Jalanan lenggang khas Kota Shanghai pun membuat kendaraan baik itu roda dua maupun roda empat dapat melintas tanpa harus ikut bermacet-macetan, termasuk dengan salah satu mobil mewah yang terlihat ikut menunggu lampu lalu lintas yang belum juga berwarna hijau.
Di dalam mobil tersebut ada seorang lelaki berpakaian rapi lengkap dengan dasinya yang berwarna biru navy. Lelaki itu tampak merapikan jambulnya melalui spion tengah dari kendaraan tersebut, lalu kembali menatap jalanan yang terlihat beberapa pejalan kaki melintas tepat di depannya.
Tak lama kemudian, lampu tersebut berubah menjadi hijau, membuat sang lelaki itu menancapkan gasnya kembali. Kali ini tujuannya adalah ke arah The Bund. Tentu saja ia sudah berjanji dengan seseorang membuat pertemuan di sana. Akan tetapi, bukan dirinya yang datang, melainkan seseorang yang sudah menunggu dirinya tepat di tepi jalan.
Kemudian, lelaki itu pun menepikan mobilnya mengikuti mobil yang ada di belakangnya. Setelah itu, ia langsung turun sembari membawa tas kerja berwarna cokelat muda dengan beberapa berkas yang sengaja lelaki itu tinggalkan di dalam.
“Kau sudah datang?” tanya lelaki itu sembari menyerahkan kunci mobil otomatis ke arah lelaki yang dengan gaya tampannya bersandar pada kap mobil.
“Lama sekali kau, Liu Bai. Apakah Papaku masih melarangmu untuk bertemu?” keluh Li Xian yang memang sudah sejak tadi berada di sini.
Seorang lelaki yang bernama Liu Bai itu pun hanya tertawa pelan, lalu menepuk pundak Li Xian pelan. Kemudian, melenggang pergi membuat Li Xian langsung menegakkan tubuhnya.
“Tidak, Tuan Muda Li,” balas Liu Bai dengan nada menggoda, membuat Li Xian tersenyum tipis. “Oh ya, kau serius akan bekerja dengan wanita itu?”
Li Xian nampak mengangkat kedua bahunya acuh, lalu berkata, “Entahlah. Tapi, yang jelas aku sekarang ingin mengejar wanita itu dulu.”
Liu Bai hanya mengangguk beberapa kali, karena ingin melarang pun sudah tidak bisa. Sebab, kemauan lelaki itu memang tidak bisa dibantah. Bahkan dengan kedua orang tuanya sendiri pun sangat sulit. Alhasil, ia sebagai sepupu sekaligus teman akrab Li Xian pun hanya bisa mendukungnya saja.
“Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Liu Bai sembari membuka pintu mobil miliknya, lalu masuk ke dalam.
Namun, Li Xian yang masih berada di luar pun menghampiri mobil teman akrabnya, lalu mengetuk jendela kaca mobil dengan pelan.
“Apa lagi?” tanya Liu Bai membuka kaca mobilnya, lalu menatap Li Xian dengan alis bertaut.
“Terima kasih,” jawab Li Xian kegirangan, lalu berlari kecil ke arah mobil miliknya sendiri. Meninggalkan Liu Bai yang masih tercengang akan tindakan lelaki itu, tetapi tidak sampai lama lelaki itu terlihat ikut tersenyum menatap sepupunya yang sudah kembali seperti biasa.
Setelah itu, Liu Bai kembali menutup jendela kaca mobilnya, lalu membunyikan klakson singkat pada Li Xian yang masih belum beranjak. Kemudian, menancapkan gas mobil kembali membelah jalanan lenggang tersebut menuju apartemen pribadinya yang tidak jauh dari sana.
Sementara itu, Li Xian nampak sedang tidak ingin kembali ke apartemennya sendiri, lalu lelaki itu pun terlihat memutar balik mobilnya menuju menara The Bund cocok sekali dengan suasana yang hampir malam ini untuk datang ke sana sekaligus menghampiri Jalan Nanjing.
Jalan Nanjing adalah sebuah maskot Pusat Perbelanjaan di Kota Shanghai. Belum pernah mengunjungi tempat ini berarti belum pernah datang ke China. Karena tempat ini memang wajib dikunjungi setelah datang ke Menara The Bund. Selain tempatnya yang cantik, semua yang ada di sini sangatlah murah dan serba ada.
Biasanya, Li Xian memang tidak pernah datang ke sini. Bahkan bersama dengan Liu Bai. Sebab, lelaki itu hanya tidak ingin diganggu oleh siapapun ketika datang ke sini. Dan ini, pertama kalinya Li Xian datang lagi setelah dirinya menempuh pendidikan di luar negeri. Tentu saja setelah lelaki itu sukses masuk di perusahaan N&N. Meskipun ditentang keras oleh papahnya sendiri, tetapi tidak membuat lelaki itu mengurungkan niatnya. Karena masih ada sang mamah yang selalu mendukung dirinya sampai kapan pun.
Setelah menemukan tempat memarkirkan mobilnya, Li Xian pun turun. Lelaki itu masih memakai jas lengkap dengan dasinya yang rapi, membuat sebagian pengunjung di sana langsung terpaku pada lelaki itu. Karena selain pakaiannya yang mencolok, wajah Li Xian memang di atas rata-rata ketampanan manusia. Bagaikan titisan Dewa Yunani Kuno. Tampan tanpa cela.
Dengan santai Li Xian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan, lalu mulai melangkahkan kaki menuju pagar pembatas Sungai Huangpu yang masih sama seperti terakhir kali dirinya lihat. Hanya saja di sini banyak yang berbeda, terutama The Bund yang semakin cantik ketika waktu malam tiba.
Sesosok lelaki tampak mendekati Li Xian yang masih menikmati keindahan Sungai Huangpu. Lelaki itu tampak mengenakan kaus berwarna hitam dengan celana yang berwarna senada. Menghampiri Li Xian yang terlihat sangat fokus dengan objek penglihatannya.
“Tuan Muda Li, sedang apa kau di sini?” tanya lelaki itu setengah menggoda kepada Li Xian yang terlihat tidak suka dengan sebutan untuk dirinya.
“Tentu saja datang menemuimu yang tiba-tiba memberiku undangan,” jawab Li Xian menatap Han Siyang sinis.
Namun, lelaki yang mendengar nada setengah menyindir itu pun hanya tertawa pelan, lalu merangkul tubuh Li Xian sembari menikmati angin yang mulai menyapu wajah kedua lelaki tampan itu.
“Sebenarnya, ini bukan tiba-tiba, Xiao Xian. Aku memang sudah berencana untuk bertunangan dari dulu,” ucap Han Siyang tersenyum tulus.
“Dan acara itu tepat sekali ketika aku di sini? Memang akal bulus kau itu tidak pernah berubah, Lao Han. Aku sudah hafal sekali,” balas Li Xian tertawa pelan.
Sejujurnya, Li Xian sendiri masih tidak percaya dengan lelaki yang ada di sampingnya ini akan segera menikah. Apalagi ia dan Han Siyang baru saja bertemu sewaktu dirinya dihukum menjalankan bisnis selama enam bulan. Tentu saja diwaktu sesingkat itu keduanya mampu membuat hubungan yang cukup erat sampai Li Xian harus kembali menempuh pendidikannya.
“Kalau begitu, kenapa kita tidak berpesta lajang malam ini? Aku akan mentraktir minuman sampai mabuk!” seru Han Siyang dengan semangat membuat Li Xian langsung memutar bola matanya malas.
“Sampai mabuk? Tidak salah? Kemarin aku yang menggendongmu pulang hanya dengan menghabiskan tiga sloki minuman,” balas Li Xian kesal. Ia masih ingat kala itu kejadiannya saat ia hendak berangkat ke Ma.
“Aiya, kau masih ingat saja dengan kejadian itu. Sebenarnya, aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku, Xiao Li,” sesal Han Siyang yang wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, membuat Li Xian hanya mendengus kesal, lalu mau tak mau menuruti permintaan lelaki itu.
“Ayo, nanti aku berubah pikiran,” ajak Li Xian membuat Han Siyang yang masih berada di belakangnya melompat kegirangan, dan langsung merangkul pundak lelaki itu menuju salah satu kedai makanan yang ada di sana.