part 16

892 Words
Pagi hari sudah datang, suara kicauan burung membangunkan ku, ternyata mas herman sudah bangun terlebih dulu, atau mungkin dia sudah berangkat kerja. Segera aku bangun lalu aku membersihkan muka, ku lihat pada cermin, betapa sembab nya mataku. Kubiarkan saja lah, toh mas herman juga tidak dirumah. Kemudian aku turun kebawah untuk membuat sarapan untukku sendiri. Namun betapa terkejudnya aku saat melihat mas herman sedang menyiapkan sarapan kami. "Loh.. apa dia tidak bekerja ya, setahuku dia hari ini harusnya ad jam mengajar" ucapku dalam hati "Selamat pagi sayang"ucapnya sambil mengecup kening ku "pa.. pagi mas.." jawabku masih takud dengan sikapnya semalam "yuk kita sarapan, mas sudah buatkan sraapan untuk istri mas tercinta" Mas herman mengambilkan makanan untuk ku. Lalu aku pun mulai memakan nya. hanya ada keheningan pada sarapan pagi ini. "sayang... mas minta maaf yah, maafin dong sayang" ucapnya "iya mas, aku maafin, tapi sikap mas buat aku takud" ucapku pelan "mas janji tidak akan mengulangi sikap mas yang semalam lagi" Setelah selesai sarapan, aku membuatkan kopi untuk mas herman, karen ku lihat dia tidak membuat kopi untuknya. Lalu kami berpindah tempat bersantai, kami beraantai sambil menonton televisi. "mas.... boleh aku bertanya?" ucapku pelan "Boleh sayang, mau tanya apa?" jawab mas herman "Mas semalam bilang kalau mas sudah mencintai aku dari dulu. Mulai dari kapan mas?" "Saat melihat kamu pada saat masa orientasi siswa, saat itu kamu mengejar ngejar mas untuk meminta tanda tangan. Mulai dri itu mas terus memperhatikan kamu. Tapi mas galau, sewaktu kami masih kelas sepuluh, bukan mas yang mengajar, melainkan guru lain. Namun Alhamdulillah sewaktu kelas sebelas semester kedua mas yang mengajar di kelas kamu" "Oh pantesan saja mas ngeselin banget sama aku, sengaja ya buat aku kesel." ucapku "Bukan gitu sayang.. Kamu tuh suka banget ngobrol di kelas, suka tidur, suka makan. Jangan fikir mas tidak tahu ya. Lagian kamu juga tahu kan sistem mengajar mas gimana, mas terkenal kejam, dan mas tidak peduli" "Ih dasar pak guru kejam" ucapku padanya Dia pun hanya tertawa saja mendengar nya. "Oh iya, mas mau tanya, kenapa waktu kamu shopping dengan tiani, kamu hanya membeli sepatu saja, bahkan cuma satu?" "karena aku tidak punya uang lagi mas, itu pun pakai dari tabungan ku" ucapku "Astaga mas lupa mengasih kamu nafkah sayang... lagian kenapa kamu tidak minta" Aku hanya diam saja. "Ini ada kartu debit, kartu gaji mas, dan ini kartu kredit bisa kamu pakai ya, pakai sesuka kamu" "iya mas... " jawabku "Stock makanan di kulkas juga sudah banyak yang habis sayang, gimana kalau nanti sore kita pergi belanja?" "iyadeh mas kita belanja. Oh iya, mas kenapa hari ini tidak mengajar, kan mas ada jam mengajar hari ini" "Mas sengaja izin. Mana mungkin lah mas tega ninggalin istri mas dalam keadaan begini" "oh begitu" ucapku "Jangan seperti itu lagi ya sayang, sakit hati mas melihat kamu seperti itu. Mas terlalu jahat" "Sudah la mas jangan dibahas lagi" ucapku "Bagaimana tentang kuliah kamu sayang? mau kuliah dimana?" "Aku belum tahu mas, aku masih bingung. Gimana kalau sewaktu masih kuliah aku sudah hamil anak kita mas?" "kan tidak apa apa, kuliah bebas sayang, orang yang sudah menikah tetap boleh kuliah. Dan kalau memang kamu hamil, kamu bisa ambil cuti satu tahun" "gimana kalau kuliahku di tunda satu tahun dulu mas, aku masih mau belajar menjadi istri yang baik untuk kamu" "Terserah kamu, aku ikuti saja kemauan kamu. Kamu sudah menjadi istri yang terbaik bagiku sayang. Kamu istri idaman mas" "Terima kasih mas untuk pengertian yang kamu berikan selama ini, aku janji akan terus belanjar menjadi istri yang terbaik untuk kamu". Tok... tokk..... Tiba tiba terdengar suara pintu rumah sedang di ketuk. Gegas aku membukakan pintu, ternya mama mertua ku yang datang. "eh mama, silahkan masuk ma" ucapk ku setelah menyalami tangan nya "Iya nduk... Herman nya mana kok kamu sendirian?" jawab mama mertua "Mas herman ada kok ma, sedang menonton televisi. Yuk mari ma kita ke ruang tv saja" Mas ada mama nih datang... ucapku Mas herman langsung bangun lalu menyalami mama. "Mama dari mana, dan datang dengan siapa?" ucap mas herman "Mama dari rumah saja, mama ingin datang untuk melihat kalian saja, barangkali kamu jahat terhadap menantu ku" ucap mama Aku yang mendengar nya sedikit tertawa. "Ini mah dina buatkan teh hangat untuk mama, diminum ya ma" ucapku "iya nduk" ucap mama "Herman kan orang nya tidak pernah jahat ma, apalagi ini dengan istri herman" ucap mas herman membela "Kamu memang tidak jahat, tapi kamu itu kalau sudah tidak suka pasti kamu jadi kasar her" ucap mama mertua lagi Mas herman dan aku diam saja saat mendengar kan mama bicara. Saat inilah aku tahu sifat asli mas herman yang sesungguhnya, kalau dia tidak suka dia akan kasar. "kamu tidak dikasarin sama dia kan nduk?" tanya mama " tidak kok ma, mas herman baik kok ma, penyayang" jawabku Ya.. aku sebagai istri memang harus menutupi keburukan suamiku. "Alhamdulillah kalau begitu. Jadi kapan mama di kasih cucu sama kalian?" deg.... Aku dan mas herman langsung saling pandang, kami terkejud dengan pertanyaan mama. "ma, kami kan baru menikah tiga bulan, kenapa bertanya seperti itu, kan mama tau dina baru lulus sekolah, punya anak itu harus siap mental dan batin, tolong mengerti kondisi dina, mengerti kondisi kami ya ma." "iyadeh mama mengerti, maafkan mama ya din, sudah memaksa kamu" "tidak apa apa ma, dina tidak keberatan ucapku. Setelah lama kami bertiga mengobrol, mama lalu pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD