40. Trouble of Love

1171 Words
Mungkin sama sekali tidak ada yang menyangka kalau anak pemilik dari perusahaan besar LX Group akan menjadi salah satu karyawan di perusahaan kecil milik Zhang Xiao Na. Sejujurnya, wanita itu pun masih belum mengetahui latar belakang Li Xian yang tertutup sempurna. Seakan ia sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan siapa pun. Hal tersebut ikut menjadi bayang-bayang bagi Liu Bai yang kini tengah menyesap whisky di salah satu bar ternama di Kota Shanghai. Tentu saja lelaki itu tidak sendirian. Ada Li Xian yang terlihat sangat sibuk dengan ponselnya. Padahal mereka berdua datang ke sini untuk menghibur diri, tetapi melihat Li Xian yang seakan tidak peduli pun membuat Liu Bai sedikit kesal. “Astaga, Li Xian! Aku bosan melihatmu sejak tadi sibuk dengan ponsel,” sungut Liu Bai menatap Li Xian secara terang-terangan tidak suka. Sejenak lelaki yang merasa tersindir itu pun tertawa pelan, lalu mematikan ponselnya sembari menatap sepupunya. “Baiklah. Aku tadi ada kerjaan sedikit.” Liu Bai merasa kalau alasan sepupunya selalu sama pun hanya mencibir pelan, lalu kembali menyesap whisky di tangannya. Ia memang sedikit frustasi hari ini. “Oh ya, kenapa kau mengajakku kemari? Sepertinya sedang ada masalah,” tanya Li Xian yang menyadari perubahan raut wajah sepupunya. “Iya. Aku memang banyak masalah, Xiao Li. Bahkan aku sendiri bingung apakah ini bisa terselesaikan atau tidak. Karena masalah ini terlalu rumit dan berkepanjangan,” jawab Liu Bai menghela napas panjang. Sebenarnya, Li Xian bukan aneh lagi mendengar sepupunya mendadak dalam mood sangat buruk. Karena lelaki itu memang beberapa kali mengalami penurunan suasana hati yang sangat drastis. Terkadang sampai uring-uringan seperti orang gila di dalam kamarnya. “Kalau begitu, apa masalahmu, Ta Ge?” tanya Li Xian mengubah nada suaranya menjadi serius. “Uhm ... apa kau ingat aku pernah bercerita tentang gadis yang aku sukai waktu sekolah?” Liu Bai menatap sepupunya serius, membuat Li Xian mengangguk ragu. “Sebenarnya, aku bertemu dengan dia lagi. Bisa dikatakan ini ketiga kalinya.” “Wah, bukankah itu bagus? Kau bisa menyatakan cinta yang sempat tertunda,” sahut Li Xian tersenyum jahil. “Masalahnya bukan itu,” balas Liu Bai mengusap wajahnya kesal. “Lalu?” Alis kanan Li Xian terangkat bingung. “Aku bertemu dengan dia secara tidak sengaja. Ini memang sangat kebetulan sekali. Bahkan aku sendiri sedikit tidak percaya kalau akan bertemu dengan wanita yang sudah lama sekali tidak bertemu denganku,” tutur Liu Bai mulai menceritakan semuanya. “Lantas kau bingung kenapa?” tanya Li Xian menyuarakan rasa penasarannya. “Jujur saja, aku memang masih menyukainya. Rasa itu seakan tidak pernah hilang dari hatiku, tapi aku sangat canggung untuk berbicara dengan dia lagi. Ada sebuah tembok tak kasat mata diantara kita berdua. Bahkan ketika pertama kalinya kita bertemu, dia bersikap biasa saja. Membuat aku sedikit ragu, apakah dia masih mengingatku?” jawab Liu Bai diakhiri dengan pertanyaan yang selama ini menggelayuti batinnya. Sontak Li Xian yang mulai mengerti maksud dari perkataan Liu Bai pun mengangguk pelan, dirinya menjadi mengerti mengapa lelaki tampan itu bisa menjadi orang serba salah. Namun, apapun yang berhubungan dengan seorang wanita menjadi sangat rumit. Bahkan ia sendiri mengakui hal tersebut, meskipun tidak tahu pasti. Akan tetapi, semasa kuliahnya dulu, Li Xian memang sering kali melihat temannya yang kencan bersama banyak wanita di setiap malam. Dan hal tersebut membuat dirinya merasa tidak nyaman sekaligus kesal. Karena hal itu tentu saja bisa merugikan kedua belah pihak, selain tidak percaya diri, itu akan menimbulkan banyak bencana. “Yang pasti dia akan langsung mengenalimu, jika memang kenangan kalian berdua itu baik. Mungkin ia hanya bersikap biasa saja, karena takut bertegur sapa denganmu. Karena dia tidak mungkin tidak mengenalmu, Ta Ge,” ucap Li Xian mantap. Bahkan sama sekali tidak terdengar keraguan di sana. Namun, menutup semua kemungkinan tersebut, Liu Bai merasa apa yang dikatakan lelaki itu benar adanya. Selama ini ia dan wanita kesayangannya itu belum bertegur sapa sejak pertemuannya kembali. Akan tetapi, bukan itu yang menjadi niatnya. Liu Bai hanya ingin kalau wanita itu mengenalnya. Karena mereka berdua memang sudah dekat sejak masih duduk di bangku sekolah. Sayangnya, kala itu dirinya memang harus pergi menempuh pendidikan di luar negeri sehingga tidak lagi bertemu dengan wanita itu. Ada secercah kebahagiaan mengetahui pujaan hatinya berada di tempat yang sama, tetapi sebuah keraguan dalam berhubungan pun muncul secara perlahan. Ia takut kalau wanita itu telah menjalin hubungan bersama lelaki lain. Mengingat mereka berdua sudah tidak bertemu selama beberapa tahun. “Jadi, aku harus bagaimana?” keluh Liu Bai mengacak rambutnya frustasi membuat Li Xian tertawa pelan. “Kau dekati dia-lah. Lagi pula diam seperti ini tidak akan membuat wanita mengerti, Ta Ge. Kau harus bergerak cepat, sebelum pujaan hatimu direbut oleh orang lain,” balas Li Xian menepuk bahu sepupunya geli. Entah kenapa ia merasa lebih dewasa dibandingkan Liu Bai dalam urusan hal bercinta. Padahal dirinya sama sekali tidak memiliki pengalaman tersebut. Hanya mendengar dari beberapa orang yang sering bercerita kepada dirinya. “Kalau dia menolakku, bagaimana?” tanya Liu Bai dengan segala ke-insecure-annya. “Kau headshot lagi! Punya wajah tampan itu harus dimanfaatkan,” jawab Li Xian tanpa beban membuat Liu Bai seketika mengernyit tidak percaya mendengar penuturan sepupunya sendiri. “Kau yakin? Sepertinya itu bukan tipeku sama sekali,” ringis Liu Bai menggaruk kepalanya tidak gatal. Kebiasaan lelaki itu ketika kebingungan. Melihat kakak sepupunya yang belum juga mengerti pun membuat Li Xian mendadak kesal. Ia tahu kalau Liu Bai tidak akan pernah merebut hak orang lain, meskipun itu akan menjadi miliknya sendiri. Namun, di dalam soal percintaan dan bisnis, itu semua bukanlah menjadi penghalang. Justru akan menjadi sebuah tantangan. “Begini Ta Ge, kau tidak harus merebut dia dari orang lain. Karena kau adalah teman sekolahnya, kenapa tidak bertegur sapa layaknya teman? Lagi pula pendekatan itu bukan seperti bisnis yang langsung to the point. Wanita itu butuh ruang, jadi kau jangan pemaksa,” celoteh Li Xian tersenyum pongah melihat Liu Bai yang tertawa pelan. Tentu saja lelaki itu akan terkesan sangat serabutan dan tergesa-gesa. Padahal wanita itu butuh ruang dan kesederhanaan dalam hubungan. Meskipun tidak sedikit dari mereka yang menyukai uang, tetapi hal tersebut dapat diketahui dengan jelas bagi Li Xian. Kalau wanita yang telah mendapatkan hati sepupunya ini bukanlah wanita biasa. “Bagaimana? Kau mau mengikuti saran dariku, bukan?” tanya Li Xian. Kali ini terdengar lebih meyakinkan. “Memang tidak ada salahnya kalau aku harus mendekati dia lagi,” jawab Liu Bai tersenyum misterius membuat Li Xian bergidik tidak percaya. Namun, disaat yang bersamaan seorang wanita berpakaian dress mini berwarna merah pekat itu tampak mendekat seiring dengan stiletto bergemeletuk pelan. Berbenturan dengan lantai marmer bar yang masih sangat sepi. Hanya ada segelintir orang berbincang sembari sesekali menyesap minumannya. Diantara kedua lelaki tampan itu, yang pertama kali menyadari kehadirannya adalah Li Xian. Lelaki tampan yang masih lengkap jas biru tua itu tampak mengernyit tidak percaya melihat seorang wanita tampak mendekat ke arah mereka berdua. Sayangnya, tatapan wanita itu masih mengitari seisi bar. “Yushi?” panggil Li Xian pelan, tetapi hampir saja Liu Bai menyemburkan minumannya tanpa rasa bersalah sama sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD