Perdebatan Sengit

1539 Words

Malam sudah larut. Jakarta di luar jendela hanya menyisakan lampu-lampu redup dari gedung tinggi dan suara samar kendaraan yang melintas di kejauhan. Dari lantai tujuh apartemennya, Nada memandang ke bawah. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang samar masuk dari jendela yang setengah terbuka. Ia masih mengenakan baju kerja yang ia pakai makan malam bersama Arfa. Nada sama sekali belum menggantinya lagi. Nada melangkah pelan ke arah ranjang, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk yang dingin. Seluruh tubuhnya terasa lemas, bukan karena lelah fisik, tapi karena perasaan yang campur aduk. Ia menatap langit-langit, mengulang kembali percakapan malam tadi di kepalanya. Setiap kata yang diucapkan Arfa seolah menembus sampai ke dalam dadanya—hangat, tulus, tapi menyakitkan.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD