“Beberapa hari yang lalu, aku memecat salah satu direktur dari Departemen Teknologi. Kejam memang sampai aku harus memecat posisi setinggi itu, sedangkan pada hari yang sama perusahaanku sedang ada jadwal dengan siaran langsung. Tapi, anehnya semua alat cadangan yang aku punya mendadak rusak tanpa sebab. Alhasil aku dan Yushi pun mencari cara agar hari itu siaran langsung tetap berjalan dengan lancar. Namun, sepertinya Dewi FortUna sedang berbaik hati denganku, sampai tiba-tiba ada telepon asing masuk ke dalam telepon kantor, dan itu ternyata dari perusahaan tempat kamu bekerja,” jelas Xiao Na panjang lebar. Jarang sekali wanita itu bisa berkata sepanjang itu. Padahal kalau sedang berada di kantor, kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan adalah dua puluh kata, itu pun sedang mengadakan rapat.
Han Siyang terlihat melebarkan matanya tidak percaya mendengar penjelasan dari Xiao Na. Entah kenapa lelaki itu benar-benar sangat terkejut, membuat Xiao Na yang baru saja menyelesaikan penjelasannya mengernyit bingung.
“Benarkah? Jadi, hari itu tiba-tiba perusahaanku memang langsung memanggil petugas teknisi, termasuk aku untuk melaporkan masalah alat yang dibiarkan mengganggur. Padahal aku pikir perusahaan ini kekurangan uang sampai harus menjual alat sebanyak itu,” seru Han Siyang benar-benar tidak percaya.
“Tidak. Perusahaanmu sedang membantuku untuk menyelesaikan masalah,” balas Xiao Na ringan, lalu kembali melanjutkan, “Memangnya ada apa sampai kamu terlihat sangat terkejut?”
“Tahukah kamu Nana, itu pertama kalinya aku berbincang dengan pewaris perusahaan, meskipun melalui telepon kantor,” ucap Han Siyang berlebihan. Bahkan lelaki itu terlihat senang sekali.
“Kamu sangat berlebihan, Han Siyang.”
“Tidak. Aku tidak berlebihan. Karena tidak ada satu pun orang di kantor yang pernah berbicara dengan pewaris itu, selain aku.”
“Tapi, kau tidak pernah bertemu dengannya.”
“Iya memang, tapi hanya berbincang dengannya aku sudah tahu kalau lelaki itu sangat pintar.”
“Lelaki?”
“Iya, dia seorang lelaki dewasa. Terdengar jelas dari suara dan mengingat umur dari Liu Bai sudah menginjak kepala tiga. Atau bahkan bisa dibilang lebih.”
Xiao Na terlihat mengangguk pelan mendengar penuturan Han Siyang, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya merasa sangat penasaran. Siapakah lelaki yang disebutkan itu? Walaupun ia sendiri tidak tahu suara dan rupanya, tetapi Xiao Na sangat yakin kalau lelaki itu telah memperhatikan dirinya.
Setelah keduanya berhenti berbincang, terlihat seorang lelaki berpakaian rapi dengan jas mahal berwarna biru itu menghampiri Han Siyang. Lelaki itu adalah lelaki yang sempat disebutkan oleh temannya, Liu Bai.
“Direktur Han, kau dipanggil oleh Presdir Li,” ucap Liu Bai membuat Han Siyang langsung menegakkan tubuhnya, lalu menoleh ke arah Xiao Na yang masih memperhatikan lelaki di depannya.
“Nana, aku pergi dulu. Nanti akan kucari kamu lagi,” pamit Han Siyang sebelum lelaki itu benar-benar pergi bersama Liu Bai.
“Baik, aku akan tetap di sini,” balas Xiao Na mengangguk pelan.
Setelah itu, kepergian Han Siyang pun sedikit membuat Xiao Na kesepian. Karena wanita itu kembali menyesap minumannya yang tinggal sedikit. Sepertinya ia akan tetap seperti ini dalam waktu beberapa jam ke depan.
Namun, sesuatu telah menarik perhatian wanita itu sehingga Xiao Na terlihat menghampiri meja yang berisikan bermacam-macam kue di sana. Tanpa pikir panjang, wanita itu pun mengambil piring kosong yang ada di tepi meja, lalu mulai mengambil satu per satu kue berbentuk sangat manis. Bahkan saking manisnya sampai Xiao Na tersenyum tipis. Salah satu kegemaran wanita itu ketika datang ke pesta adalah mencicipi semua kue yang ada di sana.
Akan tetapi, dari sebanyak pesta yang pernah ia hadiri, hanya pesta ini yang Xiao Na suka. Meskipun wanita itu sedikit kesepian, tetapi berkat kue-kue kecil ini sepertinya ia tidak akan merasa kesepian lagi. Karena menyantap kue adalah hobi Zhang Xiao Na.
Dengan menyuapkan satu per satu kue ke dalam mulutnya, mata Xiao Na menatap sekeliling yang mulai dipenuhi berbagai orang dengan pakaian formal. Sepertinya, Han Siyang tidak memiliki banyak koneksi sampai tidak sedikit mereka berpakaian rapi, meskipun bukan mengenakan jas.
“Eyo, Zhang Xiao Na, sedang apa kau di sini?” tanya seorang lelaki mengedipkan matanya genit ke arah wanita yang terlihat sama sekali tidak menghiraukan perkataan seseorang di sampingnya.
Xiao Na terlihat menggeser tubuhnya ke arah lain, membuat lelaki itu langsung tersenyum sinis, lalu ikut menggeser tubuhnya mendekati wanita dingin itu.
“Kenapa, Xiao Na? Kau masih betah saja melajang. Padahal aku sudah berganti banyak pasangan akhir-akhir ini. Apakah kau ingin menjadi kekasihku? Aku janji akan setia padamu saja,” ucap lelaki itu dengan mulut buaya yang sudah sering kali Xiao Na dengar.
“Maaf, mulut buayamu itu tidak akan membuatku terpengaruh. Minggir!” balas Xiao Na bangkit dari tempat duduknya. Ia mulai merasa tidak nyaman sudah terpojok seperti ini. Apalagi tepat di sampingnya adalah pagar pembatas rooftop.
Lelaki itu pun bangkit mensejajarkan diri di depan Xiao Na, membuat wanita itu langsung mendongakkan kepalanya. Akan tetapi, ia terlihat menatap tajam. Ia terlihat mengenal lelaki ini, tetapi tidak ingat namanya. Karena samar-samar lelaki itu seperti teman kuliahnya dulu. Namun, terlalu lama berpisah membuat ingatan Xiao Na buruk.
“Ayolah, Xiao Na. Kenapa kau selalu menolakku? Kau tidak lebih dari wanita di luar sana. Aku bisa memberikanmu banyak uang,” desak lelaki itu melangkah maju, membuat Xiao Na spontan memundurkan langkahnya. Ia memang tidak bisa bergerak dengan jarak sesempit ini.
“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Xiao Na menatap lelaki itu tajam.
“Apa? Bukankah sudah jelas kalau aku ingin kau menjadi milikku,” jawab lelaki itu tertawa sinis, lalu memiringkan kepalanya hendak mencium bibir Xiao Na.
Namun, belum sempat hal itu terjadi, tiba-tiba suara benda dipukul terdengar begitu jelas. Sontak semua yang ada di sana berteriak terkejut. Apalagi terlihat seorang lelaki tampak terjerembab di atas meja. Sontak meja yang terbuat dari kaca itu pun pecah, menimbulkan suara yang cukup keras.
Terlihat seorang lelaki gagah nan tampan tampak sangat emosi dengan kedua tangannya yang terkepal kuat. Bahkan d**a bidangnya terlihat naik turun seiring dengan kemarahannya yang memuncak. Tatapan tajam bak elang itu menghunus tepat pada lelaki yang terlihat memegangi sudut bibirnya.
“Li Xian,” panggil Xiao Na pelan, membuat lelaki yang terlihat emosi itu langsung mengalihkan perhatiannya menatap sesosok wanita hampir saja ia lupakan keberadaannya.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Li Xian terlihat sangat khawatir.
Xiao Na hanya menggeleng pelan, lalu menatap Li Xian terkejut. Ia masih tidak percaya kalau karyawan barunya ada di sini. Terlintas sebuah pikiraN kalau lelaki itu salah satu teman Han Siyang.
“Syukurlah. Aku takut sekali kau terluka tadi,” ucap Li Xian memejamkan matanya sembari bernapas lega, lalu menatap tajam lelaki tadi yang hampir saja melecehkan Xiao Na. “Jangan pernah kau ganggu lagi wanitaku.”
Sorot mata tajam dengan nada suara yang terdengar rendah mampu membuat lelaki itu langsung berlari pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah itu, Li Xian kembali menatap Xiao Na yang masih terkejut, lalu memberikan sebotol air mineral dari salah satu pelayan di sana.
“Maafkan aku, Presdir Zhang. Aku tidak bermaksud membuat kau terkejut. Hanya saja tadi aku melihat kau merasa tidak nyaman, jadi aku datang ke sini hanya untuk menolong,” ucap Li Xian menduduk penuh sesal.
Xiao Na terlihat menggeleng pelan, lalu berkata, “Tidak apa-apa, Li Xian. Aku hanya terkejut tadi, tapi aku jauh lebih berterima kasih padamu yang telah menolongku tepat waktu.”