14. I'm Waiting For Elevator

1092 Words
Langit kemerahan menyapa saat Li Xian baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya. Entah kenapa ia merasakan kalau hari ini begitu banyak sehingga harus pulang lebih larut daripada biasanya. Padahal sejak tadi dirinya hanya memeriksa semua data yang masuk dari Departemen Personalia untuk pembaruan data di website resmi perusahaan. Akan tetapi, semua itu terasa berat saat dirinya hanya hadir di sebuah rapat yang cukup menegangkan. Di mana dirinya hampir saja berselisih panjang dengan bosnya sendiri. Meskipun ia hanya menyuarakan pendapat agar wanita itu tidak terlalu sulit bekerja seorang diri. Namun, semua niat baiknya itu malah membuat dirinya sendiri terjebak di dalam situasi yang cukup sulit. Untung saja sekretaris dari bosnya yang menyadari itu semua pun langsung membubarkan rapat sehingga dirinya bisa kembali menekuni pekerjaan. Kini Li Xian melenggang keluar dari ruangannya sembari membawa tas tangan yang biasa ia gunakan untuk tempat beberapa berkas perusahaan yang harus ia bawa pulang. Namun, matanya langsung menangkap sebuah punggung mungil yang terlihat menunggu tepat di depan pintu elevator. “Tong Xin, sedang apa kau di sini?” tanya Li Xian menatap gadis mungil yang ada di depannya. Merasa dipanggil, Tong Xin pun membalikkan tubuhnya, lalu tersenyum lebar. Ia memang sudah saling kenal dengan Li Xian. Tentu saja sejak lelaki itu menjadi pelamar di perusahaan tempat dirinya bekerja.  Pribadi Li Xian yang mudah bergaul dan ramah itu pun membuat siapa saja dekat dengan lelaki itu tanpa membutuhkan waktu lama. “Aku sedang menunggu lift,” jawab Tong Xin masuk akal, walaupun maksud dari perkataan Li Xian tidak seperti itu. Tentu saja ini bukanlah lantai Departemen Personalia yang gadis mungil itu bisa lewati kapan pun. Ini adalah Departemen Teknologi. Satu-satunya departemen yang ada di perusahaan, dan terletak paling terpencil di gedung ini. Bahkan bisa dikatakan gedung yang sama sekali tidak pernah terjamah siapapun. Karena jaraknya yang terlalu jauh membuat siapapun berpikir berulang kali untuk datang. “Aku tahu, tapi kenapa harus di sini? Bukankah kau dari Departemen Personalia?” Sepasang alis tebal milik Li Xian pun bertaut bingung. Sebab, ini adalah pertama kalinya gadis itu datang. “Oh, iya benar. Tapi, aku sedang ada urusan dengan Yushi jie. Jadi, aku harus lewat sini untuk langsung sampai di basement.” Li Xian terlihat mengangguk beberapa kali sembari memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana, lalu ikut menunggu elevator bersama Tong Xin. Tak lama kemudian, pintu elevator pun terbuka, menampilkan benda berbentuk persegi itu tampak kosong tanpa ada siapapun di dalamnya. Lalu, Tong Xin pun masuk terlebih dahulu, dan di susul oleh Li Xian. Sementara itu, di dalam elevator tampak sepi tanpa ada yang memulai pembicaraan. Sebab, Li Xian tampak sibuk dengan ponselnya, membuat Tong Xin hanya melirik lelaki itu beberapa kali. Pintu elevator pun kembali terbuka, kali ini menampilkan lantai basement yang terlihat sepi. Hanya ada beberapa mobil di sana dengan suara-suara knalpot motor dari atas yang cukup memekakkan telinga. Namun, tidak membuat mereka yang mendengarkan protes, seakan sudah biasa hal itu terjadi. Langkah Li Xian pun mengarah pada salah satu mobil berwarna putih yang tampak mengundang tatapan tanya dari Tong Xin. Kebetulan sekali gadis mungil itu masuk ke dalam mbol yang tepat berada di sampingnya. “Direktur Li, itu mobilmu?” “Iya, ada apa?” “Tidak ada. Aku hanya terkejut melihat mobilmu yang sama persis seperti punya Xiao Na jie. Karena aku pernah melihat beberapa kali dia memakai mobil itu. Makanya, aku hampir dibuat tidak percaya saat kau menaiki mobil itu.” “Wah, benarkah? Tidak, ini benar mobilku.” Tong Xin terlihat mengangguk singkat, lalu berkata, “Kalau begitu, aku pergi dulu.” Setelah itu, Tong Xin menjauh dari hadapan Li Xian. Lelaki itu hanya menatap kepergian kolega barunya dengan tatapan biasa saja. Akan tetapi, tidak dengan hatinya yang terasa sangat girang. Ia sama sekali tidak menyangka kalau mempunyai mobil yang sama persis dengan milik Xiao Na. Bahkan sempat terbesit di ingatan lelaki itu ketika sampai Xiao Na melihat mobil miliknya. Mungkin akan bereaksi seperti Tong Xin. Namun, kejadian yang sebenarnya adalah ini bukan mobil milik dirinya, melainkan Liu Bai. Ia sengaja memakai mobil seperti ini untuk datang ke kantor tanpa memiliki rasa kecurigaan. Apalagi sampai mengetahui kalau dirinya adalah konglomerat kaya di China. Bisa-bisa semua orang mendekati dirinya hanya agar mempunyai koneksi menjadi orang kaya. Namun, Li Xian yang tidak ingin berpikir lebih lanjut pun hanya tertawa pelan, lalu melajukan mobilnya meninggalkan basement. Mobil biru navy itu tampak membelah parkiran bawah tanah yang tanpa lelaki itu sadari, Xiao Na pun keluar dari evalator yang sama. Hanya saja wanita itu telah satu pintu dari Li Xian. Hari ini Xiao Na pulang lebih cepat daripada biasanya. Sebab, hari ini ia harus mencari hadiah untuk Han Siyang. Karena lelaki itu tampak memaksa dirinya untuk datang. Padahal masih banyak teman tim yang dulu berjuang hingga memenangkan beberapa penghargaan, meskipun harus berakhir tragis dengan dirinya mendirikan perusahaan sendir. Sedangkan Han Siyang melanjutkan bisnis keluarganya yang terletak di Beijing, dan baru-baru ini lelaki itu kembali menginjakkan kaki di Shanghai. Tujuan Xiao Na kali ini adalah mengunjungi salah satu mal terbesar di Shanghai. Meskipun ia sendiri tidak tahu harus membeli, tetapi setidaknya ia datang ke sini bisa memutuskan apa yang harus ia beli. Karena tidak sediki toko di sini mengenal dirinya. Setelah memarkirkan mobil tepat di depan pintu lobi mal, Zhang Xiao Na pun turun dengan memakai kacamata hitam lengkap dengan tas tangan yang selalu berada di pundaknya. Lalu, wanita itu terlihat menyerahkan kunci mobil pada salah satu satpam yang ada di sana. Tanpa menunggu lama, Xiao Na pun masuk ke dalam mal. Pandangan wanita itu terlihat mengitari sekeliling yang tampak cukup ramai. Karena kebanyakan orang di sini lebih memilik untuk memburu diskonan dari sepatu sampai kosmetik yang ada di lantai 1. Padahal kalau menurut dirinya, diskon yang jauh lebih murah adalah di lantai 2. Akan tetapi, semua kembali pada kepribadian masing-masing. Merasa tempat tujuannya di lantai 3 mal, Xiao Na pun langsung mendekat ke arah escalator yang terlihat sepi pengunjung. Hanya ada beberapa orang di sana, membuat wanita itu langsung menginjakan kaki di anak eskalator yang berdiri kokoh. Namun, seperti biasa Zhang Xiao Na kembali melihat-lihat sekitar yang terlihat sangat ramai. Bahkan ada beberapa toko pakaian dan perhiasan yang dipenuhi oleh banyak orang. Hingga para penjaganya pun terlihat kewalahan. Sesampainya di lantai 3, Xiao Na pun kembali mengelilingi lantai dengan melihat beberapa toko tas branded yang cukup ramai. Namun, tidak ada yang menarik perhatiannya sampai tiba-tiba tatapan wanita itu terpaku pada sepasang kekasih yang terlihat sedang memilih tas mahal di dalam toko. “Qian jie?” panggil Xiao Na hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD