33. Zarco's Lucky

1054 Words
Hubungan memang tidak akan berkembang jika salah satunya tidak ada yang berjuang. Kini Li Xian benar-benar ingin hubungannya cepat berkembang sehingga dirinya dapat dengan mudah mendekati Xiao Na. Akan tetapi, di sisi lain ia juga takut kalau wanita itu malah menjauhi dirinya. Sejenak Li Xian menghela napas pelan, sepertinya lelaki itu harus kembali fokus mengerjakan laporan mingguan yang sebentar lagi akan ia serahkan pada Xiao Na. Namun, perhatiannya kembali terpecah ketika mendengar pintu ruangan terketuk pelan. “Masuk!” titah Li Xian tanpa mengalihkan perhatiannya dari komputer berwarna putih yang menampilkan sederetan table dan angka. Yushi yang mendengar titahan itu pun melenggang masuk ke dalam dengan sopan. Wanita itu tersenyum tipis dengan kedua tangannya saling bertaut di depan, lalu menatap Li Xian yang terlihat sama sekali tidak mengetahui keberadaan dirinya. Lelaki itu tampak sangat fokus. “Direktur Li, apa laporan mingguan sudah selesai? Presdir Zhang memintaku untuk segera membawakannya ke ruangan,” tanya Yushi pelan membuat Li Xian mendadak menghentikan jemarinya, lalu menatap seorang wanita cantik yang berdiri tepat di depan meja kerjanya. Sontak Li Xian pun sedikit terkejut melihat wanita itu, sebab ia sama sekali tidak mengetahui keberadaan Yushi. Karena selama ini yang masuk ke dalam ruangannya hanya para teknisi dan anggota dari Departemen Teknologi, serta Tong Xin yang selalu melenggang ke sana kemari hanya untuk mengumpulkan kehadiran. “Sebentar lagi akan selesai. Bukankah laporan ini akan dirapatkan lusa? Kenapa Presdir Zhang memintanya sekarang?” Kening Li Xian mendadak berkerut bingung. Tentu saja ia masih sangat ingat tentang rapat mingguan yang selalu diadakan oleh kantor tempat dirinya bekerja. “Aku tidak tahu, Direktur Li. Aku hanya menyampaikan pesannya kepadamu,” jawab Yushi menggeleng pelan. Sejujurnya, wanita itu juga sedikit bingung dengan permintaan aneh Zhang Xiao Na. Li Xian pun menghela napas panjang sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, lalu berkata, “Kalau begitu, akan aku antarkan sendiri nanti. Kau kembali saja, Sekretaris Yushi.” Mendengar penuturan Li Xian, Yushi pun mengangguk singkat, dan membalikkan tubuhnya melenggang keluar dari ruangan itu. Sedangkan Li Xian kembali mengerjakan laporan yang sudah diminta oleh presiden perusahaan. Meskipun sebenarnya laporan ini masih sangat jauh dari deadline. Setelah itu, Yushi pun melenggang pergi dari Departemen Teknologi dengan perasaan bertanya-tanya. Karena selama ini Xiao Na memang tidak pernah meminta laporan apapun sebelum pada waktunya tiba. Akan tetapi, di sini ada keanehan yang membuat wanita itu mendadak ingin laporan tersebut cepat selesai. Namun, Yushi yang tidak ingin berpikir lebih jauh pun hanya diam dan melenggang pergi ke ruangan Xiao Na untuk mengabarkan bahwa Li Xian belum selesai mengerjakannya. Pasti bosnya itu akan mengerti. Kalau tidak, dirinya sendiri pun tidak tahu. Sementara itu, Li Xian yang masih sibuk mengerjakan laporan pun mulai terbayangi oleh ucapan Yushi tadi. Entah kenapa ia sendiri juga masih tidak percaya dengan permintaan aneh dari Xiao Na. Akan tetapi, memang ada benarnya kalau wanita itu ingin semua cepat selesai. “Sepertinya aku tidak ada waktu untuk ke ruang alat hari ini,” gumam Li Xian mengusap wajahnya frustasi. Padahal hari ini dirinya memang berniat untuk ke sana, memantau semua situasi secara berkala. “Kalau begitu, jangan ke sana, Direktur Li,” celetuk seseorang yang baru saja memasuki ruangan membuat Li Xian terjengit terkejut. “Kamchagiya!” seru Li Xian mendelik tidak percaya sembari memegangi d**a bidangnya yang berdebar cukup kencang. Sebab, ia terus saja dikejutkan oleh seseorang. “Eh, maaf, Direktur Li. Aku tidak bermaksud mengerjutkanmu, tapi tadi aku sudah mengetuk pintu,” ucap Tong Xin meringis pelan. “Tidak apa-apa, mungkin aku yang tidak mendengarnya tadi,” balas Li Xian tersenyum tipis dan menetralkan kembali ekspresinya. “Oh ya, ada apa kau ke sini, Xiao Tong Xin? Bukankah aku sudah menandatangani kehadiran kemarin?” Tong Xin mengangguk pelan, lalu melangkah mendekati meja Li Xian sembari memberikan beberapa map besar. “Aku hanya ingin memberikan ini, Direkur Li.” “Apa ini?” tanya Li Xian penasaran. “Laporan aplikasi pengembangan yang sedang diuji coba. Aku rasa peningkatan user di sana cukup meningkat. Apalagi aplikasi itu berbasis grup sehingga mereka dapat dengan mudah berkomunikasi. Ditambah poin dari setiap olahraga yang mereka lakukan bisa membuat pengguna lainnya merasa sangat termotivasi,” jawab Tong Xin menjelaskan sekenanya. “Wah, bagus sekali!” puji Li Xian tulus. “Benar, Direktur Li. Bahkan di kantor ini banyak sekali yang sudah mengunduhnya,” ucap Tong Xin tersenyum senang membuat Li Xian mengangguk beberapa kali. “Sepertinya tidak sia-sia kita mengembangkan aplikasi ini,” gumam Li Xian tersenyum senang membaca laporan yang berbentuk grafik itu meningkat di setiap harinya. “Apa Zarco sudah tahu tentang berita menyenangkan ini? Aku rasa dia harus tahu sebagai pembuatnya.” “Sudah, Direktur Li. Dia merasa sangat bahagia sekaligus terharu, karena kau mau mengembangkannya sampai sejauh ini,” jawab Tong Xin tersenyum lebar. Sejujurnya, ia memang sama sekali tidak tahu kalau Li Xian akan bertindak lebih jauh dalam mengembangkan aplikasi yang sudah sedari awal tidak ada pengunduhnya. Namun, usaha memang tidak akan pernah mengkhianati hasil sehingga Li Xian dapat mengembangkan aplikasi ini dengan jerih payahnya sendiri. “Tong Xin, aku tidak akan mengembangkan aplikasi ini tanpa adanya dorongan dari sang pembuat. Karena aku sendiri memang tidak pernah membuat aplikasi secara pribadi. Tapi aku yakin, kalau anak muda di sini masih banyak yang berbakat. Dan sudah menjadi tugasku untuk membimbing mereka,” ucap Li Xian bijaksana membuat kharismanya menjadi begitu kuat. “Ya, kau benar. Aku sangat bangga menjadi rekan kerjamu, Direktur Li,” puji Tong Xin tulus pada Li Xian. Sayangnya, lelaki itu hanya tertawa pelan sembari terus membaca laporan grafik jumlah pengunduh dan pengguna yang kian melesat naik. Tentu saja hal tersebut membawa keberuntungan bagi perusahaannya sehingga mampu dikenal lebih banyak orang lagi. Namun, tanpa sepengetahuan mereka, terlihat seorang wanita cantik yang berdiri tepat di depan pintu ruangan. Wanita itu sama sekali tidak bergerak, dan tetap pada posisinya sembari mendengarkan pembicaraan yang cukup menyenangkan. Sebenarnya, wanita itu sudah beberapa menit berdiri di sana bak patung selamat datang. Wanita cantik itu tidak lain dan tidak bukan adalah Zhang Xiao Na. Meskipun awalnya wanita itu datang hanya untuk memeriksa laporan, tetapi ketika mendengar keberhasilan Zarco dan Li Xian membuat Xiao Na mengurungkan niatnya. Kemudian, wanita itu pun berbalik melenggang pergi menjauhi ruangan tersebut. Tentu dengan perasaan bangga terhadap anggota didikannya yang mencapai keberhasilan sampai sejauh ini. Bukan tidak mungkin kalau mereka mampu mengharumkan nama perusahaan dengan caranya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD