41. Waiting for Someone

1119 Words
“Yushi?” Mendadak seorang wanita bergaun merah pekat nan seksi itu mengitari seisi bar ketika mendengar seseorang yang memanggilnya. Namun, ia sama sekali tidak bisa menemukan orang tersebut. Akan tetapi, dari kejauhan terlihat seorang lelaki berpakaian jas rapi melambaikan tangan ke arahnya. Membuat dirinya langsung menyipitkan mata, lalu mendelik tidak percaya ketika melihat Li Xian dengan seorang lelaki yang belum ia ketahui, sebab lelaki itu terlihat memunggungi dirinya. “Li Xian! Sedang apa kau di sini?” tanya Yushi benar-benar tidak percaya ketika mendapati rekan kerjanya berada di tempat seperti ini. “Aku sedang menemani sepupuku,” jawab Li Xian tersenyum singkat, lalu menunjuk ke arah Liu Bai yang sudah setengah mabuk itu. Sejenak Yushi menatap sesosok lelaki yang tampak tidak asing di ingatannya. Ia merasa kalau lelaki itu pernah bertemu, atau lebih tepatnya saling mengenal. Karena dirinya bukanlah tipe orang yang mudah melupakan sesuatu, kecuali dirinya memang benar-benar tidak mengenalnya. Li Xian yang menyadari kakak sepupunya tidak kunjung menoleh pun menghela napas pelan, sepertinya Liu Bai terlalu banyak minum sehingga sulit diajak berbincang. “Ta Ge, sepertinya kita harus pulang,” ajak Li Xian menurunkan tubuhnya dari kursi bar, lalu mempersilakan Yushi untuk duduk di sana. Akan tetapi, saat dirinya hendak memapah Liu Bai, tiba-tiba lelaki itu malah tersungkur hingga tanpa sadar memeluk tubuh Yushi erat. Tentu saja wanita itu langsung terkejut sekaligus tidak percaya kalau lelaki yang berada Li Xian adalah orang yang benar-benar ia kenali. “Liu Bai? Apa benar ini kau?” tanya Yushi membuat Li Xian mendadak bingung. Lain halnya dengan Liu Bai yang mendapatkan kesadarannya lagi ketika mendengar suara wanita kesayangannya. Lelaki itu terlihat langsung mengangkat kepalanya, lalu tersenyum lebar. Namun, tidak ada yang menduga kalau Liu Bai malah menggunakan kesempatan ini untuk memeluk tubuh wanita itu lebih lama. Bahkan ia sampai mengeratkan pelukannya, membuat Li Xian diam-diam tersenyum geli. Sebab, ia sudah mengerti bahwa wanita yang dimaksud adalah Yushi. Rekan kerjanya sendiri. “Astaga, kau sangat mabuk,” keluh Yushi membalas pelukan lelaki itu. Jujur saja, ia agak takut kalau Liu Bai malah tersungkur ke bawah. “Tidak. Aku tidak mabuk,” sanggah Liu Bai dengan nada digoyang-goyangkan seakan dirinya benar-benar mabuk. Seakan mengerti situasi tersebut, Li Xian pun tersenyum miring. Ia memang sepertinya harus segera memisahkan diri. Kalau tidak, rencana kakak sepupunya itu tidak akan pernah berlanjut. Sebab, lelaki itu memang tidak pernah memiliki rasa keinginan untuk memiliki. Dengan cepat, Li Xian pun menyelinap keluar dari bar tanpa sepengetahuan Yushi. Karena ia tahu, kalau sampai ketahuan mungkin masalah akan lebih panjang lagi. Setelah memutuskan untuk pergi keluar dari bar, Li Xian pun berniat untuk pulang saja. Tak lupa ia mengirimkan pesan singkat pada Liu Bai, karena dirinya memang sengaja tidak pulang ke mansion. Sebab, apa yang akan dikatakan orang tuanya nanti? Bisa-bisa dirinya terkena hukuman untuk menjalankan bisnis. Tentu saja bagi Li Xian menjalankan bisnis sebesar itu sangatlah membosankan, terlebih dirinya harus berkutat dengan banyak sekali berkas dan rapat yang harus dihadiri, baik di dalam kota maupun di luar negara. Dan hal tersebut sangatlah menyebalkan. Sejak dulu, Li Xian memang jarang sekali mau untuk dikaitkan perusahaan kedua orang tuanya. Lelaki itu seakan ingin mengejar mimpinya sendiri sampai tidak ingin diganggu gugat saat menempuh pendidikan selama beberapa tahun di Korea Selatan, dan Selandia Baru. Sesampainya di apartemen mewah, lelaki