19. It's Been a Tough Day

1116 Words
Mungkin bagi sebagian orang pesta merupakan hal yang sangat menyenangkan. Bisa pergi bersama sang kekasih, berkumpul dengan banyak orang, membicarakan banyak hal, dan menikmati semua hidangan yang ada. Bahkan tidak sedikit dari mereka sangat antuasias untuk datang ke cara seperti itu. Akan tetapi, semuanya seakan tidak berlaku bagi Zhang Xiao Na. Seorang wanita cantik yang kini tengah berada di rooftop kantor miliknya. Menikmati angin yang terus berembus sembari menengadahkan kepalanya dengan memejamkan mata. Rambut indahnya yang terpotong pendek pun tampak berayun-ayun lembut, karena hari ini ia sengaja tidak menguncir rambutnya. Sehingga rambut sebahu itu tampak tergerak indah dengan bagian ujungnya yang sedikit curly. Memang setelah sampai di kantor, Xiao Na langsung memutuskan untuk ke sana. Padahal tanpa sepengetahuan wanita itu, tepat di ruangannya terdapat Yushi yang sibuk memilah berkas untuk keputusan rapat kemarin. Sebab, wanita itu telah memutuskan dengan aplikasi yang tengah digarap ini untuk segera muncul di pasaran. Terlihat pintu ruangan Zhang Xiao Na tergerak pelan, membuat Yushi langsung mengangkat kepalanya, tetapi lagi-lagi ia harus menghela napas kasar. Sebab, bos cantiknya belum juga tiba di ruangan. Padahal saat di parkiran tadi dirinya jelas-jelas melihat sudah ada mobil mewah berwarna putih milik wanita itu. “Yushi jie, apakah kamu sedang menunggu seseorang?” tanya Tong Xin meletakkan beberapa map di meja milik Zhang Xiao Na yang belum berpenghuni. “Iya. Aku sedang menunggu, Presdir Zhang. Sejak tadi aku di sini dia belum juga kelihatan,” jawab Yushi mendengus kesal, membuat kening Tong Xin terlihat berkerut. “Sepertinya tadi aku melihat Presdir Zhang yang berjalan ke arah ruang alat.” Tong Xin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Tapi, aku juga belum pasti. Karena tadi aku hanya melihatnya sekilas saat pergi ke Departemen Teknologi untuk menemui Direktur Li.” Yushi menghentikan kegiatannya, lalu menatap gadis mungil yang ada di hadapannya serius. “Yakin kamu melihatnya di sana? Kalau begitu, aku akan segera ke sana. Sebab, banyak sekali yang harus dikerjakan Presdir Zhang.” “Kamu coba saja ke sana, Yushi jie. Karena aku harus ke Departemen Pemasaran untuk mengonfirmasi tentang aplikasi ini,” kata Tong Xin sembari menunjukkan beberapa map lagi di pelukannya. Tanpa pikir panjang, Yushi pun bangkit sembari merapikan rok selututnya yang terasa menaik, kemudian melangkah keluar bersama Tong Xin. Keduanya terlihat keluar bersamaan dengan Zhang Xiao Na membuka pintu. “Yushi, Ton Xin, sedang apa kalian berdua di sini?” tanya Xiao Na kebingungan. Yushi hanya menatap Zhang Xiao Na datar. Sebab, sudah ditunggu-tunggu tidak muncul. Kini giliran ingin menghampiri malah muncul. Entah kenapa ia begitu kesal pada takdir yang sudah mempermainkannya. Padahal situasi yang begitu penting ini harus segera diselesaikan. “Presdir Zhang!” sapa Tong Xin membungkukkan tubuhnya hormal, lalu kembali berkata, “Yushi jie, sejak tadi mencarimu.” Zhang Xiao Na melirik ke arah meja kerjanya yang tampak banyak sekali map di sana, tetapi bukan hanya itu saja. Perhatian wanita itu langsung mengarah pada sudut ruangan yang terdapat beberapa sofa kecil untuk tamu, di atas meja kecil itu tampak banyak sekali kertas dan map yang berserakan, membuatnya terlihat seperti kapal pecah. “Hm ... oke, aku tahu,” balas Xiao Na melenggang masuk ke dalam, tetapi baru beberapa langkah, wanita itu kembali terhenti dan membalikkan tubuhnya. “Yushi, tolong carikan gaun untukku pergi ke pesta pertunangan nanti malam.” Sontak Yushi yang awalnya kesal pun mendadak penasaran, lalu