13. Engagement Party

1132 Words
Rapat laporan tahunan Departemen Teknologi dalam rangka peluncuran aplikasi dari pun selesai dengan permasalahan yang tidak berujung. Karena Yushi yang menyadari situasi semakin panas memilih untuk menunda rapat, dan mereka yang sudah mengerti akan sifat bos cantiknya itu pun membubarkan diri satu per satu dengan wajah lega. Sebab, mereka selamat dari rapat yang diadakan bosnya, membuat mereka semua pulang ke rumah tepat waktu. Karena dengan menunda rapat, artinya mereka pun selamat dari pekerjaan lembur yang sering membuat mereka semua lupa waktu untuk pulang. Bahkan sampai ada yang rela menginap hanya untuk menyelesaikan pekerjaan. Kini tinggallah Li Xian dan Zhang Xiao Na yang masih di dalam. Keduanya terlihat diam satu sama lain dengan Yushi yang sudah keluar terlebih dahulu. Karena gadis itu masih harus menyelesaikan aplikasi yang akan diresmikan beberapa minggu lagi. “Aku tidak percaya kau memiliki suara sebanyak itu,” sindir Zhang Xiao Na menatap Li Xian yang duduk tidak jauh darinya. “Lebih mengagumkan lagi kalau aku mengutarakan semuanya, Presdir Zhang,” balas Li Xian tersenyum miring. Namun, Zhang Xiao Na lebih memilih tidak menjawab apapun. Ia melenggang pergi tanpa beban seiring high heels-nya berbenturan langsung dengan lantai putih bersih di bawahnya. Sikap arogan dan tidak peduli wanita itu kembali terpasang sebagai benteng pertahan. Tidak ada yang mudah menembus pertahanan Zhang Xiao Na, meskipun itu adalah kakak kandungnya sendiri, Zhang Xiao Wei. Tujuan wanita itu pun langsung mengarah pada ruangannya sendiri, membuat sekelilingnya dipenuhi oleh karyawan yang membungkuk hormat. Sudah tidak aneh lagi bagi dirinya hingga semua orang bersikap seperti itu. Tentu saja sejak dirinya bertindak tegas dengan memecat Direktur Zhao tanpa pengampunan. Wajah cantik yang sayanganya tidak pernah tersenyum itu pun tampak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Tanpa ragu ia langsung mendekati objek tersebut tanpa memedulikan tatapan dari beberapa karyawan yang melihat dirinya dengan raut wajah penasaran. “Tong Xin,” panggil Zhang Xiao Na menatap seorang gadis mungil yang terlihat sibuk mencetak kertas-kertas. Merasa namanya dipanggil, Tong Xin pun mengangkat kepalanya, lalu terkejut melihat Zhang Xiao Na menghampiri meja kerjanya. Gadis mungil itu pun bangkit dan menunduk hormat ke arah wanita cantik yang sangat ia hormati, dan sudah dirinya anggap sebagai kakak kandungnya sendiri, meskipun terkadang sifatnya yang menakutkan itu membuat siapapun menjadi segan. “Iya, ada apa, Presdir Zhang?” tanya Tong Xin. Zhang Xiao Na menatap Tong Xin sekilas, lalu kembali menatap objek yang menjadi perhatiannya. Sebuah benda berukuran mungil itu mampu menarik Zhang Xiao Na yang jelas-jelas sedang melangkah ke arah ruangannya. “Kau dapat ini dari mana?” tanya Zhang Xiao Na mengangkat sebuah furniture cantik yang berukuran mungil. Tong Xin yang mengerti maksud Zhang Xiao Na pun mengangguk beberapa kali, lalu menjawab, “Itu dari Direktur Li. Katanya sebagai hadiah dia diterima di perusahaan. Apa ada masalah, Presdir Zhang?” Zhang Xiao Na menggeleng cepat, lalu membalikkan tubuhnya dari sana. Dengan cepat wanita itu sudah tidak ada lagi di radar penglihatan Tong Xin, membuat gadis mungil itu langsung menggaruk kepalanya bingung, lalu tak urung ia kembali duduk meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda. Akan tetapi, ia kembali menatap benda pemberian Li Xian yang mampu menarik perhatian bos cantiknya. “Tong Xin, tumben sekali Presdir Zhang ke sini. Apa kau baru saja membuat masalah?” tanya salah satu teman seruangan Tong Xin dengan raut wajah penasaran. “Tidak ada. Aku tidak melakukan kesalahan apapun,” jawab Tong Xin mengernyitkan keningnya sembari mengingat semua pekerjaannya hari ini. Rasanya, tidak ada satu pun yang terlewat. Sementara itu, di sisi lain Zhang Xiao Na terlihat mengumpati dirinya sendiri sembari terus melangkah dengan cepat ke arah ruangannya. Wajah wanita cantik itu terlihat sangat kesal sekaligus penasaran, membuat semua orang yang menatapnya langsung tercengang bingung. Baru kali ini Zhang Xiao Na memperlihatkan ekspresi yang sebenarnya, hanya karena pemberian dari Li Xian. “Dasar lelaki sialan! Bisa-bisanya aku tertarik dengan benda pemberian lelaki itu. Tidak tahukah dia sangat menyebalkan saat rapat tadi,” gerutu Zhang Xiao Na yang telah berada di dalam ruangannya sendiri, lalu wanita itu langsung melenggang ke arah kursi kebesarannya, dan mendudukkan diri di sana. Namun, di saat yang bersamaan ponselnya bergetar, membuat Xiao Na langsung meraih saku blazer-nya, dan melihat sebuah nama yang tidak asing terpampang di layar ponsel mahal miliknya. Gunship Nana, jangan lupa datang ke acara pertunanganku besok. Awas saja kalau kau tidak datang! Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang. Sebuah pesan singkat yang berisikan ancaman tersebut pun membuat Xiao Na memutar bola matanya malas. Ini sudah keempat kalinya Gun a.k.a Han Siyang menghubungi dirinya hanya untuk datang ke arah pertunangan lelaki itu. Padahal ia juga tahu kalau acara memang akan digelar besok, dan dirinya sudah menyiapkan sebuah hadiah. Kalau tidak datang, sangat tidak mungkin. Tanpa pikir panjang, Xiao Na mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan tersebut. Tentu saja senyum miring langsung terukir indah di bibir wanita itu. XiaoNN Aku tidak tahu akan datang atau tidak kalau kau terus mengirimkan pesan menyebalkan itu. Tak sampai menunggu lama, balasan kembali datang. Kali ini Xiao Na terlihat biasa saja. Raut wajahnya tidak menyebalkan seperti tadi. Gunship Baiklah. Aku tidak akan mengirimkan pesan untukmu, tapi kau harus datang. Kalau tidak, aku akan memberi tahu ayahmu untuk segera menikahkanmu. XiaoNN Akan kubunuh kalau itu benar-benar terjadi. Setelah itu, percakapan pun terputus dengan Xiao Na yang memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Sebab, tiba-tiba ia mendengar pintu ruangannya terbuka, lalu menampilkan sesosok gadis mungil yang tengah membawa beberapa map di tangannya. “Presdir Zhang, ini ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani,” ucap Tong Xin menyerahkan map tersebut kepada Zhang Xiao Na. “Tong Xin, apa kau besok tidak ada acara?” tanya Xiao Na membuat kening gadis mungil itu berkerut. “Maaf, Presdir Zhang. Aku sudah ada janji dengan Sekretaris Yushi,” jawab Tong Xin dengan raut wajah penuh sesal. Namun, berbeda dengan Zhang Xiao Na yang terlihat terkejut. “Jadi, Yushi bilang sudah ada janji itu denganmu, Xiao Tong Xin?” “Iya. Ada apa, Presdir Zhang?” tanya Tong Xin terlihat penasaran. “Tidak ada,” jawab Xiao Na cepat, setelah menyadari nada bicaranya yang terdengar santai. Namun, Tong Xin hanya mengangguk pelan, lalu membalikkan tubuhnya melenggang pergi dari sana. Walaupun batinnya sangat ragu maksud dari perkataan Zhang Xiao Na. Sedangkan Zhang Xiao Na terlihat menghela napas panjang sembari menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran. Pikirannya melayang jauh memikirkan apa yang harus ia lakukan besok. Sebab, ia sama sekali tidak mempunyai persiapan untuk datang ke acara itu. Terlebih dirinya baru saja mengalami hal yang menyebalkan saat datang ke acara pesta. Akan tetapi, ia juga tidak ingin mengecewakan Han Siyang. Karena lelaki itu merupakan tim lamanya dulu, meskipun beberapa dari timnya sudah hidup dengan masing-masing. Kini tanggal dirinya yang masih betah melajang, membuat kedua orang tuanya semakin gencar. “Apa yang harus aku lakukan?” keluh Xiao Na menumpukan kepalanya di atas meja sembari merenggut kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD