8. Come Back

1042 Words
Li Xian pikir, ia tidak akan pernah bisa masuk ke dalam perusahaan ini. Akan tetapi, semua perkiraan itu salah. Ia pun sudah mengabari Liu Bai tentang dirinya yang sudah menjadi karyawan tetap di N&N. Sebuah perusahaan besar di bawah naungan seorang wanita cantik. Kini lelaki berparas tampan itu sudah berada di ruangannya setelah beberapa saat memperkenalkan diri pada rekan kerja yang ia tahu banyak sekali dari mereka tidak menyukai dirinya. Namun, itu semua tidak membuat Li Xian pusing, sebab ia sering kali mendapatkan orang-orang seperti itu selama dirinya magang. Saat Li Xian duduk, tiba-tiba seorang karyawan teknisi datang menghampiri dirinya. Kebetulan sekali ruangan itu belum ditutup, pantas saja mereka langsung masuk tanpa salam terlebih dahulu. “Direktur Li, bisakah kau datang ke ruang alat dulu. Di sana ada beberapa orang Departemen Teknologi yang belum mengetahui kedatanganmu,” ucap karyawan teknisi itu. “Baiklah. Mari antarkan aku ke sana,” balas Li Xian bangkit dari tempat duduknya. Sedangkan di sisi lain, Yushi tengah berbincang cukup serius dengan Zhang Xiao Na. Tentu saja perihal Li Xian yang baru saja gabung di perusahaan. Mereka berdua telihat serius dengan beberapa berkas di tangan. “Yushi, tolong beritahu Zarco untuk latihan lagi besok,” ucap Zhang Xiao Na tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas. “Baik, Presdir Zhang,” balas Yushi sembari mengetikkan sesuatu di ponselnya. “Setelah ini aku tidak ada jadwal lagi, ‘kan?” tanya Zhang Xiao Na, kali ini ia menatap Yushi yang masih mengetik di ponsel milik sekretarisnya itu. “Tidak ada, Presdir Zhang. Memangnya kenapa?” Yushi mengernyit bingung tiba-tiba bosnya menanyakan agenda hari ini yang cukup luang. “Aku perlu bertarung dengan Rubah Tua itu lagi. Jadi, kau kuberi libur setengah hari.” “Terima kasih, Presdir Zhang.” Yushi tersenyum senang. Sudah lama ia tidak mendapatkan libur seperti ini. Tak lama kemudian, semua berkas pun selesai ditandatangani, membuat Yushi merenggangkan tubuhnya dan Xiao Na yang bersandar sembari memejamkan mata. Keduanya tampak begitu lelah dengan segelas kopi yang sudah tandas sedari tadi. Sebuah ketukan terdengar dari pintu ruangan Xiao Na, membuat keduanya menoleh bingung. Lalu, tak urung membuat Yushi bersuara mempersilakan masuk. Dan ternyata, itu adakah Tong Xin. “Presdir Zhang! Sekretaris Gao!” sapa Tong Xin membungkukkan tubuhnya singkat melihat mereka berdua. “Ada apa, Tong Xin?” tanya Yushi mewakilkan Xiao Na. “Aku ingin mengambil kontrak kerja yang telah selesai ditandatangani,” jawab Tong Xin. “Oh, ini! Kebetulan sudah selesai. Jadi, kamu tinggal input ke arsip perusahaan.” Yushi menyerahkan setumpukkan berkas pada Tong Xin yang masih berdiri tidak jauh dari mereka. “Baiklah, Sekretaris Gao. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Yushi mengangguk singkat, lalu menatap Xiao Na yang mulai bangkit dari sofa. “Sudah mau pergi, Presdir Zhang?” tanya Yushi membereskan alat tulis yang digunakan untuk kembali ke tempatnya semula. Zhang Xiao Na mengangguk singkat sembari mengenakan mantel hitamnya, lalu mulai merapikan ikatan rambutnya yang mengendur di depan cermin besar. “Hati-hati di jalan, Presdir Zhang,” ucap Yushi tulus sembari membungkukkan tubuhnya singkat, dan melenggang pergi meninggalkan Zhang Xiao Na. Sebenarnya, Xiao Na malas sekali kalau harus kembali ke rumah itu. Walaupun di sana nanti ada kakak iparnya, tetapi tetap saja kalau ada kedua orang tuanya itu membuat Xiao Na semakin tidak betah. Apalagi yang mereka bicarakan selalu yang namanya pernikahan. Seakan-akan di dunia ini hanya ada itu. Lagi. Padahal kalau dipikir lebih jelas, untuk apa ia menikah. Sedangkan dirinya saja sudah bisa menghasilkan banyak uang, hidup mewah tanpa pasangan pun sudah membuat dirinya bahagia. Akan tetapi, tuntutan itu selalu menghantui dirinya. Perjalanan dari Shanghai ke Beijing cukup memakan waktu lama. Hal tersebut yang membuat Xiao Na malas untuk kembali. Selain itu, dirinya terpaksa harus menyetir seorang diri, sebab supir pribadinya tiba-tiba memiliki urusan mendadak. Berkendara malam hari memang cukup membahayakan, terlebih untuk Zhang Xiao Na yang nyatanya adalah seorang wanita. Akan tetapi, kalau menggunakan transportasi umum ia akan menunggu lebih lama lagi. Karena ini sudah lewat dari jam pesanannya. Shanghai merupakan kota terpadat di China, sehingga keadaan malam hari pun cukup ramai. Lain halnya ketika Xiao Na sampai di Beijing yang dini hari. Sama sekali tidak ada kendaraan yang melintas di jalanan, membuat Xiao Na dengan leluasa menyetir sembari memakan cemilan yang sempat ia beli di salah satu minimarket 24 jam. Sebuah rumah mewah bertingkat empat lantai itu tampak berdiri kokoh menyambut kedatangan dirinya. Gerbang berwarna hitam menjulang tinggi yang biasanya tertutup, kini terbuka lebar-lebar, seakan mempersilakan dirinya masuk tanpa kendala. Hamparan rumput luas itu masih sama seperti ketika Xiao Na meninggalkan rumah. Setelah tiga tahun lamanya ia menyendiri di Shanghai tanpa berniat untuk pulang, walaupun kedua orang tuanya selalu memaksa untuk pulang. Terlihat maid berjejeran rapi di pintu utama. Mereka berpakaian seragam formal berwarna hitam putih sembari menunduk tanpa berani mengangkat kepalanya sama sekali. Membuat Xiao Na yang masih berada di dalam mobil menghela napas pelan. Sejujurnya, Xiao Na lebih memilih tinggal di rumah yang sederhana saja daripada kebanyakan orang seperti ini, membuat kepalanya sedikit pusing. Ia pun menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu bodyguard ayahnya. Tanpa menoleh, Xiao Na langsung melenggang masuk dengan wajah tanpa ekspresi. Mengabaikan semua sapaan dan panggilan untuk dirinya dari semua maid di dalam mansion. Akan tetapi, ia belum juga menemukan kedua orang tuanya dan kedua kakaknya yang sudah berada di mansion ini. Namun, Xiao Na tidak ingin ambil pusing. Ia lebih memilih untuk menemui mereka nanti, sebab pagi ini ia ingin tidur sejenak sebelum menghabiskan tenaga berdebat dengan kedua orang tuanya. Kamar Xiao Na terletak di lantai paling atas, termasuk balkon paling besar yang ada di mansion tersebut. Tentu saja lantai ini dikhususkan untuk Zhang Xiao Na tinggali. Bahkan kedua kakaknya itu pun jarang sekali mampir ke lantai ini. Salah satunya adalah malas menaiki tangga yang terlalu banyak. Xiao Na berjalan gontai ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat, sembari mencari kunci di dalam tas selempangnya. Karena tidak ada yang berani dengan dirinya, jadi kamar Xiao Na adalah kamar yang paling keramat kalau mereka bersihkan. Zhang Xiao Na pun bersiap membanting tubuhnya saat melepas high heels dan ia lempar ke sembarang arah, lalu meletakkan tas selempangnya di sofa kamar yang masih seperti dulu. Nyenyak. Itulah yang Xiao Na rasakan saat ia merebahkan tubuhnya di kasur kesayangan. Kamar bernuansa cokelat hitam mendominasi milik Zhang Xiao Na.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD