9. Me and My Sister in Law

1118 Words
“Xiao Wei! Kemana Xiao Na? Sudah hampir siang dia belum datang juga.” Samar-samar Xiao Na mendengar perdebatan di depan kamarnya, membuat wanita berpakaian kaus kebesaran itu mengerjap pelan sembari perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Ia mulai membuka balkon, ternyata di bawah sudah ada papahnya yang sedang mengamati mobil-mobil kesayangannya. “Aku juga tidak tahu, Ma. Mungkin sebentar lagi.” Xiao Na mendengus pelan, dan membiarkan mereka berdua berdebat lebih lama di kamarnya. Ia sama sekali tidak berniat untuk keluar. Apakah mungkin orang tuanya sama sekali tidak melihat mobil asing terpakir di garasi mansion? Aneh sekali. Dengan cepat, Xiao Na membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan hoodie merah polos yang dipadukan dengan celana pendek selutut. Kemudian, ia mencepol rambutnya ke arah hingga beberapa anak rambut berjatuhan, memberi kesan manis pada wajahnya yang polos tanpa make up. Ia mulai menuruni tangga satu per satu sembari membaca email yang dikirimkan oleh Yushi. Sepertinya, wanita itu tidak lagi kesulitan hingga sampai saat ini ia belum mendengar keluhan apapun melalui telepon. Sedikit merasa lega. Setelah itu, Xiao Na pun melenggang ke arah dapur yang terlihat beberapa koki sedang berbincang pelan, dan ketika dirinya datang para koki itu langsung kembali berkutat dengan pekerjaan. “Omelet, sandwich sama s**u,” pinta Xiao Na dengan nada seperti tidak meminta. Tentu saja wajah datar tanpa ekspresi selalu terhiasi di wajah cantik itu. Setelah itu, Xiao Na langsung duduk di atas kursi bulat mini bar yang berputar sembari mengamati pergerakan setiap karyawan di kantor, termasuk karyawan baru yang bernama Li Xian. Lelaki itu terlihat serius membicarakan sebuah project bersama beberapa rekannya. “Silakan, Nona,” ucap koki tersebut memberikan senampan beriskan sarapan pagi yang seharusnya ia makan tadi, dan sekarang sudah hampir siang. Tanpa memedulikan koki-koki yang masih menyelesaikan pekerjaannya, Xiao Na mulai melahat omelet serta sandwich yang terasa nikmat di lidahnya. Sebab, selama ini ia hanya sarapan air mineral, lalu membeli sarapan cepat saji di restoran. “Wei ni hao! Zen me le, Yushi?” tanya Xiao Na menempelkan ponselnya ke telinga kanan sembari terus mengunyah sandwich yang tinggal setengah. “Tidak apa-apa, Presdir Zhang. Aku hanya mengkhawatirkan kau di sana. Oh ya, ternyata Li Xian itu lumayan cerdas. Tadi dia sempat mengajari Zarco pelatihan kecepatan tangan,” jawab Yushi bersemangat sembari mengaduk-aduk kopi miliknya di ruang istirahat. “Masalah DJ, bagaimana?” “Sudah lebih baik daripada kemarin, Presdir Zhang. Sekarang Tim N&N mulai lebih baik dengan adanya Li Xian. Aku jadi penasaran master ganda dia itu apa saja.” “Baguslah. Kalau sudah tidak ada lagi yang disampaikan. Aku tutup.” Zhang Xiao Na menutup ponselnya begitu saja, membuat Yushi di seberang sana mengerucutkan bibirnya kesal. Entah kenapa bosnya itu selalu serius walaupun sedang tidak bekerja. Sedangkan di sisi lain, Xiao Na bangkit dari mini bar sembari membawa nampan bekas sarapannya ke arah dapur, membuat koki yang ada di sana langsung bergegas menghampiri wanita itu dan mencegahnya untuk tidak mencuci piring. “Biar saya saja, Xiao Jie,” ucap koki tersebut sembari menghadang Xiao Na. “Hao. Xie xie,” balas Xiao Na menyerahkan nampan tersebut dan melenggang pergi sembari menggengam ponsel di tangannya. Kali ini Xiao Na hendak berkeliling taman kecilnya yang berada di pintu sayap Timur. Tidak jauh dari garasi tempat mobil-mobil koleksi orang tuanya berada. Di sana terlihat hanya ada beberapa maid dan supir yang duduk santai sembari berbincang ringan. Namun, Xiao Na mengernyit bingung saat tidak mendapati mobil kesayangannya ada di sana. Padahal ia jelas-jelas ingat kalau tadi mobil miliknya dibawa ke arah sini, dan terpakir tepat di depan pintu garasi mobil milik papahnya. Salah satu maid menyadari kedatangan Xiao Na pun menghampiri sembari bertanya, “Ada masalah, Xiao Jie?” “Mobilku dimana?” Xiao Na berbalik tanya pada maid tersebut. “Oh, mobil Mercedes berwarna putih tadi? Sudah dibawa untuk melakukan perawatan oleh Tuan Muda Zhang tadi,” jawab maid tersebut. Xiao Na mengangkat alis kanannya bingung. Kalau kakaknya sudah tahu mengapa menyembunyikannya dari kedua orang tua? Entahlah Xiao Na jadi pusing sendiri. Tanpa pikir panjang ia langsung bergegas kembali ke dalam mansion meninggalkan maid yang masih menatap dirinya bingung. Walaupun ia sendiri juga tidak mengerti. Akhirnya, ia memutuskan menghabiskan hari yang panjang ini untuk bersantai di dalam kamarnya sembari menikmati salah satu drama kesukaannya. Anggaplah hari ini adalah hari dirinya cuti sebelum melakukan perang nanti malam. Sebab, sudah dapat dipastikan bahwa orang tuanya itu akan memaksa dirinya kembali untuk ikut berkencan buta dengan banyak lelaki. Namun, angan-angan untuk duduk santai pun sirna kala telinganya mendengar seseorang mengetuk kamar miliknya pelan. Sepertinya tidak ada yang tahu kalau Xiao Na sudah bangun selain para maid. “Xiao Na, keluarlah! Aku tahu kau sudah bangun.” Suara tegas Xiao Wei terdengar membuat Xiao Na mendengus pelan, dan mau tak mau ia bangkit dari tempat tidurnya. Xiao Na membuka pintu kamarnya dan menatap Xiao Wei kesal. “Kenapa, Kak? Kau mengganggu hari tenangku saja.” “Turunlah ke bawah.” “Tidak. Aku tidak akan mau ikut berkencan lagi.” “Ini bukan kencan, Xiao Na. Tapi, Kakak Ipar meminta kau untuk menemaninya ke mal hari ini.” “Kenapa? Bukannya Kakak Ipar sedang tidak ingin apapun.” “Sudahlah, jangan kebanyakan bertanya.” Xiao Wei mendorong tubuh Xiao Na masuk ke dalam, sebab penampilan adiknya itu jauh dari kata seorang bos besar. Lihatlah, kaus kebesaran abu-abu tampan menenggelamkan hotpants miliknya, lalu sepasang sandal rumahan berbulu dengan bandana yang senada. “Baiklah. Aku akan turun lima menit lagi,” sinis Xiao Na sembari menutup pintu kamarnya keras. Sedangkan Xiao Wei hanya bisa mengelus dadanya pelan melihat tingkah adiknya yang semakin hari semakin menyebalkan. Walaupun begitu, Xiao Na adalah adik satu-satunya yang ia miliki, bahkan ia cukup bangga dengan pencapaian yang telah dihasilkan oleh adiknya. Masih belia sudah menghasilkan banyak uang. Xiao Na yang merasa hari liburnya pupus sudah pun mendengus kesal. Akan tetapi, tidak membuat wanita itu mengurungkan niat untuk berganti pakaian. Ia mulai membuka lemari pakaian yang ada di dalam kamarnya. Di sana banyak sekali pakaian yang cukup ia gunakan untuk keluar, sebab Xiao Na sama sekali tidak membawa pakaian ketika datang ke sini. Bahkan ia hanya mengenakan pakaian kantor yang kini sudah masuk ke dalam ranjang cucian. Kali ini Xiao Na mengenakan kaus polos yang dipadukan dengan celana jeans ketat berwarna hitam, lalu kakinya ia baluti dengan sepasang sepatu casual. Terlihat ia seperti remaja kebanyakan, sama sekali tidak tercerminkan bahwa ia telah berumur kepala tiga. Tanpa ragu Xiao Na mulai turun ke bawah sembari mengenakan hearphone di telinganya. Sontak semua orang yang ada di bawah menganga tidak percaya melihat penampilan Xiao Na. “Aiya, Xiao Na! Kakak suka pakaian kamu,” seru Chen Qianqian berlari kecil ke arah Xiao Na, lalu memeluknya erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD