17. Big Baby

1178 Words
Rasa penat, lelah, dan kaku sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Xiao Na. Apalagi ia baru saja melepaskan diri dari kedua kakaknya yang mengajak dirinya ke sana kemari tanpa lelah. Padahal malam ini ia harus menghabiskan diri untuk beristirahat agar besok wajahnya tidak terlalu lelah. Sebab, ia sendiri terlalu benci kalau harus memakai make up tebal hanya untuk menyembunyikan wajah lelahnya. Setelah menekan kata sandi tepat di depan pintu apartemennya, Xiao Na langsung melempar high heels ke sembarang arah, lalu meletakan tas tangannya di gantungan mantel yang berada tepat di dekat rak sepatu miliknya. Kemudian, wanita itu terlihat melangkah tanpa menggunakan alas kaki menuju lemari pendingin. Namun, matanya menangkap tidak ada satu pun makanan yang tersisa, membuat Xiao Na meraih dus s**u cair yang tinggal setengah, lalu menuangkannnya ke dalam gelas. Tak lupa ia menyalakan microwave untuk memanaskan s**u tersebut. Sembari menunggu, Xiao Na menyalakan televisi mengisi kekosongan apartemen miliknya. Tak lama kemudian, microwave tersebut berdenting pelan, membuat Xiao Na bangkit dan meminumnya hingga tandas tak tersisa. Entah kenapa malam ini tubuhnya terasa sangat lelah. Mungkin karena dirinya sudah melakukan perjalanan ke bandara sebanyak dua kali, dan sama sekali belum mengistirahatkan tubuhnya. Setelah itu, Xiao Na melenggang ke arah kamarnya untuk membersihkan diri. Karena malam ini ia akan langsung tidur tanpa berniat untuk mengerjakan pekerjaan yang ujung-ujungnya akan membuat dirinya begadang lagi. Sementara itu, di sisi lain, terlihat dua orang lelaki tampan tengah mabuk berat di sebuah kedai sederhana dengan menghabiskan tiga botol minuman. Tentu saja hal tersebut membuat sang pemilik kedai kebingungan, karena hari semakin malam, dan kedua lelaki itu sama sekali belum beranjak. “Tuan, ini sudah larut malam,” ucap lelaki tua lengkap dengan celemek lusuhnya sembari menggoyangkan pundak Li Xian yang merebahkan kepalanya di atas lipatan tangan, sedangkan Han Siyang benar-benar tidak sadarkan diri. Li Xian terlihat menegakkan tubuhnya sembari menatap lelaki tua itu tertawa pelan. Matanya terlihat sayu dengan bibirnya yang terus bergumam tidak jelas. “Tuan, bisakah menelpon kerabat untuk membawamu dari sini? Aku lihat kau sangat mabuk,” ucap lelaki tua itu lagi menatap Li Xian prihatin. Karena ia pikir lelaki yang berada di sampingnya akan tetap tersadar, tidak seperti ini. “Hah ... aku ... tidak mabuk. Ayo, kita pulang, Lao Han!” ajak Li Xian sembari berusaha bangkit, meskipun sangat susah payah dengan berkali-kali kembali menjatuhkan diri di kursi. Untung saja lelaki itu tidak sampai terjerembab di meja. Sedangkan Han Siyang yang mendengar namanya dipanggil pun terlihat mengangkat kepalanya, meskipun setengah terpejam, lalu menoleh ke arah Li Xian yang terlihat kembali merebahkan kepalanya. “Aiya, kenapa dua pemuda ini,” keluh lelaki tua itu, lalu menatap meja yang terlihat ada sebuah ponsel di sana. Tanpa pikir panjang, lelaki itu langsung mengubungi nomor telepon yang berada di panggilan terakhir Li Xian. Tentu saja langsung mengarah pada Liu Bai. Sebab, terakhir kali lelaki itu menghubungi sepupunya untuk mengambil mobil. Tak lama kemudian, telepon pun terhubung. Karena kebetulan sekali Liu Bai tengah menikmati ramen yang ia makan di balkon kamar sembari menikmati angin malam. “Kenapa lagi, Xiao Li?” tanya Liu Bai dengan nada kesal sekaligus lelah. Namun, lelaki tua yang tengah memegang ponsel milik Li Xian pun langsung menjawab, “Maaf, ini bukan Xiao Li. Dia sedang mabuk berat di kedai Jalan Nanjing.” Mendengar suara lelaki tua yang memegang ponsel milik sepupunya itu pun Liu Bai langsung bangkit dari tempat duduknya, kemudian meraih mantel dan kunci mobil yang berada di gantungan. “Baiklah. Terima kasih, Paman. Maaf sudah merepotkanmu,” sesal Liu Bai tidak enak hati. Bahkan ia hampir tidak percaya mendengar bahwa Li Xian mabuk. Padahal selama ini lelaki itu tidak pernah mabuk berapa botol pun yang dikonsumsi. Namun, kejadian malam ini cukup mengejutkan Liu Bai, dan tanpa pikir panjang lelaki itu langsung menancapkan gas mobil Lamborghini mewah miliknya yang berwarna merah. Karena malam ini cukup lenggang ia dapat membelah jalanan tidak sampai lama, dan sudah berada tepat di belakang mobil berwarna putih yang dirinya yakini itu adalah milik Li Xian. Kemudian, lelaki itu terlihat turun dari mobil menuju lokasi yang disebutkan oleh Paman yang berada di telepon tadi. Tentu saja ia sudah sangat hafal dengan tempat ini sehingga tidak harus bersusah payah mencarinya. Sesampainya di sana, Liu Bai yang menangkap seorang lelaki berjas mahal itu pun langsung berlari menghampirinya, lalu mengernyit tidak percaya menatap Li Xian benar-benar mabuk. Bahkan sampai seperti orang gila yang tersenyum-senyum sendiri. Namun, matanya tidak sampai di situ saja, ia lebih tidak percaya lagi melihat Han Siyang ada di sana juga. Akan tetapi, karena lelaki itu tidak ingin membuang waktu, Liu Bai pun membawa Li Xian yang masih setengah tersadar untuk bangkit dari tempat duduknya. Kemudian, memapah tubuh Han Siyang yang sudah mabuk berat. Meskipun kesusahan tidak membuat Liu Bai menjatuhkan kedua lelaki itu di tengah jalan, karena tempat ini masih sangat ramai, dan ia tidak ingin dikatakan sebagai seorang manusia yang tidak mempunyai hati memperlakukan kedua temannya dengan jahat. Sesampainya di parkiran, Liu Bai langsung merebahkan tubuh Han Siyang di jok belakang, sedangkan Li Xian ia sandarkan pada jok co-supir. Sebab, ia berniat untuk membelikan air mineral agar kedua lelaki itu tidak terus bergumam tidak sadar. “Aiya, kalian semua itu gila, ya!? Sudah tahu tidak bisa mabuk berat, masih saja memaksakan diri untuk minum sampai empat botol,” omel Liu Bai sembari memberikan minum kepada Li Xian. “Hah ... aku tidak mabuk!” balas Li Xian mengernyitkan keningnya tidak suka, tetapi tidak dengan matanya yang masih terpejam seakan lelaki itu tengah tertidur. “Iya-iya, terserah,” putus Liu Bai acuh tak acuh, lalu membenarkan letak tidur Han Siyang. Lelaki itu terlihat benar-benar tertidur, membuat dirinya hanya bisa menghela napas pasrah sudah menjadi wali bagi kedua lelaki dewasa ini. Akhirnya, Liu Bai pun menjalakan mobil membelah jalanan kembali. Kali ini tujuannya mengarah pada rumah pribadi milik keluarga Li Xian yang letaknya tidak jauh dari Menara The Bund. Tentu saja ia tidak ingin mengambil resiko membawa kedua lelaki yang tidak sadarkan diri ke apartemennya. Tak lama kemudian, mereka bertiga pun sampai di sana. Perumahan mewah yang terletak di Jantung Kota Shanghai itu tampak sepi, membuat Liu Bai menghentikan mobilnya tepat di depan salah satu rumah yang ada di sana. Lalu, lelaki itu langsung membuka pintu gerbang sembari memapah tubuh Li Xian yang terlihat sesekali limbung. “Xiao Li, kau diam di sini, ya? Jangan pergi kemana pun,” titah Liu Bai menempatkan Li Xian di sofa ruang tengah. Li Xian hanya mengangguk pelan sembari bergumam tidak jelas, membuat Liu Bai kembali menghela napas pelan, lalu melenggang pergi dari sana. Ia melihat Han Siyang masih tidak sadarkan diri, sepertinya lelaki itu benar-benar tidak mampu minum, tetapi yang membuat dirinya tidak habis pikir adalah kalau tidak kuat kenapa harus minum. Padahal masih banyak minuman yang tidak membuat mabuk. Setelah itu, Liu Bai meletakan Han Siyang tepat di samping Li Xian yang terlihat meringkuk di atas sofa sembari berdengkur halus. Sepertinya lelaki itu mengenali rumahnya sendiri sehingga langsung tertidur. “Rasanya, aku seperti seorang baby sitter yang mengurus dua bayi besar,” gumam Liu Bai menghela napas pelan sembari menatap kedua lelaki tampan di depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD