Bab 3 – Rencana Balas Dendam Pertama

4724 Words
Bagian 1 – Langkah dalam Bayangan Cahaya matahari pagi menembus kaca jendela raksasa yang memenuhi hampir seluruh dinding ruang kerja Arsen Dirgantara. Dari ketinggian lantai 70 gedung Dirgantara Corp, pemandangan kota Jakarta terhampar luas. Gedung-gedung menjulang bak hutan beton, kendaraan berdesakan di jalanan, dan hiruk pikuk kehidupan tak pernah berhenti. Namun, bagi Arsen, semua itu hanya terlihat seperti bidak-bidak kecil di atas papan permainan besar yang siap ia kendalikan. Di balik setelan jas hitam yang rapi, berdiri seorang pria dengan tatapan tajam, penuh perhitungan. Ia memandang ke bawah, ke arah lalu lintas padat, seolah sedang menghitung setiap langkah manusia di kota itu. Setiap nafas yang keluar dari bibirnya mengandung ketenangan yang mencekam, ketenangan milik seorang predator yang sabar menunggu waktu yang tepat untuk menerkam mangsanya. Di tangannya, sebuah berkas tebal terbuka. Di halaman pertama, ada foto-foto beberapa pria paruh baya dengan nama perusahaan besar tertera di bawahnya. Mereka adalah pengusaha dan pejabat yang pernah bersekongkol menjatuhkan keluarga Dirgantara, merebut aset, menghancurkan kehormatan, dan meninggalkan Arsen dalam kehancuran. Kini, bertahun-tahun kemudian, Arsen telah kembali, bukan lagi sebagai anak muda yang tak berdaya, melainkan sebagai penguasa yang ditakuti di dunia bisnis. “Semua akan kembali kepadaku, satu per satu,” bisiknya, suaranya rendah namun sarat dengan kepastian. Pintu ruangannya diketuk. Dengan suara tenang namun penuh wibawa, ia mempersilakan masuk. Seorang wanita muda melangkah masuk dengan langkah ragu tapi anggun. Alena Prameswari, sekretaris pribadinya. Rambutnya terikat rapi, wajahnya cantik meski sederhana, dan mata bulatnya menyiratkan ketulusan bercampur rasa ingin tahu. Di tangannya ada map berisi laporan keuangan terbaru. “Selamat pagi, Tuan Arsen,” ucap Alena pelan sambil meletakkan dokumen itu di meja. Arsen menoleh, matanya sekilas menatap wajah Alena. Tatapan itu tajam, tapi tak pernah sepenuhnya menusuknya seperti kepada orang lain. Ada sesuatu di mata pria itu yang berbeda setiap kali melihat Alena—meski ia sendiri jarang memperlihatkannya. “Pagi,” jawab Arsen singkat, lalu mengambil map itu. Jemarinya membuka halaman demi halaman, membaca cepat dengan konsentrasi penuh. Alena berdiri diam, menunggu instruksi lebih lanjut. Ia sudah terbiasa dengan keheningan panjang di ruangan itu. Setelah beberapa menit, Arsen menutup map tersebut. “Laporan ini sudah cukup baik. Pastikan setiap transaksi diperiksa ulang. Aku tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun.” Alena mengangguk. “Baik, Tuan.” Arsen kembali berjalan ke arah jendela. Dari pantulan kaca, ia bisa melihat Alena masih berdiri. Ada keragu-raguan di wajah gadis itu, seolah ingin bertanya sesuatu. Arsen berbalik perlahan. “Kau ingin mengatakan sesuatu?” tanyanya datar. Alena terkejut sedikit, lalu menunduk. “Saya hanya… saya merasa ada sesuatu yang berbeda, Tuan. Belakangan ini suasana di kantor terasa lebih tegang. Seolah semua orang menunggu sesuatu terjadi.” Arsen menatapnya dalam-dalam. Gadis ini, tanpa disadari, cukup peka terhadap perubahan kecil. Itu bisa menjadi kelemahan… atau justru kekuatan. Ia tidak bisa memutuskan sekarang, tapi jelas ia harus berhati-hati. “Alena,” ucap Arsen akhirnya, suaranya berat. “Ada hal-hal yang lebih baik tidak kau ketahui untuk saat ini. Tugasmu hanya memastikan semua berjalan rapi. Mengerti?” Alena menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk patuh. “Mengerti, Tuan.” Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Di luar, awan tipis menutupi matahari, menciptakan bayangan samar di lantai marmer. Arsen menatap kembali berkas di tangannya, lalu menaruhnya di meja dengan penuh perhitungan. Itu adalah daftar target pertama dalam rencana balas dendamnya. Nama yang tertera di sana membuat matanya menyipit: Surya Mahardika. Seorang taipan properti, teman lama ayahnya yang berkhianat di saat keluarga Dirgantara paling membutuhkan dukungan. Pria itu bukan hanya merebut proyek besar, tetapi juga menjadi dalang di balik kebangkrutan ayahnya. Kini, Surya duduk nyaman di singgasananya, tanpa tahu bahwa badai sedang mengarah ke arahnya. “Waktunya bidak pertama bergerak,” gumam Arsen. --- Hari itu, sepanjang waktu, Arsen mempersiapkan strategi. Ia memanggil tim kepercayaannya ke ruang rapat khusus di lantai bawah. Ruangan itu berbeda dengan ruang rapat biasa—lebih kecil, kedap suara, dengan layar digital besar menampilkan grafik, bagan, dan data rahasia. Di dalam ruangan, tiga orang sudah menunggu. Mereka adalah orang-orang pilihan Arsen, yang hanya tunduk pada dirinya. Davin, tangan kanan Arsen, ahli strategi bisnis dengan otak setajam pisau. Raka, kepala divisi investigasi internal, mantan intelijen yang piawai menggali rahasia. Maya, pakar keuangan dan manipulasi data, dingin dan tanpa emosi. Ketiganya berdiri saat Arsen masuk. Suasana ruangan langsung berubah tegang. Arsen duduk di kursi utama, lalu menyalakan layar. Foto Surya Mahardika muncul, disertai data lengkap: aset, keluarga, kelemahan, bahkan rahasia pribadi yang jarang diketahui orang. “Target pertama kita adalah dia,” ujar Arsen, menunjuk layar. “Kita tidak akan menyerang langsung. Kita akan merobek fondasinya perlahan, sampai ia berlutut memohon ampun.” Davin tersenyum tipis. “Aku sudah menunggu ini. Perusahaan Mahardika Group sedang goyah di sektor konstruksi. Satu dorongan kecil, dan mereka akan jatuh.” Maya menambahkan, “Saya bisa memanipulasi laporan keuangan agar terlihat semakin buruk. Investor akan panik, sahamnya anjlok.” Arsen mengangguk pelan. “Bagus. Tapi ingat, ini baru langkah pertama. Jangan sampai mereka menebak siapa dalangnya. Kita bergerak dalam bayangan.” Raka, yang sedari tadi diam, akhirnya bicara. “Aku sudah menyusupkan orang ke lingkaran dalam Mahardika. Kita bisa tahu setiap gerakan mereka. Bahkan, aku punya beberapa informasi tentang putrinya.” Alis Arsen sedikit terangkat. “Putrinya?” Raka mengangguk. “Namanya Celine Mahardika. Usia 24, baru pulang dari luar negeri. Ayahnya sangat melindunginya. Jika kita menyentuh dia, Surya akan kehilangan keseimbangannya.” Ruangan hening sesaat. Arsen mengetuk meja dengan jarinya, berpikir. Balas dendam tidak hanya soal menghancurkan bisnis, tapi juga menyentuh titik paling rapuh musuh. Akhirnya, ia berbicara. “Kita tidak akan menyentuhnya secara fisik. Tapi kita bisa memanfaatkan keberadaannya. Cari tahu jadwalnya, kebiasaannya, dan siapa yang dekat dengannya. Aku ingin semua detail.” “Siap, Tuan,” jawab Raka mantap. Arsen bersandar di kursinya. Matanya menatap layar, namun pikirannya jauh melayang. Bayangan masa lalu kembali menghantuinya—malam ketika keluarganya kehilangan segalanya, malam ketika ia bersumpah akan membalas. Kini, sumpah itu mulai terwujud. Namun, di balik tekad itu, ada sesuatu yang lain. Ketika bayangan Alena muncul dalam pikirannya tanpa sengaja, ia merasa goyah sejenak. Ia tahu ia tidak boleh membiarkan perasaan mengganggu rencana. Balas dendam adalah satu-satunya tujuan. Segalanya harus tunduk pada itu, bahkan jika hati kecilnya mulai berbisik sebaliknya. --- Sore menjelang malam, Arsen kembali ke ruang kerjanya. Kota di bawah sudah mulai dipenuhi lampu-lampu. Alena masuk membawa secangkir kopi hitam. “Tuan, Anda pasti lelah. Minum ini dulu,” katanya lembut. Arsen menerima cangkir itu tanpa menatapnya. Namun, ketika jari mereka tak sengaja bersentuhan, ada sesuatu yang mengalir—sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia cepat-cepat menarik tangannya, menutupi dengan sikap dingin. “Terima kasih. Kau boleh pergi.” Alena menunduk dan keluar, meski hatinya terasa berat. Ia tahu ada sesuatu di balik tatapan mata Arsen tadi. Sesuatu yang hangat, meski hanya sesaat. Arsen menatap kopi di tangannya. Uapnya naik perlahan, seakan mengingatkan bahwa di balik dinginnya api dendam, ada kehidupan lain yang mencoba masuk. Tapi untuk saat ini, ia menolak membiarkan itu menguasainya. “Belum saatnya,” bisiknya pada dirinya sendiri. --- Bagian 2 – Bidak Pertama Bergerak Malam sudah larut, namun gedung Dirgantara Corp masih menyala terang. Di lantai 70, Arsen duduk sendiri di ruang kerjanya, dikelilingi cahaya lampu neon putih yang dingin. Tangannya mengetuk meja pelan, mengikuti ritme pikirannya yang tak berhenti berputar. Di hadapannya, layar laptop memunculkan data-data terbaru mengenai Mahardika Group. Grafik saham, laporan proyek, serta catatan keuangan perusahaan itu terhampar jelas. Semua angka itu hanyalah wajah formal dari sebuah kerajaan bisnis—dan setiap kerajaan punya titik rapuh. Arsen tersenyum tipis. “Setiap istana, tak peduli setinggi apa dindingnya, tetap bisa runtuh dari dalam.” Ia menutup laptop, lalu berdiri. Dari jendela kaca raksasa, lampu-lampu kota berkelip bagaikan lautan bintang. Namun bagi Arsen, cahaya itu tak pernah terlihat indah—hanya pengingat bahwa setiap titik cahaya adalah ambisi, kekuasaan, dan keserakahan. Dunia ini memang dipenuhi bidak yang siap dikorbankan. --- Pagi berikutnya Arsen memulai pergerakan. Ia memanggil Davin ke ruangannya. Pria itu masuk dengan senyum percaya diri. “Target sudah siap, Tuan,” katanya sambil meletakkan sebuah map di meja. “Kita akan mulai dari proyek perumahan mewah Mahardika di wilayah Tangerang. Proyek itu sudah bermasalah dengan perizinan. Jika kita sedikit mendorong, maka investor akan kehilangan kepercayaan.” Arsen membuka map itu, menatap data di dalamnya. Foto-foto lahan kosong, laporan pembangunan yang terhenti, dan artikel media tentang keluhan warga. Semua sudah tersusun rapi. “Bagus. Buat itu meledak di media,” ucap Arsen. “Tapi jangan ada jejak yang mengarah ke kita.” Davin mengangguk. “Saya sudah menyiapkan wartawan bayaran. Dalam dua hari, isu ini akan menjadi headline. Surya akan sibuk memadamkan api.” Arsen menatapnya dalam-dalam. “Ingat, ini baru langkah awal. Jangan terlalu cepat. Kita ingin dia panik perlahan, bukan langsung waspada.” --- Di sisi lain kota Surya Mahardika duduk di ruang kerjanya yang megah. Usianya 58 tahun, tubuhnya masih tegap, dan wajahnya penuh percaya diri. Namun pagi itu, ia menerima telepon yang membuat darahnya naik. “Apa maksudmu proyek kita diberitakan macet?” bentaknya pada bawahannya. “Kau bilang semua sudah beres dengan pemerintah daerah!” “P-Pak, memang sudah beres. Tapi entah kenapa, media menggulirkan isu baru. Mereka menulis seakan-akan proyek kita mangkrak karena korupsi.” Surya menepuk meja keras. “Bangs*t! Cari tahu siapa yang bermain di belakang ini! Aku tidak mau nama Mahardika dipermalukan!” Telepon ditutup dengan kasar. Surya bersandar, matanya menyipit. Ia tahu dunia bisnis tidak pernah tenang. Musuh bisa datang dari mana saja. Namun, ia tidak pernah mengira badai besar sedang diarahkan langsung ke kepalanya. --- Sore hari – Kembali ke Dirgantara Corp Arsen duduk bersama Raka dan Maya di ruang rapat kecil. Di layar, artikel-artikel tentang proyek Mahardika sudah bermunculan. Judul-judulnya sengaja dibuat provokatif: “Proyek Raksasa Mahardika Terancam Gagal?” “Warga Pertanyakan Legalitas Pembangunan Perumahan Elit” “Investor Mulai Ragukan Mahardika Group” Arsen membaca satu demi satu dengan wajah datar. “Bagus. Tapi kita belum berhenti di sini.” Maya menambahkan, “Saya sudah menyiapkan analisis keuangan yang menunjukkan kelemahan Mahardika. Begitu isu ini berkembang, saya akan sebarkan laporan palsu yang memperburuk kondisi mereka. Investor akan makin panik.” Raka mengangguk. “Dan orang dalam kita di Mahardika melaporkan bahwa Surya sangat terpukul. Ia bahkan mulai curiga ada pihak luar yang menyerangnya.” Arsen tersenyum dingin. “Biarkan dia curiga. Tapi jangan sampai ia menemukan kita. Aku ingin dia merasa semua orang bisa jadi musuhnya. Semakin ia bingung, semakin mudah dia jatuh.” --- Malam – Kediaman Surya Mahardika Di ruang makan mewah, Celine Mahardika duduk bersama ayahnya. Gadis itu berambut panjang, wajahnya lembut namun matanya tajam. Ia baru saja kembali dari Paris, namun kini ia melihat ayahnya murung. “Ayah, kenapa wajahmu tegang sekali?” tanyanya sambil menuang air minum. Surya menghela napas panjang. “Ada yang mencoba merusak reputasi ayah. Proyek besar kita sedang diserang isu. Tapi jangan khawatir, ayah bisa mengatasinya.” Celine menatapnya khawatir. “Ayah harus hati-hati. Dunia bisnis di sini lebih kejam daripada politik. Siapa pun bisa menikam dari belakang.” Surya tersenyum samar. “Itu sebabnya aku harus tetap kuat. Ingat, Celine, dalam bisnis hanya ada dua pilihan: kau makan, atau kau dimakan.” Namun jauh di dalam dirinya, Surya merasakan kegelisahan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. --- Kembali ke Arsen Di balkon penthouse pribadinya, Arsen berdiri sambil menatap langit malam. Di tangannya segelas wine, namun ia hanya menggoyangkannya pelan, tak pernah benar-benar meminumnya. Alena datang membawakan beberapa berkas tambahan. “Tuan, ini laporan terbaru dari divisi pemasaran. Saya letakkan di meja Anda.” Arsen menoleh sekilas. “Baik. Tinggalkan di sana.” Namun Alena tidak langsung pergi. Ia menatap pria itu dengan ragu. “Tuan… maaf jika saya lancang. Tapi… apakah benar Anda sedang melawan Mahardika Group?” Arsen menatapnya tajam. Alena segera menunduk, menyadari ia mungkin telah melewati batas. “Kenapa kau bertanya begitu?” suara Arsen dalam dan menguji. “Saya… saya hanya mendengar bisikan dari beberapa staf. Mereka bilang perusahaan kita sedang bergerak melawan Mahardika. Dan saya… saya takut Tuan terluka dalam perang ini.” Arsen terdiam. Kata-kata itu menyentuh sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang jarang disentuh siapa pun: kekhawatiran tulus. Ia mendekat selangkah, berdiri cukup dekat hingga Alena bisa merasakan aura dinginnya. “Alena, dunia ini tidak ramah. Jika kau ingin tetap bekerja di sisiku, ada satu hal yang harus kau ingat: aku tidak pernah kalah.” Alena menahan napas, lalu mengangguk pelan. “Saya percaya, Tuan.” Arsen menoleh kembali ke langit malam. Dalam hati, ia tahu, perkataannya bukan sekadar keyakinan—melainkan sumpah. Kali ini, ia benar-benar tidak boleh kalah. --- Esoknya – Pukulan pertama sukses Media semakin panas. Investor mulai menjual saham Mahardika. Harga turun drastis. Surya mengadakan rapat darurat, namun setiap solusi terasa sia-sia. Di sisi lain, Arsen duduk di kursinya dengan tenang, menatap grafik saham yang anjlok di layar. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Bidak pertama sudah bergerak,” gumamnya. “Dan papan permainan baru saja mulai bergetar.” --- Bagian 3 – Retakan dalam Istana Mahardika Langit sore Jakarta dipenuhi awan abu-abu, seakan mencerminkan suasana hati Surya Mahardika. Di ruang rapat utama gedung Mahardika Group, semua eksekutif duduk tegang. Layar proyektor menampilkan grafik saham perusahaan yang menurun drastis, garis merah menukik tajam seperti luka yang menganga. “Ini tidak bisa diterima!” suara Surya menggelegar. Ia berdiri dengan wajah merah padam. “Kalian semua dibayar mahal, tapi apa yang kalian lakukan? Biarkan nama Mahardika diinjak-injak media murahan!” Beberapa eksekutif hanya menunduk, tak berani menatap langsung. Rapat yang biasanya diisi suara optimis kini berubah menjadi ruang pengadilan. Seorang pria paruh baya, Kepala Divisi Hukum, mencoba bersuara. “Pak Surya, kami sedang melacak asal isu ini. Kami menduga ada pihak yang sengaja menyebarkan informasi palsu. Namun—” “Namun apa?!” potong Surya. “Namun pihak itu terlalu rapi, Pak. Tidak ada jejak jelas. Semua mengarah pada media kecil yang baru dibentuk. Mereka seperti… bayangan.” Suasana semakin mencekam. Surya menggenggam tongkat kayu kecil yang selalu ia bawa, mengetuknya keras di meja. “Aku tidak peduli seberapa rapi mereka. Aku ingin nama Mahardika kembali bersih dalam seminggu! Kalau kalian tidak sanggup, anggap saja karier kalian selesai!” --- Retakan di lingkar dalam Setelah rapat bubar, dua eksekutif muda keluar dengan wajah penuh kegelisahan. Mereka adalah Anton dan Gilang, tangan kanan Surya dalam proyek-proyek besar. “Gawat, Gilang,” bisik Anton sambil melirik ke sekeliling. “Kalau situasi ini berlanjut, Mahardika akan kehilangan investor besar dari Jepang.” Gilang menghela napas panjang. “Aku tahu. Dan kalau itu terjadi, Surya akan mencari kambing hitam. Bisa-bisa kita yang dikorbankan.” Keduanya saling bertukar pandang, lalu terdiam. Diam-diam, benih keraguan mulai tumbuh di dalam tubuh Mahardika Group. Mereka tidak tahu bahwa semua ini adalah bagian dari rencana Arsen: membuat Surya meragukan loyalitas bawahannya sendiri. --- Di markas Dirgantara Corp Arsen menerima laporan dari Raka. “Seperti yang kita perkirakan, Tuan. Rapat darurat berakhir dengan kemarahan Surya. Para bawahannya mulai saling menyalahkan.” Arsen tersenyum samar. “Bagus. Tidak ada istana yang runtuh karena serangan luar semata. Ia runtuh karena retak dari dalam. Dan kita baru saja membuat retakan itu.” Maya menambahkan, “Jika kita terus menekan, para eksekutif Mahardika akan mulai mencari penyelamat. Mungkin ada yang akan berkhianat.” Arsen menatap layar di depannya, menampilkan foto Surya bersama keluarganya di sebuah acara amal. Di sana, Celine tersenyum lembut, berdiri di samping ayahnya. Senyum itu menusuk sesuatu dalam hati Arsen. Bukan kelembutan yang ia lihat, melainkan simbol dari apa yang telah direnggut darinya. “Belum saatnya,” gumam Arsen lirih. “Tapi cepat atau lambat, mereka semua akan membayar.” --- Malam – Kediaman keluarga Mahardika Di ruang tamu yang luas, Celine mendekati ayahnya. Surya duduk dengan wajah lelah, menatap segelas teh yang sudah dingin. “Ayah,” panggil Celine lembut. “Kenapa Ayah memikul semua ini sendirian? Ayah punya kami.” Surya menghela napas, suaranya berat. “Kau masih muda, Celine. Dunia ini tidak sesederhana yang kau bayangkan. Jika Ayah jatuh, semua yang kita punya akan hilang. Nama Mahardika akan hancur.” Celine duduk di sampingnya, menatap wajah sang ayah. “Kalau begitu biarkan aku membantu. Aku belajar bisnis di Paris bukan untuk duduk diam.” Surya menoleh, sedikit terkejut. Mata putrinya menyala dengan tekad. Untuk sesaat, ia teringat mendiang istrinya yang dulu juga memiliki semangat serupa. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi kau harus hati-hati. Dunia ini penuh dengan musuh tak terlihat.” Celine tersenyum tipis. “Kalau begitu biarkan aku belajar mengenali musuh itu, Ayah.” Namun Surya tidak tahu, musuh itu bukan hanya tak terlihat—ia juga sudah lama menunggu di balik bayangan, menunggu saat yang tepat untuk menerkam. --- Retakan semakin melebar Hari demi hari, tekanan meningkat. Investor mulai menarik dana. Media terus menekan dengan berita negatif. Para eksekutif Mahardika saling curiga, beberapa bahkan mulai mendekati pesaing dengan tawaran diam-diam. Di balik layar, Davin terus melaporkan perkembangan. “Tuan, Anton dan Gilang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda goyah. Mereka bahkan menghubungi orang kita, meski tidak sadar mereka sedang berbicara dengan kita.” Arsen mengangguk puas. “Bagus. Biarkan mereka percaya ada jalan keluar lain selain Surya. Pada waktunya, mereka sendiri yang akan membuka pintu bagi kita.” --- Malam sunyi di penthouse Arsen Alena masuk membawa laporan baru. Namun kali ini ia melihat Arsen berdiri di depan jendela, menatap kota dengan wajah sendu. “Tuan… Anda terlihat lelah,” ucapnya hati-hati. Arsen menoleh sekilas. “Lelah adalah hal biasa. Yang penting, aku belum berhenti.” Alena menggenggam map erat-erat. “Saya… saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Anda dan Mahardika. Tapi… apa semua ini benar-benar perlu? Membalas dendam dengan cara sebesar ini?” Arsen menatapnya lama, seakan menimbang apakah ia layak mengetahui sedikit kebenaran. “Alena,” katanya akhirnya dengan suara rendah. “Mereka merenggut keluargaku. Mereka menanamkan luka yang tak pernah sembuh. Balas dendam ini bukan pilihan. Ini takdir.” Alena terdiam. Ia ingin berkata sesuatu, tapi tidak ada kata yang cukup kuat. Hanya hatinya yang bergetar, menyadari bahwa di balik dinginnya Arsen, ada luka yang dalam. --- Di sisi Surya – Malam tak tenang Surya tak bisa tidur. Ia berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Setiap telepon yang masuk, setiap laporan yang datang, hanya membuat amarahnya semakin menjadi-jadi. Namun di balik kemarahan itu, ada ketakutan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Ia mulai merasa dikepung musuh dari segala arah, dan yang lebih menakutkan, ia tidak tahu siapa musuh itu. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Surya Mahardika merasakan rapuh. Dan di kejauhan, seseorang sedang tersenyum puas melihat istana besar itu mulai retak. --- Bagian 4 – Cakar yang Mulai Terlihat Ruang rapat Mahardika Group kembali penuh. Kali ini bukan untuk membahas rencana ekspansi, melainkan kebakaran yang semakin besar. Media menyorot skandal dugaan pencucian uang, investor asing membatalkan kontrak, dan harga saham menurun tajam. Suara-suara mulai terdengar, pelan namun menusuk. “Bagaimana bisa semua ini terjadi?” tanya salah satu eksekutif senior. “Kalau Surya tidak bisa mengendalikan keadaan, mungkin sudah saatnya ada yang menggantikannya,” bisik yang lain. Surya mendengar gumaman itu meski tak ada yang berani mengucapkannya keras-keras. Rahangnya mengeras, matanya berkilat tajam. Ia tahu, para bawahannya mulai goyah. --- Anton dan Gilang: Cakar Pertama Di sebuah restoran mewah, Anton dan Gilang duduk di meja pojok. Wajah keduanya tegang. “Aku tidak bisa begini terus, Gilang,” ucap Anton. “Surya sudah seperti orang gila. Dia marah ke semua orang. Kalau kita tetap di pihaknya, kita yang akan jatuh bersamanya.” Gilang mengangguk pelan. “Aku setuju. Tapi ke mana kita harus berlabuh? Semua pintu tertutup.” Saat itulah seorang pria muda dengan setelan rapi menghampiri. Wajahnya ramah, senyumnya tipis. Ia memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari perusahaan asing yang tertarik bekerja sama dengan Mahardika—tentu saja itu hanya topeng. Ia adalah orang Arsen. “Jika Anda ingin masa depan yang lebih pasti,” katanya, “mungkin ada pilihan lain. Bukan melawan Surya secara langsung, tapi… membantu pihak yang sedang bangkit.” Anton dan Gilang saling pandang. Kata-kata itu seperti cakar yang menggores keyakinan terakhir mereka terhadap Surya. --- Arsen: Bidak yang Bergerak Di ruang kerjanya, Arsen memandang peta jaringan bisnis Mahardika yang dipenuhi garis-garis merah. “Anton dan Gilang sudah masuk ke jaringanku,” lapor Davin. “Mereka pikir kita sekadar investor asing yang tertarik dengan proyek mereka.” Arsen tersenyum tipis. “Biarkan mereka percaya itu. Kesetiaan adalah mata uang paling murah saat seseorang ketakutan. Dan mereka sudah ketakutan.” Maya menambahkan, “Jika kita bisa memecah lingkar dalam Surya, ia akan sendirian. Dan orang yang sendirian… akan mudah dijatuhkan.” Arsen menatap layar lain—foto Celine bersama ayahnya. Senyum gadis itu lagi-lagi membuat hatinya bergetar aneh. “Tidak lama lagi,” bisiknya. “Dinding besar itu akan runtuh, dan mereka akan tahu siapa yang menghunus pedangnya.” --- Surya: Kesombongan yang Retak Surya duduk di ruang kerjanya, ditemani gelas wiski yang hampir kosong. Ia menatap foto lamanya bersama para pendiri Mahardika Group. Dulu, ia adalah pria muda penuh ambisi, membangun kerajaan dari bawah. Kini, ia merasa kerajaan itu dikhianati dari dalam. Tiba-tiba pintu diketuk. Celine masuk, membawa beberapa berkas. “Ayah,” katanya lembut, “aku menemukan sesuatu. Ada pola dalam serangan media ini. Mereka selalu muncul bersamaan dengan isu finansial. Seolah ada pihak yang sengaja mengatur ritmenya.” Surya memandang putrinya dengan mata yang sedikit berbinar. “Kau pintar, Celine. Mungkin lebih pintar daripada Ayah dulu di usia segitu.” Namun kegembiraan itu cepat padam. “Tapi jangan ikut campur terlalu dalam. Musuh kita licik. Kau bisa terluka.” Celine menunduk, lalu tersenyum samar. Dalam hati ia bertekad, justru karena musuh licik, ia harus menemukan siapa mereka. --- Pertemuan Rahasia Malam itu, Anton dan Gilang bertemu lagi dengan perwakilan Arsen. Kali ini di sebuah villa pribadi di pinggiran kota. “Surya sudah tidak bisa dipercaya,” kata Anton. “Jika ada jalan lain, kami siap mendengarnya.” Pria itu meletakkan map berisi kontrak kerjasama dengan “investor asing”. Di dalamnya ada pasal samar yang sebenarnya mengikat mereka menjadi kaki tangan Arsen. “Anggap ini… tiket menuju masa depan yang lebih cerah,” ujarnya. Mereka tidak sadar bahwa dengan menandatangani dokumen itu, mereka baru saja menyerahkan diri menjadi bidak pertama dalam permainan Arsen. --- Cakar yang Mulai Terlihat Keesokan harinya, Surya menerima laporan mengejutkan. Beberapa proyek pentingnya gagal karena ada pihak dalam yang menarik diri tiba-tiba. Surya murka. Ia menuduh para bawahannya berkhianat, sementara sebagian lagi diam-diam memang sudah mengkhianatinya. Di sisi lain, Arsen tersenyum puas mendengar laporan Davin. “Lihatlah,” katanya, “cakar kita baru sedikit terlihat, tapi Surya sudah merasa tercabik. Bayangkan jika kita mencengkeram penuh.” Alena, yang diam di sudut ruangan, hanya menatap Arsen dengan campuran kagum dan ngeri. Ia bisa melihat betapa cerdasnya strategi itu, tapi juga betapa kejamnya. --- Malam di Kediaman Mahardika Celine berdiri di balkon kamarnya, menatap kota yang dipenuhi cahaya. Ia merasa ada badai besar yang mendekat. Ayahnya semakin keras, rumahnya semakin penuh ketegangan. Di kejauhan, lampu gedung Dirgantara Corp bersinar terang, seakan menantang. Tanpa sadar, Celine berbisik pada dirinya sendiri: “Siapa sebenarnya musuh kita?” Angin malam membawa bisikan itu jauh, mungkin sampai ke telinga orang yang diam-diam telah lama menatapnya dari bayangan. --- Bagian 5 – Langkah Pertama di Papan Catur Rencana yang selama ini hanya tersusun dalam bayangan, kini mulai bergerak nyata. Papan catur besar bernama Mahardika Group sudah dipenuhi bidak—dan Arsen adalah tangan yang menggerakkannya satu demi satu. --- Pertemuan Tengah Malam Hujan turun deras di Jakarta malam itu. Jalanan basah, lampu-lampu kota memantulkan cahaya yang berkilauan di genangan aspal. Di sebuah gudang tua yang telah direnovasi menjadi ruang rapat rahasia, Arsen duduk di kursi paling ujung. Di hadapannya, map-map tebal terbuka, berisi data keuangan Mahardika, daftar nama orang dalam, hingga proyek internasional yang sedang mereka jalankan. Davin menutup laptopnya. “Anton dan Gilang resmi bersama kita. Mereka pikir ini jalan keluar dari kekacauan, padahal hanya menjerat mereka lebih dalam.” Maya menambahkan, “Media sudah siap dengan laporan berikutnya. Begitu kita berikan dokumen palsu, mereka akan menyiarkan skandal baru. Surya tidak akan sempat bernapas.” Arsen mengangguk. “Bagus. Tapi ingat, ini baru langkah pertama. Kita tidak menjatuhkan raksasa dengan sekali pukulan. Kita menggerogotinya, membuatnya berdiri di atas tanah rapuh, sampai akhirnya roboh dengan sendirinya.” Maya menatap Arsen dengan mata berkilat. Ada kekaguman, tapi juga ketakutan. “Kau seperti sedang bermain catur melawan dirimu sendiri,” katanya. Arsen tersenyum samar. “Aku hanya bermain melawan masa lalu. Dan kali ini, aku harus menang.” --- Surya: Raja yang Terpojok Sementara itu, di kantor pusat Mahardika, Surya duduk dengan wajah gelap. Laporan kerugian bertumpuk di meja. Saham anjlok, investor menekan, proyek gagal. “Siapa yang berani melakukan ini pada kita?” suaranya berat, penuh amarah. Tak seorang pun berani menjawab. Semua eksekutif menunduk, sebagian sudah tidak percaya pada kepemimpinannya lagi. Celine, yang duduk di sampingnya, berusaha menenangkan. “Ayah, kita harus mencari akar masalah. Menyalahkan semua orang hanya akan membuat mereka semakin menjauh.” Surya menatap anaknya, matanya tajam namun juga lelah. “Kau tidak mengerti, Celine. Di dunia ini, orang hanya peduli pada kekuatan. Jika kita tampak lemah sekali saja, mereka akan melahap kita hidup-hidup.” Namun dalam hatinya, Surya mulai goyah. Ia tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar bekerja di balik layar. Sesuatu yang bahkan tak bisa ia kendalikan. --- Celine dan Rahasia yang Tersingkap Malam itu, di kamar pribadinya, Celine membuka laptop dan meneliti laporan media. Ia menemukan pola: setiap skandal selalu diikuti dengan pergerakan saham asing yang mengambil keuntungan besar. “Ini bukan kebetulan,” gumamnya. “Ada yang mengatur semua langkah ini… seperti pemain catur.” Jarinya berhenti pada satu nama perusahaan asing yang selalu muncul di balik layar: Dirgantara Corp. Celine menahan napas. Itu nama yang terus-menerus disebut sebagai “penolong” Mahardika dalam isu-isu tertentu, padahal justru terlihat di balik bayang-bayang masalah. “Siapa sebenarnya pemiliknya?” bisiknya. Ia tidak tahu bahwa di tempat lain, Arsen tengah menatap foto dirinya dengan sorot mata yang rumit. --- Gerakan Pertama di Bursa Keesokan harinya, bursa saham diguncang. Dirgantara Corp masuk dengan membeli saham Mahardika yang nilainya jatuh. Di permukaan, tampak seperti tindakan penyelamatan. Media bahkan menulis: Investor asing selamatkan Mahardika Group dari kehancuran. Namun Surya tahu, ini bukan pertolongan. Ini penjajahan halus. “Kita sedang dicaplok dari dalam,” katanya geram. Anton dan Gilang, yang sudah berkhianat, pura-pura memberikan solusi agar Surya menerima suntikan dana itu. Surya menolak keras, tapi tekanan dari dewan direksi terlalu kuat. Akhirnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah Mahardika, Surya menandatangani perjanjian yang membuatnya kehilangan sebagian kendali. Arsen mendengar kabar itu dengan tatapan dingin. “Raja sudah dipaksa mundur satu langkah. Dan sekali raja mundur… permainan baru saja dimulai.” --- Bayangan di Balik Layar Di sebuah ruangan gelap, Arsen berdiri di depan papan catur kayu. Bidak-bidak hitam dan putih tersusun, tapi posisinya aneh. Bukan permainan biasa, melainkan refleksi dari langkah-langkah nyata yang sedang ia mainkan. Ia memindahkan satu bidak kuda. “Ini Anton,” katanya pelan. Kemudian ia menggerakkan benteng. “Dan ini Gilang.” Terakhir, ia memegang bidak raja hitam. Tatapannya dingin. “Dan kau, Surya… sudah waktunya untuk belajar bahwa setiap raja bisa jatuh.” --- Pertemuan yang Tak Terduga Sore itu, tanpa rencana, Celine menghadiri sebuah acara amal yang juga dihadiri Arsen. Keduanya bertemu tatap untuk pertama kali sejak Arsen kembali ke tanah air. Mata Celine sedikit melebar saat mendengar namanya. “Arsen… Dirgantara Corp?” Arsen tersenyum sopan, menyembunyikan badai dendam di dadanya. “Hanya seorang pengusaha kecil yang kebetulan tertarik pada perusahaan ayahmu.” Celine menatapnya dengan sorot curiga, tapi ada sesuatu yang lain dalam tatapan itu. Seperti perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Dan di balik senyumnya, Arsen tahu satu hal: “Bidak paling penting bukan Anton, bukan Gilang. Tapi gadis ini. Putri mahkota dari raja yang ingin kuhabisi.” --- Langkah Pertama Malam menjelang, dan Jakarta kembali dipenuhi cahaya lampu. Namun di hati masing-masing tokoh, hanya ada gelap yang semakin tebal. Arsen menutup map di mejanya dan berbisik pelan: “Langkah pertama sudah kuambil. Dan dari sini, tidak ada jalan kembali.” Celine, di rumahnya, menatap bintang di langit dan berkata dalam hati: “Jika ada seseorang yang ingin menghancurkan Ayah, aku akan menemukannya. Aku berjanji.” Sementara Surya, sendirian di ruang kerjanya, menatap cermin dengan sorot mata penuh amarah. “Aku tidak akan kalah. Tidak kali ini. Tidak pernah.” Tiga jiwa, tiga jalan, satu papan catur. Permainan baru saja dimulai. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD