Mengagumkan

1237 Words
Nada menatap pantulan dirinya di layar laptop yang baru saja ia tutup. Di balik kaca tipis ruang ruang kerjanya, bayangan wajah Nada tampak lebih pucat dari biasanya. Sejenak ia menghela napas panjang, berusaha meredakan getaran di d**a. Meskipun sudah menyiapkan materi presentasi sejak seminggu lalu, tetap saja ada rasa mual mengendap ketika ia tahu siapa saja yang akan hadir. Arfa Ardana. Pewaris tunggal, lelaki yang pernah mencabik perasaannya di masa lalu. Zevan Hermawan. Sosok yang karismanya diam-diam mampu membuat siapa pun merasa aman. Dan Luna Wardani. Wanita yang belakangan ini semakin sering mondar-mandir di kantor, bukan hanya karena statusnya sebagai tunangan Arfa, tapi juga karena nama besar perusahaan keluarganya yang kerap bermitra dengan NCMG. Nada menegakkan bahu. Hari ini, ia bukan gadis yang pernah terpuruk oleh fitnah. Ia adalah Assistant Manager Strategic Development. Ia harus berdiri, menatap mata-mata kritis itu, lalu membuktikan dirinya. Ruang rapat besar itu sudah dipenuhi oleh beberapa manajer dan staf senior ketika Nada masuk sambil membawa map tebal. Aroma kopi hitam bercampur dengan wangi kayu furnitur mahal memenuhi ruangan. Di ujung meja oval panjang, Arfa duduk dengan jas hitam pekat, menatap layar tablet. Di sebelahnya, Luna dengan gaun kerja pastel duduk anggun, senyum tipisnya menyebar, meski matanya tampak penuh kalkulasi. Zevan, dengan kemeja abu-abu muda, menyandarkan punggung santai ke kursi, matanya berkilat begitu melihat Nada datang. Ia sempat mengangguk kecil, seakan memberi dukungan tanpa suara. Nada berdiri di depan layar besar, tangannya sedikit gemetar saat menyalakan proyektor. Suara kecil di kepalanya berteriak, Tenang, Nad. Kau bisa. Jangan biarkan mereka lihat kelemahanmu. “Selamat pagi semuanya,” ucap Nada, suaranya lembut tapi cukup jelas menggema di ruang rapat. “Hari ini saya akan memaparkan konsep strategi pengembangan untuk proyek Smart City Partnership yang sedang direncanakan NCMG bersama pihak eksternal.” Beberapa kepala mengangguk. Nada memulai presentasinya. Slide demi slide muncul, menampilkan grafik, analisa SWOT, hingga skema kerjasama dengan investor asing. Ia menjelaskan dengan lancar, suaranya mantap, gesturnya meyakinkan. Namun, baru lima menit berlalu, seorang manajer senior menyela, “Tapi bukankah prediksi angka yang Anda sebutkan terlalu optimis, Nada? Pasar kita sedang tidak stabil. Saya ragu strategi ini akan berjalan semulus yang Anda paparkan.” Suasana ruangan mendadak tegang. Nada bisa merasakan tatapan Arfa yang tajam mengarah padanya. Dari sudut matanya, ia melihat Luna menyunggingkan senyum samar, seolah menunggu Nada terperosok dalam kesalahan. Nada menelan ludah. Ia lalu menatap manajer itu, matanya lurus, nada suaranya tetap tenang. “Terima kasih atas masukannya, Pak. Justru di sinilah letak kuncinya. Proyeksi ini tidak dibuat asal optimis, tapi berdasarkan data nyata dari lima tahun terakhir, juga memperhitungkan kondisi dunia yang sering berubah. Benar, pasar memang tidak stabil. Tapi jika kita menunggu semuanya tenang, kompetitor pasti sudah lebih dulu masuk. Karena itu, strategi ini dibuat agar kita bisa melangkah saat pihak lain masih ragu. Dengan kata lain, kita mengambil risiko yang sudah diperhitungkan, demi keuntungan jangka panjang.” Ruangan hening. Beberapa orang mulai mengangguk setuju. Nada menambahkan penekanan terakhir sambil menatap layar. “Kita bukan sekadar bermain aman. Kita sedang bicara tentang bagaimana NCMG berdiri di mata dunia. Jika kita hanya jadi pengikut, kita akan tenggelam.” Arfa menatapnya lebih lama, sorot matanya seperti menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak. Zevan tersenyum tipis, matanya berbinar penuh kekaguman. Luna? Senyumnya membeku. Tangannya meremas pelan pena yang ia pegang. Ia tidak sedang mendengarkan strategi Nada. Perhatiannya lebih tertuju pada sorot mata Arfa yang terlalu lama berhenti pada sosok perempuan itu. Presentasi berlangsung hampir satu jam. Di akhir sesi, Nada menutup dengan ringkasan yang ringkas namun menohok. Beberapa peserta bertepuk tangan kecil, tanda apresiasi. “Good job,” komentar Zevan, suaranya dalam tapi tulus, saat giliran diskusi terbuka dimulai. Arfa, yang biasanya cepat melontarkan kritik, kali ini hanya berkata singkat, “Menarik.” Tetapi ekspresi matanya jelas tidak biasa. Ada kilatan yang membuat Luna semakin sulit menahan kegelisahannya. Diskusi berlanjut, beberapa argumen muncul, tapi setiap kali Nada dipertanyakan, ia mampu menjawab dengan logis, bahkan membuat suasana lebih hidup. Ia berhasil membuktikan dirinya bukan sekadar asisten manajer muda yang “dapat koneksi dosen senior.” Ia layak berdiri di sana. Sesi rapat akhirnya selesai menjelang siang. Para peserta mulai merapikan berkas. Nada menghela napas lega, bahunya sedikit jatuh seakan beban berat terangkat. Namun, drama sesungguhnya justru dimulai setelah itu. “Nada,” suara Arfa tiba-tiba terdengar. Nada suaranya terkesan resmi tapi ada sesuatu yang berbeda, “Presentasi tadi… cukup mengesankan. Kirimkan detail proyeksinya langsung ke saya, bukan hanya ke sekretariat.” Nada hampir terkejut, tapi buru-buru mengangguk sopan. “Baik, Pak Arfa.” Zevan yang berdiri di dekat pintu melirik dengan senyum samar. “Kalau bisa, kirimkan ke aku juga, Nad. Aku ingin diskusi lebih lanjut soal beberapa poin teknis. Kita bisa atur waktu, mungkin sore ini?” Nada sedikit ragu, tapi ia mengangguk. “Baik, Pak Zevan.” Di sisi lain meja, Luna berdiri kaku. Tangannya meremas tas kecil yang ia bawa, senyum tipis masih melekat di bibirnya, meski matanya menusuk tajam ke arah Nada. Saat semua orang mulai keluar ruangan, ia sempat mendekat ke Arfa, menyentuh lengan pria itu seolah menunjukkan kepemilikan. “Rapat yang melelahkan,” ucap Luna manis, meski matanya sekilas melirik tajam ke arah Nada. “Untung ada yang bisa menghibur suasana.” Nada menunduk, pura-pura sibuk dengan berkasnya. Tapi hatinya berdegup cepat. Ia bisa merasakan hawa persaingan yang semakin nyata, meskipun tak seorang pun berani mengucapkannya dengan lantang. “Arfa, ayo kita pergi. Bukankah siang ini kamu janji mau makan siang bareng sama aku?” Suara Luna penuh penekanan. Seolah ingin menegaskan kalau Arfa adalah miliknya dan siapa pun tida boleh mengganggunya. Arfa tidak menjawab. Ia merapikan jasnya lalu melangkah meninggalkan Nada di sana. Sebelum meninggalkan ruangan itu, Luna berbisik pelan. “Hari ini kamu mungkin mampu membuat orang lain terkesan. Tapi tidak dengan aku. Aku akan pastikan, umurmu tidak akan lama di perusahaan ini,” ancam Luna. Sebuah helaan napas terdengar. Tapi Nada sama sekali tidak menjawab. Ia tetap fokus pada berkasnya. Mengabaikan Luna karena ia tahu, meladeni perempuan itu hanya akan membung-buang waktunya. Usai membereskan berkasnya, Nada pun pergi meninggalkan ruang rapat. Namun di lorong, langkah Nada tertahan ketika mendengar suara Arfa memanggil pelan. “Nada.” Ia berbalik. Arfa berdiri tidak jauh darinya, ekspresinya serius. Ada banyak pasang mata yang masih lalu lalang, tapi atmosfer di antara mereka seolah menyempit. “Aku ingin bicara empat mata nanti. Ada hal penting terkait proyek ini.” Suaranya datar, tapi ada nada yang membuat bulu kuduk Nada meremang. Sebelum Nada sempat merespon, suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar. Luna muncul, merangkul lengan Arfa dengan senyum menawan. “Sayang, Ngapain kamu masih di sini? Papa udah nungguin. Bukankah kita sudah janji makan siang sama papa?” ujarnya lembut, tapi nada kepemilikan di suaranya jelas menusuk telinga Nada. Arfa mengangguk kemudian membalik badan. Namun sebelum tubuhnya membalik sempurna, Arfa sempat menoleh ke arah Nada sekali lagi sebelum berjalan bersama Luna. Tatapan itu bukan sekadar profesional. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang membuat perut Nada mengeras, antara takut dan… tak ingin berharap. Nada berdiri kaku di lorong, map di tangannya serasa semakin berat. Ia menutup mata sejenak, mengatur napas. Di dalam hati, suara lamanya berbisik, Kau harus kuat, Nad. Jangan sampai terjebak lagi. Namun, rasa penasaran yang ditinggalkan tatapan Arfa barusan, justru membuat langkahnya terasa gamang. Di ujung lorong, tanpa sepengetahuan siapa pun, Zevan berdiri menyandar ke dinding. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia melihat interaksi singkat itu, merasakan ada yang tidak biasa. “Menarik,” gumamnya pelan, sebelum melangkah pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD