35. I Hate Myself

1133 Words
“Xiao Na jie,” panggil Su Yuan pada seorang wanita yang terlihat termenung menatap langit gelap bertaburan bintang. Keduanya tengah berada di rooftop kantor, setelah Xiao Na menyelesaikan pertemuannya tadi. Wanita itu memang sempat mengajak orang tua Demo untuk makan malam, sayangnya ajakan itu ditolak dengan halus sehingga mau tak mau Xiao Na menemuinya di dalam kantor. Namun, hal tersebut malah membuat kedua orang tua Demo merasa terpukau melihat kantor Xiao Na yang begitu mewah dan sangat berteknologi tinggi. Meskipun sudah cukup sepi, sebab para karyawan memang sudah pulang sejak tadi. “Kenapa?” tanya Xiao Na menoleh sesaat pada Su Yuan. “Aku masih tidak menyangka kalau kamu mampu mendirikan perusahaan sebesar ini,” jawab Su Yuan tersenyum tipis. Menanggapi hal tersebut, Xiao Na hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, lalu mulai merebahkan diri dengan kedua tangan yang bertumpu untuk menyanggah kepala miliknya. Sedangkan Su Yuan yang melihat hal tersebut hanya menghela napas pelan, lalu kembali menatap langit dan jalanan lenggang di bawah dengan temaram lampu khas jalan raya. Namun, disaat yang bersamaan ponsel Xiao Na berdering pelan, membuat wanita itu membuka matanya. Lalu, Su Yuan hanya menoleh sesaat, tetapi lelaki itu sama sekali tidak bersuara. Sejenak Xiao Na menatap nama sang penelepon di sana, ia menghela napas pelan sebelum akhirnya menyambungkan panggilan tersebut. “Kenapa?” tanya Xiao Na tanpa basa basi terlebih dahulu. “Wei, Xiao Na. Apa yang sedang kamu lakukan?” Nada ramah terdengar di seberang telepon membuat Xiao Na menghela napas panjang. Sejujurnya, ia memang sangat membenci jika harus berlama-lama di telepon untuk berbicara kepada kedua orang tuanya. Karena ia sudah sangat paham apa yang akan mereka berdua katakan. “Sudahlah. Apa yang kalian inginkan?” tanya Xiao Na terdengar tidak ramah membuat Su Yuan langsung menatap wanita itu dengan alis yang saling bertaut bingung. “Begini Xiao Na, besok aku dan Ayahmu ingin melakukan pertemuan, jadi kamu harus ikut bersama kami,” jawab seorang wanita terdengar seperti memerintah. Seketika Xiao Na tersenyum miring. Entah kenapa ia begitu bosan menjadi pajangan orang tuanya untuk mendekati para kolega kaya. Kali ini ia mendadak sangat kesal. Tentu saja Xiao Na sangat muak kalau harus mendekati mereka lagi, terlebih wanita itu baru saja menyelesaikan pekerjaan kantor yang cukup banyak. “Apa kalian berdua tidak cukup kaya untuk terus memanfaatkanku,” sindir Xiao Na dengan nada ringan tanpa beban sama sekali. “Xiao Na!” sentak Zhang Rou Nan membuat Xiao Na memejamkan matanya beberapa saat. Mendadak rasa perih menyerang hati wanita itu, membuat Xiao Na berusaha mati-matian menahan desakan air matanya yang sebentar lagi akan meluncur bebas. Sebenarnya, ia sendiri tidak tahu kenapa kedua orang tuanya harus selalu mengusik kehidupannya. Tidakkah mereka mengerti kalau dirinya ingin hidup bebas seperti kebanyakan orang? Tanpa harus memikirkan, apa yang akan mereka lakukan besok? Apakah perbuatan ini sudah benar? Sejujurnya, Xiao Na sudah sangat muak. Ia benci menjadi boneka kedua orang tuanya. A sudah sangat ingin memutuskan hubungan sebagai anak dari ZhangZhang Group. Akan tetapi, memikirkan hal tersebut membuat Xiao Na harus kembali mengingat Xiao Wei-kakaknya yang tidak akan pernah menyetujuinya. Sementara itu, Su Yuan yang melihat perubahan ekspresi Xiao Na saat menerima telepon itu pun hanya meringis pelan. Ia memang tidak tahu apa yang terjadi kepada Xiao Na dan keluarganya, karena selama ini dirinya hanya mengetahui kalau wanita itu merupakan anak dari pemilik ZhangZhang Group. Xiao Na menghela napas beberapa kali, lalu kembali berkata, “Baiklah. Putuskan apa yang harus aku lakukan di sana. Sekarang aku mau pergi dulu, ada sesuatu yang mendesak.” Tanpa pikir panjang wanita itu langsung memutuskan teleponnya secara sepihak, lalu menggenggam telepon itu erat sehingga kuku-kuku tangannya memutih. Bahkan mampu membuat lelaki yang ada di samping Xiao Na terkejut. “Su Yuan, aku pergi dulu. Ada sesuatu hal yang harus aku lakukan bersama kedua orang tuaku,” pamit Xiao Na sembari membereskan barang-barangnya, kemudian memasukkan ke dalam tas jinjing yang tidak terlalu besar, dan mulai mengenakan kembali mantelnya agar tidak terlalu dingin. “Baiklah. Hati-hati di jalan, jie,” balas Su Yuan setengah berteriak pada Xiao Na yang mulai menjauhinya. Meskipun ia sangat penasaran, tetapi tidak membuat Su Yuan bertanya lebih lanjut. Karena itu merupakan privasi bagi Xiao Na sehingga dirinya memang tidak mungkin menanyakan hal tersebut. Sementara itu, Xiao Na yang sudah sampai di basement perusahaan pun langsung mengemudikan mobilnya untuk segera kembali ke apartemen. Ia memang harus menenangkan diri, dan jalan satu-satunya adalah pulang. Sebab, tidak mungkin kalau malam ini dirinya mengajak Yushi keluar hanya untuk menemani dirinya minum. Karena wanita itu besok harus meng-handle semua pekerjaannya. Xiao Na pun mengemudikan mobilnya di kecepatan rata-rata, mengingat malam ini cukup padat sehingga dirinya tidak boleh melanggar lalu lintas. Karena akan banyak polisi yang berpatroli di jalanan untuk memeriksa para pengemudi yang mabuk. Sesampainya di basement apartemen mewah, Xiao Na pun langsung memarkirkan mobil. Kemudian, wanita itu melepaskan sabuk pengamannya, dan turun dari mobil sembari membawa tas jinjing yang berisikan beberapa kontrak kerja sama. Setelah itu, Xiao Na pun melenggang pergi mendekati elevator mewah yang terlihat menutup, lalu wanita itu pun memencet tombol yang ada di sana membuat pintu tersebut langsung terbuka. Dan seorang wanita mengenakan mantel hitam itu masuk ke dalam, dan mulai memencet tombol tujuannya yang mengarah pada lantai paling atas gedung ini. Saat Xiao Na menunggu benda tersebut merangkak ke atas, tiba-tiba ponsel wanita itu berdenting pelan. Menandakan sebuah pesan masuk. Tentu saja wanita itu langsung membukanya, dan melihat sebuah pesan yang baru saja dikirimkan oleh kedua orang tuanya. “Jam 7 malam di hotel QuanMao,” gumam Xiao Na sembari membaca isi teks singkat tersebut. Kemudian, pintu elevator pun terbuka, membuat Xiao Na melenggang keluar sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku mantel tersebut. Dan wanita itu pun mendekati salah satu dari dua pintu yang ada di sana, lalu menempelkan sidik jarinya sampai berbunyi singkat. Xiao Na menarik napas dalam-dalam sembari melepaskan semua sepatu dan mantelnya, lalu meletakkan di tempat yang telah disediakan. Mata wanita itu menatap keadaan apartemen masih dalam keadaan gelap, membuat ia langsung memencet saklar di sana. Namun, lampu tersebut malah tidak mau menyala. “Sialan! Kenapa malam ini semuanya begitu menyebalkan,” umpat Xiao Na menyalakan flash light dari ponselnya, lalu melangkah mendekati sekring lampu yang berada tepat di walk in closet. Lagi-lagi sekring itu rusak dan tidak bisa dinyalakan membuat Xiao Na hampir saja menghancurkan benda tersebut. Namun, kewarasannya yang masih memihak menjadikan ia hanya menghela napas kasar, dan mulai melangkah mendekati telepon gedung apartemen untuk memintanya memanggilkan teknisi listrik. Akhirnya, malam ini pun Xiao Na terpaksa hidup dalam kegelapan seperti takdirnya. Bahkan wanita itu hanya bisa menghela napas pelan, mungkin malam ini yang menjadi penerang dirinya hanyalah bulan. Dan hal tersebut menjadikan Xiao Na mengerti, kalau selama ini tidak ada yang mendukung dirinya, selain Xiao Wei. “Kak, kamu dimana?” tanya Xiao Na pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD