Aku pun berjalan menuju tempat biasanya kereta berkumpul untuk mencari penumpang. Tempatnya agak jauh karena terletak di desa tetangga yaitu desa Hammark. Desa yang masih menjadi bagian dari kerajaan Barthley, desa ini bisa dikatakan sebagai perbatasan dari kerajaan Barthley karena merupakan desa terakhir dari kerajaan Barthley bagian barat. Perbatasan ini meliputi daerah netral, kerajaan Shelion dan kerajaan Moonlight. Daerah netral dahulu di gunakan untuk perang antar ras dan kerajaan, namun karena suatu kejadian semua ras dan kerajaan yang terlibat perang berdamai dan berdiam di wilayahnya masing-masing.
“Mungkin aku akan sampai saat siang hari,” ucap ku sambil berjalan dan memandangi pemandangan yang ada di kiri kanan ku.
Aku memang jarang pergi keluar dari desa ku sehingga pemandangan seperti ini agak asing bagi ku. Binatang magis yang tidak ada di bumi menjadi suatu hiburan tersendiri bagi ku. Kelinci spyrhon yang mungkin jika di bumi lebih mirip seperti kangguru namun di kakinya terdapat duri yang jumlahnya banyak. Gigas bij yaitu lebah yang berukuran sangat besar seperti ukuran buah kelapa dan banyak lagi binatang-binatang yang aneh disini. Sambil berjalan menuju desa Hanmark aku juga memburu binatang-binatang magis yang menurut ku cukup kuat hingga aku juga bisa meningkatkan kekuatan ku sambil berjalan menuju kesana.
Sesampainya di desa Hammark aku langsung di buat takjub karena gerbang keluar masuk di sinj sangat besar dan ketika aku masuk ke dalam suasana nya sangatlah ramai. Ada ras lain selain manusia yang aku lihat disini seperti elf yang baru pertama kali aku melihatnya di dunia ini dan ras dwarf selain paman Hoobs.
“Oh disini sangat ramai!” ucap ku takjub.
“Apa mungkin karena disini adalah perbatasan jadi seramai ini? “
Karena tidak tahu tempat biasanya kereta kuda mengangkut penumpang, aku pun menghampiri seorang penjaga gerbang untuk menanyakan tempat itu.
“Selamat siang pak, boleh aku bertanya tempat biasanya kereta kuda yang membawa penumpang ke kerajaan Shelion?” tanya ku dengan sopan.
“Oh kau tinggal lurus saja mengikuti jalan besar ini sampai menemukan banyak kereta kuda yang berkumpul” jawabnya.
“Terima kasih!”
Setelah berterima kasih pada penjaga gerbang itu, aku langsung bergegas untuk menuju ke tempat kereta kuda itu dan tak lama kemudian aku aku melihat banyak kereta kuda yang sedang parkir di pinggir jalan besar itu, namun ada juga beberapa yang sudah berjalan keluar dari desa ini. Aku langsung menghampiri salah satu kereta dan menanyakan apa dia akan pergi ke kerajaan Shelion.
“Permisi tuan, apa kereta mu ini menuju ke kerajaan Shelion, jika benar akan ke sana bolehkah aku menumpang?” tanya ku pada salah satu kusir kuda yang berpenampilan cukup tua.
“Maaf nak... kali ini aku tidak pergi ke kerajaan Shelion,” jawabnya dengan ramah.
“Oh begitu, bolehkah tuan memberi tahu ku kereta mana yang akan pergi ke kerajaan Shelion?”
“Coba kau pergi ke beberapa kereta kuda yang berbaris di sana, mereka bilang akan membawa beberapa orang lagi untuk ke Shelion, sebut saja kau di tunjukkan ke kereta itu oleh ku,” ucapnya sambil menunjuk kereta kuda yang berwarna putih.
“Baiklah tuan, jika boleh tau siapa nama tuan?” tanya ku kembali.
“Nama ku Khan, jika kau bilang pada mereka kalau kau di suruh ke situ oleh ku, maka mereka akan memperlakukan mu dengan baik,” jawabnya sambil tersenyum.
“Terima kasih banyak Tuan Khan!” ucap ku sambil pergi berjalan menuju kereta kuda yang di tunjukkan oleh tuan Khan.
Ada beberapa orang yang berkumpul di samping kereta-kereta kuda ini. Dilihat dari penampilan dan barang bawaannya mereka semua adalah petualang. Aku pun langsung menghampiri salah satu kusir dari kereta kuda itu dan menanyakan apa dia bisa membiarkan aku ikut dengannya.
“Permisi tuan, aku di beri tahu oleh tuan Khan di belakang sana bahwa kau akan pergi ke kerajaan Shelion, jika boleh ijinkan aku ikut menumpang di kereta kuda mu untuk pergi kesana”
Orang itu menoleh kearah ku dan berkata.
“Baiklah nak, cepat taruh barang bawaan mu ke dalam karena kita akan berangkat sebentar lagi.”
“Duduklah dimana pun kau suka nak,” tambahnya.
Aku merasa lega tak harus menunggu terlalu lama untuk pergi ke kerajaan Shelion.
“Terima kasih tuan!”
Dengan cepat aku memasuki kereta kuda itu dan menaruh barang-barang ku. Dan beberapa saat kemudian orang-orang yang aku lihat di luar tadi juga masuk ke kereta yang sama dengan ku.
“Oyy tuan Ivy kau tak bilang kalau kau akan punya penumpang baru?” ucap seorang lelaki yang bertubuh besar dengan rambut yang lumayan panjang dengan bekas luka di bagian pipi.
“Ohh anak itu diarahkan ke sini oleh Khan tua jadi aku tak bisa menolaknya,” ucap sang kusir.
“Ck.. Khan tua. Oy bocah apa hubungan mu dengan tuan Khan?” ucapnya dengan sedikit kasar.
“Hey tenanglah dia hanya anak kecil,” ucap salah satu temannya.
“Memang nya kenapa kalau anak kecil hahh?” jawabnya.
“Regis... Duduklah!” ucap salah satu temannya sambil memandangi ku.
Orang itu pun langsung mematuhi apa yang di katakan oleh salah satu temannya yang lain, meskipun masih terlihat dari ekspresi nya dia masih sangat jengkel karena aku ikut dalam kereta ini.
“Kalau begitu ayo berangkat!” ucap sang kusir.
Ctashh....
Terdengar suara pecutan dan di ikuti ringkikan dari kuda itu.
Kereta pun mulai berangkat dari desa Hammark menuju ke kerajaan Shelion. Keadaan dalam kereta masih hening karena kejadian tadi. Aku masih tak mengerti kenapa orang itu sangat marah ketika aku ikut dalam kereta ini. Orang yang tadi menyuruh temannya untuk duduk pun datang menghampiri ku. Perawakannya mirip seperti ayah ku namun dengan badan yang sedikit lebih besar dan entah kenapa aku merasa ada aura berbahaya yang berasal dari nya. Dia pun duduk di samping ku dan mulai berbicara dengan ku.
“Maafkan tentang sikap teman ku tadi”
“Itu tidak apa-apa tuan” jawab ku sambil sedikit tersenyum.
“Kemana kau akan pergi?”
“Aku akan pergi ke kerajaan Shelion tuan”
“Hmm? Kenapa kau ingin pergi kesana?”
“Aku ingin jadi petualang”
Aku tak menyangka bahwa dia akan seramah ini pada ku. Namun aku masih penasaran tentang aura berbahaya yang aku rasakan darinya, entah itu perkiraan ku yang salah atau tidak. Lalu tiba-tiba salah seorang dari anggota kumpulan petualang itu berdiri dan berkata.
“ Karena kita memiliki teman seperjalanan baru, bagaimana kalau kita saling memperkenalkan diri masing-masing”
“Ahh itu ide yang bagus” ucap salah seorang temannya.
“Kalau begitu mulai dari ku, Nama ku Dand class ku Warrior” ucapnya sambil berdiri dan melambaikan tangannya pada ku.
“Selanjutnya aku, nama ku Cliff dan class ku juga Warrior” ucap orang yang menyarankan perkenalan tadi.
“Namaku Ivan class ku adalah Warrior” ucap orang yang memberhentikan temannya yang marah pada ku.
“Regis, Executioner” ucap orang yang marah padaku tadi sambil memandang ku.
“Dan Nama ku Adam class ku Warrior, aku adalah pemimpin dari grup ini dan nama grup ini adalah Horn of Knight” ucap orang terakhir yang meminta maaf atas kelakuan temannya.
Aku langsung berinisiatif berdiri dan mengenalkan diri ku pada mereka.
“Nama ku Arvin saat ini aku berumur 13 tahun karena tradisi turun temurun dari keluarga, aku menjadi petualang saat ini”
“Hoo... tradisi yang cukup menarik” ucap Adam.
“Terus apa class mu?” tanya Cliff sambil menacungkan tangan.
Aku agak ragu untuk menjawab pertanyaan itu karena takut menimbulkan keributan. Namun mengingat mereka juga memberitahukan class mereka masing-masing, akhirnya aku juga mengatakan class ku.
“Class ku.... Evasion”
“Eh?? Evasion” ucap clliff
Pandangan mereka semua tertuju pada ku saat ini dengan menunjukkan ekspresi takjub.
“K-kau b-benar-benar E-Evasion?” tanya Dand sambil terbata-bata.
“Iya” jawab ku sambil tersenyum.
Mungkin seharusnya aku tak memberi tahu mereka tentang class ku, karena saat ini mereka menjadi terdiam karena perkataan ku.
“Lalu apa elemen lanjutan yang kau kuasai?” tanya Adam.
“Untuk saat ini meskipun tak dapat menggunakannya dengan lama, aku bisa menggunakan elemen petir” jawab ku.
“Ya tuhan Class Evasion di umur semuda ini bahkan elemen petir, kau sungguh bocah yang mengerikan” ucap Cliff sambil memegang kepalanya karena tak percaya.
“Yah terlepas dari itu semua senang berkenalan dengan mu Arvin” ucap Adam.
“Aku juga merasa terhormat bisa mengenal tuan petualang sekalian” ucap ku sambil menundukkan kepala ku.
“Karena kita sama-sama petualang, jangan bersikap terlalu sopan begitu Arvin, dan juga jangan panggil kami tuan, panggil saja nama kami” tambahnya.
“Kalau begitu mohon kerja sama nya” jawab ku.
Sepanjang jalan mereka pun bercerita tentang petualangan yang pernah mereka lakukan. Seiring berjalannya waktu kami semua pun menjadi cukup akrab dari pada saat pertama bertemu. Kami bercanda dan saling bertukar lelucon satu sama lain hingga malam pun tiba dan kami berhenti di hutan yang di sebelah nya ada aliran sungai. Tuan Ivy sang kusir memutuskan untuk beristirahat di sini dan ternyata masih ada beberapa kereta kuda lagi yang beristirahat di sini bersama kami. Suasana di hutan ini pun menjadi ramai karena banyaknya penumpang yang beristirahat dan menyalakan beberapa api unggun bersama grup nya sendiri.
Adam tiba-tiba menghampiri ku dan berkata.
“Hey Arvin... bagaimana kalau kita melakukan peregangan setelah makan?”
“Huh? Maksudnya?” ucap ku karena tak mengerti dengan peregangan yang di katakan Adam.
“Maukah kau berlatih tanding dengan ku” ucap Adam.