“Selamat ya, Zarco! Aku tidak tahu kau bisa berbakat seperti ini membuat aplikasi kebugaran untuk gym. Padahal kau sendiri jarang sekali ke sana,” puji Su Yuan menatap seorang lelaki yang berpakaian kaus hitam dengan celana senada.
“Bukan aku yang mengembangkannya,” balas Zarco singkat. Lelaki itu memang terlihat sangat cuek.
“Ya, meskipun bukan kau. Tapi, yang merintis aplikasi itu adalah dirimu sendiri. Berbanggalah, Zarco. Karena Li Xian pasti akan bangga denganmu,” ucap Su Yuan menepuk pelan bahu lelaki itu sembari tersenyum lebar.
Namun, yang disaat yang bersamaan keduanya mendengar sebuah high heels melangkah mendekat. Tentu saja keduanya langsung mendekati suara langkah kaki tersebut sembari menatap bingung kepada seorang wanita yang kini berada tepat di hadapan mereka berdua.
“Aku sudah mendengar kabarmu, Zarco,” ucap Xiao Na tersenyum tipis.
“Nana, apa kita semua akan dapat keuntungan dari aplikasi itu?” tanya Su Yuan membuat Zarco spontan memutar bola matanya malas.
“Tentu saja dapat, nanti akan aku bagi dengan rata,” jawab Xiao Na menatap Zarco dengan bangga. Entah kenapa ia merasa sangat beruntung bisa memiliki generasi muda dengan banyak akal.
“Baguslah.” Su Yuan tertawa riang. Sebab, baru kali ini mereka semua bisa mendapatkan keuntungan dari aplikasi yang dibuat.
Sedangkan Xiao Na kembali melirik ke arah arloji yang ada di tangan kirinya, lalu menatap Su Yuan. “Su Yuan, sepertinya aku harus kembali. Nanti akan ada Yushi yang mengurus kontrak kerja sama dan pembagian hasil keuntungan. Aku ke sini hanya untuk menyampaikan itu.”
“Baiklah, Nana. Hati-hati,” balas Su Yuan setengah berteriak, sebab wanita itu sudah melenggang pergi lebih dulu tanpa mendengarkan balasan.
Setelah itu, Xiao Na memang benar-benar kembali ke ruangannya. Wanita itu terlihat sangat bahagia, bahkan wajahnya berseri-seri walaupun bibirnya sama sekali tidak tersungging sebuah senyuman.
Namun, sebuah ketukan pintu terdengar pelan membuat wanita itu mengalihkan perhatiannya, dan melihat seseorang yang masuk ke dalam. Dan ternyata, itu adalah Li Xian. Sepertinya lelaki itu sudah menyelesaikan laporan mingguan yang akan dirapatkan lusa.
“Presdir Zhang, ini laporan yang kau minta tadi pagi,” ucap Li Xian menyerahkan sebuah map pada Xiao Na.
Zhang Xiao Na pun menerima map tersebut, lalu membacanya sekilas. Kemudian, wanita itu terlihat mengangguk sembari berkata, “Kerja bagus.”
Li Xian hanya tersenyum tipis. “Kalau begitu, aku kembali ke ruangan, Presdir Zhang.”
Baru saja lelaki itu hendak membalikkan tubuhnya, tiba-tiba Xiao Na bersuara. Membuat Li Xian kembali menatap wanita cantik yang terduduk di kursi kebesarannya.
“Tunggu, Li Xian!” sela Xiao Na cepat. “Bisa tolong panggilkan Yushi? Sepertinya dia sedang tidak ada di meja kerja.”
“Benar, Presdir Zhang. Yushi sedang menggantikanmu untuk menemui client,” jawab Li Xian membuat kening Xiao Na berkerut bingung.
“Apa aku ada janji temu?”
“Sebenarnya, tidak ada. Client mendadak ingin bertemu denganmu, tapi ketika kau dicari tidak ada. Jadi, Yushi yang menggantikannya.”
“Baiklah. Kau boleh kembali,” putus Xiao Na kembali menekuni pekerjaannya.
Sementara itu, Li Xian melenggang pergi dari sana. Tentu saja lelaki itu ingin menyempatkan diri melihat ruang alat yang beberapa hari ke depan akan dijadikan untuk konser online. Sebab, banyak sekali dunia maya yang menggunakan teknologi dibandingkan bertemu langsung dengan sang artis. Karena bagi mereka lebih baik menonton tidak berdesakan daripada harus memikirkan cara agar tidak kehabisan tiket.
Li Xian melenggang pergi dengan santai sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu menatap lurus ke depan. Lelaki itu terlihat sangat tampan dengan sebuah kartu akses masuk yang menggantung di leher tegasnya. Padahal sudah beberapa kali lelaki itu datang ke ruang alat tanpa membawa kartu tersebut.
Tentu saja karena lelaki itu belum terbiasa menggunakannya, sebab di perusahaan orang tuanya tidak sampai seketat ini, kecuali benar-benar ingin masuk ke dalam kantor. Dan Li Xian merasa, kalau semua yang ada di sini serba berteknologi tinggi. Bahkan tidak mudah bagi orang asing untuk masuk ke dalam.
Sesampainya di ruang alat, Li Xian langsung menempelkan kartu tersebut di tempat yang telah disediakan. Lalu, terdengar suara singkat dari pintu yang dibatasi oleh kaca bening dan menampilkan sederetan alat di dalamnya.
Salah satu teknisi di sana terlihat menyadari kehadiran Li Xian, dan menunduk penuh hormat. “Direktur Li.”
Kemudian, diikuti teknisi lainnya yang mendengar ucapan tersebut. Terlihat lima orang berseragam abu-abu dengan kartu nama menggantung di lehernya.
“Bagaimana persiapan untuk besok?” tanya Li Xian sembari mendudukkan diri di sebuah meja yang berisikan komputer server.
Lelaki yang menyapa Li Xian tadi pun menjawab, “Tidak ada, Direktur Li. Semua akan terkendali, kecuali ada beberapa kabel yang sepertinya harus segera diganti.”
Seketika Li Xian yang tengah memeriksa keadaan alat pun terhenti, lalu menatap teknisi itu dengan alis bertaut. Lelaki itu terlihat kesal sekaligus bingung menatap anak buahnya. Entah kenapa Li Xian merasa kalau semua teknisi yang ada di sini selalu meminta persetujuan dalam mengganti apapun.
“Tolong bawa aku ke sana,” pinta Li Xian kembali bangkit dari tempat duduknya.
“Baik, Presdir Li,” balas teknisi itu, lalu memimpin langkah menyusuri puluhan alat yang menyala dengan baik.
Sejenak Li Xian menatap alat-alat tersebut dengan lampu berwarna hijau yang terus berkelip menandakan alat dan kabel tersebut baik-baik saja. Seredetan kabel berwarna abu-abu yang diikat rapi itu terlihat masih sama seperti kemarin. Sebab, ketika Li Xian sampai di sini, ia memang sempat mengubah semua alat di sini dengan yang baru sehingga mampu diperhitungkan usia ketahanannya.
Sampai tiba akhirnya Li Xian di salah satu alat yang terlihat cukup lama dengan warna pudar mengelilingi kabelnya. Mendadak lelaki itu terdiam sejenak, sepertinya alat itu memang tidak sempat ia bereska sehingga menjadi seperti ini.
“Ini alat yang tidak sempat kita bereskan waktu itu, Direktur Li,” ucap teknisi itu sesuai dengan dugaan Li Xian.
“Ah, iya kau benar! Ini alat yang kita tinggalkan pada saat itu,” balas Li Xian sembari mengecek keadaan kabel tersebut.
Dan benar saja, kabel-kabel itu tampak pudar sekaligus mengelupas dari bungkusnya. Bahkan ada beberapa ruas kabel yang terlihat keluar dari tempat tidak seharusnya kabel itu berada. Hal tersebut membuat Li Xian mengangguk pelan, lalu mencabut kabel-kabel tersebut.
Kemudian, lelaki itu terlihat membongkarnya secara perlahan untuk tetap menjaga kabel tersebut agar tidak terlalu rusak. Meskipun sudah tidak dapat dipakai lagi, tetapi tetap saja itu bisa merugikan perusahaan. Sebab, kabel rusak seperti ini bisa didaur ulang menjadi sesuatu yang bermanfaat.
“Apa masih ada kabel cadangan?” tanya Li Xian mulai melihat RJ-45 yang terpasang pada ujung kabel tersebut.
Meskipun bagian dalam terlihat masih cukup baik, tetapi bagian luar dari kabel UTP itu tampak sangat tidak layak. Padahal kabel ini merupakan kabel belden, artinya kabel yang paling bagus diantara banyaknya kabel UTP untuk sebuah jaringan di dalam ruangan.
“Aku rasa, kita masih memilikinya, Direktur Li,” jawab teknisi itu sembari memeriksa komponen lainnya.
Kedua lelaki itu tampak sangat bekerja sama memeriksa alat tersebut, membuat sebagian teknisi lainya diam-diam tersenyum senang mendapatkan seorang direktur yang begitu peduli. Bahkan sampai mau untuk turun langsung memeriksa semuanya.
“Kalau begitu, kita akan membuat kabel. Karena besok kita harus mempersiapkannya dengan baik, jadi hari ini kita harus menyelesaikan semua kabel ini. Agar besok kita tanggal memeriksa hasilnya saja,” titah Li Xian tegas membuat semua teknisi yang ada di sana langsung membubarkan diri menyiapkan beberapa tool bag untuk membuat kembali kabel LAN tersebut.