Latih Tanding

1756 Words
Saat ini aku sedang berhadap-hadapan dengan adam sambil memegangi pedang di tangan kami masing-masing. Aura yang di keluarkan oleh Adam membuat bulu kuduk di leher ku bergidik karena merasa ngeri. Aku mencoba menajamkan seluruh indra ku dan berfokus kepada seluruh tubuh Adam sambil memfokuskan energi mana ku sendiri. Aku sangat terkejut dengan energi mana yang terkumpul dan mengelilingi Adam sehingga meningkatkan kewaspadaan ku padanya. “Orang ini lebih kuat dari pada ayah,” pikir ku. Dengan tatapan dari para anggota Horn of Knight dan juga para penumpang yang berasal dari kereta kuda lainnya yang datang berkumpul untuk melihat kami latih tanding. Aku tak melakukan serangan lebih dahulu karena khawatir dan waspada. Insting ku mengatakan bahwa orang ini adalah veteran yang kuat. Mata ku yang sedari tadi berkonsentrasi memperhatikan seluruh tubuh Adam melihat pedang adam sedikit bergerak dan dia dengan cepat melancarkan serangan terhadap tubuh bagian atas ku. Aku berhasil berhasil mengelak dengan membenturkan pedang ku pada pedangnya agar lintasan pedangnya berubah arah. Dengan memanfaatkan momentum dari serangan Adam, aku menusukkan pedang ku ke arah kepala dari Adam namun dia berhasil menghindari nya meskipun menyebabkan sedikit luka di pipinya dan beberapa helai dari rambutnya terpotong. Aku dengan cepat membuat jarak dengan tubuh Adam karena dia berusaha menyerang bahu milikku. “Haha tak banyak orang yang bisa menghindari serangan ku,” ucap adam sambil mengelap darah yang sedikit mengalir di pipinya. “Kau sangat hebat Arvin, tapi selanjutnya tolong lebih hibur aku,” dia memasang kuda-kuda untuk menyerang ku. Aku hanya diam sambil menjaga konsentrasi dan aliran energi mana ku agar terus terfokuskan. Dan saat itu aku mendapatkan gambaran tentang tentang serangan dari Adam beberapa detik di masa depan yang akan dia keluarkan pada ku. Arah leher, d**a dan kemudian serangan berat ke bagian paha kiri ku. Adam dengan cepat memperpendek jaraknya dengan ku dan melancarkan serangannya kembali namun semua serangannya sama dengan penglihatan ku tadi sehingga aku bisa menghindari dan bertahan dari serangan selanjutnya. Pedang kami saling bertemu satu sama lain saat melancarkan serangan demi serangan hingga menimbulkan percikan bunga api. “Jika aku tak melatih tubuh ku maka aku akan kalah karena kelelahan sekarang,” pikir ku sambil menahan serangan dari Adam. Sebuah serangan dari Adam berhasil membuat ku terlempar namun aku bisa menjaga keseimbangan hingga aku jatuh dengan posisi yang siap menyerang baliknya. Dan saat itu juga Adam mengeluarkan nafsu membunuh yang sangat kental hingga membuat beberapa temannya berdiri untuk menghentikannya. Namun tak sampai mereka menghentikannya, Adam pun berdiri sambil menyarungkan pedangnya. “Mari kita cukup kan sampai di sini Arvin!” ucapnya sambil menunjukkan senyumnya dan menjulurkan tangannya. Aku pun menghela nafas dan berdiri seperti biasa kemudian juga menyarungkan pedang ku kembali. Aku takut akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan bila latih tanding ini di lanjutkan. “Kurasa begitu lebih baik,” jawab ku sambil berjalan menuju ke arah nya dan bersalaman dengannya. “Kurasa aku sudah berlebihan tadi,” ucapnya sambil menggaruk-garukkan kepalanya. “Ahaha aku juga terbawa suasana,” ucap ku sambil tersenyum. Kami pun berjalan kembali ke tempat kami duduk tadi dengan tangan dari Adam merangkul ku. Beberapa orang yang barusan menonton latih tanding ku dengan Adam menunjukkan ekspresi terkejut dengan mulut ternganga. “Arvin bagaimana kau bisa sehebat itu?” tanya Dand pada ku. “Ahaha aku hanya berlatih dengan Ayah ku setiap harinya,” jawab ku dengan tersenyum kecil. “Memang kau mulai latihan saat umur berapa?” tanya Cliff pada ku. “Hmm aku mulai memegang pedang saat umur 3 tahun sepertinya,” jawab ku. Semua tercengang dengan jawaban ku seakan tak percaya dengan apa yang aku katakan. Setelah itu kami terus bercerita dan bercanda dengan yang lain bahkan semua orang dari kereta-kereta kuda yang lain ikut bergabung dengan kami karena suasana ramai yang kami ciptakan. Malam semakin larut kami pun memutuskan untuk tidur. Saat tidur aku bermimpi tentang hal yang sama seperti sebelum-sebelumnya di mana takdir tuhan yang begitu pedih di turunkan pada ku. Bermimpi hal yang menjadi alasan kenapa aku ingin membalas dendam atas apa yang dia putuskan pada ku. Hingga tubuh ku merasa panas dan aku menjadi tersentak dari tidur ku. Saat bangun dari tidur matahari sudah muncul namun masih tak terlalu tinggi. Di sungai terlihat beberapa orang sedang membasuh muka mereka. Di tempat kami tidur, aku tak menemukan Ivan dan Adam. Samar-samar aku mencium aroma yang khas, aroma ikan bakar yang aku perkirakan berasal dari tempat kami menyalakan api unggun tadi malam. Dan benar saja aku melihat Adam sedang membakar ikan di atas arang yang menyala, sedangkan Ivan duduk di sebelah nya sambil meminum sesuatu. “Oh Arvinkah, tunggulah sebentar lagi sarapan akan siap!” teriak Ivan pada ku. Aku berjalan menuju sungai untuk membasuh muka ku sambil memikirkan tentang latih tanding tadi malam. Dimana Adam mengeluarkan nafsu membunuh yang bahkan mungkin akan membuat seekor singa menjadi lari ketakutan karenanya. Aura membunuh yang bahkan bisa di rasakan oleh orang yang bukan targetnya, bukan berarti aku berpikir kalau Adam adalah orang yang tak baik namun nafsu membunuh seperti itu bukan milik orang-orang dengan latar belakang yang biasa-biasa. Tapi aku berusaha untuk berpikiran baik tentangnya sambil menjaga kewaspadaan ku karena tak ada yang tentang apa yang menunggu mu nanti. Setelah semua orang bangun, kami pun sarapan bersama sebelum mulai melanjutkan perjalanan lagi. Regis mungkin masih merasa kesal pada ku meski aku tak tau apa penyebabnya. Dia selalu menatap ku dengan tatapan benci dan merendahkan yang mana malah terlihat konyol menurut ku. Aku tak punya waktu untuk meladeni nya, yang aku lakukan hanyalah berusaha menjauh dan tak berkomunikasi sedikit pun dengannya. “Hei matikan apinya, ayo naik kita akan berangkat!” ucap tuan Ivy sambil memegang kemudi kuda. Aku yang sedari tadi berada di atas kereta hanya melakukan pengontrolan terhadap energi mana ku yang mana ini adalah salah satu rutinitas ku. Satu persatu anggota Horn of Knight pun naik dan kereta kuda berjalan saat semua orang telah naik ke dalam. Saat semua anggota Horn of Knight tertidur, aku yang saat itu bosan karena merasa perjalanan ini sangatlah lama mulai bangkit dan pergi ke tuan Ivy. “Tuan Ivy kapan kita akan sampai ke kerajaan Shelion?” tanya ku. “Hmm... oh kau bocah, karena ini lebih awal daripada jadwal seharusnya 1 dan setengah hari lagi jika kita beristirahat malam ini,” jawabnya sambil mengemudikan kuda. “Duduklah disini jika kau bosan,” tambah tuan Ivy sambil menepuk-nepuk tepat duduk yang berada di sebelah nya. Dengan cepat aku keluar dari gerbong kereta kuda dan mulai duduk di tempat yang di tunjukkan oleh tuan Ivy. “Ngomong-ngomong bocah, kau sangat hebat ya tadi malam,” ucapnya. “Hah? Apa maksud mu?” tanya ku karena tak mengerti dengan apa yang dia katakan. Karena kata-kata itu di dunia ku dulu bisa mengartikan ke hal yang lainnya dan biasanya berbau hal-hal yang diperuntukkan orang dewasa. “Itu, saat kau bertarung dengan Adam!” lanjutnya. “Ah rupanya itu,” ucap ku sambil menghela nafas. “Apa kau tau, Adam itu sangatlah hebat dalam berpedang dan jarang ada orang yang bisa bertahan saat bertarung dengannya,” ucap tuan Ivy sambil menstabilkan jalannya kuda. “Iya aku merasa Adam sangatlah hebat,” jawab ku sambil tersenyum canggung. “Kau tak mengerti bocah, maksud ku bagaimana kau bisa melawan dan bertahan dari orang yang berkemampuan seperti dia!” lanjut tuan Ivy. “Aku dulu pernah melihat Adam bertarung melawan penguji di guild yang merupakan petualang tingkat B dan saat itu Adam masih di tingkat D,” tambahnya. “Dan setelah itu apa yang terjadi?” tanya ku karena penasaran. “Penguji itu kalah dengan telak bahkan belum sampai 3 menit bertarung,” jawab tuan Ivy. “Lalu bagaimana bocah seperti mu bisa bertahan dan seimbang dengannya, ahh aku tak paham lagi” tambah tuan Ivy sambil mempercepat jalannya kuda karena tertinggal cukup jauh dari kereta kuda yang ada di depannya yang juga menuju ke kerajaan Shelion. “Itu tak benar tuan Ivy,” dari dalam gerbong terdengar suara Adam dan dia mulai bergabung dengan pembicaraan kecil kami. “Apa maksudmu Adam?” tanya tuan Ivy pada Adam. “Maksudku, Arvin meskipun masih anak-anak tapi dia sangat berbakat dalam berpedang,” ucap Adam sambil menatap ku. “Dia tak pernah mengalihkan fokus nya dari lawan sehingga dia tau harus berbuat apa ketika lawan menyerang. Dan juga aku yakin dia berlatih sangat keras agar bisa menjadi sehebat ini,” lanjutnya. Aku hanya tersenyum canggung untuk menanggapi perkataan dari Adam sambil berpikir bahwa aku harus berhati-hati di masa depan agar tak menunjukkan kekuatan ku dengan sembarangan agar tidak terjadi masalah di masa depan. Kami bertiga pun terus berbincang sepanjang jalan hingga malam mulai datang dan kami beristirahat. *** Waktu terasa berjalan semakin lambat seiring jarak ke kerajaan Shelion semakin pendek. Kami telah melakukan perjalanan selama 2 hari 2 malam dan hanya berhenti ketika malam tiba. Aku merasa sangat bosan begitu pula dengan semua anggota Horn of Knight yang hanya melamun dan tak berbicara sedikit pun. Aku bangkit dari duduk ku dan mulai pergi menuju ke kursi di mana kusir mengemudikan kudanya. “Tuan Ivy berapa lama lagi sebelum sampai,” ucap ku sambil menggantungkan tubuh bagian atas ku ke kereta kuda. Dia menoleh ke arah ku dan menjawab. “Sabarlah bocah, kita mungkin sampai saat tengah hari nanti.” “Tuan apa kau tau seperti apa kerajaan Shelion itu?” tanya ku pada tuan Ivy. “Hmm di sana kurang keadaannya sama seperti di Barthley namun mungkin ketika di sana kau akan mendapat beberapa masalah yang di sebabkan oleh ulah penyembah Camazotz,” jawab tuan Ivy. “Maksud mu seperti apa?” tanya ku kembali. “Kau akan tau ketika sampai di sana bocah,” ucapnya dengan sedikit menaikkan nada. Banyak hal yang masih belum ku mengerti tentang kerajaan Shelion karena informasi yang dikatakan oleh buku dan tuan Ivy sangatlah terbatas. Aku hanya bisa menunggu dan bersiap dengan apa yang menunggu ku disana. Sebuah bangunan mulai terlihat yang membentang membentuk seperti benteng pertahanan dengan pintu masuk yang terbuka lebar ditengah-tengahnya. “Nak kita sudah hampir sampai, kau lihat gerbang di sana, itu adalah desa Molin!” ucap tuan Ivy sambil menepuk kepala ku. Aku merasa cukup lega karena aku bisa sampai kesini sedikit lebih cepat dari waktu biasanya. Setelah melewati penjagaan dan pemeriksaan, kami di perbolehkan masuk kedalam desa ini. Keadaan di sini sangat ramai sama seperti yang tuan Ivy katakan juga banyak ras kulihat seperti di Barthley, namun ada juga beberapa orang yang menggunakan jubah dengan tudung yang sama-sama berwarna merah yang mengganggu pandang ku. Namun aku tak menghiraukan orang-orang itu dan berjalan mencari penginapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD