11. The Liu Family Sucks

1003 Words
Xiao Na tidak tahu apa yang terjadi di dalam, sebab dirinya langsung memutuskan pulang setelah melihat raut wajah memohon yang sangat ia benci. Sejujurnya, Xiao Na memang paling membenci orang yang meminta maaf, seakan dirinya penuh dengan toleransi sehingga banyak sekali orang memanfaatkan kebaikannya. Akan tetapi, permintaan maaf itu sama sekali tidak ia hiraukan. Lebih baik menanggung malu daripada harus memohon pada kaki musuh. Xiao Na sebenarnya juga tahu kalau kedua orang tuanya tidak seperti keluarga yang lain, yaitu gemar bercengkrama dengan banyak orang. Tentu saja mereka melakukan hal itu untuk memperluas kekuasaannya sehingga para penjilat mau bekerja sama dengan keluarganya. Kini Xiao Na dalam perjalanan pulang dengan supir pribadi milik keluarganya. Sebab, ia tidak diperbolehkan menyetir sendiri sehingga kakaknya rela menyiapkan semua ini dengan seksama. Namun, kenyataannya Xiao Na kembali dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kejadian tadi masih begitu membekas di hatinya, membuat wanita bergaun hitam elegan itu langsung mengetikkan sesuatu di ponselnya. “Yushi, tolong kau selidiki Keluarga Liu,” titah Xiao Na dingin. Setelah itu, Xiao Na langsung mematikan ponselnya dan menatap ke arah luar yang terlihat banyak sekali lampu kendaraan memenuhi jalanan Beijing. Sudah lama ia tidak menatap jalanan yang menjadi saksi bisu separuh masa kecilnya. Jalanan Beijing begitu berbeda dengan malam hari, entah kenapa membuat Xiao Na kembali merasakan masa kecilnya yang begitu menyakitkan. Ia terlihat tidak dianggap oleh kedua orang tuanya, dan hanya Xiao Wei-lah yang memperhatikan dirinya. Meskipun berkali-kali sang papah melarang kakaknya untuk berbincang dengan dirinya, tetapi Xiao Wei tetaplah seorang kakak pelindung bagi Xiao Na. Masa kecil Xiao Na bisa dikatakan tidak pernah baik-baik saja seperti keluarga yang lain. Bahkan ia hampir putus asa dan meninggalkan dunia yang penuh kepalsuan. Semuanya memang palsu. Keluarga yang dianggap sebagai rumah pun sudah tidak lagi menerima Xiao Na, membuat wanita itu terkadang merasa miris. Kedua orang tuanya memang hanya memanfaatkan kecantikannya untuk menarik para putra investor kaya agar mau bekerja sama dengan perusahaan keluarganya. Akan tetapi, tidakkah mereka sadar kalau perlakukannya itu membuat hati Xiao Na semakin sakit? Tanpa sadar Xiao Na meneteskan air mata, membuat wanita itu buru-buru menghapusnya agar tidak terlihat pada supir yang masih serius memperhatikan jalanan. “Antarkan aku ke bandara,” pinta Xiao Na menatap supir yang langsung menoleh ke belakang, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Kenapa, Nona? Malam ini Nona harus kembali ke rumah,” balas supir tersebut panik. Namun, Xiao Na hanya menatap supir itu tajam, membuatnya tidak bisa berkutik selain menuruti permintaan salah satu anak dari bosnya yang kaya raya. Sementara itu, Xiao Na langsung mengabari Yushi untuk menjemput dirinya di bandara sekarang. Sebutlah ia bos yang sangat kejam sudah menyuruh sekretaris pribadinya untuk datang walaupun bukan jam kerja. Tak lama kemudian, wanita itu sampai di bandara dengan hasil tiket pembelian dari Yushi. Untung saja ia masih sempat mengambil tiket awal sehingga tidak perlu menunggu lama. Tanpa memedulikan supir tersebut, Xiao Na langsung turun dari mobil dan melenggang masuk ke dalam, membuat supir tersebut panik sekaligus bingung harus berbuat apa. Setelah menunjukkan tiket pada petugas bandara, Xiao Na langsung melenggang masuk ke dalam. Sedangkan supir pribadi keluarganya memutuskan untuk pulang dan memberitahu bahwa Xiao Na telah melakukan penerbangan ke Shanghai. Sesampainya di Shanghai, Xiao Na langsung mencari Yushi yang ternyata berada di dalam bandara menunggu dirinya sembari mengenakan mantel besar berwarna merah. Malam ini memang begitu dingin, membuat sebagian orang mengenakan mantel dan jaket. Namun, tidak dengan Xiao Na yang mengenakan gaun hitam selutut tanpa mantel di tubuhnya. “Presdir Zhang!” sapa Yushi membungkuk singkat sembari memeluk mantel hitam milik Xiao Na. “Terima kasih, Yushi,” balas Xiao Na mengangguk singkat. Yushi tersenyum singkat dan mulai memakaikan mantel milik bos cantiknya. Setelah itu, mereka berdua langsung meninggalkan bandara. Pukul 03.00 AM keduanya masih melakukan perjalanan menuju apartemen mewah Xiao Na yang berada di jantung Kota Shanghai. Tanpa menunggu lama, kini keduanya tengah berada di evalator menuju apartemen Xiao Na yang berada di gedung paling atas. Tentu dengan nuansa sejuk tanaman rawatannya. Dengan sigap Yushi langsung mempersilakan Xiao Na membuka kunci apartemennya. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Selamat malam, Presdir Zhang!” pamit Yushi membalikkan tubuhnya setelah Xiao Na membuka pintu apartemennya. “Tunggu!” Xiao Na mencegah Yushi yang hendak melenggang pergi, membuat wanita itu membalikkan tubuhnya bingung. “Kenapa, Presdir Zhang? Ada yang ingin dibutuhkan lagi?” “Tidak ada, tapi kenapa kau tidak menginap saja. Lagi pula di apartemen ini masih ada lima kamar kosong yang bisa kau tempati.” “Tidak apa-apa. Aku bisa pulang malam ini.” Yushi terus menolak permintaan Xiao Na membuat wanita itu langsung menatap tajam pada sekretaris pribadinya yang bergerak kaku. Lalu, tak urung Yushi mengangguk menyetujui ucapan Xiao Na dan keduanya masuk ke dalam apartemen gelap gulita. Xiao Na langsung menyalakan lampunya dengan sensor suara yang sekali tepuk tangan sudah menyalakan beberapa lampu di dalam apartemennya. Sedangkan Yushi tengah merapikan stiletto hitam milik Xiao Na dan sepatu casual milik dirinya sendiri, lalu menyimpannya di dalam rak sepatu yang terdapat di depan pintu apartemen. “Yushi, untuk permintaanku tadi apakah kau sudah menemukannya?” tanya Xiao Na melepaskan mantel dan menggantungnya pada sudut ruangan, lalu melangkah mendekati sofa panjang tepat menghadap pada layar televisi besar. “Belum, Presdir Zhang. Sebagian datanya begitu tertutup membuatku sedikit sulit melacaknya,” jawab Yushi mendudukkan diri di samping Xiao Na yang mulai merebahkan kepalnya di sandaran sofa, menatap ke arah luar jendela besar yang menampilkan langit malam. “Sudahlah, kau tidak perlu mencari informasinya lagi.” “Kenapa, Presdir Zhang?” Xiao Na menggeleng pelan, lalu bangkit dari tempat duduknya. Kemudian, ia melenggang pergi meninggalkan Yushi yang masih kebingungan akibat tingkah Xiao Na malam ini. tidak seperti biasanya. Namun, tidak urung membuat wanita itu ikut bangkit dan mulai memasang gordyn besar untuk menutup jendela besar tersebut. Kemudian, ia langsung melenggang masuk ke dalam bersiap untuk tidur. Menantikan esok hari yang harus kembali bekerja seperti biasa. Akan tetapi, baru saja Yushi hendak merebahkan diri tiba-tiba ia teringat akan rapat besar besok. Sehingga wanita berpakaian rumahan itu langsung bangkit dan menghubungi Tong Xin yang semoga saja masih terjaga. “Wei, Xiao Tong Xin! Apa kau sudah menyiapkan materi pada rapat besok?” “Aiya, aku lupa!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD