Sebuah mobil mewah nan menawa itu berhenti tepat di depan lobi gedung tinggi bak pencakar langit. Beberapa orang berpakaian jas hitam rapi tampak menghampiri mobil tersebut dengan pandangan penasaran. Akan tetapi, mereka langsung mendelik terkejut dan menunduk penuh hormat saat melihat sang pemiliknya.
Seorang wanita cantik berpakaian rapi dengan blazer berwarna abu pekat tersebut turun dari mobil mewah miliknya. Namun, tidak ada guratan senyum sama sekali, selain wajah dingin menandakan bahwa dirinya sedang dalam suasana hati yang sangat tidak ingin diganggu.
“Ta Xiao Jie,” sapa mereka serempak saat melihat Xiao Na benar-benar turun dari mobilnya.
Sedangkan yang disapa hanya mengangguk singkat, lalu melempar kunci mobil miliknya ke salah satu pengawal tersebut. Kemudian, melenggang pergi sembari membawa barang bawaan yang ia ingin jadikan sebagai balas dendam.
Tentu saja kedatangan dirinya ke kantor ini mengundang tatapan terkejut dari mereka semua. Sebab, ini pertama kalinya Xiao Na menginjakkan kaki ke gedung milik kedua orang tuanya. Bahkan untuk menghadiri ulang tahun perusahaan pun dirinya hanya akan datang memarkirkan mobil saja, lalu melenggang pergi ke tempat yang tidak pernah diketahui siapa pun, yaitu berkunjung ke Family Mart hanya untuk berselancar internet dan menikmati makanan.
“Nana, sedang apa kau di sini?” celetuk seseorang dari arah belakang membuat Xiao Na yang tengah menunggu elevator langsung membalikkan tubuhnya.
“Ge, aku tidak tahu kau ada di sini,” ucap Xiao Na mengernyit tidak percaya menatap Xiao Wei ada di sini.
“Tentu saja aku akan datang ke sini, Nana. Apa kau lupa kalau aku akan menjadi penerus Papa?” Xiao Wei mendadak bingung dengan perkataan adiknya. Padahal setiap hari ia selalu mengungkit pekerjaannya, tetapi ternyata tidak ada satu pun yang didengarkan oleh wanita itu.
“Maaf, sepertinya aku lupa,” sesal Xiao Na sembari meringis pelan, lalu masuk ke dalam elevator yang terlihat kosong. Akan tetapi, kedua alis tebal milik wanita itu langsung bertaut ketika melihat sang kakak yang masih setia di tempat. “Apa kau tidak ingin ke atas, Ge?”
Xiao Wei menggeleng pelan sembari tertawa renyah. “Aku baru saja turun dari sebelah, sekarang kita harus berpisah di sini. Karena aku masih ada rapat akusisi Hotel Guomao.”
Mendengar hal tersebut, mau tak mau Xiao Na hanya mengangguk singkat, lalu memencet tombol tujuannya. Tak lama kemudian, pintu elevator pun tertutup memisahkan kedua kakak beradik yang mulai menjalani kesehariannya masing-masing.
Namun, sampai saat ini Xiao Wei masih tidak menyangka kalau sebenarnya Xiao Na datang hanya untuk mengungkapkan kejelekan orang tuanya sendiri. Ralat, mungkin sudah sangat lama ia terus menahan hal ini sampai akhirnya ia merasa lelah dan harus mengungkapkannya sendiri.
Sesampainya di lantai tujuan, Xiao Na pun melangkah menyusuri lantai ruang orang tuanya bekerja. Di sana, terlihat banyak sekali karyawan yang menatap dirinya penasaran sekaligus bingung. Karena kebanyakan dari yang ia lihat, rata-rata karyawan di sini merupakan karyawan baru sehingga wajar saja tidak ada yang mengetahui identitasnya.
Mungkin itu menjadi keberuntungan bagi Xiao Na sehingga ia tidak perlu bersusah payah menjawab pertanyaan penasaran dari mereka. Walaupun ia sendiri tahu, kalau mereka bertanya hanya untuk tahu, tanpa berniat membantunya sama sekali.
Seorang wanita muda yang sepertinya seumuran dengan Yushi tampak mendekati Xiao Na sembari membawa map kerjanya. Wanita itu menatap dirinya dengan pandangan menelisik, lalu terpaku pada sebuah benda berwarna hitam yang berada di belakangnya.
“Permisi, Nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu sopan.
Xiao Na yang sejak tadi dalam suasana hati buruk pun hanya menatap wanita itu datar. Bahkan ia terlihat tidak ingin menjawab pertanyaan wanita tersebut, yang dirinya yakin adalah sekretaris baru Zhang De Nan.
Kemudian, Xiao Na hendak melewati wanita itu. Sayangnya, sekretaris muda itu terlihat sangat gigih untuk mencegah dirinya.
“Nona, kau tidak boleh masuk ke dalam ruangan Pimpinan Besar Zhang,” cegah wanita itu membentangkan tangannya lebar-lebar.
“Minggir!” ucap Xiao Na penuh penekanan sembari menatap wanita itu tajam.
Mendadak nyali wanita itu pun menciut melihat tatapan tajam dari wanita asing di hadapannya, tetapi hal tersebut seakan tidak berefek sama sekali. Sekretaris dengan nyali yang cukup berani itu pun tetap setia di tempatnya, membuat Xiao Na menghela napas pelan.
Dengan mudah Xiao Na melenggang melewati wanita itu, lalu meraih handle pintu besar milik orang tuanya. Tentu saja di belakang dirinya masih ada sekretaris bernyali besar yang berusaha mencegah masuk.
Sayangnya, sekretaris itu kalah cepat dengan Xiao Na yang langsung membuka ruangan tersebut tanpa aba-aba sama sekali. Membuat beberapa orang yang ada di dalam tampak terkejut melihat kehadiran dirinya, terutama Zhang De Nan.
“Maaf, Pimpinan Zhang. Aku sudah mencegahnya tadi,” sesal sekretaris itu menunduk ketakutan.
Namun, lelaki paruh baya yang masih terlihat sehat itu pun menyuruh semua orang untuk pergi keluar meninggalkan dirinya dan Xiao Na.
“Tolong antar mereka semua keluar, Ningning. Anakku sedang berkunjung, dan tidak ingin diganggu,” ucap Zhang De Nan tertawa pelan membuat semua kolega bisnisnya ikut tertawa.
Akan tetapi, tidak dengan Ningning yang mendelik tidak percaya kalau wanita tadi adalah anak dari pimpinannya. Pantas saja aura ketajaman itu seakan ingin menguliti dirinya hidup-hidup. Ternyata itu adalah gen kental dari Zhang De Nan.
Selepas kepergian mereka semua, pintu ruangan pun kembali menutup. Kali ini hanya menyisakan Zhang Xiao Na dan Zhang De Nan yang diselimuti aura cukup mencekam, terlebih mereka berdua sempat berdebat cukup sengit semalam.
“Aku datang ke sini hanya untuk mengembalikan barang milik istrimu,” ucap Xiao Na ketus sembari menyerahkan benda yang sejak tadi berada di tangannya.
Sejenak Zhang De Nan terlihat penasaran sekaligus bingung mendengar perkataan anak perempuannya, tetapi tidak memungkiri kalau lelaki itu langsung membukanya. Akan tetapi, tidak ada yang menduga kalau lelaki itu juga terlihat sangat terkejut.
“Apa ini, Xiao Na?” tanya Zhang De Nan tidak percaya.
“Itu adalah perekam suara puluhan kilometer sekaligus bom waktu yang akan menghancurkan perusahaanku,” jawab Xiao Na datar, seakan ia sama sekali tidak terusik dengan perkataannya sendiri.
Kini bukan hanya Xiao Na saja yang terkejut, melainkan Zhang De Nan pun melakukan hal yang sama. Lelaki paruh baya itu terlihat sesak napas, membuat Xiao Na sedikit khawatir. Akan tetapi, ia tidak ingin peduli sama sekali, sebab kedua orang tuanya selama ini selalu memperlakukan dirinya berbeda daripada kakaknya sendiri.
Semakin lama napas Zhang De Nan sembari memburu membuat Xiao Na semakin khawatir, wanita itu bahkan bergelut dengan perasaannya sendiri. Sampai akhirnya ia menyerah dan mulai mendekati sang ayah.
“Pah, kau kenapa?” tanya Xiao Na mendadak khawatir.
Zhang De Nan menggeleng pelan sembari tersenyum tipis melihat wajah dingin anaknya mulai berubah. Padahal selama ini ia tidak pernah melihat ekspresi tersebut, selain marah dan aura dingin yang selalu terpancar. Bahkan membuat dirinya sedikit takut ketika menghadapi anaknya sendiri.
“Pah, ayo kita ke rumah sakit!” ajak Xiao Na berusaha membantu sang ayah berdiri, tetapi malah disambung gelengan pelan.
“Papa baik-baik saja,” ucap Zhang De Nan lemah, tetapi tak lama kemudian lelaki itu malah jatuh pingsan. Membuat Xiao Na langsung berteriak meminta tolong, dan terlihat beberapa karyawan masuk, lalu memapah tubuh ayahnya.
Kini perasaan khawatir mulai melingkupi perasaan Xiao Na. Entah apa yang disembunyikan lelaki itu sehingga ia tidak mengetahui riwayat penyakitnya. Akan tetapi, perasaan itu tidak akan kalah dengan perasaan marahnya pada sang pelaku yang menaruh benda sialan ini di dalam perusahaannya sendiri.