Paman Hoobs pun menyuruh kami masuk ke ruangan biasa dia menerima tamu. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena masih terkejut dengan apa yang Ayah katakan tadi.
“Hey Rodney anak ini kau beri makan apa sampai bisa se mengerikan ini di umurnya yang masih sangat muda” ucapnya sambil menyalakan rokok.
Dengan tertawa terbahak-bahak ayah menjawab.
“Hahaha semua anakku memang berbakat namun Arvin adalah jenius sejati”
“Aku tau kau dari dulu sering bersikap konyol namun kau tak pernah berbicara omong kosong” ucap paman Hoobs sambil menghisap rokoknya.
“Jadi apa keperluan mu hari ini” tambahnya.
“Ah iya, Arvin ingin belajar menempa pedang dan karena aku tak bisa melakukannya jadi kubawa dia ke tempat mu” ucap Ayah sambil memukul meja dengan kedua tangannya.
“Apa kau yakin dia bisa melakukannya? Kalau tidak salah dia masih berumur 10 tahun” ucap paman Hoobs seakan meragukan kemampuan ku.
“Jangan khawatir dia pasti bisa melakukannya” ucap Ayah sambil mengacungkan jempolnya.
Paman Hoobs memandang ku dengan serius dan menghela nafas panjang.
“Baiklah jika kau memaksa, aku memang tak bisa menolak permintaan mu Rodney” ucap paman Hoobs sambil berdiri.
“Kalau begitu kubiarkan Arvin disini untuk belajar dengan mu, sedangkan aku harus pulang karena ada sesuatu yang harus ku kerjakan” ucap ayah sambil berjalan keluar dari toko.
“Yah terserah lah” ucap paman Hoobs.
“Hoi bocah ikuti aku” tambahnya.
Aku pun mengikutinya kedalam ruangan yang penuh dengan peralatan yang asing bagi ku. Sebuah tungku api yang besar dengan api masih menyala di dalamnya, anvil yang berukuran cukup besar dan banyak senjata yang menggantung di dinding.
“Aku tak tau apa kau bisa melakukannya tapi aku tak terlalu bisa mengajari orang” ucap paman Hoobs sambil mengambil palu.
“Jadi lihat dan ingat, aku hanya akan meluruskan mu jika nanti terjadi kesalahan tapi aku tak akan menjelaskan se rinci mungkin jadi pelajarilah sendiri” tambahnya
“Karena ini adalah kali pertama mu membuat senjata, jadi mari buat dagger saja” ucapnya sambil mengambil lempengan iron ore dari atas meja yang berada di pojok ruangan.
Karena seingat ku iron ore tidak berbentuk lempengan seperti itu jadi mungkin itu adalah iron ore yang telah di murnikan dan di proses terlebih dahulu
“Perhatikan baik-baik bocah!”
“Siap paman Hoobs!” ucap ku dengan lantang
Aku pun dengan seksama mengamati paman Hoobs dalam membuat dagger itu. Dari proses pemanasan lempengan iron ore itu yang bertujuan untuk melunakkan bahan agar dapat di bentuk. Setelah cukup panas, lempengan baja di bawa ke atas anvil kemudian di palu untuk membentuknya menjadi sebuah belati, proses ini terus di ulang agar belati bisa terbentuk secara sempurna. Saat belati telah terbentuk dengan sisi tajam yang juga telah sempurna maka paman Hoobs langsung memasukkan nya kedalam tong kecil yang berisi seperti minyak untuk menghilangkan panas dari ujungnya.
“Bentuk yang sempurna!” ucap paman Hoobs sambil memandangi belati nya.
Kemudian paman Hoobs mengasah belati tadi dengan seksama bertujuan agar belati tadi menjadi tajam di kedua sisinya. Setelah di rasa cukup tajam, paman Hoobs pun memotong sebuah kayu untuk dijadikan gagang pegangan dari belati tadi. Gagangnya harus berukuran seimbang dengan bilah belati agar nyaman saat di pakai. Bilah belati dan gagang belati pun di satukan dan dengan itu maka sebuah belati yang sangat sederhana pun telah selesai di buat.
“Bagaimana bocah? Apakah kau bisa membuatnya?” tanya paman Hoobs pada ku.
Aku merasa pembuatan belati tadi sangatlah sederhana sehingga tidak mungkin aku tidak bisa membuatnya.
“Baik akan kucoba,” ucap ku dengan penuh keyakinan.
“Bagus! Aku akan mengawasi mu dan membimbing mu” balas paman Hoobs.
Aku dengan percaya diri mulai membuat dagger yang sama dengan paman Hoobs instruksikan. Dari pemanasan, pembentukan dan lain-lain. Hingga akhirnya aku berhasil membuat dagger seperti paman Hoobs namun dengan waktu yang lebih singkat.
“Astaga kau bahkan berbakat menjadi pandai besi” ucap paman Hoobs.
“Bocah yang sungguh mengerikan, dia bahkan berhasil membuatnya dalam sekali coba”
Paman Hoobs sepertinya merasa senang dengan dagger buatan ku. Dia terus memandangi dangger yang kubuat.
“Anoo... paman bolehkah aku belajar pembuatan semua senjata yang kau ketahui” pinta ku pada paman Hoobs.
“Hahaha Tentu saja, aku akan mengajarimu semua hal yang ku bisa dan jika perlu aku akan membuat mu menjadi blacksmith yang terkenal”
Paman Hoobs mengatakan itu sambil tertawa terbahak-bahak. Semenjak itu aku selalu datang setiap seminggu tiga kali untuk belajar tentang crafting. Tak kusangka paman Hoobs juga bisa sedikit menggunakan skill Enchant yang dimana dia bisa memasukkan efek tambahan pada senjatanya namun hanya di tahap dasar saja. Di lain hari aku selalu melatih sihir dan inti mana ku atau pergi berburu ke hutan dan melatih seni berpedang ku. Hingga akhirnya 3 tahun telah terlewati dan aku telah mencapai tahap Encourage Defiance sama seperti tahap Ayah ku sekarang. Aku juga bisa menggunakan semua elemen dasar dan masuk ke kategori class Evasion. Api hitam yang Varen turunkan pada ku sekarang aku juga bisa mengendalikan dengan sempurna namun dengan petir hitam kemajuan ku terbilang cukup sedikit tapi aku tak berkecil hati dan terus melatihnya. Aku juga telah memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman dari Paman Hoobs dan waktu ku untuk pergi berkelana telah tiba.
***
Di pagi hari yang cerah, Ayah dan ibu mengantarkan ku ke halaman depan rumah sambil memastikan tak ada yang tertinggal.
“Semuanya sudah siap nak?” ucap Ayah sambil membawa ransel ku.
“Iya Ayah semuanya telah ku siapkan dari beberapa hari yang lalu” jawab ku.
“Bahkan Ayah masih tak percaya kalau sudah di tingkat yang sama seperti Ayah” ucap ayah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ke marilah dulu nak” Ibu memanggil dan mulai memeluk ku.
“Jaga dirimu baik-baik” ucap ibu sambil melepaskan pelukan nya dan mencium kening ku.
“Apa kau yakin akan berangkat dari sini” ucap Ayah.
“Iya Ayah karena aku akan mampir dan berpamitan terlebih dahulu ke paman Hoobs”
“Kalau begitu jaga diri mu nak dan jangan coba-coba mendekati atau pun masuk kedalam wilayah Aurian” ucap Ayah menegaskan perintahnya.
“Siap Ayah” jawab ku dengan tegas
“Kalau begitu aku akan berangkat, Selamat tinggal” ucap ku sambil melambaikan tangan ku ke arah mereka berdua.
Sepertinya Ibu telah merelakan kepergian ku untuk berkelana dilihat dari dia tak menangis saat kepergian ku. Aku cukup lega akan hal itu karena pasti berat rasanya ditinggalkan oleh anaknya meskipun hanya untuk pergi beberapa tahun lamanya.
Aku dengan bergegas pergi ke arah toko paman Hoobs dan kebetulan dia sedang bersiap untuk membuka tokonya.
“Selamat pagi paman Hoobs” ucap ku dengan ramah.
“Ohhh ini bocah nakal Arvin, ada apa kau datang se pagi ini?” ucapnya.
Julukan itu ku dapatkan saat aku kegirangan karena berhasil membuat pedang pertama ku dulu dan saat akan menunjukkan ke paman Hoobs yang ada di toko, aku tersandung dan jatu menabrak baju zirah besi yang di pajang paman di tokonya. Akibatnya zirah itu jatuh dan menimpa barang-barang lainnya sehingga seluruh isi toko menjadi berantakan.
“Aku akan pergi berkelana hari ini jadi aku ingin berpamitan padamu sebelum aku pergi”
“Eh? Berkelana? Apa orang tuamu memperbolehkanmu?”
“Iya mereka memberi ku Izin”
“Astaga apa yang mereka pikirkan” ucap paman Hoobs karena heran.
Karena bergegas untuk berangkat maka aku segera berpamitan padanya.
“Kalau begitu paman Hoobs aku akan berangkat sekarang”
Namun dengan cepat Paman Hoobs menghentikan ku.
“Tunggu sebentar” ucapnya sambil berlari ke dalam dan kembali keluar dengan membawa sebuah pedang.
“Bawalah pedang ini bersama mu, ini adalah salah satu pedang terbaik buatan ku”
“Tapi paman... aku sudah punya pedang sendiri lagi pula aku membuat pedang ku ini bersama mu, mana mungkin aku bisa menerima hadiah se bagus itu dari mu” ucap ku berusaha menolak karena tidak enak pada paman Hoobs.
“Sudahlah ambil saja, anggap ini hadiah dari ku” paman Hoobs memaksa ku untuk menerima pedang pemberian nya
Sejujurnya pedang yang diberi oleh paman Hoobs ini sangatlah bagus, sama seperti pedang yang dulu aku kenakan saat berduel dengan ayah. Dimana pedang ini sangat seimbang, tidak terlalu panjang atau terlalu pendek. Karena merasa paman Hoobs memberikannya dengan tulus maka aku pun menerimanya.
“Kalau begitu terima kasih Paman, aku dengan senang hati menerima pedang ini”
“Nah begitu kau sudah ku anggap seperti anak sendiri jadi jangan sungkan,” ucapnya sambil tersenyum.
“Kalau begitu aku akan berangkat sekarang Paman, selamat tinggal!” ucap ku sambil melambaikan tangan kearah Paman Hoobs.
“Ya jaga diri mu baik-baik” jawabnya.
Wilayah tujuan ku untuk berkelana saat ini adalah kerajaan Shelion yang terletak di barat dari kerajaan Barthley dimana memakan waktu 3 hari 3 malam untuk mencapai kesana dengan memakai kereta kuda. Tujuan ku ke sana tidak lain karena menurut buku yang aku baca bahwa di sana ada organisasi besar yang menyembah Dewa Camazotz namun juga banyak dari rakyatnya yang menentang organisasi itu. Organisasi itu mungkin adalah langkah awal bagi ku untuk mewujudkan balas dendam. Aku akan membunuh siapapun yang menghalangi ku, tak peduli seberapa kuat tak peduli seberapa lama waktu yang di butuhkan, aku akan mewujudkan balas dendam ku.