dan meminumnya. "Orangnya nggak ketus, kan, Mas?" tanya gadis itu setelah meneguk beberapa kali air teh dalam kemasannya. Adi tertawa kecil mendapat pertanyaan seperti itu. "Enggak, kok, santai aja. Orangnya ramah. Kayak Pak Alfa gitulah." Kiana mengangguk-angguk, mencoba menepis bayangan Alfa dengan senyumnya yang ramah. Laki-laki itu memiliki daya tarik yang bisa membuat orang khilaf. Memiliki kekasih atau pun suami semacam itu bisa membuat bahagia dan juga stress karena selalu dihinggapi perasaan curiga. "Nah, tuh, pada dateng." Kalimat yang Adi lontarkan membuyarkan lamunan Kiana tentang Alfa. Sosok yang sejak tadi dilamunkannya itu kini sedang turun dari mobil, lalu terlihat memutari badan mobil untuk membuka pintu bagian penumpang, di mana seorang wanita hamil turun dari sana. Kiana ikut tersenyum melihat interaksi antara Alfa dan istrinya. Mereka sungguh serasi dan membuat jiwa jomlonya meronta untuk segera mendapat pasangan. "Itu Pak Rion, orang yang minta tolong buat keliling kota kita." Kalimat Adi berikutnya kembali menyentak fokus Kiana yang sejak tadi terus mengangumi sepasang manusia yang hanya membuat iri. Laki-lakinya tampan, murah senyum, yang wanitanya juga cantik, jiwa insekyur Kiana yang merasa memiliki tampang biasa saja langsung muncul. Namun, semua pemikiran itu tidak lagi penting saat mata gadis itu lari ke sosok laki-laki yang berjalan tegap di samping Alfa dan istrinya. "Hah, dia?" Kiana melongo saat menyadari jika yang Adi tunjuk dengan nama Pak Rion adalah laki-laki menyebalkan yang secara tidak langsung mempermalukannya hari itu. Adi langsung menoleh ke arah Kiana saat mendengar kalimat dengan nada terkejut itu. "Kamu udah kenal?" Kiana langsung menggelengkan kepala karena memang dirinya tidak mengenal laki-laki bernama Rion itu. Hanya sudah berjumpa dua kali dan kesan pertemuan mereka tidaklah bagus. "Ini yang bakal bantuin Rion, ya?" Pertanyaan itu muncul dari bibir istri Alfa yang tampak begitu cantik saat tersenyum. Kiana bahkan sampai gugup saat membalas senyum itu, gadis itu mengangguk sebagai jawaban. "Iya, Nin, kenalin, Kiana." Adi menoleh ke arah Kiana yang menunjukkan senyuman canggung. "Ki, kenalin, ini Pak Alfa, yang punya One Mart, ini istrinya, kamu bisa panggil Nina atau Karen, dan ini yang bakalan kamu bantu, Pak Rion." Kiana menyalami satu-persatu ketiga orang itu sembari menyebut namanya. Yang pertama Nina atau Karen istri Alfa, yang kedua Alfa, baru yang terakhir Rion. Laki-laki itu memberikan senyuman tipis, dan sepertinya Rion tidak mengingat pertemuan mereka hari itu, syukurlah. "Nah, udah ketemu, saya pamit dulu, ya. Masih ada kerjaan soalnya." Adi pamit pada semua orang yang ada di sana. "Yang udah jadi kepala cabang sibuk banget, ya." Adi hanya berdecap kecil, lalu tertawa lirih mendengar godaan yang Karen berikan. Melihat itu, Kiana ikut tersenyum, ternyata kekeluargaan di One Mart begitu terasa. Bahkan bos dan karyawan bisa seakrab itu. "Ya udah, Yon, gue tinggal, ya. Kalian ngobrol berdua aja," ujar Alfa pada Rion, dan setelah laki-laki itu mengangguk sebagai jawaban, Alfa menuntun istrinya untuk masuk ke dalam One Mart. "Duduk," ujar Rion sembari mengedikkan kepala pada bangku yang ada. Kiana pun segera duduk, dan suasana menjadi sangat canggung sekali. "Ini beneran nggak ganggu waktu kamu, kan?" tanya laki-laki itu guna mencairkan suasana, tahu betul jika gadis berambut panjang di depannya ini sedikit gugup. "Enggak, kok, Mas. Kebetulan saya lagi free." Kiana menjawab sembari menelisik wajah Rion yang sepertinya memang agak pelit dengan senyuman. Sejak tadi senyum yang laki-laki itu beri hanya senyuman tipis yang tidak sampai ke mata. "Jadi mendingan kita mulai malam ini atau besok?" "Terserah Mas Rion aja, si, saya bisa kapan aja. Tapi jam malam saya cuman sampai jam delapan, nggak boleh lebih." "Kamu udah tulis daftar mana aja kedai bakso yang perlu kita datengin?" Kiana meringis malu saat hal itu belum dilakukannya. "Belum, Mas. Habisnya Mas Adi bilang kalau Mas Rion datangnya bulan depan." Rion hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Kalau begitu besok aja. Malam ini kamu tulis daftar tempat yang harus kita datengin, biar waktunya efektif." Kiana mengangguk canggung. "Boleh, Mas." "Ya udah, kamu boleh pulang." Kiana kembali menganggukkan kepala, lalu segera berdiri. "Maaf saya nggak bisa nganterin kamu, saya nggak ada kendaraan soalnya." "Nggak papa, Mas. Eh tapi besok terus gimana?" "Untuk besok saya udah nyewa mobil." Kiana tertegun saat mendengar kata mobil. "Gimana kalau naik motor aja, Mas?" Kali ini Rion yang tampak bingung mendengar kata motor. "Soalnya ada yang tempatnya di gang sempit, jadi kayaknya lebih enak naik motor." "Tapi saya udah terlanjur nyewa mobil untuk besok." Kiana tampak berpikir, mencari solusi. "Ya udah, yang di gang sempit besok-besok lagi aja berarti, ya." Rion pun mengangguk setuju, dan Kiana memutuskan untuk benar-benar pamit. Baru gadis itu melangkah satu kali, sosok Hafiz dengan motornya masuk ke pelataran One Mart. "Mas Hafiz?" Kiana mendekati sosok Hafiz, sementara Rion masuk ke minimarket. "Dek Kia udah mau pulang?" Laki-laki itu melontarkan pertanyaan sembari melongok laki-laki yang tadi duduk dengan gadis di sampingnya ini. "Udah, ini Mas Hafiz mau jemput aku?" Kiana memutuskan untuk mengganti kata saya menjadi aku agar terdengar lebih akrab. "Iya, yang tadi siapa?" Hafiz kembali melongokkan kepala ke dalam One Mart, padahal laki-laki tadi sudah tidak lagi terlihat. "Oh, itu yang mau buka bakso di sebelah One Mart, aku ada ,kerjaan sama dia." Hafiz tampak terkejut mendengar kalimat penjelasan itu. "Pekerjaan?" "Iya, adalah, Mas." Kiana bukannya tidak mau menjelaskan secara detail. Namun, gadis itu merasa belum semua hal harus diceritakan pada laki-laki yang mengaku ingin mendekatinya ini. Dan sepertinya Hafiz cukup peka dengan hal itu, maka selanjutnya laki-laki itu hanya mengangguk dan keduanya meninggalkan pelataran One Mart. * "Kamu lagi ngapain?" Hafiz duduk sembari meletakkan satu dari dua mangkuk es buah yang baru dipesannya. Mereka kini tengah menikmati waktu duduk di taman kota yang sedikit ramai karena ini memang malam minggu. "Oh, ini." Kiana mendongak sebentar, sebelum akhirnya kembali tenggelam pada kesibukannya yang tengah mencatat lokasi kedai bakso di kota ini. "Lokasi kedai bakso," jawabnya singkat. "Untuk apa?" Hafiz terus memandangi Kiana yang seperti begitu serius dengan kegiatannya. "Jadi yang tadi itu, namanya Mas Rion." Kiana memutuskan untuk menjelaskan apa yang akan dikerjakannya, dari pada laki-laki di depannya ini nanti akan terus bertanya-tanya. "Dia minta aku buat nganterin keliling kota, ngerasain kedai bakso yang ada di sini." Hafiz tampak mengernyit bingung mendengar penjelasan itu. "Maksudnya gimana?" Kiana pun menghentikan sejenak pekerjaannya, dan mulai menjelaskan secara detail apa yang akan dia kerjakan bersama laki-laki bernama Rion itu. "Jadi besok kamu pergi sama dia?" tanya Hafiz setelah paham apa yang akan Kiana lakukan. Tanpa ragu, gadis dengan rambut panjang sepunggung itu menganggukkan kepala. "Lumayanlah, dari pada aku nganggur di rumah. Ini diitung kerja juga kok." Kiana belum sadar kini Hafiz menunjukkan wajah masam. "Padahal besok rencananya Mas Hafiz mau ngajak kamu pergi." Baru saat mendengar kalimat itu Kiana mendongakkan kepala, menatap laki-laki di depannya, dan menemukan wajah kecewa di sana. "Yah, maaf," ujar gadis itu penuh penyesalan. Namun, tentu saja tidak bisa melakukan apa-apa karena kesepakatan yang dibuatnya untuk membantu Rion ini sudah dibuat lama. "Nggak papa, kita masih bisa pergi lain kali." Kiana menunjukkan senyuman tidak nyaman, lalu mengangguk. "Sekali lagi maaf, ya, Mas." "Iya, nggak papa. Kamu tenang aja, nanti kita atur waktu buat jalan berdua." "Oke." Kiana kembali melanjutkan kegiatannya untuk mencatat lokasi kedai bakso yang diperlukannya untuk kegiatan besok. "Emm, tapi, Dek. Mas Hafiz boleh minta satu hal?" Kiana pun kembali berhenti melakukan kegiatannya, dan menatap Hafiz dengan penuh tanda tanya. "Kalau lagi sama Mas Hafiz gini, boleh nggak, kalau fokusnya sama Mas aja?" Kiana tertegun, dan baru menyadari jika sikapnya memang salah. Maka tanpa berpikir panjang, gadis itu segera memasukkan buku catatan kecil beserta pulpen ke dalam tas. Menikmati sore dengan semangkuk es buah, menikmati kebersamaannya dengan laki-laki yang mungkin saja akan menjadi jodohnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD