32. Forgetting You

1053 Words
“Perjodohan,” jawab Li Xian tanpa beban. Sontak Xiao Na yang mendengar hal itu langsung mendelik terkejut, ia sama sekali tidak menyangka kalau lelaki di hadapannya ini mengetahui semuanya. Bahkan ia lebih tidak menyangka lagi tentang Li Xian yang mengetahui pertemuan itu adalah perjodohan dirinya. “Tidak seharusnya kau mengatakan itu, Direktur Li. Kita sedang berada di kantor. Jangan sampai semua orang tahu kalau aku sedang dipaksa menikah,” bisik Xiao Na dengan nada tajam, lalu pintu elevator pun terbuka menampilkan beberapa karyawan perusahaan yang terlihat mendelik terkejut ketika melihat bosnya di sana. Akan tetapi, yang menjadi pusat perhatian mereka bukanlah itu. Melainkan posisi Xiao Na dengan seorang lelaki tampan sangatlah dekat. Bahkan wajah mereka berdua terlihat hampir saja bersentuhan. Namun, dari posisi mereka, kedua orang itu terlihat tengah berciuman, dan tentu saja semua yang ada di sana langsung berbalik tanpa berani menatap tatapan tajam milik Zhang Xiao Na. Sedangkan Xiao Na yang baru saja sadar akan posisinya pun hanya mengerjap pelan, lalu kembali menetralkan ekspresinya. Kemudian, melenggang pergi meninggalkan Li Xian yang diam-diam tersenyum penuh arti. Setelah Xiao Na benar-benar melenggang pergi jauh, kini giliran Li Xian yang mulai keluar dari elevator dan melenggang pergi dengan santai menuju Departemen Teknologi. Kedua tangan lelaki itu dimasukkan ke dalam celana bahan dengan sesekali melemparkan senyum ramah pada beberapa karyawan yang ada di sana. Entah kenapa Li Xian terlihat sangat bahagia, tetapi tidak dengan Xiao Na. Wanita itu terlihat kesal sekaligus marah diwaktu yang bersamaan. Tentu saja dirinya kesal kepada Li Xian yang berani sekali membicarakan masalah perjodohan malam itu dengan dirinya. Sedangkan ia marah karena telah dipergoki oleh karyawannya sendiri, ia takut kalau semua karyawan akan menatap dirinya sebagai w************n. Apalagi mengingat kalau Li Xian adalah orang baru di kantornya. “Dasar bodoh kau, Xiao Na!” gumam wanita itu kesal sembari mengepalkan tangannya kuat. Wanita itu terus melangkah sembari mengumpat dalam hati, dan perhatian itu pun tidak luput dari Yushi yang baru saja datang dari ruangan Tong Xin untuk mengambil beberapa berkas di sana. Wanita itu terlihat bingung melihat Xiao Na yang sangat emosi. Ia jarang sekali melihat bosnya datang dengan keadaan sangat tidak baik-baik saja. Namun, ingatan wanita itu langsung mengarah pada kemarin. Akhirnya, ia pun tahu kalau Xiao Na pasti marah akibat perjodohan semalam. Padahal Kemarin wanita itu telah mengatakan tidak masuk kantor, tetapi pagi ini malah sudah terlihat. Sedikit bingung, dan penasaran dengan kedatangan Xiao Na secara tiba-tiba. Sesampainya di depan pintu ruangan, Xiao Na langsung mendorong pintu tersebut dengan kencang, dan membiarkannya menutup sendiri. Entah kenapa rasanya aneh sekali ketika mengetahui Li Xian tentang perjodohan yang selama ini ia lakukan. Ada sebuah rasa kesal sekaligus malu dalam waktu bersamaan. Apakah dirinya sudah mulai menyukai lelaki itu? Tidak mungkin. “Awas kau, Li Xian!!!” teriak Xiao Na kesal saat sudah berada di ruangannya sendiri. Untung saja kedap suara di sini masih berfungsi dengan baik sehingga ia tidak perlu takut akan ada orang yang mendengarnya lagi. Namun, teriakannya itu langsung terhenti ketika mendengar pintu ruangannya diketuk pelan. Padahal seingat otaknya, ia telah mengatakan kalau tidak akan pergi ke kantor, dan sudah berpesan juga dengan Yushi. Akan tetapi, pagi-pagi sekali malah sudah diketuk seakan ada yang tahu kalau dirinya berada di sini. Sesaat Xiao Na mengembuskan napasnya pelan, lalu merapikan sedikit pakaiannya yang terlihat kusut. Kemudian, duduk di kursi kebesarannya menatap dingin ke arah pintu. Xiao Na pun kembali berlakon menjadi orang yang tidak disentuh. “Masuk!” ucap Xiao Na singkat. Kemudian, muncul sesosok wanita cantik yang sangat ia kenali dengan membawa beberapa map di tangannya. Wanita cantik itu adalah Yushi, sekretaris sekaligus asisten pribadinya. “Presdir Zhang,” sapa Yushi singkat, lalu melangkah menghampiri Xiao Na yang terlihat menghela napas lega. “Kau benar-benar cenayang ya, Yushi. Aku sudah mengatakan tidak akan masuk hari ini, tetapi kau malah datang ke ruanganku. Ada apa?” Xiao Na menatap Yushi menggeleng takjub. Yushi tersenyum tipis, lalu meletakkan beberapa map tersebut di hadapan Xiao Na. “Tadi aku sempat melihatmu melangkah ke sini, Presdir Zhang. Kebetulan sekali ada beberapa kontrak kerja sama yang harus kau tanda tangani.” Jemari lentik milik Xiao Na terlihat mengambil salah satu dari tiga map yang ada di hadapannya, lalu membaca dengan seksama. Meskipun sesekali wanita itu mengangguk pelan, sebelum akhirnya kembali menatap Yushi. “Apa jadwal hari ini hanya tanda tangan kontrak kerja?” tanya Xiao Na penasaran. “Iya, Presdir Zhang,” jawab Yushi sembari mengangguk singkat. “Baiklah, akan aku tanda tangani nanti. Kau boleh pergi,” putus Xiao Na kembali meletakkan map tersebut tanpa berniat melihatnya lagi. Sedangkan Yushi terlihat mengernyitkan keningnya bingung. Ia sedikit bingung dengan tingkah Xiao Na yang terlihat sangat kesal. Namun, mempunyai nyali untuk bertanya pun tidak akan pernah hinggap di benak Yushi. Sebab, wanita itu memang terlalu takut untuk penasaran dengan kehidupan pribadi bosnya. “Baik, Presdir Zhang. Aku pergi dulu,” balas Yushi hendak berbalik pergi. Namun, Xiao Na kembali bersuara membuat wanita itu mengurungkan niatnya, dan kembali menatap bosnya yang terlihat bimbang. “Hm ... Yushi, bisakah kau melihat ke Departemen Teknologi? Aku ingin melihat laporan mereka. Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya,” pinta Xiao Na sedikit ragu. Tentu saja akibat tingkah Li Xian yang masih membekas di benaknya. Sejenak Yushi merasa kalau bosnya ini sedang memikirkan sesuatu, tetapi ia juga belum pasti tentang hal tersebut. Sebab, kepribadian tertutup Xiao Na, membuat wanita itu terlihat sangat mengasingkan diri, meskipun hidup di tengah-tengah keramaian. “Baik. Aku segera ke sana untuk menanyakannya,” balas Yushi menuruti permintaan Xiao Na. Setelah itu, Yushi pun benar-benar pergi dari ruangannya, meninggalkan Xiao Na yang masih terlihat bimbang sekaligus tidak mengerti mengapa sikapnya menjadi seperti ini. Padahal dari dulu ia tidak pernah mencari alasan untuk bertemu dengan siapapun. Namun, rasanya semua itu berbeda dengan Li Xian. Sejenak Xiao Na merasa kalau ada sebuah kesamaan antara lelaki itu dengan lelaki yang selama ini dirinya tunggu. Mungkin karena ia terlalu memendam kerinduan ini cukup lama sehingga sampai tidak membedakan orang lain. Akan tetapi, semua yang ia rasakan sangatlah nyata. Li Xian dengan kekasihnya yang dulu sangat mirip. “Kak, kamu dimana? Haruskah aku hidup di dalam kebimbangan seperti ini. Aku takut, kalau aku mulai melupakan semua tentangmu,” gumam Xiao Na pelan sembari menyanggah kepala miliknya dengan tangan kanan, lalu kembali melamunkan kejadian memalukan saat di dalam elevator tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD