Aku saat ini menyusuri jalanan utama di desa ini sambil mencari penginapan yang tersedia di sini. Di kiri dan kanan jalan banyak orang yang berjualan berbagai macam barang, dari makanan, minuman, bahan mentah dan bahkan senjata serta potion penyembuh yang jarang aku temui di desa ku. Karena tertarik terhadap potion itu, aku pun memutuskan untuk menghampiri kios yang sedang aku perhatikan saat ini.
“Permisi, boleh aku tau berapa harga satu botol potion ini?” ucap ku sambil menunjuk botol yang berisi cairan bening dengan sedikit warna biru muda.
“Potion itu harganya 2 koin perak!” jawab pedagang di dalam kios itu sambil sedikit mengangkat tangannya dan menunjukkan angka dua dengan jari tengah dan telunjuk nya.
“Aku beli 4 botol tuan,” ucap ku sambil mengambil kantong uang ku.
Pria itu pun mengambil uang yang berjumlah 8 keping yang berikan padanya sambil mengambil botol-botol yang berisikan potion dan menyerahkannya pada ku.
“Tuan apa kau tau penginapan yang dekat dengan guild petualang di sini?” tanya ku pada pedagang itu sebelum aku pergi dari kios nya.
“Kau lurus saja ke sana mengikuti jalan ini, nanti akan ada banyak penginapan di alun-alun desa ini,” jawab nya sambil menunjukkan arah dengan telunjuk nya.
“Terima kasih!” ucap ku sambil bergegas pergi meninggalkan kios itu.
Aku pergi ke arah yang pedagang itu tunjukkan dengan berjalan santai sambil menikmati suasana di desa ini. Entah kenapa aku merasa di ikuti sejak turun dari kereta kuda yang aku naiki. Namun dari pada khawatir pada itu aku justru membiarkannya mengikuti ku agar aku tau apa tujuannya. Dan benar saja ketika aku mendeteksinya dengan energi mana, ada dua orang yang berjarak lima belas meter membuntuti kemana pun aku berjalan dengan menyembunyikan diri mereka. Belum sampai ke alun-alun desa yang pedagang tunjukkan, aku memperhatikan papan nama yang ada di salah satu bangunan yang bernama “penginapan big bear”. Penginapan yang tak besar namun tak kecil dan cukup banyak orang yang masuk kedalam hanya untuk makan dan berkumpul bersama kawan-kawan mereka. Aku pun masuk kedalam penginapan itu dan di sambut suasana yang membuat ku merasa berada di sebuah bar. Aku berjalan menuju meja resepsionis yang di belakangnya ada rak yang besar dengan botol minuman di setiap celah nya. Ada beberapa orang yang memperhatikan ku ketika masuk dan berjalan namun itu tak membuat ku terganggu karena kebanyakan dari mereka sudah mabuk di tandai dengan wajah mereka yang merah.
“Apa di sini masih ada kamar kosong?” ucap ku pada resepsionis pria yang sedang mengelap gelas.
“Tentu tuan,” ucap nya dengan sopan.
“Aku ingin kamar dengan satu tempat tidur,” tambah ku.
“Berapa lama anda ingin tinggal?” tanya dia padaku.
“Satu minggu, jika nanti aku tinggal lebih lama aku akan menemuimu,” jawab ku dengan tenang.
“Baik silahkan ini kuncinya,” ucapnya sambil menyodorkan kunci dengan gantungan yang bertuliskan angka 7.
“Sebelum itu apa aku tau dimana guild petualang berada?” tanya ku.
“Oh itu ada di alun-alun, anda bisa melihat bangunan besar dengan papan nama yang bertuliskan guild Reistes,” ucapnya.
“Kalau begitu bisakah kau pegang dulu kunci itu dan aku akan kembali setelah urusan ku selesai di guild,” ucap ku sambil menatap dia dengan tenang.
“ Baiklah Tuan! sebelum itu bolehkah saya tau nama anda agar memudahkan saya jika nanti anda kembali dari sana” ucap nya dengan sopan, bahkan terlalu sopan untuk bersikap seperti itu terhadap anak berusia tiga belas tahun.
“Panggil saja aku Clay! ” jawab ku dengan memberi nama ku yang lain.
Tujuan ku memberi nama lain ini karena untuk berjaga-jaga dan membatasi pencarian informasi atas diri ku karena tak ada yang tau apa yang menunggu ku setelah ini. Aku berjalan keluar dari penginapan dan pergi ke alun-alun agar menemukan guild petualang yang resepsionis itu katakan.
Sesampainya di alun-alun aku terkesan dengan air mancur yang menjadi pusat dari desa ini. Ukurannya cukup besar dengan patung seseorang di tengahnya yang aku tak tau siapa itu. Ada beberapa orang yang duduk mengelilingi air mancur itu bahkan ada juga yang pasangan yang sedang di duduk di pinggir air mancur hanya untuk menikmati suasana saja. Aku mengalihkan pandangan ku terhadap air mancur dan melihat ada bangunan dengan papan nama dengan huruf yang besar bertuliskan guild petualang Reistes. Tempat itulah yang aku tuju agar aku bisa mendaftar menjadi petualang sambil menyelidiki tentang Camazot yang menarik perhatian ku karena dia eksistensi pertama yang aku ketahui adalah dewa dari dunia ini, mungkin saja aku bisa mendapatkan informasi darinya.
Aku berjalan memasuki bangunan itu dan ketika telah masuk ke dalamnya, terdapat banyak orang yang menatap kehadiran ku. Meskipun kebanyakan mereka adalah petualang tingkat rendah namun ada juga yang memberikan tekanan yang cukup membuat ku terganggu. Ada beberapa meja yang di duduki oleh beberapa orang dengan senjata mereka masing-masing, ada juga yang menatap papan yang berisikan misi-misi yang tersedia untuk hari ini. Ada juga beberapa yang sedang mengambil imbalan karena telah menyelesaikan misi. Aku cukup puas dengan pemandangan ini karena semua ini sesuai dengan bayangan ku dengan ingatan yang aku miliki saat membaca manga di sewaktu masih hidup di jepang dulu. Aku dengan santai berjalan menuju tempat resepsionis untuk mendaftarkan diri ku sebagai petualang.
“Permisi,” ucap ku dengan suara lembut.
Perempuan yang berada di balik meja menoleh kepada ku dan kemudian tersenyum sambil mengatakan.
“Selamat siang ada yang bisa aku bantu?”
“Apakah aku bisa mendaftar sebagai petualang?” tanya ku.
“Tentu saja boleh, tapi kamu harus melewati ujiannya dan melakukan scanning di sini setelah ujian,” ucap dia sambil menunjukkan sebuah batu altar yang ada di sebelahnya.
“Boleh aku tau siapa nama mu?” ucap resepsionis itu sambil mengeluarkan sebuah kertas dengan pena.
“Nama ku Clay!” jawab ku dengan tenang.
“Kapan ujiannya akan di mulai?” tanya ku kembali.
“Karena hanya kamu yang mendaftar hari ini maka kamu bisa mulai kapan pun kamu mau melakukannya,” jawabnya dengan ramah.
“Bawalah surat ini pada orang di balik pintu itu dan dia akan menjadi instruktur mu untuk hari ini,” tambahnya sambil memberikan sebuah surat pada ku dan menunjukkan pintu yang di katakan nya.
“Apakah aku boleh menitipkan barang-barang ku di sini saat aku menjalani ujian?” tanya ku pada resepsionis itu.
“Tentu saja,” jawab resepsionis itu dengan tersenyum.
“Terima kasih!” ucap ku sambil sedikit menundukkan kepala dan pergi ke arah pintu yang dia tunjukkan.
Aku membayangkan tentang ujian apa yang menunggu ku di balik pintu ini, apakah akan melibatkan sihir atau hanya keterampilan bela diri atau seni berpedang. Aku membuka pintu kayu yang cukup besar ukurannya dan sampai pada arena yang cukup aneh dengan berbagai peralatan sihir dan senjata yang tersedia di meja-meja di pinggir arena itu. Aku tak menemukan satu orang pun atau instruktur yang resepsionis itu katakan di sini.
“Apa aku salah pintu?” pikir ku sambil memperhatikan semua yang ada di arena ini.
Seketika insting ku mengatakan bahwa aku harus menghindar dari tempat ku berdiri saat ini. Dengan cepat aku melompat dan berguling ke arah depan dan mengeluarkan senjata ku. Dan benar saja seseorang menyerang ku dengan menggunakan belati ganda yang dia pegang. Pria itu berperawakan layaknya seseorang yang sangat terlatih dengan hawa membunuh yang terpancar dari dari tatapan wajahnya yang tajam. Aku berhasil menghindari serangan itu bahkan saat pria itu sudah melancarkan serangannya setengah jalan. Aku saat ini memegang pedang ku dan bersiap menyerang kembali namun tak aku lakukan karena pria itu langsung berdiri dan mengangkat tangannya.
“Hei santai lah, maaf kan aku karena menyerang mu secara tiba-tiba!” ucapnya sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Siapa kau dan kenapa kau menyerang ku tiba-tiba!?” ucap ku sambil waspada dan mengacungkan pedang ku kearah nya.
“Santailah dan turunkan pedang mu, aku adalah instruktur di sini dan aku tebak kau ingin menjalani ujian untuk jadi petualang?” ucapnya sambil mengambil kertas yang berada di atas tanah yang dimana surat itu berasal dari resepsionis yang diberikan padaku.
Percaya akan kata-katanya yang dia lontar kan pada ku, aku menurunkan pedang dan memasukkannya ke dalam sarung pedang ku kembali.
“Petualang harus siap di setiap keadaan, tetap waspada dengan keadaan sekitar dan pekerjaan ini tidak hanya butuh kekuatan sihir ataupun kemampuan berpedang saja, namun insting juga sangat di perlukan,” ucap nya sambil melempar kedua belati tadi ke sebuah papan dan keduanya tertancap dengan sempurna.
“Kau sudah lulus tahap pertama ujiannya, mari kita lanjutkan ke tahap berikutnya!” tambahnya sambil mengarahkan tangannya ke arena.
“Lalu apa ujian selanjutnya?” tanya ku kembali.
“Kau harus bertarung dengan ku agar aku bisa menentukan di tingkat apa kau nanti,” jawabnya sambil berjalan ke meja yang di atasnya tergeletak banyak macam senjata.
“Pilihlah senjata mu,” tambahnya.
“Bolehkah aku memakai pedang yang ku bawa ini?” ucap ku sambil mengangkat pedang ku yang masih di sarungkan.
“Itu terserah kau, kebanyakan dari petualang baru biasanya memilih pedang yang di sediakan di sini saat ujian, tujuannya karena mereka takut pedang mereka tergores atau rusak, bodoh sekali bukan?” ucapnya sambil tertawa.
Aku mengerti tentang apa yang dia katakan barusan. Jika seorang petualang takut senjatanya rusak maka seharusnya mereka tidak mendaftar menjadi petualang. Senjata ada untuk di gunakan bukan untuk di pamerkan atau di pajang. Setelah mengambil salah satu pedang, pria itu berjalan menuju ke tengah arena dan berkata.
“Apa kau sudah siap?”
Aku pun memperpendek jarak kami dan membalas perkataannya.
“Aku siap!”
“Kalau begitu ayo kita mulai ujian nya!” ucapnya sambil tersenyum.