Bab 4 – Wanita yang Tak Terduga

2446 Words
Bagian 1 Langit sore Jakarta diliputi semburat jingga, tapi di hati Arsen hanya ada kelam. Setiap langkahnya seperti dihitung, setiap nafasnya adalah strategi. Ia tahu permainan melawan Surya baru dimulai, dan setiap bidak yang bergerak harus ditentukan dengan presisi. Namun, ada satu hal yang tidak pernah ia masukkan dalam rencananya—kehadiran seorang wanita yang tiba-tiba muncul di persimpangan jalan hidupnya. Arsen baru saja meninggalkan ruang rapat Dirgantara Corp, tempat ia mengatur pergerakan saham terbaru, ketika seorang wanita menghentikannya di lobi. Bukan Maya, bukan sekutu yang sudah ia kenal, melainkan sosok asing dengan sorot mata tajam yang membuat langkahnya terhenti. “Arsen Pratama?” suaranya lembut, tapi penuh keyakinan. Arsen menatapnya, sedikit terkejut. “Siapa kau?” Wanita itu tersenyum samar, seolah tahu lebih banyak daripada yang ia ucapkan. Rambut hitamnya tergerai, wajahnya tegas namun tetap menyimpan keanggunan. Ia mengenakan gaun sederhana, tapi aura yang terpancar darinya bukan milik orang biasa. “Namaku Liora,” katanya akhirnya. “Dan aku datang bukan untuk menjadi musuhmu… tapi juga bukan sekutu yang bisa kau kendalikan.” Arsen menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. Ia terbiasa menghadapi orang-orang yang mencoba mendekat, mencoba memanfaatkan namanya. Tapi dari nada bicara wanita ini, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Ada rahasia besar yang dibawanya, rahasia yang entah akan membantu atau justru menghancurkannya. “Apa maumu dariku?” tanya Arsen dingin. Liora menatap lurus ke matanya. “Aku tahu siapa musuhmu. Aku tahu apa yang Surya lakukan padamu di masa lalu. Dan aku tahu, balas dendammu hanya akan berhasil… jika kau mengizinkanku ikut serta.” Arsen terdiam. Hatinya bergetar—tidak oleh ketertarikan, tapi oleh fakta bahwa wanita ini tahu tentang masa lalunya. Bagaimana mungkin? Informasi itu hanya diketahui segelintir orang yang benar-benar dekat dengannya. “Bicara yang jelas,” katanya akhirnya. Liora melangkah lebih dekat, suaranya merendah seperti bisikan. “Aku pernah menjadi bagian dari lingkaran Surya. Aku melihat kebusukannya, aku tahu bagaimana ia menghancurkan orang-orang yang menghalangi jalannya. Aku kehilangan segalanya karena dia. Dan sekarang… aku ingin balas dendam, sama seperti kau.” Arsen memicingkan mata, menimbang. Ia bukan tipe orang yang mudah percaya pada kata-kata manis. Dunia bisnis telah mengajarkannya bahwa pengkhianatan bisa datang dari siapa saja, bahkan dari orang yang paling terlihat tulus sekalipun. Tapi ada sesuatu dalam tatapan Liora yang membuatnya sulit untuk menolak begitu saja. “Jika kau ingin ikut, kau harus siap menanggung konsekuensinya. Permainan ini bukan untuk orang lemah,” kata Arsen akhirnya. Liora tersenyum tipis. “Aku sudah lama berhenti menjadi lemah.” Mereka berdua saling menatap, seperti dua bidak baru yang dipertemukan di papan catur. Tak seorang pun tahu apakah Liora akan menjadi kawan yang setia, atau duri beracun yang suatu hari akan menusuk dari belakang. Namun satu hal pasti: mulai malam itu, jalan cerita Arsen tidak lagi hanya tentang Surya dan dirinya. Ada wanita lain yang membawa api baru dalam permainan—api yang bisa menyinari, atau membakar habis segalanya. --- Bagian 2 Malam itu, kota Jakarta berkilau seperti lautan cahaya. Gedung-gedung menjulang dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip, sementara jalanan dipenuhi mobil yang tak pernah berhenti bergerak. Dari jendela suite penthouse miliknya, Arsen berdiri memandangi panorama kota yang hiruk pikuk, tetapi pikirannya tak ada pada gemerlap lampu itu. Ia memikirkan Liora. Wanita yang baru saja masuk ke hidupnya tanpa izin, membawa rahasia yang terlalu berbahaya untuk diabaikan. Kata-katanya siang tadi terus terngiang: “Aku tahu siapa musuhmu. Aku tahu apa yang Surya lakukan padamu di masa lalu.” Arsen meremas gelas kristal berisi anggur merah di tangannya. Tak banyak orang yang tahu detail kejatuhannya dulu. Bahkan sebagian besar percaya ia hanya CEO muda yang bangkit karena ambisi dan kerja keras. Hanya sedikit yang tahu bagaimana ia kehilangan segalanya karena permainan kotor Surya. Jika Liora bisa mengungkap rahasia itu, berarti ia benar-benar punya kaitan dengan masa lalunya. Ketukan di pintu memecah lamunannya. Arsen berbalik, mendapati Maya masuk dengan langkah hati-hati. “Bos,” sapanya pelan, meletakkan setumpuk berkas di meja. “Ini laporan terbaru tentang investasi Surya di sektor properti. Ada pola aneh di baliknya. Seperti… sesuatu yang ia sembunyikan.” Arsen mengangguk, duduk di kursi kerjanya. “Letakkan di sini.” Maya menatap wajah bosnya, lalu memberanikan diri bertanya. “Tadi siang aku melihatmu berbicara dengan seorang wanita di lobi. Siapa dia?” Arsen menoleh, menatap Maya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Seseorang yang mungkin bisa berguna.” Nada dingin itu sudah cukup membuat Maya terdiam. Tapi di dalam hatinya, ada rasa tak nyaman yang tak bisa ia jelaskan. Selama ini, dialah satu-satunya yang dipercaya Arsen dalam permainan berbahaya melawan Surya. Kini tiba-tiba muncul sosok asing yang membawa rahasia besar. Bagaimana jika wanita itu hanya pion musuh? Arsen seolah bisa membaca kegelisahan asistennya. “Aku tahu apa yang kau pikirkan, Maya. Jangan khawatir. Aku tidak mudah dipermainkan.” Maya menunduk, berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya. “Saya hanya… tidak ingin Tuan terluka lagi.” Kalimat itu membuat suasana hening sejenak. Arsen menatap Maya, seakan ingin menembus lapisan perasaan yang disembunyikan gadis itu. Namun, ia tidak menanggapi lebih jauh. Ia kembali menekuni berkas di hadapannya. Beberapa jam kemudian, Arsen menerima pesan di ponselnya. Nomor tak dikenal. > “Jika kau ingin tahu apa langkah Surya berikutnya, temui aku di restoran lama di Menteng, besok malam. – L” Arsen menatap pesan itu lama. Ia tahu ini undangan dari Liora. Dan ia tahu pula bahwa setiap pertemuan dengannya bisa jadi jebakan. Namun, rasa penasaran dan dorongan balas dendam terlalu kuat untuk diabaikan. Keesokan malamnya, restoran tua di Menteng itu tampak sepi, lampu-lampunya remang-remang, meninggalkan kesan klasik yang elegan. Arsen memasuki ruangan, langkahnya tenang tapi penuh kewaspadaan. Ia mengenakan setelan hitam yang membuat auranya semakin tegas dan berwibawa. Di salah satu meja pojok, Liora sudah menunggu. Rambutnya disanggul rapi, gaun merah sederhana melekat di tubuhnya. Begitu Arsen duduk, ia tersenyum samar. “Aku senang kau datang,” katanya, suaranya lirih namun berisi. Arsen menatapnya dingin. “Aku datang bukan karena percaya padamu. Aku hanya ingin tahu seberapa banyak yang kau tahu.” Liora mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Cukup banyak untuk membuatmu terkejut. Surya bukan hanya bermain di bisnis, Arsen. Ia juga bermain di dunia politik. Jika kau hanya menyerangnya lewat saham dan kontrak, kau tak akan pernah bisa menjatuhkannya. Kau butuh orang dalam. Kau butuh aku.” Arsen mengangkat alis, mencoba membaca wajah wanita itu. “Dan kau menganggap dirimu orang dalam?” “Aku pernah menjadi kekasihnya,” jawab Liora, suaranya tenang, tapi ada luka yang jelas di baliknya. Kata-kata itu membuat Arsen terdiam sejenak. Dalam hatinya, muncul pertanyaan baru: apakah kehadiran Liora adalah ancaman atau kesempatan? --- Bagian 3 Keheningan sempat menggantung di antara mereka. Restoran itu semakin sepi, hanya terdengar dentingan sendok dan bisikan samar dari meja-meja lain. Arsen menatap Liora dengan sorot mata penuh perhitungan. “Kau… kekasih Surya?” Suaranya rendah, tapi mengandung ketegangan. Liora menarik napas panjang sebelum menjawab. “Dulu. Itu bagian dari masa lalu yang ingin kulupakan. Tapi aku tahu cukup banyak tentang kelemahannya, rahasia yang bisa menjatuhkannya. Hanya saja… aku tidak bisa melakukannya sendirian.” Arsen mengetuk meja dengan ujung jarinya, sebuah kebiasaan saat ia sedang berpikir keras. Dalam benaknya, ia memutar berbagai kemungkinan. Jika Liora benar-benar pernah menjadi kekasih Surya, maka ia memiliki akses pada informasi yang tak ternilai. Tetapi itu juga berarti ia bisa saja masih menjadi bagian dari permainan Surya. “Dan apa yang membuatmu tiba-tiba memutuskan untuk melawannya?” tanya Arsen dengan nada mencurigakan. Tatapan Liora meredup, seperti menyimpan luka yang dalam. “Karena aku tahu persis bagaimana rasanya dihancurkan olehnya. Sama sepertimu.” Untuk pertama kalinya, suara itu membuat Arsen merasakan sesuatu yang asing: kejujuran yang pahit. Tapi ia tetap menjaga ketegasan dirinya. “Kalau begitu, buktikan padaku.” Liora mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari clutch hitamnya. Ia mendorongnya ke arah Arsen. “Ini catatan transaksi tersembunyi milik Surya. Uang suap, pencucian dana, semua yang tidak pernah muncul di laporan resmi. Jika kau benar-benar ingin melawannya, di sinilah kau harus mulai.” Arsen mengambil flashdisk itu, memutarnya di antara jari-jarinya. “Bagaimana aku tahu ini bukan jebakan?” “Kau tidak tahu,” jawab Liora singkat. “Kau hanya punya dua pilihan: percaya atau biarkan kesempatan ini hilang.” Arsen tersenyum tipis, senyum yang dingin. “Aku tidak pernah percaya pada siapa pun. Tapi aku tahu bagaimana memanfaatkan informasi.” Ia berdiri, merapikan jasnya. “Jika ini jebakan, Liora, aku pastikan kau akan menyesal.” Liora hanya menatapnya dengan mata yang tak kalah tajam. “Aku sudah menyesal sejak lama, Arsen. Kau bukan orang pertama yang mengancamku.” --- Malam itu, setelah meninggalkan restoran, Arsen langsung menuju apartemen mewahnya. Maya sudah menunggu di sana dengan laptop terbuka. Begitu Arsen menyerahkan flashdisk, Maya memulai analisis data. Selama hampir dua jam, layar laptop dipenuhi angka-angka, tabel transaksi, dan dokumen rahasia. Hingga akhirnya, Maya terdiam. “Bos…” suaranya gemetar. “Semua ini… benar-benar gila. Jika data ini sampai bocor ke publik, Surya bisa masuk penjara seumur hidup.” Arsen menatap layar itu lama. Hatanya berdebar, bukan karena kemenangan, tapi karena kesadaran: semakin ia melangkah, semakin besar pula taruhannya. “Jangan bocorkan apa pun dulu,” ucapnya dingin. “Kita harus gunakan ini dengan cara yang lebih… menyakitkan.” Maya menatap Arsen dengan khawatir. “Apa kau benar-benar yakin mempercayai wanita itu?” Arsen terdiam sesaat, lalu menjawab lirih. “Aku tidak mempercayainya. Aku hanya mempercayai dendamku.” --- Sementara itu, di apartemen berbeda, Liora berdiri di depan jendela, memandangi kota yang berkilau. Ia menempelkan tangan pada kaca, matanya berkaca-kaca. “Arsen…” bisiknya pada dirinya sendiri. “Semoga kau lebih kuat daripada aku.” --- Bagian 4 Hujan turun deras malam itu, membasahi jendela apartemen Arsen dengan irama yang menenangkan sekaligus mencekam. Di ruang kerjanya, lampu gantung menyinari meja penuh berkas dan layar laptop yang masih terbuka. Data dari flashdisk pemberian Liora terpampang jelas, seakan mengundang untuk segera digunakan sebagai senjata. Namun bagi Arsen, dendam tidak boleh dieksekusi dengan terburu-buru. Ia tahu, satu langkah salah bisa membuat segalanya runtuh. Maya masuk membawa dua cangkir kopi panas. “Kau belum tidur lagi?” tanyanya lirih. Arsen tidak menoleh. “Tidur tidak akan membuat Surya jatuh lebih cepat.” Maya meletakkan kopi di meja, lalu berdiri di belakang kursi Arsen. Tatapannya khawatir, tapi ia tahu bosnya bukan tipe pria yang bisa dihentikan dengan bujukan sederhana. “Aku sudah cek ulang data ini,” ujar Maya. “Benar-benar kuat. Tapi masalahnya, terlalu kuat. Jika kita menyerang dengan ini langsung, Surya akan tahu ada orang dalam yang membocorkannya. Dan itu berarti…” Maya terhenti, enggan menyebut nama Liora. Arsen menutup laptopnya dengan tenang. “Justru itu yang kuinginkan. Biarkan Surya mencurigai semua orang di sekitarnya. Biarkan ia merasa tanah di bawahnya berguncang. Ketakutan adalah senjata pertama yang harus kutanam.” Maya terdiam, kagum sekaligus ngeri dengan cara pikir Arsen. --- Keesokan harinya, Arsen menghadiri sebuah acara bisnis bergengsi di hotel bintang lima. Para pengusaha ternama hadir, termasuk Surya. Aula megah itu penuh dengan cahaya lampu kristal, percakapan berkelas, dan senyum yang penuh kepalsuan. Arsen masuk dengan wibawa dinginnya, mengenakan setelan jas hitam yang menegaskan posisinya sebagai penguasa baru. Semua mata seakan mengikuti langkahnya, termasuk sepasang mata yang ia kenali dengan baik: mata Liora. Wanita itu berdiri tidak jauh dari Surya, mengenakan gaun merah anggun yang membuatnya mencolok. Seakan lupa akan masa lalunya yang rapuh, malam itu ia tampil sebagai sosok misterius yang memikat. Surya mendekat ke arah Arsen dengan senyum licik. “Arsen Dirgantara. Kudengar bisnis barumu berkembang pesat. Tidak kusangka kau bisa bangkit setelah… semua yang terjadi.” Arsen menahan amarah yang membara di dadanya. Senyum tipis terukir di wajahnya. “Aku tidak mudah jatuh, Surya. Kau tahu itu.” Mereka berjabat tangan, tapi genggaman itu terasa seperti duel tanpa senjata. Di sisi lain ruangan, Liora memperhatikan dengan gelisah. Ia tahu betul betapa berbahayanya permainan ini. Sekali salah langkah, baik Arsen maupun dirinya bisa menjadi korban. --- Setelah acara, Arsen keluar ke balkon hotel untuk menghirup udara malam. Liora menyusul, langkahnya anggun tapi hatinya berdebar kencang. “Kau gila menantang Surya di depan umum,” bisiknya dengan suara tegang. Arsen menatapnya tanpa gentar. “Aku ingin ia tahu aku kembali. Aku ingin ia merasakan bayangan dendamku di setiap langkahnya.” “Dan kau pikir itu tidak berbahaya?” Liora menatapnya tajam. “Surya bukan pria yang akan diam saja.” Arsen mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa inci. Sorot matanya menusuk, dalam dan penuh luka yang membara. “Aku tidak takut padanya. Justru aku ingin ia takut padaku.” Liora terdiam, jantungnya berdegup keras. Ada sesuatu pada cara Arsen menatapnya—sebuah luka yang sama, dendam yang serupa, dan… perasaan yang perlahan menyusup tanpa mereka sadari. Hujan masih mengguyur di luar balkon, membentuk simfoni yang seakan menyatukan dua jiwa yang terikat oleh kebencian pada musuh yang sama. --- Bagian 5 Malam semakin larut, namun Arsen tidak kunjung pulang. Ia memilih tetap di balkon hotel, menatap gemerlap kota yang basah oleh hujan. Ingatannya melayang ke masa lalu—malam ketika semua direnggut darinya oleh Surya. Malam yang sama yang menumbuhkan api dendam di dadanya. Suara langkah mendekat mengusik lamunannya. Liora kembali, kali ini tanpa riasan senyum anggun yang tadi ia kenakan di depan publik. Wajahnya polos, rapuh, tapi matanya tajam seperti selalu. “Kenapa kau tidak pulang?” tanyanya pelan. Arsen menoleh, lalu mengangkat gelas anggur di tangannya. “Karena kota ini harus tahu, aku kembali bukan sekadar untuk berdiri… tapi untuk menguasai.” Liora menghela napas, menatap pria itu lama-lama. Ada kekuatan yang tak bisa dijelaskan dalam dirinya. Dendam membuatnya dingin, tapi ada luka yang samar-samar memanggil hatinya untuk peduli. “Apa kau benar-benar hanya ingin balas dendam?” suara Liora serak. “Atau ada alasan lain yang membuatmu tetap bertahan hidup sampai hari ini?” Pertanyaan itu menghantam Arsen seperti badai. Sejenak ia bungkam, menatap dalam ke mata wanita itu. Tatapan yang seakan menelanjangi lapisan dinginnya, menembus sampai inti hatinya. “Aku hidup,” jawab Arsen akhirnya, suaranya berat, “karena kebencian menahanku tetap bernapas. Jika kebencian itu hilang… mungkin aku juga akan ikut hilang.” Liora mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Arsen. “Kalau begitu… biarkan aku jadi alasan lainmu.” Arsen terdiam. Hatinya yang dingin mulai bergetar, tapi ia menahan diri. “Jangan bermain api, Liora. Api dendamku bisa membakarmu juga.” Namun, saat hujan semakin deras dan angin malam menusuk, keduanya terperangkap dalam keheningan yang hanya bisa diisi oleh degup jantung masing-masing. Ada tarikan yang tak bisa mereka hindari—tarikan yang lahir bukan hanya dari kebencian, tapi juga dari ketertarikan yang tumbuh diam-diam. Di kejauhan, tanpa mereka sadari, seorang pria berjas gelap mengamati dari balik kaca. Senyumnya tipis, penuh intrik. Surya sudah mulai curiga, dan itu berarti langkah pertama Arsen tidak akan berjalan mulus. Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD