10. Sincerity is Not Appreciated

1052 Words
Zhang Xiao Na berdiri tegak menghadap lurus ke depan tanpa ekspresi sama sekali. Raut wajah datar itu terhiasi oleh make up tipis yang sangat manis. Tubuh wanita itu terbaluti oleh gaun indah selutut berwarna hitam dengan akses renda di bagian bawahnya. Xiao Na terlihat sangat cantik malam ini. Namun, tidak dengan batinnya yang bergemuruh kesal. Entah sudah berapa kali ia menolak para lelaki di Beijing. Mungkin sudah hampir seluruh lelaki ia tolak. Namun, mereka seakan tidak menghiraukan perkataan dirinya malah semakin gencar membuat Xiao Na tidak sabar. “Xiao Na, semangat!” seru Chen Qianqian menatap Xiao Na berbinar cerita. Xiao Na hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk singkat. Kaki jenjangnya yang dibaluti stiletto hitam itu mulai melangkah masuk ke dalam hotel. Kali ini ia akan menghadiri sebuah acara pertemuan yang seharusnya dihadiri oleh papahnya, tetapi Rubah Tua itu berpura-pura sakit sehingga dengan amat terpaksa Xiao Na yang menggantikannya. Sudah tahu akan terjadi seperti ini, Xiao Na lebih baik sama sekali tidak pulang. Gemerlap lampu yang menyinari lorong hotel tampak begitu cantik. Perpaduan antara merah dengan putihnya lampu, membuat kulit pucat Xiao Na terlihat begitu indah. Wanita itu terlihat menunjukkan sebuah kartu berwarna hitam pada salah satu lelaki berjas formal yang berdiri tepat di depan pintu masuk, sepertinya tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam. Untung saja Xiao Na tidak sampai keras kepala sehingga menuruti permintaan papahnya untuk membawa benda hitam itu di tangannya. Kalau tertinggal mungkin akan menjadi keberuntungan bagi dirinya, tetapi tidak dengan kedua orang tuanya yang pasti sangat marah. Setelah itu, Xiao Na mendekati sebuah meja panjang yang berisikan sederetan makanan dengan berbagai macam jenis. Ada kue, makanan laut, serta minuman berwarna-warni. Lalu, di tengah-tengahnya terdapat sebuah kue bertingkat yang sangat besar, membuat Xiao Na tanpa sadar membulatkan bibir kecilnya. Akan tetapi, pandangannya langsung teralihkan pada gadis kecil yang berdiri di atas panggung mini. Gadis kecil itu mengenakan gaun berwarna baby pink yang begitu cantik, hingga membuat Xiao Na tersenyum kecil. Senyuman tulus yang jarang sekali ia perlihatkan. “Selamat malam, semuanya!” sapa gadis kecil itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit seperti bulan sabit. “Malam!!!” jawab para tamu undangan serentak. Kalau dipikir, Xiao Na tidak mengerti. Mengapa rata-rata tamu undangan di sini adalah orang berpakaian jas formal, sedangkan hanya ada segelintir orang yang mengenakan gaun seperti dirinya. Apakah Xiao Na salah kostum? “Terima kasih, semuanya. Malam ini kami sengaja mengundang kalian untuk datang ke acara anniversary pernikahan kami yang telah berusia 10 tahun. Tidak disangka pernikahan kami telah dikaruniai seorang gadis kecil yang bernama Liu Yura,” ucap lelaki paruh baya berpakaian jas formal yang masih pantas di tubuhnya, malah Xiao Na melihat lelaki itu semakin gagah seiring bertambah tua usia. “Selamat, Presdir Liu!” balas salah satu tamu undangan sembari bertepuk tangan, membuat semuanya ikut memadati keadaan. “Kalau begitu, selamat dinikmati hidangan yang sederhana ini. Jangan sungkan, ya.” Lelaki paruh baya bermarga Liu itu pun tertawa pelan sembari menuruni panggung menemui para tamu undangan untuk berbincang singkat. Sedangkan Xiao Na yang tidak ada kerjaan pun hanya menikmati kue sembari menatap keadaan sekitar yang sangat ramai. Walaupun dipenuhi lelaki berjas formal dari berbagai kalangan usia. Akan tetapi, tidak membuat wanita itu melirik mereka sama sekali. Padahal kedatangan Xiao Na telah mengundang tatapan minat dari para lelaki yang sebagian besar mengenal dirinya, meskipun ia sendiri terkadang tidak tahu nama dari masing-masing lelaki itu. Sebab, ia tidak pernah sekalipun serius berkenalan dengan lelaki lain. Salah satu lelaki berjas formal merah maroon tampak mendekati Xiao Na, membuat wanita itu langsung memutar tubuhnya membelakangi lelaki itu sembari terus mengunyah kue yang ada di tangannya. “Lama tidak bertemu,” sapa lelaki itu tersenyum menggoda melihat Xiao Na yang masih sama seperti dulu. Dingin. Baru saja Xiao Na hendak melenggang pergi tiba-tiba pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang, membuat wanita itu membalikkan tubuhnya menatap sang pelaku datar. “Kau masih sama seperti dulu, ya. Berwajah dingin tanpa ekspresi,” ucap lelaki tadi membuat Xiao Na mendecih pelan saat tangan besar itu menyentuh garis rahang miliknya yang tajam. “Bukan urusanmu,” balas Xiao Na datar. Namun, dengan lancang lelaki berjas tadi langsung merangkul tubuh Xiao Na, membuat tubuhnya sedikit terhuyung akibat serangan yang mendadak seperti itu. “Kau begitu cantik saat memasang ekspresi seperti itu Xiao Na, membuat hatiku ingin memilikimu seutuhnya,” bisik lelaki itu tepat di depan telinga milik Xiao Na. “Kenapa? Kau sudah tidak mampu menyewa para wanita bayaran,” balas Xiao Na sinis, kemudian ia mulai meletakkan piring kue yang tinggal setengah itu di atas meja. Sepertinya malam ini ia harus bermain-main terlebih dahulu. “Aku sudah tidak berminat dengan mereka,” bisik lelaki itu lagi, tetapi kali ini ia sembari menghirup aroma mawar dari leher jenjang Xiao Na yang terekspose jelas. Pada saat yang bersamaan pula, tiba-tiba suara gaduh terdengar begitu jelas. Bahkan pecahan piring tampak mengejutkan sebagian para tamu undangan. Dan jangan lupakan lelaki paruh baya yang bermarga Liu menghampiri Xiao Na dan lelaki berjas maroon. “Ada apa ini!?” tanya lelaki paruh baya itu menatap Xiao Na marah. Xiao Na maju selangkah mendekati lelaki paruh baya itu sembari menjawab, “Jangan tanyakan kenapa, seharusnya kau ajarkan dia agar lebih menghormati tamu.” Wajah Xiao Na terlihat marah sekaligus kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a melihat lelaki paruh baya itu memapah lelaki yang baru saja melecehkan dirinya. Ya, Xiao Na memang wanita yang paling baik. Namun, keterdiaman wanita itu telah tersusun berbagai rencana mematikan yang siap ia luncurkan saat ini juga. Akan tetapi, sekesal apapun Xiao Na, ia sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi yang sebenarnya. “Kau tidak apa-apa, Jiang Jingzhi.” “Tidak apa-apa, Paman.” Xiao Na mendecih sinis melihat keduanya yang sama-sama berlindung dibalik topeng tidak tahu malu. Apakah lelaki paruh baya itu masih tidak menyadari dirinya adalah Zhang Xiao Na. Seorang wanita kaya raya yang berhati iblis. Namun, suara wanita terdengar dari belakangnya, membuat Xiao Na membalikkan tubuh dan menatap kedua orang tuanya berada tepat di belakang sembari menatap tajam. Tentu saja pada lelaki bermarga Liu. Sementara Xiao Na yang melihat itu pun hanya terdiam, ia tidak tahu harus senang atau sedih dihampiri oleh kedua orang tuanya. Namun, sang mamah langsung menarik dirinya untuk berada di samping, membuat lelaki bermarga Li itu terkejut. “Kau membentak puteriku, Liu?” tanya Zhang Shi Yu tajam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD