Rasanya Raihan ingin memuntahkan nasi goreng yang baru saja ia kunyah, ini pertama kalinya ia mendengar seorang Salsa suka atau mungkin jatuh hati terhadap lawan jenis, selain kecintaan cewek itu pada aktor drama korea yang sering ia tonton tentunya.
"Oh iyadeh nanti gue salamin" jawab Raihan santai seperti biasa tapi sebenarnya hatinya terasa ngilu yang sulit terjelaskan
"Lima menit lagi bel nih, yuk masuk" ajak Raihan ketika nasi gorengnya tandas tak bersisa
"Entar aja deh masih pengen liatin Alvin" tolak Salsa dengan mata yang masih mengarah ke Alvin
"Yaudah gue duluan ya" pamit Raihan sambil beranjak meninggalkan Salsa
"Woi Han! Kok gue ditinggal beneran? tega banget ih" Salsa berlari mengejar Raihan yang sudah ada di tangga
"Ya lagian lo serius amat liatin Alvin yaudah gue tinggalin"
"Abis Alvin cakep sih, hati gue tentram liatnya" puji Salsa
"Cowok cakep banyak kali buktinya gue nih" tampak Raihan memuji diri sendiri
Tapi memang Raihan mempunyai perawakan yang bisa di bilang cakep. karena hidungnya yang mancung dan iris mata coklatnya, belum lagi Raihan yang tinggi menjulang jadi nilai plus. Tidak jarang banyak yang iri dengan Salsa karena kemana-mana cewek itu tidak bisa lepas dari Raihan, padahal Raihan bukan tipe cowok yang gampang dekat dengan cewek. belum lagi jabatan Raihan sebagain kapten futsal SMA Jaya Negara makin menambah ke-eksisannya.
Sementara Salsa merupakan murid baru di SMA Jaya Negara 7 bulan lalu, karena papanya yang sering pindah tugas membuat ia sejak kecil harus hidup nomaden, tempat tinggalnya tidak tetap. Tapi untungnya cewek itu pandai beradaptasi, dan saat masuk di SMA Jaya Negara pertama kali ia langsung klop dengan Nia dan Raihan.
"Kak Raihan" sapa salah satu adik kelas saat bertemu dengan Raihan dan hanya dibalas senyum tipis olehnya.
"Cie kak Raihan hahaha" goda Salsa sambil menyikut lengan Raihan
"Apasih lo"
***
Hari Rabu, jadwal olahraga kelas 11 IPA 3, dan Salsa baru sadar jadwal olahraganya itu bersamaan dengan kelas 11 IPA 1, kelas Alvin. Di SMA Jaya Negara terhitung terdapat 30 kelas yang terdiri dari 10 kelas 10, 10 kelas 11, dan 10 kelas 12. Hal ini membuat tiap guru olahraga mengajar dua kelas sekaligus untuk meminimalisir waktu, karena jam olahraga hanya berlangsung dari jam pertama dan kedua tiap harinya, sehingga tidak membebani siswa karena terik matahari pada jam ketiga keaatas.
"Anjir Ni, gue baru tau kalo kita olahraga samaaan ama kelasnya Alvin" ucap Salsa dengan mata berbinar saking senangnya
"Yaelah lo aja kali yang baru sadar" jawab Nia sambil memutar bola matanya, meskipun ia sendiri tidak tahu kenapa sahabatnya itu tiba-tiba membahas sosok cowok ganteng macam Alvin.
"Asoy nih, gue bisa modus ama Alvin hahaha"
"Dasar modus gembel"
"Itu wedus b**o"
Tiba-tiba peluit pak Hasri berbunyi, seperti kode yang menyuruh seluruh siswa baris, Salsa pun tidak mau kalah, ia mengambil posisi di tempat paling strategis untuk melirik Alvin sembunyi-sembunyi.
"Materi kali ini Atletik, kalian lari keliling lapangan ya! Cewek 3x, Cowok 5x"
"Yah pak selalu aja cowok lebih banyak dari cewek" keluh salah satu murid kelas 11 IPA 1 dan dibalas teriakan setuju oleh temannya
"Kalo gamau ya gausah, saya ga maksa, tapi jangan harap dapat nilai dari saya!" jawab Pak Hasri tegas di sambung dengan tiupan peluitnya dan semua murid berlari mengelilingi lapangan
"Anjir lo kira nih lapangan kecil apa, setengahnya GBK nih" keluh Yuyun teman sekelas Salsa, tapi tetep saja ia lari
"Gue gabisa lari terusan non-stop kaya gini nih, mesti istirahat bentar" kata Salsa dengan napas terengah
Nia menarik napasnya "Pelan-pelan aja Sa, gausah buru-buru biar ga gampang capek" saran Nia
"Udah berapa putaran lo?" tanya Raihan yang tiba-tiba nimbrung percakapan Salsa dan Nia
"Satu aja belom"
"Yah cian, gue udah otw dua nih"
"Oh" balas Salsa cuek
"Udah ya, bye!" Raihan lalu berlari lebih kencang
"PAKKK UDAH SATU NIH!" teriak Salsa saat melewati batas satu putaran dan hanya dibalas anggukan pak Hasri yang hanya duduk memperhatikan muridnya
"Anjir capek Ni"
"Dikit lagi Sa, udah setengah nih" Nia berusaha menyemangati sahabatnya itu "eh Sa, tali sepatu lo lepas tuh" sambungnya
"Ah mana?" Salsa lalu melihat kebawah tapi
BRUK!
Ia terlanjur menginjak tali sepatunya yang tidak terikat itu dan alhasil Salsa jatuh tersungkur.
"Awww" ringis Salsa sambil memegang pergelangan kaki dan betisnya.
"Pak Salsa jatuh nih!!" teriak Nia kepada pak Hasri agar mau membantunya
Raihan yang melihat kejadian itu bermaksud menolong Salsa tapi baru saja ia melangkah sudah didahului oleh Alvin.
"Lo gapapa?"
"Gapapa sih cuman kaki gue ni...h" Salsa langsung terdiam di tempatnya saat tahu orang yang sedang menanyakan keadaannya itu adalah Alvin. Jantungnya langsung berdetak tak karuan
Alvin Kusuma Dewa
Cowok eksis SMA Jaya Negara
Gak kalah eksis ama Raihan
Cakep pake banget
"Gue bantu jalan yah" Alvin lalu memapah Salsa menuju pinggir lapangan.
"Alvin! Bawa langsung ke UKS aja!" Perintah Pak Hasri yang baru datang di tempat kejadian.
"Lo gapapa kan Sa?" tanya Raihan ketika Salsa sudah di dalam UKS
"Keseleo kayaknya, Han" jawab Alvin
"Bener nih cuman keseleo? Kok sakit banget ya gue kira tulang gue udah patah" ringis Salsa
"Alah lebay lo" masih sempat-sempatnya Raihan mengejek sahabatnya itu, tujuannya cuma satu, agar Salsa bisa sedikit melupakan rasa sakitnya
"Ah sudah! Yang lain keluar dulu, Eh kamu! Tolong panggil Pak Sukri dia pintar mijet" perintah Pak Hasri asal pada salah satu siswa
Raihan, Nia dan yang lainnya pun keluar dari UKS
"Lah Alvin? Kok kamu ga keluar?" tanya pak Hasri pada cowok tinggi itu
"Kenapa emangnya pak?" tanya Alvin
"Keluar kamu! Ini tanggung jawab saya"
"Ya gapapa kali pak saya bantu-bantu, sapatau ntar Pak Sukri butuh minyak ini itu nanti saya ambilin haha" jawab Alvin yang duduk di pinggir ranjang tak sadar sedari tadi dia ditatap oleh sepasang mata hitam, Salsa.
"Alah bilang aja kamu mau deket-deket ama Salsa ya kan?" goda Pak Hasri
"Apaan sih pak!" balas mereka bersamaan
"Tuh kan samaan gitu kan"
Pak Hasri memang guru fenomenal di SMA Jaya Negara, berhubung sudah hampir 30 tahun ia mengajar, meskipun sudah tua, jiwa mudanya tidak pernah hilang.
"Ada apa nih siapa yang keseleo?!" Pak Sukri datang dengan kehebohannya
"Nah Pak Sukri, ini Salsa kakinya kayaknya keseleo" kata Pak Hasri
"Kecil itu mah" Jawab Pak Sukri santai
"Yaudah, saya mau keluar dulu amanin anak-anak. Alvin, kalo Salsa udah diurut kamu bawa ke kelasnya yah, Nilai kalian berdua gausah dipikir" kata pak Hasri sambil keluar dari UKS
"Wih makasih banyak pak!" jawab Alvin setengah berteriak dan tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya
"Oh ada Alvin juga, Alvin tolong bukaiin sepatunya Salsa" pinta Pak Sukri sambil mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang ia bawa.
Makasih pak Sukri
Makasih banyak
Batin Salsa saat tahu Alvin disuruh membuka sepatunya
"Gue buka ya?" izin Alvin terlebih dahulu sambil memandang ke arah Salsa
"Buka aja kali ampe minta izin segala haha" jawab Salsa santai meskipun dia sudah sangat senang dengan sentuhan Alvin
"Ini tas saya bawa isinya minyak buat urut, sengaja persiapan, soalnya anggota PMR gaada yang pinter urut tiap ada yang keseleo pasti manggil saya"
"Aw! Sakit" Salsa meringis saat Alvin mencoba membuka sepatu kanannya. Rasanya ganjil ia bahkan sungkan sekedar memanggil nama cowok itu, lagipula mereka 'kan belum kenalan
"Eh sakit ya? sorry sorry" Alvin memperlambat gerakannya
"Kaki gue ga bau kan?" tanya Salsa sambil tertawa
"Gapapa kali, santai" jawab Alvin "Udah nih pak"
"Udah sana minggir!" suruh Pak Sukri yang udah siap mengurut kaki Salsa
"Pak pelan-pelan ya, jangan keras-keras pak sakit banget ini" minta Salsa
"Iya ga keras kok, ini pelan..."
"AAAAAAAA"
*
"Gila pak Sukri bilangnya pelan tau tau kaki gue langsung diputer, emangnya oreo?" omel Salsa ketika keluar dari UKS dan hanya dibalas tawa Alvin yang sepertinya bisa membuat sakit Salsa langsung terlupakan
"Kenapa lo ketawa?" tanya Salsa sedikit sebal
Alvin masih setengah tertawa "Abis lo lucu banget pas teriak tadi, kayaknya satu Jaya Negara denger teriakan lo deh hahaha"
Salsa yang baru sadar kalo tadi teriakannya cukup kencang, seketika malu ditertawakan oleh sosok Alvin.
"Bisa naik tangga ga? Pelan pelan, Sa" tawa Alvin seketika hilang saat Salsa melangkahkan kakinya di pijakan tangga, cewek itu berusaha menyembunyikan senyumnya saat Alvin memanggilnya dengan sebutan 'Sa'.
"Bisa bisa" jawab Salsa tapi tangannya masih memegang erat pegangan tangga
"Aduh jangan dulu deh Sa, belum pulih tuh kayaknya" Alvin menarik Salsa untuk turun dari tangga
"Yaelah 'Vin, udah satu tangga tadi gue naikin"
"Jangan deh, entar lo kenapa-kenapa lagi"
Alvin lalu membukukkan badannya di depan Salsa
"Naik sini" katanya
"Ah naik? Gila lo gausah wey gue bisa naik tangga kok" tolak Salsa dengan perasaan campur aduk
"Udah, ini tanggung jawab gue nganterin lo ke kelas dengan selamat"
"Malu, bentar lagi bel istirahat diliatin orang nih" lagi-lagi Salsa menolak tapi dilubuk hati yang terdalam dia sebenarnya mau-mau saja
Sungguh situasi seperti ini benar-benar nyata, Salsa kira adegan seperti ini hanya ada di dalam drama korea yang sering ia nonton.
"Justru udah mau bel, lo cepetan naik biar tangga ga rame" kata Alvin dengan nada paksaan
"Yaudah yaudah gue naik nih"
Tubuh Salsa lalu naik di atas punggung Alvin
Saatnya istirahat
Its time to have break
Saatnya istirahat
Bel otomatis berbunyi, menandakan saatnya istirahat
"Anjir Vin udah bel nih gawat bakal rame ntar" kata Salsa panik
"Santai aja kali kayak dikejar satpol PP aja" tawa Alvin di saat genting seperti ini
Dari arah atas sudah banyak suara kaki. Salsa makin takut kalau nanti Alvin terkena senggolan dan dia jatuh ter injak-injak. Tapi sepertinya itu terlalu berlebihan.
"Awas lo! senggol, mati lo" ancam Alvin pada salah satu adik kelas yang turun dari tangga dengan arah berlawanan
Ternyata dugaan Salsa salah, derap kaki yang tadinya buru-buru berubah menjadi pelan dan bisa dibilang mereka semua turun teratur.
"Minggir!" Alvin tidak hentinya menyuruh siswa-siswi yang ia temui di tangga untuk minggir dan memberikan jalan untuknya
"Cie Alvin" goda salah satu teman Alvin yang kebetulan bertemu di tangga
"Alah bacot, minggir sana"
Anehnya, semua siswa yang ditemui Alvin di tangga memberinya jalan dan mengikuti perkataan Alvin, meskipun mereka datang dari arah berlawanan.
Untung kelas Salsa di lantai 2, jadi Alvin tidak perlu naik tangga lagi.
"Udah Vin, turunin gue, udah sampe nih" minta Salsa yang makin malu karena makin banyak mata yang memandang aneh menatap mereka berdua
"Sekalian sampe kelas lo aja Sa" jawab Alvin
Dengan langkah pasti Alvin melangkah menuju kelas 11 IPA 3, Sementara Salsa masih tidak bisa menahan malunya karena sepajang koridor ia menerima berbagai macam tatapan aneh
"Kalo lo malu, sembunyiin aja muka lo di punggung gue" kata Alvin yang seperti bisa membaca pikiran Salsa.
Selain tampan, ternyata Alvin juga sangat perhatian.
"Udah sampe Sa" kata Alvin "Sa udah sampe" sambungnya lagi karena cewek itu tak kunjung bergerak
"Ah? Udah" Salsa yang sedari tadi menutup matanya karena malu pun kaget
"Makasih Vin, makasih banyak" Salsa lalu turun dari punggung Alvin "Udah sana lo balik deh" sambung Salsa yang berusaha duduk di kursinya dibantu oleh Alvin, entah mengapa sentuhan Alvin menjalar ke seluruh tubuhnya seperti listrik statis. Ia bahkan ragu apa jantungnya bisa berhenti berdetak
"Ntar kalo mau pulang gue jemput di kelas buat gendong lagi ya?" Salsa tidak tahu perkataan Alvin itu sebuah godaan atau memang ia serius? Yang jelas Salsa tidak bisa menyembunyikan senyumnya
"Gausah kali, kapok gue diliatin mulu"
"Yaudah, gue balik ya, lain kali hati-hati."
"Han, gue duluan" pamit Alvin ke Raihan yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua
"ANJIR SAAAA KESAMBET APA LO KEMAREN ANJIR KOK ADEGAN LO BISA w*****d BANGET SUMPAH" Nia langsung berteriak heboh saat Alvin keluar dari kelas
"Jatuh gue ini membawa berkah sepertinya" Salsa terdiam sejenak masih belum percaya dengan apa yang barusan ia alami
"Cie makin deket aja sama Alvin" goda Raihan pada Salsa tapi sekali lagi hatinya teriris.