Malam ini, suasana kamar Arfa dipenuhi keheningan. Lampu meja menyala redup, hanya menyorot sebagian wajahnya yang tengah termenung di tepi ranjang. Dahi pria itu bertumpu pada jemari, sementara matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota di bawah sana. Hujan tipis baru saja reda, menyisakan gemerlap lampu-lampu yang memantul di jalanan basah. Di tangannya, segelas air putih sudah hampir habis, namun belum juga ia minum habis. Entah mengapa, akhir-akhir ini pikirannya tak tenang. Ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami… sesuatu yang membuat dadanya sesak tanpa sebab. Luna. Nama itu melintas sekilas. Tapi entah mengapa, bukannya merasa hangat seperti dulu, Arfa justru merasakan kehampaan yang tak bisa dijelaskan. Ia menatap meja di sebelah ranjang. Ada f