berlari kecil ke arah Xiao Na yang terlihat bingung. “Predir Zhang, apa kali ini kamu akan dijodohkan?” Xiao Na menggeleng cepat sembari menatap Yushi yang terlihat seperti karyawan tukang gosip. Memang sedikit aneh dirinya meminta disiapkan sebuah gaun. Padahal selama ini Xiao Na memakai gaun karena wanita itu memang menginginkannya. Karena mengingat dirinya sudah berposisi paling penting di perusahaan. “Aku hanya ingin datang ke pesta pertunangan Han Siyang,” jawab Xiao Na. “Oh, Han Siyang yang waktu itu pernah datang ke sini. Bukankah dia teman tim Presdir Zhang?” Yushi terlihat tidak percaya. “Memang. Aku juga tidak tahu tunangannya akan dilaksanakan sebesar ini. Karena mengingat Han Siyang bukanlah seorang businessman.” “Kalau begitu, akan aku siapkan!” Setelah itu, Yushi pun berlari kecil ke luar, membuat Xiao Na hendak berkata pun langsung mengurungkan niatnya. Kemudian, menatap jam dinding di ruangan sembari menghela napas pelan. Tidak terasa dirinya telah berdiam diri di rooftop selama tiga jam penuh. Padahal tadi ia hanya berniat untuk menenangkan benaknya yang sempat kacau, tetapi tidak ada yang menyangkan kalau kepergiannya ini tampak menyusahkan orang, termasuk Yushi. Sebenarnya, ia merasa kasihan pada Yushi yang setiap kali dirinya pergi selalu saja merepotkan wanita itu. Tentu saja Xiao Na sendiri sudah menganggap Yushi sebagai temannya. Akan tetapi, untuk bersikap layaknya seorang teman tidak bisa ia lakukan, karena sudah lama sekali dirinya tidak merasakan kasih sayang dari teman. Dan hal tersebut memang sangat menyusahkan. Apalagi kalau sampai dirinya kembali terbiasa dengan seorang teman, bisa-bisa kejadian lalu akan terulang lagi. Ia tentu belum siap kalau harus mengulang kejadian yang sama. Sebab, yang lalu saja masih membekas, dan tidak akan kembali dengan hal sama. Maka dari itu, Xiao Na sangat berhati-hati sekali dengan memperlakukan para karyawannya, kecuali dengan Tong Xin. “Presdir Zhang, kamu kemana saja? Aku melihat Yushi jie sendirian di sini, lalu mengeluh kepadaku saat tidak menemukanmu,” tanya Tong Xin selepas kepergian Yushi yang sedang mengambil gaun untuk Xiao Na pakai nanti malam. “Tadi aku berada di rooftop,” jawab Xiao Na singkat, lalu mendudukkan diri di sofa sembari melihat berkas yang ada di meja. “Memangnya Yushi kenapa sampai harus mencariku?” “Entahlah. Aku juga baru datang ke sini.” Tong Xin mengangkat bahunya tidak tahu. “Oh ya, Xiao Na jie, aku punya beberapa berkas untuk kamu tanda tangani di meja. Karena sore ini aku harus memberikannya pada Direktur Li.” “Baik. Aku tahu,” putus Xiao Na mulai membaca satu per satu map yang ada di sana, sedangkan Tong Xin pun melenggang pergi membiarkan bos cantiknya itu menyibukkan diri. Sementara dirinya harus kembali ke Departemen Pemasaran, seperti yang sejak tadi ia niatkan. Akan tetapi, terurung dengan kedatangan bos cantiknya secara tiba-tiba tadi. Kini tinggallah Xiao Na seorang diri di dalam ruangan, membuat suasana sangat sepi. Padahal ia berharap kalau ruangannya akan ramai. Karena dengan begitu dirinya akan segera melupakan semua masalahnya. Akan tetapi, mau tidak mau ia memang harus sepi seperti ini. kalau tidak, semua tidak akan berjalan dengan sempurna. Tidak terasa wanita itu telah berkutat dengan semua pekerjaan. Bahkan satu per satu dari map tersebut sudah ia periksa dan teliti dengan baik, termasuk menandatanganinya. Rasa pegal mulai menyerang pundaknya, membuat Xiao Na menyandarikan tubuhnya di sandaran kursi kebesaran miliknya sembari memejamkan mata. Rasanya semua beban yang tadi tersarang di pundaknya mulai menghilang dan terasa lebih ringan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD