“Direktur Li, kau sudah datang?” celetuk salah satu teknisi melihat kehadiran lelaki berpakaian rapi dengan sebuah kartu nama melingkari leher tegasnya.
“Iya,” jawan Li Xian singkat sembari menatap layar komputer yang menampilkan beberapa titik merah.
Sebenarnya, pagi-pagi sekali lelaki itu sudah mendapatkan telepon dari kantor. Mengatakan bahwa alat mereka mendadak rusak parah sehabis melakukan siaran langsung kemarin.
Awalnya Li Xian sedikit tidak percaya, karena semua alat tersebut sudah ia cek keadaannya, dan itu semua jauh dari kerusakan. Entah kenapa ia menduga kalau alat di sini sudah ada yang menyabotase, atau lebih tepatnya orang dalam melakukan kecurangan.
“Apakah kau sudah melihat rekaman CCTV?” tanya Li Xian menggeser kursi server, lalu mulai meneliti beberapa kerusakan tersebut.
“Tidak ada yang aneh, Direktur Li. Sepertinya, dia memang sudah mengetahui titik rawan CCTV sehingga dapat dengan mudah menghindarinya,” jawab salah satu teknisi yang bertugas membersihkan alat tersebut, membuat Li Xian menoleh sejenak.
“Lalu, siapa yang pertama kali menemukan hal ini?” Li Xian menatap satu per satu teknisi di hadapannya. Sebenarnya ia juga cukup tidak percaya mengetahui kalau dirinya sempat kecolongan.
“Aku, Direktur Li.” Seorang lelaki muda berseragam teknisi baru itu pun melangkah mendekati Li Xian.
“Kenapa bisa kau menemukannya?” tanya Li Xian penasaran.
“Sebenarnya, aku memang bertugas untuk melepaskan kabel-kabel alat setelah digunakan. Ada beberapa alat yang baru saja aku lepas malah mengeluarkan asap. Padahal selama aku bekerja di sini, tidak pernah sekalipun aku melakukan kesalahan. Jadi, aku mulai mencari kejanggalan di ruangan, sampai aku menemukan benda ini, Direktur Li,” tutur teknisi muda itu sembari memberikan benda berwarna hitam yang terlihat seperti diska lepas.
Tanpa pikir panjang, Li Xian langsung mengambil benda tersebut dan mulai menelitinya. Dan ternyata, itu adalah diska lepas khusus untuk transfer data secara cepat dan akurat. Namun, yang membuatnya semakin aneh adalah benda ini hanya bisa ditemukan di Korea, tempat dirinya menuntut ilmu sehingga Li Xian mendadak penasaran.
“Kalau begitu, kalian segera melaporkan ini kepada Pimpinan. Aku akan tetap berada di sini sampai menelisik lebih jauh,” putus Li Xian membuat beberapa teknisi tersebut membubarkan diri.
Sebab, lelaki itu memang memiliki kebiasaan untuk memutuskan semua hal secara menyeluruh sehingga tidak menutup kemungkinan kalau dirinya menginginkan ruangan sepi tanpa seorang pun. Biarlah nanti Xiao Na sendiri atau pun Yushi yang datang.
Perlahan kaki Li Xian mulai menyusuri barisan alat itu dengan menelisik satu per satu untuk melihat kejanggalan atau perbedaan dari apa yang ia siapkan kemarin. Karena ia memiliki kemampuan mengingat yang sangat baik sehingga tidak mudah melupakan apapun.
Namun, beberapa saat kemudian ia melihat kejanggalan dari alat yang baru saja dirinya hidupkan kemarin. Entah kenapa alat tersebut menyala dengan sangat aneh, mungkin lebih tepatnya berkelip cukup cepat, membuat perhatian lelaki itu terpaku pada alat tersebut.
Li Xian pun berjongkok tepat di depan alat tersebut sembari mengernyitkan keningnya bingung. Ia seperti melihat sesuatu di sana, tetapi seiring dirinya mengikuti arah, Li Xian malah dikejutkan oleh sebuah benda aneh berbentuk kotak tepat di sudut ruangan.
“Ini tidak mungkin bom, bukan?” gumam Li Xian pada dirinya sendiri, lalu mulai bangkit sembari mengangkat benda tersebut yang cukup berat.
Kemudian, lelaki itu pun membawanya ke atas meja server. Jujur saja, ia memang tidak melihat keanehan sejak tadi. Bahkan jendela-jendela masih terpasang sempurna. Tidak ada tanda-tanda pembobolan paksa, kecuali sang pelaku memiliki cukup kekuatan untuk menghilang.
Namun, saat Li Xian hendak membobol benda tersebut, tiba-tiba pintu ruang alat berderit pelan menandakan ada seseorang yang menempelkan akses di sana. Dan di luar, terlihat seorang wanita dengan raut wajah panik, dan membuka pintu secara kasar.
“Ada apa ini, Direktur Li? Aku dengar kalau ruangan alat disabotase kembali,” tanya Xiao Na panik.
“Iya, Presdir Zhang. Tapi, aku tidak bisa mengetahui pelakunya. Hanya saja dia meninggalkan benda ini,” jawab Li Xian memperlihatkan sebuah benda aneh yang ia temukan di sudut ruangan tadi.
Xiao Na yang mengerti banyak benda itu pun mulai melangkah mendekat, lalu menelisik sembari membantu Li Xian membobolnya secara paksa. Akan tetapi, siapa pun tidak ada yang menduga kalau benda tersebut adalah sebuah alat penyadap ruangan dengan bentuk sangat besar, itu artinya ia mampu menyadap sampai puluhan kilometer.
Sontak, Xiao Na yang benar-benar terkejut itu pun jatuh tepat di atas kursi server sembari menatap benda tersebut dingin. Sejujurnya, ia tahu siapa pelaku yang meletakkan benda ini. Karena dirinya sangat mengenal orang tersebut.
“Kenapa, Presdir Zhang? Apa kau mengenal pemiliki benda ini?” tanya Li Xian penasaran.
Xiao Na hanya diam. Entah kenapa wanita itu terlihat benar-benar dingin membuat aura di sekitarnya mendadak mencekam.
“Li Xian, tolong bawakan benda ini ke mobilku,” titah Xiao Na dingin.
Seakan tidak ingin bertanya lebih lanjut, Li Xian pun mengangguk cepat. Bahkan ia dengan sigap kembali menyatukan benda tersebut kembali seperti semula. Meskipun ada bebepara goresan kecil yang ia hasilkan dari pembobolannya tadi.
Bahkan lelaki itu melenggang pergi dari ruangan tanpa berniat mengajak Xiao Na yang mendadak berubah ekspresi. Ia merasa kalau wanita itu mengetahui sang pemilik benda ini.
Sepeninggalnya Li Xian yang meletakkan benda tersebut di mobil miliknya, Xiao Na pun kembali mendudukkan dirinya kembali. Mendadak rasa pening di kepalanya menyerang begitu cepat. Membuat wanita itu memijat kepalanya penuh lelah.
“Oh, God! I hate myself,” gumam Xiao Na pada dirinya sendiri.
Setelah dirasa cukup tenang, ia pun bangkit dari tempat duduk, dan menyusul kepergian Li Xian. Karena dirinya sudah tidak ada lagi agenda sehingga dapat bepergian dengan mudah. Tanpa harus takut diketahui oleh Yushi.
Walaupun terkadang sekretarisnya itu sangat menyebalkan. Dimana pun dirinya berada pasti akan ditemukan. Maka dari itu, ia sangat benci menyalakan GPS di ponsel miliknya. Ia hanya tidak ingin kalau Yushi harus repot-repot mencari dirinya lagi.
Sesampainya di basement, Xiao Na langsung mengarahkan pandangannya pada sebuah mobil mewah tepat menghadap ruang elevator privat. Lelaki itu terlihat berusaha memasukkan ke dalam bagasi belakang, meskipun sangat kesusahan.
“Li Xian, tolong kau beritahu Yushi kalau aku keluar dari kantor sebentar. Mungkin aku akan kembali tepat ketika makan siang,” ucap Xiao Na membuat Li Xian yang baru saja menutup bagasi tersebut mengangguk pelan.
“Hati-hati, Presdir Zhang!” seru Li Xian saat melihat mobil milik bosnya itu menjauh dari tempatnya berdiri.
Entah kenapa ia merasakan aura peperangan dari wanita itu. Meskipun ia tidak tahu pasti, karena Xiao Na hanya membutuhkan waktu setengah hari saja.
Sementara di sisi lain, Xiao Na berpegangan kuat pada stir mobil miliknya. Gigi wanita itu bergemeletuk pelan seiring dengan rongga dadanya yang menaik-turun karena emosi.
“Aku tidak akan memaafkanmu, Zhang Rou Nan,” kecam Xiao Na dengan tatapan dingin yang mampu membuat siapa pun merasa ketakutan.