Keesokan paginya, burung pun berkicau membangunkan insan yang ada. Langit cerah dengan silau matahari meringsek masuk ke dalam rumah minimalis yang kini ditinggali tiga orang lelaki tampan masih terlelap dalam tidurnya. Padahal alarm dari ponsel masing-masing lelaki itu tampak berbunyi secara bergantian dengan yang paling awal adalah milik Li Xian.
Sayangnya, lelaki itu masih terlelap sama sekali tidak terusik dengan suara atau pun gerakan dari teman sampingnya yang beberapa kali bergerak ke sana kemari. Bahkan Liu Bai yang biasa bangun pagi pun masih terlelap nyenyak di samping Han Siyang. Sepertinya, ketika lelaki itu tidak akan bangun sampai tengah hari.
Namun, sepertinya semua itu tidak lagi berlaku setelah salah seorang dari ketiga lelaki itu terbangun sembari meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian, menyalakannya untuk melihat pukul berapa ia terbangun. Akan tetapi, gerakan selanjutkan langsung melompat begitu saja ketika melihat pukul 08.00 AM benar-benar terpampang jelas.
Sontak Li Xian bangkit dari sofa, lalu menatap sekitarnya yang terlihat dua orang lelaki. Lelaki itu berusaha mengingat apa yang terjadi semalam, tetapi rasanya sulit. Bahkan ia merasa kalau pagi ini tubuhnya sangat pengar.
“Liu Bai, bangun! Han Siyang!” panggil Li Xian sembari menggoyang-goyang kedua lelaki itu hingga terbangun.
Dan benar saja, Liu Bai langsung terduduk setelah mendengar panggilan dari Li Xian. Lelaki itu terlihat masih belum sepenuhnya sadar, membuat Li Xian bangkit. Lelaki itu hendak membersihkan diri, meskipun rasa pengarnya belum hilang. Sepertinya ia harus membeli obat pengar sebelum ke kantor.
Sementara itu, Liu Bai yang sudah sedikit sadar dari tidurnya pun langsung menggoyangkan tubuh Han Siyang. Lelaki itu terlihat masih pulas. Padahal sudah dua lelaki yang berusaha membangunkan, tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda dari lelaki itu akan terbangun.
“Han Siyang!!! Kau ingin di pecat, hah!?” bentak Liu Bai dengan lantang sekaligus kesal, membuat Han Siyang yang tertidur pulas itu pun terjengit terkejut, dan langsung mendudukkan diri sembari menatap Liu Bai dengan alis bertaut kesal.
“Kenapa, Liu Bai? Aku masih mengantuk,” keluh Han Siyang hendak merebahkan tubuhnya kembali, tetapi tidak jadi. Sebab, tangan Liu Bai langsung menghalanginya.
“Ini sudah siang. Kau tidak ingin bekerja?” sinis Li Bai bangkit dari sofa, lalu menyusul Li Xian yang terlihat lebih segar. Sepertinya lelaki itu menyempatkan diri untuk mandi.
“Tadi suara siapa itu?” tanya Li Xian yang baru saja datang sembari menyisir jambulnya menggunakan jari ke belakang. “Mengejutkanku saja.”
Liu Bai yang melintas melewati Li Xian pun menjawab, “My voice.”
“Aku tidak percaya kau bisa berteriak seperti itu, Xiao Bai,” ejek Li Xian tertawa pelan, lalu menghampiri Han Siyang yang masih terduduk berusaha meredakan rasa pengarnya.
Namun, Liu Bai terlihat tidak memedulikan ejekan tersebut. Ia pun langsung masuk ke dalam kamar yang berlainan dengan Li Xian masuki tadi. Sebab, ia memang sering datang ke sini sehingga mempunyai kamar tersendiri, meskipun bisa dikatakan jarang.
Sementara itu, Li Xian merasa prihatin melihat Han Siyang yang sepertinya sangat tersiksa. Apalagi lelaki itu memejamkan matanya sembari menyandarkan tubuh di sandaran sofa.
“Mandi dulu, Lao Han. Nanti baru kita ke minimarket beli kopi dan obat pengar. Aku juga merasa sangat mual dari tadi,” ucap Li Xian membuat Han Siyang mengangguk pelan.
“Aku pikir kita berdua akan menjadi gelandangan semalam, tapi untung saja ada Xiao Bai yang datang menjemput kita,” celoteh Han Siyang sembari tertawa pelan menatap Li Xian.
“Sepertinya, yang punya kedai menelepon Liu Bai untuk datang,” balas Li Xian ikut menyandarkan tubuh sembari menatap ponselnya yang sudah ramai tentang pembahasan rapat kemarin.
“Aku juga berpikir seperti itu,” timpal Han Siyang sembari bangkit menjauhi lelaki itu untuk segara mandi, dan mengobati rasa pengarnya.
Rumah bergaya minimalis dengan warna cokelat muda dengan dipadukan cokelat tua itu pun tampak sangat ramai. Walaupun yang mengisi hanya ada tiga orang lelaki muda. Akan tetapi, terlihat ramai sekali dari luar, bahkan beberapa ibu-ibu rumah tangga yang kebetulan melintas pun menyempatkan diri untuk melihatnya.
Suara gaduh tersebut berasal dari Han Siyang yang menjatuhkan beberapa pelaratan rumah tangga milik Li Xian. Karena lelaki itu terlihat sibuk mencari panci untuk merebus air. Namun, sejak tadi ia sama sekali tidak melihatnya, dan sang pemilik rumah pun terlihat tidak peduli, membuat Han Siyang mau tak mau harus mencarinya sendiri.
“Aiya, Han Siyang, sedang apa kau ini?” tanya Liu Bai histeris melihat Han Siyang benar-benar ingin menghancurkan rumah ini. Sebab, beberapa pelaratan rumah tangga terlihat berserakan di bawah, sedangkan lelaki itu sendiri malah terlihat mengacak-acak lemari makanan cadangan milik Li Xian.
“Aku sedang mencari teko atau panci untuk merebus air,” jawab Han Siyang kesal. “Tapi, semua ini tidak ada yang bernama panci ataupun teko.”
Liu Bai menghela napas kasar, lalu memunguti satu per satu pelaratan rumah tangga itu, dan meletakkannya kembali. Kemudian, lelaki itu terlihat menghampiri salah satu lemari yang terletak di dekat lemari pendingin di rumah itu, lalu menyerahkan teko berwarna hitam pada Han Siyang.
“Ini yang kau cari?” tanya Liu Bai.
Han Siyang menghentikan kegiatan mencarinya, lalu membalikkan tubuhnya sembari menjawab, “Iya benar. Sejak tadi aku mencarinya tidak bertemu juga. Terima kasih.”
Liu Bai menghela napas pelan, dan melenggang pergi dari sana. Untung saja ia datang untuk menghentikan kehancuran di rumah ini. Kalau tidak, bisa-bisa Li Xian akan mengamuk melihat rumah pribadinya dihancurkan oleh Han Siyang.
Di depan rumah, terlihat Li Xian sibuk menyirami taman kecilnya yang berada di sudut pagar. Entah kenapa lelaki itu sampai tidak menyadari sudah menjadi pusat perhatian bagi beberapa ibu-ibu yang kebetulan melintas untuk ke minimarket. Dan kedatangan Liu Bai pun langsung mengejutkan mereka semua, lalu terlihat ibu-ibu itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Sedangkan Liu Bai yang baru saja datang hanya menaikkan alis kanannya, lalu menoleh ke arah Li Xian. “Xiao Li, kau sedang apa?”
“Ah, aku sedang menyiram tanaman. Memangnya kenapa?” tanya Li Xian meletakkan semua perkakas kebunnya, lalu menghampiri Liu Bai.
“Masuklah. Han Siyang membuat kopi. Kau harus segera minum agar tidak terlambat,” jawab Liu Bai sembari melenggang masuk ke dalam, lalu diikuti Li Xian di belakangnya.