berjas rapi itu pun membanting tubuhnya sendiri di atas kasur sembari terus membayangkan kalau dirinya akan segera resmi bersama Zhang Xiao Na. Memang terlihat tidak sopan menyukai bos sendiri, tetapi percayalah kalau wanita itu sangat menarik. “Kira-kira apa yang membuat dia begitu dingin pada semua lelaki?” tanya Li Xian pada dirinya sendiri. Namun, di tengah pikiran itu, tiba-tiba Li Xian mendadak teringat kalau ia mempunyai kenalan seorang lelaki yang merupakan teman dari masa lalunya Xiao Na. Tanpa pikir panjang, lelaki itu langsung membuka ponselnya, dan mulai menghubungi salah satu karyawan orang tuanya yang bernama Han Siyang. “Wei, ni hao!” sapa Han Siyang tepat panggilan tersambung membuat Li Xian langsung terduduk di tepi tempat tidur. “Wei, Han Siyang! Apa kau ingat aku?” tanya Li Xian tanpa basa-basi membuat panggilan di seberang sana terdiam sesaat. “Ah, aku tahu. Ini pasti Tuan Muda Li,” jawab Han Siyang terdengar menggoda, membuat sang pemilik marga Li mendengus kesal. “Well ... kau benar. Tapi, setidaknya ketika kita berdua seperti ini kau tidak perlu memanggilku seperti itu. Aku sungguh tidak nyaman,” protes Li Xian kesal membuat tawa Han Siyang terdengar begitu renyah. “Baiklah. Ada apa kau mencariku?” tanya Han Siyang sedikit penasaran mengetahui bahwa anak dari pemilik perusahaan yang menjadi tempatnya bekerja menelepon tengah malam seperti ini. “Aku hanya ingin bertanya, jadi kau harus menjawabnya,” jawab Li Xian masuk akal membuat Han Siyang diam-diam mengagumi lelaki to the point tersebut. “Apa yang ingin kau tanyakan? Sampai tengah malam seperti ini masih menggangguku,” ketus Han Siyang, meskipun ia tidak bermaksud seperti itu. “Ini tentang Xiao Na,” jeda Li Xian sebelum kembali melanjutkan perkataannya, “Aku hanya penasaran, kenapa dia begitu dingin kepada semua lelaki?” Mendengar hal tersebut, Han Siyang tidak langsung menjawabnya malah lelaki itu terdiam sebentar. Seakan ia tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. Antara ingin memberi tahu atau tidak. Sebab, ini merupakan privasi milik Xiao Na. Sehingga dirinya tidak bisa sembarangan memberi tahu kepada siapa pun. “Sebenarnya, aku juga tidak tahu persis. Tapi yang jelas, Xiao Na terlihat sedang menunggu seseorang. Karena setiap tahun dia selalu datang ke suatu tempat. Sayangnya, aku tidak tahu tempat apa itu,” jawab Han Siyang terdengar gamang. “Oh ya, aku ingat! Pernah suatu kali aku mengikutinya pergi, dan aku malah berakhir dengan babak belur, lalu Xiao Na mendiamkanku selama tiga hari.” “Kenapa kau mengikutnya pergi?” tanya Li Xian setelah beberapa saat menyimak, dan mulai mencerna perkataan lelaki itu. “Aku hanya penasaran saja, karena setiap dia pergi, lalu pulang dengan wajah kacau. Awalnya aku hanya mengira kalau dia memiliki masalah keluarga, tetapi lama kelamaan aku mulai sadar kalau itu bukanlah masalah keluarga, melainkan percintaan,” jawab Han Siyang. “Setelah itu, kau tidak tahu lagi?” Nada bicara Li Xian terdengar menuntut. Spontan Han Siyang menggeleng, meskipun lawan bicaranya tidak melihat. “Aku tidak tahu. Aku hanya menyimpulkan itu berdasarkan pemahamanku terhadap Xiao Na.” “Kalau begitu, terima kasih, Han Siyang,” putus Li Xian tepat ketika jemarinya menekan tombil berwarna merah tersebut. Setelah memutuskan sambungan telepon, Li Xian mendadak terdiam ketiak mengingat perkataan Han Siyang. Entah kenapa ada sesuatu yang janggal di sini sehingga membuat dirinya merasa tidak tenang, terlebih saat mengetahui tentang fakta dari Xiao Na. “Apakah kamu benar-benar sedang menunggu seseorang, Nana?” gumam Li Xian pelan seiring dengan matanya yang mulai meredup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD